NEWSKABAR12, Karanganyar – Dalam upaya memperkuat ideologi Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Colomadu, melalui Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI), mengadakan kegiatan Baitul Arqam. Acara ini berlangsung selama dua hari di Wisma Rumaket Kemuning, Ngargoyoso, dan dihadiri oleh 119 peserta yang terdiri dari guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di lingkungan PCM Colomadu.
Mengusung tema “Teguhkan Ideologi Kader Muhammadiyah dalam Mewujudkan AUM Pendidikan yang Berkemajuan,” kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang Muhammadiyah bagi semua guru dan karyawan. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Karanganyar, Muhammad Arif Babheir, S.Ag., M.Pd., hadir untuk memberikan sambutan sekaligus membuka acara. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya semangat amar ma’ruf nahi mungkar melalui amal usaha Muhammadiyah. “Bermuhammadiyah harus bangga dan bersyukur, karena visi Muhammadiyah adalah misi risalah Islam. Ikuti kegiatan ini dengan ikhlas dan yakin, insya Allah Allah akan mencukupi semuanya,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber terkemuka, di antaranya Dr. Yan Surono, Ustadz Ruswah Darsono, ST. (PWM Jawa Tengah), H. Arif Nasirudin, S.Ag. (PDM Karanganyar), Ustadz Agus Sumiyanto (MPI PP Muhammadiyah), dan Dr. Muhammad Ali (Dikdasmen PP Muhammadiyah). Dalam sesi diskusi, para narasumber membahas berbagai aspek penting mengenai ideologi Muhammadiyah dan penerapannya dalam pendidikan.
Ketua panitia sekaligus Ketua MPKSDI PCM Colomadu, Hari Prasetyo, menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan seluruh guru dan karyawan dari SD MI dan SMP Muhammadiyah se-Colomadu, termasuk SD MUH Plus Malangjiwan, SD MPU Gedongan, SD MPK Baturan, MIM Gedongan, MIM Ngasem, dan SMP Muhammadiyah 7 Colomadu. “Pelaksanaan kegiatan ini sudah disiapkan jauh-jauh hari. Tujuannya adalah untuk meneguhkan kembali peran guru dan karyawan dalam mengembangkan persyarikatan Muhammadiyah,” imbuhnya.
Seno Arianto, Ketua PCM Colomadu, juga menyoroti pentingnya kegiatan ini. “Baitul Arqam adalah bagian penting untuk menguatkan ideologi Muhammadiyah bagi guru kader yang militan, sebagai pondasi ilmu yang nantinya disiapkan untuk anak didik di sekolah. Harapannya, dengan adanya kegiatan ini, dapat memberikan dampak positif dalam pemahaman tentang Islam dan keluhammadiyahan, serta meningkatkan kedisiplinan, karena mereka adalah ujung tombak pendidikan Muhammadiyah,” pungkasnya.
Kegiatan Baitul Arqam ini diharapkan tidak hanya memperkuat ideologi Muhammadiyah di kalangan pendidik, tetapi juga menciptakan sinergi yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan AUM Muhammadiyah Colomadu.
NEWSKABAR12, Karanganyar – Orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak. Seperti yang diungkapkan oleh Bob Keeshan, “Tidak ada orang lain atau kekuatan luar yang memiliki pengaruh lebih besar pada anak selain orang tua.” Inspirasi ini menjadi landasan bagi TK Aisyiyah Bolon 1 dalam menyelenggarakan kegiatan parenting yang diadakan di masjid komplek Muhammadiyah Bolon.
Mengusung tema “Peran Orang Tua dalam Perkembangan Pendidikan Anak”, acara ini menghadirkan pembicara yang kompeten, Iyan Sofyan, S.Pd., M.A., dosen PGPaud UAD dan praktisi pendidikan. Kegiatan ini dihadiri oleh 45 orang tua dari seluruh wali murid TK Aisyiyah Bolon 1, yang terdiri dari kelas TK A dan TK B.
Acara dibuka oleh Istiqomah, Kepala Sekolah TK Aisyiyah Bolon 1, yang menyampaikan sambutan hangatnya. Beliau mengucapkan terima kasih kepada para wali murid yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan memberikan dukungan terhadap program-program yang telah disusun oleh sekolah.
Turut hadir dalam kegiatan ini, Sumarno, perwakilan PRA Bolon selaku PaudDasmen, yang menyampaikan rasa bangganya atas terselenggaranya acara parenting ini. “Semoga kegiatan ini menambah wawasan dan pengetahuan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka,” ujarnya.
Dalam sesi parenting, Iyan Sofyan membagikan wawasan mengenai beberapa aspek penting dalam mendidik anak. Pertama, ia menjelaskan tentang akibat perlakuan negatif pada anak, yang dapat berdampak jangka pendek, menengah, dan panjang. Selanjutnya, ia menyajikan data dan fakta terkait kasus perlindungan anak, menyoroti pentingnya kesadaran akan isu ini. Iyan juga menguraikan hakekat mendidik dalam Islam, menekankan prinsip-prinsip dasar pendidikan yang sejalan dengan nilai-nilai agama.
