HMP Penjas FKIP UMS Gelar Ramadan Ceria, Tebar Kebahagiaan di Panti Asuhan

HMP Penjas FKIP UMS Gelar Ramadan Ceria, Tebar Kebahagiaan di Panti Asuhan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Pendidikan Jasmani Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (FKIP UMS) menyelenggarakan kegiatan Ramadan Ceria dan Buka Bersama dengan tema “Berbagi Kasih dan Menebarkan Kebahagiaan di Bulan Suci Ramadan”.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial mahasiswa Pendidikan Jasmani kepada masyarakat, khususnya anak-anak panti asuhan, dalam memaknai bulan suci Ramadan sebagai momentum berbagi dan mempererat ukhuwah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 9 Maret 2026, di Panti Asuhan Aisyiyah Karanganyar.

Acara ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani (Penjas) FKIP UMS yang tergabung dalam kepengurusan HMP Pendidikan Jasmani serta melibatkan anak-anak penghuni Panti Asuhan Aisyiyah Karanganyar. Kehadiran mahasiswa disambut dengan penuh antusias oleh anak-anak panti asuhan yang turut meramaikan rangkaian kegiatan Ramadan Ceria yang telah dipersiapkan oleh panitia.

Kaprodi Penjas UMS, Dr. Eko Sudarmanto, S.Pd., M.Or.,menyampaikan apresiasi kepada HMP Pendidikan Jasmani yang telah menggagas kegiatan sosial di bulan Ramadan. Menurutnya, kegiatan Ramadan Ceria tidak hanya menjadi bentuk kegiatan kemahasiswaan, tetapi juga menjadi media pembelajaran karakter bagi mahasiswa untuk menumbuhkan rasa empati, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama.

“Mahasiswa Pendidikan Jasmani tidak hanya dituntut untuk unggul dalam bidang akademik maupun olahraga, tetapi juga perlu memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar. Kegiatan pengabdian sosial seperti kunjungan ke panti asuhan dinilai mampu membangun nilai kemanusiaan serta memperkuat karakter mahasiswa sebagai calon pendidik yang memiliki integritas dan kepedulian terhadap masyarakat,” ungkapnya saat diwawancarai, Rabu, (11/3).

Pemilihan tema “Berbagi Kasih dan Menebarkan Kebahagiaan di Bulan Suci Ramadan” dipilih sebagai refleksi dari semangat Ramadan yang mendorong umat Muslim untuk meningkatkan kepedulian sosial dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya menghadirkan suasana kebersamaan dan kegembiraan bagi anak-anak panti asuhan agar mereka juga dapat merasakan kehangatan Ramadan bersama keluarga besar mahasiswa Penjas UMS

“Rangkaian kegiatan Ramadan Ceria dimulai dengan sesi perkenalan dan pembukaan acara yang dilanjutkan dengan berbagai kegiatan interaktif bersama anak-anak panti asuhan. Mahasiswa mengajak anak-anak mengikuti permainan edukatif, kegiatan kebersamaan, serta berbagai aktivitas yang dirancang untuk membangun suasana ceria dan penuh kegembiraan. Interaksi yang terjalin antara mahasiswa dan anak-anak panti asuhan menciptakan suasana hangat dan penuh kekeluargaan sepanjang kegiatan berlangsung,” paparnya.

Selain kegiatan kebersamaan, panitia juga memberikan santunan dan bingkisan kepada anak-anak panti asuhan sebagai bentuk kepedulian dan dukungan moral. Pemberian santunan ini diharapkan dapat memberikan manfaat serta menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yang tinggal di panti asuhan. Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling mengharukan dalam rangkaian kegiatan Ramadan Ceria.

Menjelang waktu berbuka puasa, seluruh peserta berkumpul untuk mengikuti doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas kesempatan untuk berbagi kebahagiaan di bulan Ramadan. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta duduk bersama menikmati hidangan berbuka puasa yang telah disiapkan oleh panitia.

Momen buka bersama memberikan kesan tersendiri dan mempererat hubungan antara mahasiswa dengan anak-anak panti asuhan. Kehangatan dan kebersamaan terlihat ketika seluruh peserta berbincang dan saling berbagi cerita dalam suasana penuh kekeluargaan.

