Pendaftaran PMBM MI Muhammadiyah Karanganyar 2027/2028 Ditutup, Kuota 220 Siswa Terpenuhi

Pendaftaran PMBM MI Muhammadiyah Karanganyar 2027/2028 Ditutup, Kuota 220 Siswa Terpenuhi

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Penerimaan Murid Baru (PMBM) MI Muhammadiyah Karanganyar Tahun Ajaran 2027/2028 resmi ditutup setelah kuota sebanyak 220 calon peserta didik terpenuhi seluruhnya. High demand dan antusiasme masyarakat Karanganyar serta sekitarnya menjadi faktor utama cepat terisinya daya tampung madrasah tersebut.

Kepala MI Muhammadiyah Karanganyar, Sartini, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi atas tingginya tingkat kepercayaan wali murid terhadap lembaga pendidikan yang dipimpinnya.

“Terpenuhinya kuota ini bukan sekadar tentang jumlah murid yang mendaftar, tetapi merupakan bentuk kepercayaan masyarakat kepada MI Muhammadiyah Karanganyar. Amanah ini akan kami jawab dengan terus meningkatkan kualitas pendidikan, pelayanan, program unggulan, serta pembentukan karakter peserta didik,” ujar Sartini.

Sartini menambahkan, pihak madrasah berkomitmen mendampingi para siswa agar tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, berprestasi, berkarakter, berakhlak mulia, dan peduli lingkungan, serta memiliki wawasan global yang berlandaskan nilai-nilai Islami. Terpenuhinya kuota ini sekaligus memperkuat motivasi madrasah dalam mengusung visi “Madrasahnya Para Juara”.

Menanggapi masih banyaknya minat masyarakat yang belum mendapatkan kuota pada periode pendaftaran 2027/2028, manajemen madrasah secara resmi telah membuka jalur inden untuk Tahun Ajaran 2028/2029. Para orang tua calon murid dapat mendaftar lebih awal secara daring melalui tautan resmi bit.ly/inden20282029.

Kajian Ahad Pagi PCM Jumantono: KH Muh Samsuri Tekankan Pentingnya Keteguhan dan Kekuatan Spiritual

Kajian Ahad Pagi PCM Jumantono: KH Muh Samsuri Tekankan Pentingnya Keteguhan dan Kekuatan Spiritual

muhammadiyahkaranganyar.or.id, JUMANTONO — Rektor Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA), KH. Dr. Muh. Samsuri, M.Si., mengajak umat Islam untuk memiliki keteguhan hati dan keberanian saat berada di jalan kebenaran. Pesan tersebut disampaikan dalam Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jumantono yang berlangsung di Masjid Utsman Bin Affan, Islamic Center Muhammadiyah Jumantono, Ngunut, Jumantono, Ahad (23/8/2026) pukul 06.00–07.00 WIB.

Pengajian berkala tersebut dihadiri ratusan jamaah dari berbagai kalangan, termasuk jajaran Pengurus PCM Jumantono, para kepala Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Ketua Ranting Muhammadiyah se-Kecamatan Jumantono, serta warga sekitar.

Dalam ceramahnya, KH. Muh. Samsuri menegaskan bahwa keteguhan merupakan modal utama bagi muslim dalam menjalankan nilai-nilai keislaman dan perjuangan di masyarakat. Mengutip Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 45–47, ia mengingatkan jamaah agar tidak mudah berputus asa atau takut saat membela kebenaran.

“Tegarlah, besarkan hatimu, besarkan tekadmu. Jangan takut dan jangan berkecil hati saat kita berada di jalan yang benar, saat kita membela Allah,” ujar KH. Muh. Samsuri di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa keberanian membela kebenaran harus diimbangi dengan perhitungan yang matang, ketaatan kepada ajaran agama, serta benteng spiritual yang kuat. Berdasarkan sejarah Perang Badar hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia—seperti yang dilakukan Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, dan Jenderal Besar Sudirman—keberhasilan diraih melalui pengorbanan, keberanian, dan kesadaran spiritual.

