Mahasiswa KKN-DIK FKIP UMS Tingkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Siswa Lewat English Literature Club

Mahasiswa KKN-DIK FKIP UMS Tingkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Siswa Lewat English Literature Club

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN DIK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (FKIP UMS) yang bertugas di SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri kembali melaksanakan program kerja di bidang pendidikan. Kali ini, Kelompok 15 menggelar kegiatan English Literature Club, sebuah program pembelajaran bahasa Inggris yang berfokus pada peningkatan kemampuan membaca (reading), pengucapan (pronunciation), serta kepercayaan diri siswa dalam berbicara (speaking).

Program ini dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri yang berlokasi di Dusun Duwet, Mlokomanis Wetan, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri. English Literature Club ditanggungjawabi oleh Nasywa Yumna dan Ine Simahara, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMS.

Kegiatan ini, Rabu (4/2) dirancang berdasarkan hasil pengamatan dan analisis kebutuhan siswa selama proses pembelajaran Bahasa Inggris di kelas. Mahasiswa KKN menemukan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami teks bacaan bahasa Inggris, melafalkan kosakata dengan tepat, serta menunjukkan rasa kurang percaya diri ketika diminta berbicara menggunakan bahasa Inggris di depan kelas.

“Melihat kondisi tersebut, English Literature Club hadir sebagai ruang belajar yang lebih santai, interaktif, dan kontekstual. Materi pembelajaran disusun secara sederhana dan sistematis, disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa SMA,” ujar Nasywa Yumna, Sabtu (28/2).

Selain itu, teks bacaan disajikan dalam bentuk bacaan singkat dan infografis agar mudah dipahami, serta didukung dengan penggunaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai sarana latihan dan evaluasi.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pengenalan materi reading. Pendamping menjelaskan konteks bacaan, tujuan pembelajaran, serta kosakata penting sebelum siswa membaca teks secara menyeluruh. Selanjutnya, siswa diajak melakukan kegiatan reading aloud, baik secara bergantian maupun bersama-sama. Dalam proses ini, pendamping memberikan arahan serta koreksi langsung apabila terdapat kesalahan pelafalan atau intonasi.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi pronunciation. Siswa dilatih mengucapkan kosakata dengan memperhatikan tekanan suku kata dan intonasi kalimat sederhana. Pendamping memberikan contoh pelafalan yang benar, kemudian siswa menirukan secara bersama-sama. Latihan ini menjadi bagian penting untuk membantu siswa lebih percaya diri saat berbicara.

Sebagai tindak lanjut, siswa diajak mempraktikkan speaking sederhana, seperti mengucapkan kosakata, membaca ulang teks dengan pelafalan yang lebih baik, serta menjawab pertanyaan singkat berdasarkan isi bacaan. Pada tahap ini, siswa terlihat mulai lebih berani dan aktif menggunakan Bahasa Inggris secara lisan.

Kegiatan ditutup dengan pengerjaan LKPD yang berisi latihan pemahaman bacaan dan kosakata. LKPD disusun selaras dengan teks dan materi pronunciation yang telah dipelajari, sehingga pembelajaran berjalan berkesinambungan dan terarah.

Nasywa juga menyampaikan bahwa program ini diharapkan dapat membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dalam kegiatan tertentu.

“Di SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri, siswa sudah terbiasa dengan rolling bahasa Inggris dan Arab setiap minggunya. Melalui English Literature Club ini, kami berharap siswa menjadi lebih percaya diri, tidak takut salah, dan berani menggunakan Bahasa Inggris dalam keseharian,” ujarnya.

Melalui English Literature Club, mahasiswa KKN DIK FKIP UMS berharap siswa tidak hanya memahami teks Bahasa Inggris secara tertulis, tetapi juga mampu mengucapkannya dengan benar serta perlahan meningkatkan kemampuan berbicara. Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah. (Shandy/Humas)

HMP IQT UMS Bekali Mahasiswa Keahlian Menulis Resensi dan Kritik Buku

HMP IQT UMS Bekali Mahasiswa Keahlian Menulis Resensi dan Kritik Buku

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menyelenggarakan Pelatihan Kepenulisan bertajuk “Eksplorasi Makna dan Konstruksi Kritik dalam Penulisan Resensi”. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (26/2) sore pukul 16.00-18.00 di Ruang Seminar Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS.