Ketua panitia kegiatan Ramadan Ceria dari HMP Pendidikan Jasmani, Muhammad Rizky fauzi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja organisasi yang bertujuan menumbuhkan semangat pengabdian kepada masyarakat di kalangan mahasiswa. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk terus melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Juga kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami arti berbagi dan kepedulian sosial,”

Melalui kegiatan Ramadan Ceria dan buka bersama ini, HMP Program Studi Pendidikan Jasmani FKIP UMS menunjukkan komitmennya dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial, kebersamaan, dan kemanusiaan kepada mahasiswa. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelaku akademik di lingkungan kampus, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tradisi tahunan yang terus dilaksanakan oleh mahasiswa Pendidikan Jasmani FKIP UMS. Semangat berbagi yang tumbuh melalui kegiatan Ramadan Ceria diharapkan mampu memperkuat karakter mahasiswa serta memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang,” tambahnya.

Momentum Ramadan menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya dirasakan melalui pencapaian pribadi, tetapi juga melalui kemampuan untuk berbagi dan menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Melalui kegiatan ini, mahasiswa Pendidikan Jasmani FKIP UMS berupaya menebarkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang menjadi esensi utama dari bulan suci Ramadan. (Fika/Humas)

Kunjungan Mendiktisaintek ke UMS: Langkah Strategis Perkuat Ekosistem Riset Kampus Muhammadiyah

Kunjungan Mendiktisaintek ke UMS: Langkah Strategis Perkuat Ekosistem Riset Kampus Muhammadiyah

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., melakukan kunjungan ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Rabu (11/3). Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Rektor UMS di Ruang Rektor Gedung Induk Siti Walidah UMS.

Dalam pertemuan bersama jajaran pimpinan universitas, Mendiktisaintek menyampaikan apresiasi atas perkembangan UMS yang dinilai progresif, khususnya dalam penguatan riset dan pengembangan akademik.

Mendiktisaintek RI menyampaikan bahwa dalam diskusi tersebut pihak kementerian dan UMS membahas berbagai peluang kolaborasi, terutama dalam pengembangan riset serta kerja sama akses jurnal internasional.

Mendiktisaintek RI, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., saat Berkunjung ke UMS. Foto: Luqman Hakim

“Beberapa hal yang tadi kita bicarakan adalah bagaimana pengembangan riset, kemudian juga bagaimana nanti MoU yang akan kita lakukan bersama UMS terkait akses untuk beberapa jurnal,” ungkap Brian.

Brian juga menilai UMS sebagai salah satu perguruan tinggi yang menunjukkan perkembangan signifikan. Menurutnya, semangat progresif yang ditunjukkan UMS diharapkan dapat terus berlanjut, terutama dalam menghasilkan riset yang berdampak luas.

“Kami melihat UMS ini sangat progresif. Kami harap bisa terus melanjutkan berbagai risetnya,” tambahnya.

Selain penguatan riset, diskusi juga menyentuh konsep pengembangan akademik dan perluasan jaringan kampus yang berada di sekitar UMS maupun di berbagai wilayah di Indonesia. Pemerintah, kata Brian, akan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan tersebut.

“Kami tentu dari kementerian akan terus menerus mendukung. Selamat kami sampaikan kepada UMS, semoga pengembangan ini dapat berjalan terus,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menjelaskan bahwa kunjungan Mendiktisaintek ke UMS merupakan tindak lanjut dari diskusi sebelumnya mengenai pengembangan riset yang berorientasi pada hilirisasi dan nilai komersialisasi.

Menurut Harun, sebelum menjabat sebagai menteri, Brian Yuliarto pernah memberikan berbagai gagasan terkait penguatan riset berbasis hilirisasi yang dapat memberi dampak nyata bagi masyarakat maupun dunia industri.

“Kami secara khusus mengundang Pak Menteri ke UMS dalam rangka menindaklanjuti insight beliau sebelumnya tentang pengembangan riset yang berhilirisasi dan bernilai komersialisasi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, UMS juga memaparkan arah pengembangan universitas ke depan yang meliputi penguatan akademik, pengembangan kelembagaan, peningkatan kualitas riset dan pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan reputasi institusi.

Selain itu, Harun juga mengungkapkan bahwa UMS saat ini terus memperluas jejaring pendidikan melalui pengembangan kampus sister di berbagai daerah.

Ia menyebutkan bahwa saat ini UMS telah memiliki sister campus di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Ke depan, UMS juga merencanakan jaringan pengembangan kampus baru di Bali dengan nama Universitas Bali Internasional Muhammadiyah, serta rencana pendirian kampus di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

“UMS menjadi motor utama dalam rangka menghadirkan pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang berkualitas dari Sabang sampai Merauke,” ujar Harun.