Selain faktor keteguhan, KH. Muh. Samsuri juga menekankan pentingnya ketaatan terhadap hirarki organisasi dalam konteks persyarikatan Muhammadiyah. Ketaatan kepada kepemimpinan yang berada dalam koridor kebaikan dinilai sangat penting untuk menjaga kesatuan langkah dan keberhasilan program dakwah.

“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Taat pula kepada pimpinan kita, termasuk pimpinan di persyarikatan kita ini,” tegasnya.

Ia menambahkan, bentuk perjuangan pada era modern tidak lagi sebatas fisik, melainkan diwujudkan melalui penguatan bidang pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, pembinaan generasi muda, dan pemberdayaan ekonomi umat melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Kajian Ahad Pagi ini ditutup dengan ramah tamah antarunsur persyarikatan dan jamaah. Selain menjadi wadah peningkatan wawasan keislaman, kegiatan rutin ini berfungsi sebagai sarana mempererat silaturahmi antar pimpinan, pengelola AUM, dan warga Muhammadiyah di wilayah Jumantono.

Kajian Malam Selasa, Ustadz Irhamuddin Tekankan Pentingnya Kesungguhan dalam Menuntut Ilmu

Kajian Malam Selasa, Ustadz Irhamuddin Tekankan Pentingnya Kesungguhan dalam Menuntut Ilmu

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Kesungguhan dalam menuntut ilmu menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Ustadz Irhamuddin dalam kajian malam Selasa Pimpinan Daerah Muhammadiyah Karanganyar yang digelar di Pendopo Panti Aisyiyah Karanganyar, Senin malam, 17 Agustus 2026.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Irhamuddin mengajak para jamaah untuk tidak sekadar mengikuti pengajian, tetapi benar-benar bersungguh-sungguh dalam memperdalam ilmu dan meningkatkan literasi keislaman. Menurutnya, ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh akan menjadi landasan penting dalam mengamalkan ajaran agama secara tepat dan sesuai kaidah.

“Kalau ngaji, ya sungguh-sungguh agar memperdalam ilmu dan literasi,” tegas Ustadz Irhamuddin dalam kajiannya.

Ia kemudian mengisahkan kesungguhan Imam Nawawi dalam menimba ilmu. Ulama besar tersebut dikenal memiliki semangat belajar yang luar biasa dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari berbagai cabang ilmu agama.

Ustadz Irhamuddin juga menjelaskan kebiasaan Imam Nawawi yang dalam kesehariannya mengikuti hingga 12 halaqah ilmu. Kisah tersebut menjadi gambaran betapa besar perhatian dan kesungguhan ulama terdahulu dalam memperdalam ilmu pengetahuan.

Menurutnya, keteladanan Imam Nawawi mengajarkan bahwa proses belajar membutuhkan keseriusan, ketekunan, dan konsistensi. Ilmu tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami secara mendalam agar ketika diamalkan tidak keluar dari kaidah yang benar.

Dalam kajian itu, Ustadz Irhamuddin juga menyinggung Imam Syafi’i dan kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik sebagai gambaran tentang pentingnya kedalaman ilmu dan kehati-hatian dalam memahami serta menyampaikan ajaran agama.

Ia kemudian mengingatkan jamaah agar tidak mudah mengambil kesimpulan keagamaan tanpa dasar ilmu yang memadai. Menurutnya, pemahaman agama yang tidak dibangun melalui proses belajar yang serius dapat melahirkan pernyataan maupun praktik yang kurang tepat.

Sebagai contoh, ia menyinggung pernyataan yang pernah muncul di tengah masyarakat ketika pandemi Covid-19, yakni anggapan bahwa selama seseorang masih membaca qunut, dirinya tidak akan terkena Covid-19.

