muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi dengan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah menggelar Training of Trainer (TOT) Relawan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Aisyiyah se-Jawa Tengah. Kegiatan tersebut berlangsung di Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMS, Sabtu (3/10/2026).
Pelatihan ini diinisiasi untuk memberikan ruang khusus bagi kader perempuan dalam memahami penanggulangan dan mitigasi bencana, yang selama ini dinilai masih didominasi oleh kaum laki-laki.
Ketua Tim P2M UMS, Koesoemo Ratih, S.Pd., M.Hum., Ph.D., mengungkapkan bahwa mayoritas kader Aisyiyah sebelumnya belum pernah mendapatkan pelatihan penguatan penanggulangan bencana secara mendalam. Dari total 121 peserta yang hadir, tercatat hanya lima orang yang pernah mengikuti pelatihan sejenis.
“Hanya lima orang dari 121 peserta yang pernah mengikuti TOT seperti ini, artinya banyak dari kader-kader Aisyiyah yang belum mendapatkan pemahaman secara mendalam. Sehingga ini menjadi sorotan utama bagi kami untuk memberikan kesempatan kepada mereka,” ujar Koesoemo.
Ia menegaskan, penguatan kapasitas SPAB ini memegang peranan krusial lantaran lansia dan balita kerap menjadi kelompok paling rentan saat terjadi bencana alam. Meski keberadaan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) telah aktif di berbagai titik bencana, Aisyiyah tetap didorong untuk mengambil peran strategis, khususnya pada manajemen dapur umum serta perawatan lansia dan anak-anak.
Selain memperkuat kader Aisyiyah secara umum, program ini juga membidik anggota Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA). Hal ini didasari oleh kondisi sejumlah sekolah Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) di wilayah Jawa Tengah yang berada di daerah rawan bencana.
Koesoemo menilai, minimnya pemahaman Standar Operasional Prosedur (SOP) penanggulangan bencana di tingkat pendidik dapat memengaruhi efektivitas instruksi keselamatan kepada para murid.
“Seringkali anak-anak itu disuruh merunduk atau instruksi yang semacamnya, tetapi anak-anak tidak memahami secara mendalam maksud dari instruksi dari gurunya. Kami ingin memberikan penguatan kepada IGABA agar dapat memahami alur penanggulangan dan pengamanan bencana alam yang barangkali menimpa sekolahnya,” jelasnya.
Tim P2M UMS yang beranggotakan Suni Tuti, S.P., M.A.P., Dra. Muamaroh, Ph.D., Dra. Lilik Tri Prihatini, Dr. Choirun Nisa, M.Pd., Chanyanita Sekar Wijaya, S.KM., M.K.M., dan Dr. Istanto, S.Pd.I., M.Pd. menyatakan komitmennya untuk terus mendorong kemandirian warga persyarikatan dalam menyebarluaskan gerakan sosial Muhammadiyah dan Aisyiyah.