Respon dari Mendiktisaintek, menurut Harun, sangat mendukung arah gerak UMS. Mendiktisaintek memberikan apresiasi atas langkah pengembangan tersebut dan berkomitmen mendukung peluncuran jaringan sister campus Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) di berbagai wilayah Indonesia. (Fika/Humas)

Lebih dari Proteksi Diri, Inilah Alasan Vaksinasi Sangat Vital bagi Kesehatan Masyarakat

Lebih dari Proteksi Diri, Inilah Alasan Vaksinasi Sangat Vital bagi Kesehatan Masyarakat

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Kesadaran menjaga kesehatan tubuh tidak hanya bergantung pada pola hidup sehat, tetapi juga pada pemahaman tentang sistem kekebalan tubuh. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dr. Iin Novita Nurhidayati Mahmuda, M.Sc., Sp.PD-KPTI, FINASIM., menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki dua jenis sistem kekebalan, yakni imunitas alami dan imunitas yang didapat.

Menurutnya, imunitas alami dimiliki oleh setiap orang yang sehat. Sistem ini bekerja secara otomatis ketika tubuh terpapar patogen seperti virus atau bakteri.

“Kalau orang itu sehat, ketika terkena paparan patogen, maka tubuh akan mampu melawannya. Orang yang sehat disebut imunokompeten, artinya sistem imunnya bagus dan tidak mudah sakit,” jelasnya, Rabu (11/3).

Dosen Fakultas Kedokteran UMS dr. Iin Novita Nurhidayati Mahmuda, M.Sc., Sp.PD-KPTI,FINASIM.

Akan tetapi tidak semua orang memiliki kondisi sistem kekebalan tubuh yang kuat. Pada sebagian individu, sistem kekebalan tubuh bisa menurun atau mengalami defisiensi imun. Kondisi ini membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi, bahkan dari patogen yang pada orang sehat tidak menimbulkan penyakit serius. Seringkali kelompok rentan seperti lansia atau penderita penyakit tertentu, misalnya diabetes, penyakit jantung, maupun gangguan paru-paru, mengalami defisiensi imun.

Selain imunitas alami, tambahnya, manusia juga dapat memperoleh imunitas yang didapat, misalnya setelah sembuh dari suatu penyakit. Ketika seseorang pernah terinfeksi dan berhasil pulih, tubuh akan memiliki memori imun terhadap penyakit tersebut.

Di sisi lain, imunitas juga bisa diperoleh melalui vaksinasi. Menurut Iin, vaksin merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit menular yang sangat penting dalam dunia kesehatan.

“Namun ada penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi. Harapannya, pertama kita tidak terkena penyakit tersebut. Kedua, jika pun terkena, gejalanya menjadi lebih ringan. Jadi tujuan vaksin adalah mencegah terjadinya penyakit atau jika terkena, penyakitnya tidak berat dan bisa cepat sembuh,” ujarnya.

Vaksin bekerja dengan cara menstimulasi tubuh untuk membentuk kekebalan terhadap patogen tertentu. Patogen tersebut bisa berupa virus maupun bakteri. Melalui proses ini, tubuh akan memiliki respons imun yang lebih cepat ketika suatu saat terpapar penyakit yang sama.

Ia menambahkan bahwa vaksin menjadi sangat penting untuk penyakit yang penyebarannya cepat dan luas, bahkan berpotensi menimbulkan pandemi.

“Pada orang-orang dengan kondisi tubuh yang lemah, angka kematian menjadi lebih tinggi. Di situlah pentingnya vaksinasi,” kata Iin.

Selain melindungi individu, vaksinasi juga berperan dalam membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Ketika semakin banyak orang yang divaksin, maka risiko penyebaran penyakit di suatu komunitas akan semakin kecil.

“Dengan vaksin, kita mendapatkan imunitas untuk diri sendiri dan juga imunitas komunitas. Artinya jika semakin banyak orang yang divaksin, maka komunitas tersebut akan semakin terlindungi. Ini juga melindungi orang-orang yang belum bisa divaksin. Itulah tujuan vaksinasi,” tekannya.

Dalam praktiknya, terdapat beberapa jenis vaksin. Sebagian vaksin berasal dari patogen yang dilemahkan sehingga mampu merangsang pembentukan kekebalan tubuh. Namun vaksin yang berasal dari virus hidup yang dilemahkan tidak diberikan kepada semua orang. Misalnya tidak dianjurkan untuk ibu hamil, pasien HIV yang belum mendapatkan pengobatan, pasien transplantasi, atau pasien yang sedang menjalani kemoterapi dan radiasi.