Ustadz Irhamuddin menilai contoh tersebut menunjukkan pentingnya membangun pemahaman keagamaan berdasarkan ilmu dan kaidah yang benar. Pengamalan agama, menurutnya, tidak boleh didasarkan pada klaim tanpa landasan yang kuat.

Kisah tentang Imam Nawawi dan ulama-ulama terdahulu akhirnya menjadi refleksi bagi para jamaah bahwa tradisi keilmuan Islam dibangun melalui kesungguhan, kedisiplinan, dan proses belajar yang panjang.

Kajian tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu bukan sekadar hadir dalam majelis, melainkan berusaha memahami, memperdalam, mengkaji, dan kemudian mengamalkannya secara benar.

Bedah Buku Reset Indonesia di Karanganyar, Dorong Generasi Muda Membaca Ulang Arah Gerakan dan Perjuangan

Bedah Buku Reset Indonesia di Karanganyar, Dorong Generasi Muda Membaca Ulang Arah Gerakan dan Perjuangan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Sekitar 500 peserta menghadiri kegiatan Bedah Buku Reset Indonesia yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Karanganyar bekerja sama dengan LHKP PP Muhammadiyah dan Jaga Lawu, Selasa (11/8/2026), di Masjid Al Mukarromah, Karanganyar.

Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog bagi generasi muda, kader Muhammadiyah, relawan lingkungan, jamaah masjid, serta masyarakat umum untuk mendiskusikan berbagai gagasan mengenai kondisi Indonesia, arah perubahan sosial, lingkungan, dan gerakan masyarakat sebagaimana yang diangkat dalam buku Reset Indonesia.

Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur, di antaranya Angkatan Muda Muhammadiyah, relawan Jaga Lawu, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) se-Karanganyar, jamaah Masjid Al Mukarromah, serta masyarakat umum.

Diskusi menghadirkan dua penulis dan pegiat isu sosial sebagai narasumber, yakni Farid Gaban dan Dandhy Dwi Laksono. Keduanya mengulas gagasan utama yang terdapat dalam buku Reset Indonesia, sekaligus mengajak peserta untuk melihat kembali berbagai persoalan bangsa secara lebih kritis.

Farid Gaban dan Dandhy Laksono menjelaskan bahwa Reset Indonesia tidak sekadar berbicara mengenai persoalan yang dihadapi Indonesia, tetapi juga mengajak masyarakat untuk membaca ulang berbagai persoalan tersebut.

“ Buku Reset Indonesia mengajak kita untuk membaca kembali berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia dan melihat kemungkinan perubahan yang lebih mendasar, bukan sekadar memperbaiki permukaan persoalan.”

Narasumber selanjutnya, David Effendi dari LHKP PP Muhammadiyah menjelaskan sejumlah gerakan dan gagasan Muhammadiyah yang memiliki irisan dengan isu-isu yang dibahas dalam buku Reset Indonesia.

“Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam membangun gerakan yang tidak hanya bergerak dalam bidang keagamaan, tetapi juga pendidikan, kesehatan, sosial, pemberdayaan masyarakat, lingkungan, hingga advokasi kebijakan publik,”ungkapnya

Selain membedah isi buku, forum tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya kesadaran kritis dan keberanian untuk terlibat dalam gerakan sosial yang konstruktif. Bagi Pemuda Muhammadiyah Karanganyar, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang diskusi publik yang terbuka sekaligus memperkuat tradisi literasi dan intelektual di kalangan generasi muda.

Melalui kegiatan ini, Reset Indonesia tidak berhenti sebagai sebuah buku yang dibaca, tetapi menjadi bahan refleksi untuk melihat kembali posisi masyarakat, generasi muda, dan organisasi masyarakat sipil dalam menghadapi berbagai tantangan Indonesia ke depan.

