KabarMu, Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menggelar Workshop Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) sebagai upaya menumbuhkan budaya berprestasi dan berkompetisi di kalangan mahasiswa. Kegiatan yang diikuti lebih dari 100 peserta tersebut diselenggarakan dalam empat rangkaian pertemuan pada 6 Juni, 13 Juni, dan 17 Juni 2026 di lingkungan FEB UMS.
Workshop menghadirkan narasumber dari mahasiswa UMS yang berhasil mengharumkan nama kampus pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38 di Universitas Hasanuddin, Farah Hanifah Nuraini. Ia membagikan pengalaman sekaligus strategi dalam menyusun proposal PKM, mengembangkan ide yang inovatif, hingga mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi nasional.
Wakil Dekan I Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan FEB UMS, Aflit Nuryulia Praswati, S.E., M.M., mengapresiasi inisiatif BEM FEB UMS dalam menghadirkan ruang pembelajaran bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan potensi akademiknya melalui PKM.

Wakil Dekan I Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan FEB UMS, Aflit Nuryulia Praswati, S.E., M.M
Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan budaya prestasi sekaligus memperluas partisipasi mahasiswa FEB UMS dalam berbagai kompetisi nasional.
“Harapannya dengan adanya program ini, minat mahasiswa FEB UMS untuk berprestasi dan mengikuti kompetisi dapat terus meningkat. Kami juga berharap pada ajang PKM 2026 semakin banyak mahasiswa yang berperan aktif, mengirimkan proposal terbaik, dan mampu meraih prestasi hingga tingkat nasional,” ujar Aflit, Jumat, (17/7/2026).
Kegiatan itu dibuka dengan rangkaian sambutan dari sejumlah pihak yang mendukung penyelenggaraan workshop. Sambutan pertama disampaikan oleh Gubernur BEM FEB UMS, Arif Ginanjar Pratama, yang menekankan pentingnya membangun budaya kompetisi akademik di lingkungan mahasiswa. Selanjutnya, Dosen Pembimbing BEM FEB UMS, Fajar Kholilullaoh, S.E., M.Acc., memberikan motivasi kepada peserta agar memanfaatkan workshop sebagai langkah awal dalam menghasilkan proposal PKM yang berkualitas.
Ketua Panitia, Lusi Liana Seli, turut menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Forum Studi Ekonomi Islam (FOSEI), Hafidz Aditya Pratama, mengajak mahasiswa untuk aktif mengembangkan ide-ide kreatif dan menjadikan PKM sebagai wadah pengembangan kompetensi, jejaring, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.

Wakil Gubernur BEM FEB UMS, Syaban Al Musyaffa Ibnu Ahmad, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen organisasi mahasiswa untuk membangun ekosistem akademik yang mendorong mahasiswa aktif mengikuti kompetisi ilmiah.
“Workshop PKM ini kami selenggarakan untuk meningkatkan kesadaran dan motivasi mahasiswa agar tidak hanya unggul di ruang perkuliahan, tetapi juga mampu berprestasi melalui kompetisi ilmiah. Kami ingin membangun budaya berkompetisi yang positif sehingga semakin banyak mahasiswa FEB UMS yang berani mengembangkan ide-ide inovatif,” ujarnya.
Menurut Syaban, pengalaman langsung dari mahasiswa yang telah lolos hingga PIMNAS menjadi nilai tambah dalam kegiatan tersebut. Peserta memperoleh gambaran nyata mengenai proses penyusunan proposal, pelaksanaan program, hingga tantangan yang dihadapi selama mengikuti kompetisi.
Selama pelaksanaan workshop, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mengikuti sesi bedah proposal, diskusi, tanya jawab, serta pendampingan penyusunan proposal PKM. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu mahasiswa menghasilkan proposal yang lebih matang dan memiliki peluang lebih besar untuk lolos pendanaan.
Antusiasme mahasiswa terlihat dari tingginya partisipasi peserta selama rangkaian kegiatan berlangsung. Lebih dari 100 mahasiswa mengikuti workshop dan aktif berdiskusi dengan narasumber mengenai pengembangan gagasan, teknik penulisan proposal, hingga strategi meningkatkan kualitas luaran program.
Syaban berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam meningkatkan capaian prestasi mahasiswa UMS pada ajang PKM maupun kompetisi ilmiah lainnya.
