muhammadiyakaranganyar.or.id, MATESIH – Memasuki sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadan, suasana khidmat menyelimuti Desa Ngadiluwih, Kecamatan Matesih. Sebanyak 500 jamaah yang terdiri dari masyarakat umum, tokoh agama, hingga tenaga pendidik memadati lokasi Pengajian Ahad Pagi yang digelar pada Ahad, 15 Maret 2026.
Kegiatan rutin ini tidak sekadar menjadi ajang thalabul ilmi, tetapi juga momentum penguatan solidaritas sosial. Acara menghadirkan penceramah Ustadz Ahmadiyah yang mengupas tuntas mengenai keutamaan ibadah di bulan Ramadan, khususnya terkait waktu-waktu mustajab untuk mengetuk pintu langit.
Waktu Mustajab dan Keunikan Ibadah Puasa
Dalam tausiyahnya, Ustadz Ahmadiyah menekankan pentingnya memanfaatkan setiap detik di bulan Ramadan, terutama saat menjalankan ibadah puasa. Beliau menjelaskan bahwa terdapat dua waktu emas di mana doa seorang hamba tidak akan tertolak oleh Allah Swt.
“Ada waktu-waktu yang sangat mustajab bagi orang yang berpuasa, yaitu ketika waktu sahur dan saat berbuka puasa. Di momen tersebut, kita dianjurkan memperbanyak permohonan kepada Allah,” ujar Ustadz Ahmadiyah di hadapan ratusan jamaah.
Lebih lanjut, beliau memaparkan filosofi di balik setiap gerakan ibadah. Menurutnya, sujud, rukuk, hingga lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca manusia pada hakikatnya adalah investasi untuk diri sendiri. Namun, puasa memiliki kedudukan yang sangat eksklusif dalam Islam.
Ustadz Ahmadiyah menjelaskan secara tidak langsung bahwa merujuk pada hadis qudsi, Allah Swt. menegaskan bahwa semua amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Ibadah puasa adalah milik Allah secara khusus, dan hanya Dia yang akan memberikan balasannya secara langsung. Hal inilah yang menjadikan Ramadan sebagai madrasah spiritual yang paling istimewa.
Apresiasi Guru dan Kepedulian Lazismu
Selain aspek spiritual, Pengajian Ahad Pagi kali ini diwarnai dengan aksi nyata menghargai jasa para pendidik. Panitia melaksanakan penyerahan tanda bakti kepada para ustadz dan ustadzah yang telah mendedikasikan diri di lembaga pendidikan Muhammadiyah se-Kecamatan Matesih.
Penerima penghargaan tersebut mencakup guru-guru dari berbagai jenjang, mulai dari TK Aisyiyah, MI Muhammadiyah, hingga MTs Muhammadiyah. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan atas loyalitas mereka dalam mencetak generasi islami di wilayah Matesih.
Tak berhenti di situ, nilai-nilai kemanusiaan semakin terasa dengan adanya penyaluran santunan bagi anak-anak yatim. Program yang diinisiasi oleh Lazismu ini bertujuan untuk meringankan beban sesama sekaligus menebar kebahagiaan di penghujung Ramadan.
Antusiasme jamaah yang mencapai angka 500 orang menunjukkan bahwa semangat beragama di Desa Ngadiluwih tetap tinggi. Kegiatan ini diharapkan mampu mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus memacu semangat masyarakat untuk meningkatkan kualitas ibadah di sisa hari bulan Ramadan.