Selain itu, terdapat pula vaksin yang dibuat menggunakan teknologi genetika dan biologi molekuler. Vaksin jenis ini tidak menggunakan virus hidup, melainkan hanya bagian tertentu dari patogen yang dapat memicu pembentukan kekebalan.

“Vaksin jenis ini bisa diberikan kepada hampir semua orang, hanya saja disesuaikan dengan usia atau kelompok tertentu,” tambahnya.

Di Indonesia sendiri, sejumlah vaksin termasuk dalam program imunisasi wajib, seperti vaksin campak, DPT, polio, BCG, dan hepatitis B. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menekan angka kejadian penyakit menular.

Meski demikian, Iin mengakui bahwa gerakan antivaksin masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan harus mengedepankan dialog dan edukasi yang tepat.

“Kita harus fokus pada solusi, bukan konflik. Hindari perdebatan yang keras. Jika mereka belum bisa menerima penjelasan, kita bisa melibatkan pihak lain yang lebih dipercaya,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya penyampaian informasi yang benar berdasarkan data ilmiah dan penelitian. Edukasi juga dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti kegiatan komunitas, seminar, workshop, hingga pemanfaatan media sosial secara bijak.

Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa vaksin tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar yang lebih rentan terhadap penyakit. (Maysali/Humas)

Kesmas UMS Gelar Workshop Proposal, Perkuat Kesiapan Mahasiswa Hadapi Magang dan PBL 2

Kesmas UMS Gelar Workshop Proposal, Perkuat Kesiapan Mahasiswa Hadapi Magang dan PBL 2

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Program Studi Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat kesiapan akademik mahasiswanya menjelang pelaksanaan mata kuliah Magang dan Praktik Belajar Lapangan (PBL-2) Tahun Akademik 2025/2026. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan Workshop Proposal Magang dan PBL-2.

Koordinator Magang dan PBL-2 Prodi Kesmas UMS, Sheena Ramadhia Asmara Dhani, S.KM., M.KKK., menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembekalan bagi mahasiswa sebelum terjun langsung ke lapangan.

“Workshop ini diikuti oleh mahasiswa Prodi Kesmas UMS yang akan melaksanakan program magang dan PBL-2 pada tahun akademik berjalan,” ujar Sheena Ramadhia saat ditemui pada Rabu, (11/3).

Sheena menjelaskan bahwa penyusunan proposal yang baik akan menjadi panduan utama bagi mahasiswa selama menjalankan kegiatan magang maupun PBL-2. Dengan perencanaan yang matang, kegiatan yang dilakukan di lapangan dapat berjalan lebih terarah dan efektif.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga bertujuan mendorong mahasiswa untuk lebih peka terhadap berbagai persoalan kesehatan masyarakat. Melalui proposal yang disusun, mahasiswa diharapkan mampu merancang program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Tak sendirian, ia bersama Alissa Sita Pertiwi, S.K.M., M.K.M., Widya Kusuma Muslim, S.Tr.Kes., serta Rayyan Hanugrah, S.Kom., untuk memberikan arahan kepada para peserta terkait pentingnya penyusunan proposal yang sistematis dan sesuai pedoman akademik.

“Dalam kegiatan ini mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai tahapan penyusunan proposal magang dan PBL-2. Materi yang disampaikan mencakup penentuan topik kegiatan, penyusunan latar belakang, metode pelaksanaan, hingga sistematika penulisan proposal yang benar,” papar Alissa Sita.

Selain pembahasan terkait penulisan proposal, mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. Hal ini meliputi mekanisme koordinasi dengan instansi mitra, pemetaan lokasi kegiatan, serta pengelolaan program agar selaras dengan capaian pembelajaran.

Dalam kegiatan yang telah terlaksana pada Jumat, (6/3), di Ruang Seminar Pascasarjana UMS, antusiasme mahasiswa terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Pada sesi ini, mahasiswa memanfaatkan kesempatan untuk berkonsultasi mengenai ide dan rancangan proposal yang akan mereka kembangkan.