Kajian Ideopolitor ke-11 PCM Kebakkramat, Memahami MKCH Menguatkan Ideologi Meneguhkan Gerakan

Kajian Ideopolitor ke-11 PCM Kebakkramat, Memahami MKCH Menguatkan Ideologi Meneguhkan Gerakan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, Kebakkramat — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebakkramat kembali menggelar Kajian Ideopolitor Muhammadiyah ke- 11 sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman ideologi dan arah gerakan Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting, Selasa (11/8/2026).

Kajian yang diperuntukkan khusus bagi pimpinan tersebut menghadirkan Teguh Anshori, Sekretaris PDM Karanganyar, sebagai narasumber. Kegiatan berlangsung di Gedung Dakwah PCM Kebakkramat Lantai 2.

Dalam kajian kali ini, pembahasan berfokus pada MKCH Muhammadiyah (Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah). Materi tersebut menjadi penting bagi para pimpinan sebagai landasan dalam memahami keyakinan, cita-cita, serta orientasi perjuangan Muhammadiyah.

Melalui pembahasan MKCH, peserta diajak kembali memahami bahwa gerakan Muhammadiyah tidak sekadar bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan dakwah, tetapi memiliki landasan ideologis yang menjadi pijakan dalam seluruh aktivitas persyarikatan. Pemahaman terhadap MKCH diharapkan dapat memperkuat konsistensi pimpinan dalam menjalankan amanah organisasi sekaligus menerjemahkan nilai-nilai Muhammadiyah dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam sambutannya, Ketua PCM Kebakkramat, Paryono, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pimpinan ranting atas kerja sama dan kontribusinya dalam persiapan hingga pelaksanaan CRM Award.

Menurut Paryono, keterlibatan berbagai unsur dalam CRM Award menjadi gambaran penting tentang kekuatan kebersamaan dalam menggerakkan Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pimpinan ranting atas kerja sama dan dukungannya, baik dalam persiapan maupun pelaksanaan CRM Award. Apa yang telah kita lakukan merupakan hasil kerja bersama, bukan kerja satu atau dua orang,” ungkap Paryono.

Namun demikian, Paryono menegaskan bahwa hasil yang diperoleh dalam CRM Award bukanlah akhir dari perjalanan. Masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu menjadi perhatian PCM Kebakkramat ke depan.

Beberapa di antaranya adalah meningkatkan peran dan keterlibatan pemuda dalam gerakan Muhammadiyah, memperkuat dampak dan kontribusi PCM Kebakkramat bagi cabang-cabang Muhammadiyah di sekitar, serta meningkatkan perhatian terhadap program dan gerakan peduli lingkungan hidup.

“Dari hasil mengikuti CRM Award, kita mendapatkan banyak evaluasi. Masih ada pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama, terutama bagaimana meningkatkan peran pemuda di PCM Kebakkramat, memberikan dampak yang lebih luas bagi PCM di sekitar kita, serta memperkuat program lingkungan hidup,” lanjutnya.

Pembahasan MKCH dalam Kajian Ideopolitor ke – 11 menjadi semakin relevan dengan evaluasi tersebut. Pemahaman ideologi Muhammadiyah diharapkan tidak berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi mampu menjadi kompas dalam menentukan arah program dan gerakan persyarikatan.

Pimpinan diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam MKCH sebagai pijakan untuk menghadirkan program yang semakin berdampak, melibatkan generasi muda, menjawab persoalan masyarakat, serta memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Dengan demikian, Kajian Ideopolitor bukan sekadar forum kajian rutin, melainkan menjadi ruang refleksi, evaluasi, dan konsolidasi gerakan bagi PCM dan pimpinan ranting di lingkungan Kebakkramat.

Melalui penguatan ideologi, evaluasi berkelanjutan, dan sinergi seluruh unsur persyarikatan, PCM Kebakkramat berkomitmen terus meningkatkan kualitas gerakan agar semakin berkemajuan, berdampak, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Kontributor :Agus S 085221302389