Sebagai agenda rutin yang diinisiasi oleh Bidang Riset Pengembangan Keilmuan (RPK) HMP IQT, pelatihan ini dirancang untuk memupuk keberanian mahasiswa dalam menulis dan mengkonstruksikan sebuah gagasan yang disampaikan oleh penulis.

Selain mengasah skill, kegiatan ini diharapkan mampu membangun budaya berpikir kritis serta literasi yang kuat
HMP IQT menghadirkan Dwi Kurniadi, yang kerap disapa Adi, sebagai pemateri dalam kegiatan ini. Ia merupakan mahasiswa aktif Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di UMS, sekaligus mahasantri di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS.

Selain aktif dalam dunia akademik dan kepesantrenan, Adi juga menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Kalimahsawa serta Redaktur di Kabarmuh. Hingga kini ia masih konsisten menulis dan berkontribusi di berbagai platform digital, khususnya dalam bidang keislaman dan keilmuan.

Adi menyampaikan pada awal sesi terkait fungsi, manfaat, dan nilai tambah dari menulis resensi sebuah karya.

“Menulis resensi adalah cara kita memberikan gambaran utuh kepada orang lain tentang isi sebuah karya, agar dapat menjadi informasi dan pertimbangan bagi pembaca. Lebih dari itu, jika dilakukan dengan baik, resensi bisa menjadi sumber penghasilan apabila berhasil menembus media ternama,” ujar Adi di hadapan para peserta Sabtu, (28/2).

Dalam pemaparannya, Adi menerangkan bagaimana struktur dan sistematika dalam menulis resensi. Memberikan kepada para peserta contoh tulisan resensi yang baik. Selain itu ia juga menjelaskan terkait esensi dari penulisan sebuah resensi.

“Meresensi sebuah karya bukan sekadar merangkum atau melakukan review biasa, melainkan sebuah proses memaparkan dan membentuk konstruksi pikiran. Sesi penyampaian materi diakhiri dengan sesi diskusi interaktif, dan tanya jawab antara pemateri dan peserta.

Antusiasme peserta dan suasana kegiatan juga dirasakan oleh Shafa, mahasiswi Ilmu Gizi yang turut hadir dalam pelatihan tersebut. la mengaku sangat terbantu dengan penyampaian materi yang sederhana namun mendalam, terutama terkait sistematika dan keuntungan menulis resensi.

“Forum terasa hidup berkat interaksi aktif antara pemateri dan audiens. Meskipun sesi praktik harus dipersingkat karena keterbatasan waktu menjelang Maghrib, saya salut dengan kesigapan panitia yang menginisiasi Rencana Tindak Lanjut (RTL) agar ilmu ini terus berkembang,” ungkapnya, sembari berharap adanya pelatihan lanjutan di masa mendatang.

Kemudian acara tersebut ditutup dengan sesi dokumentasi bersama antara pemateri, peserta, dan seluruh panitia. Dengan ini HMP IQT UMS berkomitmen dalam menunjang intelektualitas setiap mahasiswa, terutama IQT, agar bisa menjadi ujung tombak suatu peradaban. (Ikmal/Humas)

DKPTI UMS Bekali Awardee BAZNAS dengan Growth Mindset dan Kemampuan Adaptasi

DKPTI UMS Bekali Awardee BAZNAS dengan Growth Mindset dan Kemampuan Adaptasi

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (DKPTI UMS) menyelenggarakan kegiatan Mentoring Mahasiswa Penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) pada Kamis (26/2). Kegiatan yang digelar di UMS ini mengusung tema “Growth Mindset & Adaptability” sebagai upaya penguatan karakter dan kapasitas mahasiswa penerima beasiswa.

Mentoring tersebut diikuti oleh mahasiswa penerima BCB UMS dan dilaksanakan di Ruang Pelatihan DKPTI. Kegiatan ini bertujuan memberikan penguatan motivasi, membangun pola pikir bertumbuh (growth mindset), serta meningkatkan kemampuan adaptasi mahasiswa dalam menghadapi tantangan akademik maupun sosial.

Hadir sebagai narasumber utama, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., selaku Kasubdit Softskill dan Layanan Kemahasiswaan. Pengarahan juga disampaikan oleh Direktur DKPTI UMS, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., yang menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan bagi mahasiswa penerima beasiswa.

Ahmad Kholid menyampaikan bahwa mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman. “Mahasiswa harus mampu merespons tantangan dengan pola pikir berkembang dan kesiapan untuk terus belajar,” ujarnya, Sabtu, (28/2).