Melalui kegiatan tersebut, Prodi Kesmas UMS menegaskan komitmen Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam menyiapkan lulusan yang kompeten, profesional, dan siap berkontribusi dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. (Yusuf/Humas)

FHIP UMS Sabet Peringkat 3 Fakultas Hukum Swasta Terbaik Nasional Versi Scimago 2026

FHIP UMS Sabet Peringkat 3 Fakultas Hukum Swasta Terbaik Nasional Versi Scimago 2026

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Berdasarkan publikasi pemeringkatan global Scimago Institutions Rankings (SIR) 2026, FHIP UMS berhasil menempati peringkat ke-3 sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik di Indonesia dalam bidang hukum, sekaligus menjadi Fakultas Hukum PTS terbaik di Provinsi Jawa Tengah.

Capaian FHIP UMS dalam Scimago Rankings 2026 menempatkannya dalam persaingan ketat dengan jajaran universitas ternama lainnya. FHIP UMS mengalami peningkatan dari peringkat 5 pada tahun 2024 menjadi peringkat 3 swasta terbaik nasional.

Pemeringkatan berskala global tersebut mengevaluasi ribuan institusi pendidikan tinggi di dunia menggunakan metodologi komprehensif berbasis data. Penilaian SIR menggabungkan tiga indikator utama, yaitu kinerja penelitian (research), luaran inovasi (innovation), dan dampak sosial (societal impact) yang diukur melalui visibilitas digital.

Dekan FHIP UMS, Prof. Dr. Kelik Wardiono, S.H., M.H

Dekan FHIP UMS, Prof. Dr. Kelik Wardiono, S.H., M.H., mengungkapkan capaian FHIP UMS dalam kategori subjek hukum (Law) didorong oleh peningkatan signifikan pada jumlah publikasi ilmiah yang terindeks secara internasional. Pertumbuhan ini turut diperkuat oleh kualitas sitasi karya ilmiah yang tinggi, sehingga memperkuat posisi fakultas dalam indikator publikasi berkualitas.

“Selain itu, FHIP UMS juga menunjukkan performa unggul pada indikator kolaborasi internasional. Persentase karya ilmiah yang dihasilkan melalui kerja sama dengan peneliti mancanegara mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan dan kajian hukum yang lahir dari lingkungan akademik FHIP UMS memiliki relevansi serta daya saing dalam diskursus keilmuan global,” paparnya, Selasa, (10/3).

Pada aspek inovasi, lanjutnya, fakultas mencatatkan skor yang kuat pada indikator luaran inovasi. Penilaian tersebut mengukur sejauh mana hasil penelitian institusi berkontribusi pada pengembangan kebijakan maupun ketika dikutip dalam dokumen paten dan praktik hukum.

Sementara pada pilar dampak sosial, FHIP UMS juga menonjol melalui visibilitas digital serta keterlibatan publik. Indikator ini menilai efektivitas penyebaran informasi ilmiah melalui kanal digital, termasuk diseminasi kajian hukum kepada masyarakat luas.

Dekan FHIP UMS juga menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh civitas academica dalam memperkuat ekosistem riset yang berdampak.

“Pencapaian dalam Scimago Institutions Rankings 2026 ini merupakan hasil kerja keras dosen dan mahasiswa dalam memperkuat ekosistem riset yang berdampak. FHIP UMS selalu menekankan bahwa setiap kajian hukum yang lahir harus mampu memberikan solusi nyata bagi persoalan hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat posisi UMS sebagai salah satu PTS unggulan di bidang hukum dan ilmu politik di Indonesia.

Capaian FHIP UMS dalam Scimago Rankings 2026 juga menempatkan fakultas dalam persaingan dengan berbagai universitas ternama lainnya. Metodologi Scimago yang berbasis pada data objektif memastikan bahwa peringkat tersebut mencerminkan produktivitas akademik yang nyata dari para peneliti dan akademisi di lingkungan FHIP UMS.

Dengan dirilisnya data SIR 2026, peta pendidikan tinggi di Indonesia semakin menunjukkan kompetisi yang sehat. Perguruan tinggi swasta seperti UMS terbukti mampu bersaing bahkan mengimbangi performa universitas negeri dalam standar riset, inovasi, dan dampak keilmuan di tingkat global.

“Keberhasilan ini menjadi bukti nyata konsistensi institusi dalam menjaga standar mutu pendidikan yang selaras dengan kriteria global,” ujar Kelik.

Metodologi Scimago yang berpijak pada data objektif dan terukur memastikan bahwa peringkat ini adalah refleksi dari produktivitas nyata para akademisi di lingkungan FHIP UMS. Kelik berharap, pencapaian ini dapat menjadi tolok ukur kualitas bagi calon mahasiswa, mitra kerja sama internasional, maupun lembaga donor riset dalam menilai reputasi akademik institusi. (Fika/Humas)