“Harapan kami, workshop ini dapat melahirkan lebih banyak proposal PKM yang berkualitas dari mahasiswa UMS. Ke depan, kami ingin semakin banyak mahasiswa FEB yang mampu lolos pendanaan, melaju ke PIMNAS, dan mengharumkan nama UMS di tingkat nasional melalui karya-karya inovatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Fika/Humas)
KabarMu
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukoharjo yang dimotori oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menggelar perkaderan Baret Merah XXVI. Kegiatan intensif yang berlangsung pada 10-25 Juli 2026 ini bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah PCM Sawit, Boyolali.
Mengusung tema “Dialectic of Renaissance”, perkaderan ini diikuti oleh 43 peserta. Kegiatan ini dirancang sebagai gerbang awal untuk menempa kapasitas intelektual, spiritual, sekaligus karakter kepemimpinan para kader IMM.
Ketua Panitia Baret Merah XXVI, Dwi Kurniadi, menjelaskan bahwa puluhan peserta tersebut akan menyelami “kawah candradimuka” perkaderan selama dua pekan penuh. Mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) UMS ini berharap seluruh peserta dapat mengikuti setiap proses dengan penuh kesungguhan.
“Dialectic of Renaissance dipilih sebagai pengingat bahwa umat Islam tidak boleh hanya meromantisasi kejayaan peradaban Islam pada masa lampau, tetapi harus mampu membangkitkan kembali tradisi keilmuan dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat saat ini,” ujar Dwi, Selasa (14/7/2026).
Senada dengan hal itu, Ketua PC IMM Sukoharjo, Immawan Azhar Ardiansyah Al Aziz, mengajak seluruh kader untuk menumbuhkan keberanian berpikir dan memupuk rasa percaya diri atas kemampuan intelektual mereka. Ia menegaskan pentingnya menghadirkan kembali semangat Golden Age (Zaman Kejayaan) Islam ke dalam jiwa kader masa kini.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum PCM Sawit Boyolali, H. Wardoyo, S.Ag. Dalam amanatnya, Wardoyo menekankan bahwa pencapaian cita-cita besar harus diimbangi dengan pengorbanan nyata dan kekuatan spiritual, salah satunya dengan tidak meninggalkan salat malam.
Usai seremoni pembukaan, rangkaian acara dilanjutkan dengan Stadium General bertajuk “Dialektika Kebangkitan Peradaban: Membangun Renaissance Intelektual Kader IMM” yang menghadirkan narasumber Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.
Dalam paparannya, Hamdan menguraikan bahwa kebangkitan tradisi intelektual harus diawali dengan mengoptimalkan fungsi akal melalui empat tahapan: tilawah, refleksi, tafakur/tadabbur, dan muhasabah. Menurutnya, proses membaca tidak boleh berhenti pada level mengetahui, tetapi harus sampai pada tahap mengamalkan dan mengevaluasi diri.
Hamdan juga menyoroti kompleksitas tantangan generasi digital saat ini, mulai dari rendahnya minat membaca tulisan panjang, ilusi pengetahuan, aktivisme yang kehilangan akar makna, hingga pragmatisme ekstrem yang hanya mengejar hasil instan.
Menggunakan pendekatan konsep dialektika Hegel (tesis, antitesis, sintesis), Hamdan mencontohkan bahwa kejayaan sains Islam pada masa lalu lahir karena para ilmuwan muslim berani mengkritisi, mengembangkan, dan melahirkan teori-teori baru, bukan sekadar menerjemahkan ilmu peradaban lain.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa kebangkitan peradaban bertumpu pada tiga pilar utama, yakni kesadaran kritis, tradisi ilmu, dan keberanian melakukan transformasi agar ilmu berubah menjadi aksi nyata yang bermanfaat.
“Renaissance tidak lahir dari kader yang malas berpikir. Ia lahir dari mereka yang gelisah, membaca, mengkritik, dan bergerak,” pungkas Hamdan.
KabarMu, Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menggelar pelatihan inovatif bagi masyarakat Desa Musuk, Kabupaten Boyolali. Mahasiswa melatih warga setempat untuk mengolah buah dan daun alpukat menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, berupa selai buah dan teh daun alpukat pada Sabtu (11/7/2026) di Balai Desa Musuk.
Program pemberdayaan masyarakat ini menyasar para ibu rumah tangga guna mengoptimalkan potensi komoditas lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Ketua PPK Ormawa IMM FIK UMS, Fidelina Tri Adelin, mengungkapkan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah alpukat. Selama ini, mayoritas hasil panen alpukat di daerah tersebut hanya dipasarkan dalam bentuk buah segar dengan nilai tawar yang terbatas.