Pada sesi inti, Siti Azizah memaparkan materi tentang pentingnya growth mindset dalam membangun ketahanan diri, keberanian mencoba hal baru, serta kemampuan bangkit dari kegagalan.

Selain sesi materi, kegiatan juga diisi dengan sharing prestasi awardee BCB UMS sebagai bentuk inspirasi antar penerima beasiswa. Muhammad Fahmi turut berbagi pengalaman akademiknya, termasuk keberhasilannya menerbitkan artikel ilmiah terindeks Scopus. Capaian tersebut diharapkan dapat memotivasi mahasiswa lain untuk aktif dalam riset, publikasi ilmiah, dan meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Acara kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang berlangsung dinamis. Melalui kegiatan ini, DKPTI UMS berharap mahasiswa penerima BCB UMS semakin termotivasi untuk berprestasi, aktif berkontribusi, serta menjadi generasi unggul yang adaptif dan berdaya saing tinggi. (Nindy/Humas)

Ingin Jadi Pemuda Berdampak? Simak 3 Pesan Utama dalam Tabligh Akbar UMS

Ingin Jadi Pemuda Berdampak? Simak 3 Pesan Utama dalam Tabligh Akbar UMS

muhammadiyahkaranganyar.o.id, SURAKARTAUniversitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Tabligh Akbar 1 dengan menghadirkan Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A, Jumat (27/2) malam. Kegiatan bertema “Muda Berdaya dan Berdampak” tersebut dilaksanakan di Masjid Sudalmiyah Rais Kampus II UMS dan dihadiri ratusan mahasiswa yang memadati lantai satu dan dua masjid.

Wakil Rektor III UMS Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Pengkaderan, dan Alumni, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian kegiatan. Ia menegaskan bahwa Tabligh Akbar menjadi bagian dari komitmen UMS dalam menguatkan identitas kampus Islami.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari prioritas pembinaan rohani di kampus. Kita ingin menjadikan UMS sebagai kampus Islami, mencerahkan, unggul, mendunia, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi antusiasme mahasiswa yang memenuhi masjid. Menurutnya, semangat kehadiran generasi muda dalam forum keislaman menjadi tanda optimisme lahirnya kader-kader umat yang siap berkontribusi bagi masyarakat.

Sementara itu, Bachtiar Dwi Kurniawan dalam tausiyahnya menegaskan bahwa masa muda adalah fase paling kuat dalam siklus kehidupan manusia. Ia mengibaratkan perjalanan hidup seperti pergerakan matahari terbit, berada di puncak, lalu terbenam.

“Ketika matahari berada di titik tertinggi, itulah simbol masa muda. Kuat, panas, dan penuh energi. Maka maksimalkan potensi diri saat muda. Anak muda harus kritis, kreatif, energik, dan kuat,” tegasnya di hadapan jamaah.

Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia kerap melalaikan karena penuh dengan “permainan dan senda gurau”. Namun, menurutnya, justru di dunia inilah manusia diuji kesungguhannya sebagai khalifah di muka bumi.

Dalam paparannya, ia menekankan tiga karakter utama kader muda Muhammadiyah yang berdaya dan berdampak.

Pertama, memiliki fondasi tauhid yang kuat. Menurutnya, pemimpin masa depan harus lahir dari generasi yang berakidah kokoh dan takut kepada Allah. “Kalau pemimpin memiliki tauhid yang lurus, maka ia akan menjalankan amanah dengan benar dan memakmurkan bumi,” jelasnya.

Kedua, berbakti kepada orang tua. Ia menegaskan bahwa kesalehan sosial dimulai dari hubungan yang baik dengan ayah dan ibu. Berbakti kepada orang tua merupakan bagian integral dari ketaatan kepada Allah.

“Jangan hubungi orang tua hanya ketika kiriman menipis. Bangun komunikasi yang hangat. Jadilah anak yang membanggakan dan menjaga harmoni antargenerasi,” pesannya, seraya mencontohkan kedekatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai teladan relasi ayah dan anak.

Ketiga, mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Ia mengutip pesan Al-Qur’an agar umat Islam tidak hanya mengejar akhirat hingga melupakan dunia, dan sebaliknya.

“Kita tidak diminta memilih dunia atau akhirat. Kita diminta meraih keduanya. Menang di dunia, bahagia di dunia, sekaligus selamat di akhirat,” tuturnya.

Bachtiar juga mengingatkan pentingnya penguatan intelektualitas. Mahasiswa, katanya, harus serius menempuh pendidikan, memperkuat literasi, dan tidak menjadi “mahasiswa abadi”.

