muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menyelenggarakan Pelatihan Kepenulisan bertajuk “Eksplorasi Makna dan Konstruksi Kritik dalam Penulisan Resensi”. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (26/2) sore pukul 16.00-18.00 di Ruang Seminar Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS.
Sebagai agenda rutin yang diinisiasi oleh Bidang Riset Pengembangan Keilmuan (RPK) HMP IQT, pelatihan ini dirancang untuk memupuk keberanian mahasiswa dalam menulis dan mengkonstruksikan sebuah gagasan yang disampaikan oleh penulis.
Selain mengasah skill, kegiatan ini diharapkan mampu membangun budaya berpikir kritis serta literasi yang kuat
HMP IQT menghadirkan Dwi Kurniadi, yang kerap disapa Adi, sebagai pemateri dalam kegiatan ini. Ia merupakan mahasiswa aktif Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di UMS, sekaligus mahasantri di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS.
Selain aktif dalam dunia akademik dan kepesantrenan, Adi juga menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Kalimahsawa serta Redaktur di Kabarmuh. Hingga kini ia masih konsisten menulis dan berkontribusi di berbagai platform digital, khususnya dalam bidang keislaman dan keilmuan.

Adi menyampaikan pada awal sesi terkait fungsi, manfaat, dan nilai tambah dari menulis resensi sebuah karya.
“Menulis resensi adalah cara kita memberikan gambaran utuh kepada orang lain tentang isi sebuah karya, agar dapat menjadi informasi dan pertimbangan bagi pembaca. Lebih dari itu, jika dilakukan dengan baik, resensi bisa menjadi sumber penghasilan apabila berhasil menembus media ternama,” ujar Adi di hadapan para peserta Sabtu, (28/2).
Dalam pemaparannya, Adi menerangkan bagaimana struktur dan sistematika dalam menulis resensi. Memberikan kepada para peserta contoh tulisan resensi yang baik. Selain itu ia juga menjelaskan terkait esensi dari penulisan sebuah resensi.
“Meresensi sebuah karya bukan sekadar merangkum atau melakukan review biasa, melainkan sebuah proses memaparkan dan membentuk konstruksi pikiran. Sesi penyampaian materi diakhiri dengan sesi diskusi interaktif, dan tanya jawab antara pemateri dan peserta.

Antusiasme peserta dan suasana kegiatan juga dirasakan oleh Shafa, mahasiswi Ilmu Gizi yang turut hadir dalam pelatihan tersebut. la mengaku sangat terbantu dengan penyampaian materi yang sederhana namun mendalam, terutama terkait sistematika dan keuntungan menulis resensi.
“Forum terasa hidup berkat interaksi aktif antara pemateri dan audiens. Meskipun sesi praktik harus dipersingkat karena keterbatasan waktu menjelang Maghrib, saya salut dengan kesigapan panitia yang menginisiasi Rencana Tindak Lanjut (RTL) agar ilmu ini terus berkembang,” ungkapnya, sembari berharap adanya pelatihan lanjutan di masa mendatang.
Kemudian acara tersebut ditutup dengan sesi dokumentasi bersama antara pemateri, peserta, dan seluruh panitia. Dengan ini HMP IQT UMS berkomitmen dalam menunjang intelektualitas setiap mahasiswa, terutama IQT, agar bisa menjadi ujung tombak suatu peradaban. (Ikmal/Humas)