“Melalui pelatihan tersebut, tim PPK Ormawa ingin meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah komoditas alpukat yang sebagian besar hanya dipasarkan dalam bentuk buah segar,” ujar Fidelina pada Selasa (14/7/2026).

Dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa memperkenalkan inovasi pengolahan yang tidak hanya memanfaatkan daging buahnya untuk dijadikan selai, tetapi juga mengoptimalkan daun alpukat menjadi produk teh herbal yang menyehatkan. Langkah ini menjadi solusi cerdas zero-waste dari tanaman alpukat yang belum banyak dilirik warga setempat.
Pada sesi awal, para peserta dibekali materi mengenai karakteristik bahan baku, fungsi bahan tambahan, serta pentingnya menjaga sanitasi dan higiene selama proses produksi pangan demi menjamin keamanan produk serta kualitas cita rasa.
Selanjutnya, tim PPK Ormawa mendemonstrasikan secara interaktif setiap tahapan pembuatan, mulai dari persiapan bahan, teknik pengolahan, hingga pengemasan sederhana. Usai demonstrasi, para peserta langsung mempraktikkan pembuatan kedua produk tersebut secara berkelompok.
Selama proses praktik, warga didampingi langsung oleh dosen pembimbing, Aktif Cahyaningtyas, S.Km., M.Km., bersama tim mahasiswa untuk memastikan seluruh proses pengolahan sesuai dengan prosedur standar kesehatan dan pangan.
Fidelina berharap kegiatan ini dapat membuka cakrawala berpikir masyarakat untuk mulai berwirausaha secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku yang melimpah di sekitar mereka.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin mendorong masyarakat agar tidak hanya menjual alpukat dalam bentuk segar, tetapi juga mampu mengembangkan produk olahan yang bernilai tambah. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat,” pungkas Fidelina.
Sebagai penutup kegiatan, dilakukan penilaian organoleptik (uji rasa dan aroma) terhadap produk hasil olahan masing-masing kelompok, diikuti dengan penyerahan produk secara simbolis, serta sesi foto bersama. Program pengabdian ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya usaha mikro berbasis olahan alpukat yang berdaya saing dan berkelanjutan di Desa Musuk, Boyolali.
KabarMu
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta resmi memulai tahun ajaran baru 2026/2027 dengan menggelar apel hari pertama masuk sekolah di halaman basket sekolah, Senin (14/7/2026). Kegiatan yang berlangsung meriah ini diikuti oleh 442 siswa yang terdiri dari kelas 7, 8, dan 9, sekaligus menjadi momen penyambutan hangat bagi para siswa baru.
Apel diawali secara khidmat dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang kemudian dilanjutkan dengan pidato sambutan hangat dari Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah PK Kottabarat, Ustaz Muhdiyatmoko, M.Pd.
Apresiasi Prestasi Nasional dan Sambutan Hangat Kepala Sekolah
Dalam sambutannya, Ustaz Muhdiyatmoko menyampaikan ucapan selamat datang dan selamat bergabung kepada:
160 siswa baru kelas 7.
155 siswa kelas 8.
127 siswa kelas 9.
Tidak hanya menyambut siswa baru, ia juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas capaian luar biasa lulusan kelas 9 sebelumnya pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) Asesmen Nasional.
“Sekolah kita berhasil meraih peringkat 1 di Kota Surakarta, peringkat 22 secara nasional, serta peringkat 1 untuk kategori sekolah Muhammadiyah se-Indonesia,” ujar Muhdiyatmoko disambut tepuk tangan riuh para siswa.
Ia menegaskan komitmen sekolah untuk terus mendampingi siswa tumbuh menjadi generasi ulul albab. “Selamat datang di sekolah yang insyaallah akan melejitkan potensi ananda semua,” tambahnya.
Penyambutan Kreatif dan Antusiasme Siswa Baru
Kemeriahan berlanjut usai apel selesai. Anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) membentangkan poster-poster kreatif berisi ucapan selamat datang. Sementara itu, para siswa kelas 8 dan 9 membuat barisan penyambutan (picket line) yang berjejer rapi mulai dari area lobi hingga ruang-ruang kelas untuk menyapa adik-adik kelas baru mereka.
Antusiasme tinggi dirasakan langsung oleh para siswa baru kelas 7. Beberapa di antaranya mengungkapkan kesan mendalam mereka pada hari pertama sekolah:
Bening Ayska: Mengaku senang karena lingkungan sekolah yang bagus dan ramah. Ia menargetkan diri untuk meraih prestasi akademik terbaik serta aktif mengikuti program tahfiz.