“Umat Islam yang kuat lebih dicintai Allah daripada yang lemah. Jangan jadi generasi lemah – lemah fisik, lemah intelektual, dan lemah spiritual,” tegasnya. (Fika/Humas)

Lawan Perundungan, Mahasiswa KKN-Dik UMS Edukasi Siswa SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar

Lawan Perundungan, Mahasiswa KKN-Dik UMS Edukasi Siswa SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Fakultas Keguruan dan Imu Pengetahuan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan sosialisasi pendidikan seks dan pencegahan di SMA Muhammadiyah 5 Jaten Karanganyar pada Jumat, (6/2). Kegiatan yang berlangsung di Masjid Nur Iman ini menghadirkan pembicara utama, Dr. Handayani Tri Wardani, dari Puskesmas Jaten II.

Ketua KKN-Dik FKIP UMS, Ibrahim Braga, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari kebutuhan mendesak untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang cara menjaga tubuh dan batasan pergaulan serta cara menghadapi tindakan perundungan.

“Sosialisasi ini sangat penting karena membantu siswa memahami batasan diri dan saling menghargai,” terang Ibrahim, Jum’at (27/2).

Dalam kesempatan ini, mahasiswa KKN-Dik UMS mengandeng Puskesmas Jaten II. Menurut Ibrahim, kerja sama dengan pihak Puskesmas Jaten II dipilih karena pihak puskesmas lebih berkompeten dan memiliki pengalaman luas dalam memaparkan materi sesuai kebutuhan remaja saat ini.

Dr. Handayani Tri Wardani, selaku pembicara dalam sosialisasi ini, menekankan pentingnya meluruskan persepsi keliru mengenai pendidikan seks yang selama ini sering dianggap tabu oleh masyarakat.

Menurutnya, sikap tertutup justru berbahaya di tengah bebasnya akses internet saat ini karena mendorong remaja untuk mencari tahu sendiri melalui internet tanpa penyaringan yang benar.

“Zamannya sekarang adalah zaman bebas internet. Kalau anak-anak tidak paham dan hanya mengambil konten-konten yang menurut mereka itu menarik tanpa arahan, itu bisa berdampak buruk bagi mereka ke depannya. Inilah yang harus kita arahkan melalui pendidikan seks sejak dini agar mereka paham risikonya dan tahu rambu-rambunya,” tegas Handayani.

Handayani menjelaskan bahwa terdapat lima poin utama dalam pendidikan seks. Pertama, Body awareness, yaitu mengenali perubahan fisik dan fungsi diri sendiri. Kedua, Batasan tubuh yang tidak boleh dilanggar orang lain (personal boundaries).

Ketiga, Risiko perilaku bebas dengan memberikan gambaran dampak nyata dari pergaulan tanpa kontrol. Keempat, Keamanan digital, yaitu edukasi cara berinteraksi secara aman di dunia maya. Kelima, Membangun hubungan antar manusia yang sehat dan saling menghormati.

Handayani juga menyoroti pencegahan bullying atau perundungan. Ia menekankan pentingnya strategi nyata bagi siswa untuk menghadapi perundungan, mulai dari memahami profil pelaku, dampak dari perundungan, hingga langkah aksi yang harus diambil jika mereka menjadi korban atau saksi. Fokus utamanya adalah membangun budaya positif di sekolah agar perundungan tidak mendapatkan ruang untuk tumbuh.

“Sex education dan bullying seperti ini merupakan salah satu bentuk peran sekolah dalam mencegah perundungan,” ujarnya.

Sebagai langkah tindak lanjut, Dr. Handayani merekomendasikan agar pihak sekolah lebih rutin menjalin komunikasi dengan lembaga kesehatan seperti puskesmas untuk memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi yang berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya metode evaluasi yang lebih ketat di masa mendatang.

“Harusnya ada mekanisme pre-test dan post-test untuk mengukur sejauh mana siswa benar-benar paham sebelum dan sesudah diberikan materi. Harapan kita tidak hanya mereka dengar lalu keluar tidak paham, tetapi mereka benar-benar mengerti, melaksanakan, dan tahu rambu-rambunya dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya.

Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN-Dik FKIP UMS berharap agar sosialisasi ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, namun bekal pengetahuan mengenai batasan tubuh dan strategi menghadapi perundungan ini dapat menjadi fondasi bagi terciptanya lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan positif. (Alfi/Affiq/Humas).