by | 9 Jun 2026 | Berita, Opini

Beriman Sebagian, Kufur Sebagian: Mengenal Arti Islam Kaffah dan Bahaya Berislam Setengah-Setengah

Penulis:

Jabbar Sambudi
Pengelola Sekolah Tabligh/ MTDK PDM Karanganyar

Pendahuluan

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan itu tidak hanya tampak dalam ajaran ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi juga dalam aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Prinsip hidup inilah yang menegaskan arti Islam kaffah sesungguhnya. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama (muamalah), bahkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Karena itu, seorang muslim dituntut untuk menerima dan menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh, bukan hanya pada bagian-bagian yang sesuai dengan keinginan dan kepentingannya. Konsep inilah yang dikenal dengan istilah Islam Kaffah.

Memahami Makna dan Arti Islam Kaffah

Istilah Islam kaffah berasal dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Kata “kaffah” berarti seluruhnya, secara total, tanpa pengecualian. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah agar kaum mukmin menerima dan menjalankan seluruh ajaran Islam dengan penuh keyakinan dan ketaatan. Dalam kajian tata bahasa Arab, para ulama berbeda pendapat mengenai kedudukan kata kaffah dalam ayat tersebut.

Sebagian berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan perintah udkhulu (masuklah), sehingga maknanya adalah: Masuklah kalian semua tanpa terkecuali ke dalam Islam. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa kata kaffah berkaitan dengan frasa fis silmi (ke dalam Islam), sehingga maknanya menjadi: “Masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh.” Meskipun terdapat perbedaan dalam penjelasan kebahasaan, keduanya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: Islam harus diterima dan diamalkan secara total, baik oleh seluruh kaum muslimin maupun dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Islam Tidak Mengenal Ketaatan yang Dipilih-Pilih

Perintah berislam secara kaffah berlaku bagi setiap muslim, siapa pun dia. Ia berlaku bagi ulama maupun pedagang. Bagi pejabat maupun rakyat biasa. Bagi yang hidup di kota maupun di desa. Bagi generasi terdahulu maupun generasi modern yang sedang berproses melakukan hijrah.

Tidak ada satu pun manusia yang diberi hak untuk memilih sebagian syariat lalu meninggalkan sebagian yang lain. Karena itulah setelah memerintahkan Islam kaffah, Allah langsung memperingatkan:

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.”

Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jangan mengikuti setan”, tetapi “jangan mengikuti langkah-langkah setan.” Artinya, penyimpangan sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari langkah-langkah kecil. Sedikit demi sedikit seseorang mulai menawar syariat, mencari pembenaran atas pelanggaran, lalu akhirnya hanya menjalankan agama pada bagian yang ia sukai dan meninggalkan bagian yang terasa berat. Di sinilah setan bekerja.

Penyakit Lama yang Terulang Kembali

Fenomena memilih-milih ajaran agama bukanlah penyakit baru. Allah telah mengingatkan tentang sikap sebagian Bani Israil yang menerima sebagian wahyu, tetapi menolak sebagian lainnya. Allah berfirman:

اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍۚ فَمَا جَزَاۤءُ مَنْ يَّفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْكُمْ اِلَّا خِزْيٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّوْنَ اِلٰٓى اَشَدِّ الْعَذَابِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang sangat berat. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 85)

Ayat ini pada awalnya berbicara tentang perilaku sebagian Bani Israil. Namun para ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut juga mengandung pelajaran bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jangan sampai seseorang menerima syariat yang sesuai dengan hawa nafsunya, tetapi menolak syariat yang bertentangan dengan kepentingannya.

Contoh dan Bentuk Beriman Sebagian dan Kufur Sebagian

Saat mendengar ayat ini, mungkin sebagian orang langsung membayangkan kekafiran yang nyata. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, sikap “beriman sebagian dan kufur sebagian” sering muncul dalam bentuk yang lebih halus, terutama dalam aktivitas ekonomi dan muamalah sehari-hari.

  • Misalnya, seseorang sangat menjaga shalatnya, tetapi tidak menjaga kejujuran dalam bisnisnya.
  • Ia rajin berpuasa, tetapi masih melakukan praktik riba.
  • Ia gemar bersedekah, tetapi menzalimi hak karyawannya.
  • Ia berhati-hati dalam urusan makanan halal, tetapi tidak berhati-hati dalam mencari penghasilan halal.
  • Ia aktif menghadiri kajian agama, tetapi mudah menyebarkan fitnah dan ghibah.

Dalam kondisi seperti ini, agama hanya ditempatkan di masjid, sementara urusan ekonomi, sosial, politik, keluarga, dan pekerjaan diserahkan kepada hawa nafsu atau standar manusia semata. Padahal Islam tidak mengenal pemisahan antara urusan ibadah dan kehidupan. Islam mengatur keduanya sekaligus.

Islam Mengatur Seluruh Kehidupan dan Muamalah

Kesempurnaan Islam ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ Lَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Kesempurnaan ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang keadilan, ekonomi, keluarga, pendidikan, kepemimpinan, etika sosial, hingga akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, seorang muslim tidak cukup hanya menjadi baik di sajadah, tetapi juga harus baik di pasar, di kantor, di sekolah, di lingkungan masyarakat, dan di dalam keluarganya.

Teladan Rasulullah SAW dalam Menerapkan Islam Kaffah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا ،
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kualitas akhlak dan muamalah. Rasulullah adalah teladan sempurna dalam Islam kaffah. Beliau adalah seorang ahli ibadah yang luar biasa, sekaligus pemimpin negara, kepala keluarga, pendidik, pedagang yang jujur, hakim yang adil, dan sahabat yang penuh kasih sayang. Islam yang beliau ajarkan adalah Islam yang hidup dalam seluruh aspek kehidupan.

Dampak Berislam Setengah-Setengah

Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada mereka yang memilih-milih ajaran agama. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 85 disebutkan bahwa balasan mereka adalah kehinaan di dunia dan azab yang berat di akhirat. Kehinaan di dunia dapat berupa hilangnya keberkahan hidup, rusaknya kepercayaan masyarakat, hilangnya kehormatan, serta berbagai bentuk kegelisahan yang lahir akibat jauhnya seseorang dari petunjuk Allah. Sementara di akhirat, ancamannya jauh lebih berat. Na’udzubillahi min dzalik.

Penutup

Menjadi muslim kaffah bukan berarti menjadi manusia yang langsung sempurna tanpa kesalahan. Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Namun, esensi dari semangat hijrah menuju Islam kaffah berarti memiliki komitmen untuk tunduk kepada seluruh ajaran Allah, menerima seluruh syariat-Nya dengan lapang dada, serta terus berusaha memperbaiki diri ketika masih banyak kekurangan.

Seorang mukmin sejati tidak berkata, “Saya akan mengikuti syariat yang saya sukai.” Namun ia berkata, “Saya mendengar dan saya taat, meskipun terkadang hawa nafsu saya tidak menyukainya.” Karena hakikat keimanan bukanlah menjadikan agama mengikuti keinginan kita, melainkan menjadikan diri kita mengikuti petunjuk agama.

Maka marilah kita terus berusaha masuk ke dalam Islam secara kaffah; dalam ibadah, akhlak, keluarga, pekerjaan, muamalah, dan seluruh aspek kehidupan demi meraih rida Allah SWT.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Jadwal Salat Hari Ini
Memuat lokasi…
Subuh
Terbit
Zuhur
Ashar
Maghrib
Isya
Menuju salat berikutnya:
Subuh menggunakan kriteria Muhammadiyah (-18°).

Artikel terkait