Naila Azka Zaidan: Mengaku bahagia bisa diterima di sekolah impiannya ini. Gadis yang bercita-cita menjadi dokter tersebut berharap bisa terus menambah hafalan Al-Qur’an dan konsisten mendapatkan nilai bagus.
Rasya Fatma Nahdi: Menyebut SMP Muh PK sebagai sekolah impiannya sejak lama. Ia bertekad masuk ke kelas International Class Program (ICP) untuk mengejar cita-citanya.
Sinergi Guru dan IPM Sukseskan MPLS
Ketua Panitia Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Burhan Taufik Hidayat, S.Pd., menjelaskan bahwa hari pertama sekolah sengaja dikemas dengan konsep yang ceria dan menyenangkan agar para siswa baru merasa nyaman dan cepat beradaptasi.
Ia juga mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang terlibat dalam mempersiapkan acara pembukaan ini sehingga dapat berjalan kondusif.
“Alhamdulillah, kegiatan hari pertama berjalan dengan sangat lancar dan penuh semangat berkat dukungan luar biasa dari para guru serta rekan-rekan IPM,” pungkas Burhan.
KabarMu
muhammadiyahkaranganyar.or.id, BANYUMAS — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Banyumas mencetak momentum besar dalam penguatan dakwah dengan menggelar agenda jamak secara serentak pada Ahad (12/7). Sebanyak delapan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di wilayah Banyumas melaksanakan Pengajian Selapanan yang dirangkai dengan peresmian tiga masjid, peresmian asrama santri, pengukuhan dua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), serta penerimaan wakaf tanah.
Rangkaian kegiatan ini dipusatkan untuk memperkuat infrastruktur keumatan dan menghidupkan syiar Islam di akar rumput. Adapun tiga rumah ibadah yang resmi dibuka adalah Masjid Assalam (PCM Baturraden), Masjid Ibrahim al-Aziz (PCM Sumbang), dan Masjid Zubair bin Awwam (PCM Wangon). Pada saat yang sama, turut diresmikan pula Asrama Santri PPM Ar-Raudhoh di Wangon.
Ketua PDM Banyumas, KH. Drs. M. Djohar, M.Pd., yang hadir langsung sebagai pembicara di PCM Wangon menyatakan apresiasi tertingginya atas capaian kolektif ini. Ia menegaskan bahwa pembangunan fisik harus diikuti dengan komitmen memakmurkan tempat ibadah.

“Ini bukan akhir, tapi awal. Mari wujudkan Banyumas yang berkemajuan, berilmu, dan bermartabat,” tegas KH. M. Djohar di hadapan para jemaah.
Apresiasi senada juga disampaikan oleh Ketua Majelis Tabligh PDM Banyumas, KH. M. Sugeng, S.Ag., M.Pd. Ia berharap seluruh aset dan fasilitas baru tersebut bertransformasi menjadi pusat peradaban, ibadah, ilmu, dan dakwah yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Gerakan dakwah di tingkat ranting juga menunjukkan penguatan signifikan melalui pengukuhan PRM Karangreja (Cabang Wangon) dan PRM Babakan (Cabang Karanglewas). Momentum di Karanglewas semakin lengkap dengan diterimanya amanah wakaf tanah seluas 709 m² dari Bapak Subroto Minharja kepada PCM Karanglewas di Desa Babakan.
Wakil Ketua PCM Karanglewas Bidang Wakaf & Kehartabendaan, Badri, S.Pd., menyampaikan rasa syukurnya dan memastikan bahwa amanah tanah wakaf tersebut akan segera dioptimalkan untuk menunjang kegiatan produktif umat dan menjadi motor penggerak dakwah di tingkat ranting.
Di tempat terpisah, kegembiraan atas peresmian fasilitas baru ini disuarakan oleh Drs. Marwoto dari PCM Baturraden dan Imam Sugiri, S.H. dari PCM Sumbang. Keduanya sepakat bahwa kehadiran Masjid Assalam dan Masjid Ibrahim al-Aziz harus menjadi rumah Allah yang aktif mencerahkan, menguatkan iman, serta menjaga kebersamaan warga secara berkelanjutan.
Seluruh rangkaian agenda besar dalam satu hari ini menjadi tonggak sejarah baru bagi persyarikatan di Banyumas untuk terus mendorong terwujudnya masyarakat yang religius dan berkemajuan.