muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukoharjo yang dimotori oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menggelar perkaderan Baret Merah XXVI. Kegiatan intensif yang berlangsung pada 10-25 Juli 2026 ini bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah PCM Sawit, Boyolali.
Mengusung tema “Dialectic of Renaissance”, perkaderan ini diikuti oleh 43 peserta. Kegiatan ini dirancang sebagai gerbang awal untuk menempa kapasitas intelektual, spiritual, sekaligus karakter kepemimpinan para kader IMM.
Ketua Panitia Baret Merah XXVI, Dwi Kurniadi, menjelaskan bahwa puluhan peserta tersebut akan menyelami “kawah candradimuka” perkaderan selama dua pekan penuh. Mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) UMS ini berharap seluruh peserta dapat mengikuti setiap proses dengan penuh kesungguhan.
“Dialectic of Renaissance dipilih sebagai pengingat bahwa umat Islam tidak boleh hanya meromantisasi kejayaan peradaban Islam pada masa lampau, tetapi harus mampu membangkitkan kembali tradisi keilmuan dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat saat ini,” ujar Dwi, Selasa (14/7/2026).
Senada dengan hal itu, Ketua PC IMM Sukoharjo, Immawan Azhar Ardiansyah Al Aziz, mengajak seluruh kader untuk menumbuhkan keberanian berpikir dan memupuk rasa percaya diri atas kemampuan intelektual mereka. Ia menegaskan pentingnya menghadirkan kembali semangat Golden Age (Zaman Kejayaan) Islam ke dalam jiwa kader masa kini.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum PCM Sawit Boyolali, H. Wardoyo, S.Ag. Dalam amanatnya, Wardoyo menekankan bahwa pencapaian cita-cita besar harus diimbangi dengan pengorbanan nyata dan kekuatan spiritual, salah satunya dengan tidak meninggalkan salat malam.
Usai seremoni pembukaan, rangkaian acara dilanjutkan dengan Stadium General bertajuk “Dialektika Kebangkitan Peradaban: Membangun Renaissance Intelektual Kader IMM” yang menghadirkan narasumber Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.
Dalam paparannya, Hamdan menguraikan bahwa kebangkitan tradisi intelektual harus diawali dengan mengoptimalkan fungsi akal melalui empat tahapan: tilawah, refleksi, tafakur/tadabbur, dan muhasabah. Menurutnya, proses membaca tidak boleh berhenti pada level mengetahui, tetapi harus sampai pada tahap mengamalkan dan mengevaluasi diri.
Hamdan juga menyoroti kompleksitas tantangan generasi digital saat ini, mulai dari rendahnya minat membaca tulisan panjang, ilusi pengetahuan, aktivisme yang kehilangan akar makna, hingga pragmatisme ekstrem yang hanya mengejar hasil instan.
Menggunakan pendekatan konsep dialektika Hegel (tesis, antitesis, sintesis), Hamdan mencontohkan bahwa kejayaan sains Islam pada masa lalu lahir karena para ilmuwan muslim berani mengkritisi, mengembangkan, dan melahirkan teori-teori baru, bukan sekadar menerjemahkan ilmu peradaban lain.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa kebangkitan peradaban bertumpu pada tiga pilar utama, yakni kesadaran kritis, tradisi ilmu, dan keberanian melakukan transformasi agar ilmu berubah menjadi aksi nyata yang bermanfaat.
“Renaissance tidak lahir dari kader yang malas berpikir. Ia lahir dari mereka yang gelisah, membaca, mengkritik, dan bergerak,” pungkas Hamdan.