Sifat teladan Rasulullah, seperti sikap ramah, lemah lembut, dan penuh kasih sayang, menjadi contoh yang penting untuk diterapkan dalam pola asuh anak. Penguatan karakter islami juga dibahas, sebagai langkah untuk membangun karakter yang kuat dan sesuai dengan ajaran agama. Selain itu, Iyan menjelaskan tahapan mendidik anak serta tuntunan pendidikan dalam Islam yang bisa diadopsi oleh orang tua. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendidik anak, serta memperkenalkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat sebagai panduan untuk menumbuhkan kebiasaan positif. Dengan memahami dan menerapkan aspek-aspek ini, diharapkan orang tua dapat lebih efektif dalam mendidik anak-anak mereka.
Acara parenting ini ditutup dengan sesi foto bersama dan pemberitahuan mengenai agenda program sekolah yang akan datang. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara orang tua dan sekolah, serta meningkatkan pemahaman orang tua tentang peran mereka dalam pendidikan anak.
NEWSKABAR12, Karanganyar – Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan partisipasi siswa dalam kegiatan kemanusiaan, Pengurus Palang Merah Remaja (PMR) Mula MI Muhammadiyah Karanganyar resmi dikukuhkan oleh Bapak Dwi Cahyono, Kepala Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Karanganyar. Acara yang berlangsung dengan khidmat ini diadakan pada hari Senin di halaman sekolah, dihadiri oleh siswa, guru, serta orang tua siswa.
Pengukuhan ini merupakan langkah penting dalam pengembangan ekstrakurikuler PMR di Mula MI Muhammadiyah Karanganyar. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa tidak hanya belajar tentang prinsip-prinsip kemanusiaan, tetapi juga membangun karakter yang peduli, tangguh, dan berintegritas dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dalam sambutannya, Bapak Dwi Cahyono mengungkapkan harapannya agar pengurus PMR yang baru dilantik dapat melaksanakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. “Kegiatan PMR bukan hanya tentang pertolongan pertama, tetapi juga tentang membangun kesadaran sosial dan kepedulian terhadap sesama. Semoga kalian bisa menjadi agen perubahan di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Acara pengukuhan ini juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan dari siswa, menampilkan bakat mereka dalam seni dan budaya. Ini menambah semarak suasana dan menunjukkan betapa beragamnya potensi yang dimiliki oleh siswa-siswi di Mula MI Muhammadiyah Karanganyar.
Dengan adanya PMR, diharapkan siswa dapat lebih aktif terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, seperti bakti sosial, penyuluhan kesehatan, dan kegiatan lainnya yang mendukung upaya kesehatan masyarakat. Pengurus PMR Mula MI Muhammadiyah Karanganyar berkomitmen untuk menjadi teladan dalam peduli terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Semoga dengan pengukuhan ini, PMR Mula MI Muhammadiyah Karanganyar dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi siswa dan masyarakat, serta menciptakan generasi muda yang lebih peka dan berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan.
NEWSKABAR12, Sukoharjo – Dalam beberapa bulan terakhir, Orkes Melayu (OM) Lorenza telah menjadi sorotan di dunia musik Indonesia, terutama di media sosial. Grup musik asal Sukoharjo ini berhasil mencuri perhatian publik dengan mengubah genre mereka menjadi musik dangdut klasik, dan kini tengah viral di kalangan pecinta musik.
OM Lorenza membawakan lagu-lagu dangdut klasik dari era 70-an, 80-an, dan 90-an, dan sukses meraih pasar mereka sendiri. Dengan gaya khas yang terinspirasi dari dekade tersebut, grup ini berhasil membangun basis penggemar yang fanatik, yang menikmati penampilan mereka yang unik dan penuh nostalgia.
Beberapa lagu andalan yang telah mengantarkan OM Lorenza ke puncak popularitas antara lain “Tambal Ban”, “Antara Kau Dia dan Aku”, “Tembok Derita”, “Singkong dan Keju”, “Terajana”, “Cinta Segitiga”, dan “Bukan Cerita Dusta”. Setiap penampilan di atas panggung tidak hanya menghadirkan musik yang menghibur, tetapi juga visual yang menarik, dengan para personel yang mengenakan outfit retro yang mencerminkan gaya ikonik era 80-an.
Kehadiran OM Lorenza menjadi suatu anomali di tengah gempuran musik koplo yang lebih modern. Mereka menawarkan alternatif yang menyegarkan bagi penggemar musik dangdut yang merindukan nuansa klasik dan keaslian dari genre ini. Dengan berbasis di Dukuh Ngemul, Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari, grup ini telah menunjukkan bahwa musik dangdut klasik masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Kepopuleran OM Lorenza di media sosial merupakan bukti bahwa musik dangdut klasik tidak akan pernah mati. Dengan dedikasi dan semangat yang tinggi, mereka terus berusaha untuk memperkenalkan kembali lagu-lagu nostalgia kepada generasi muda, memastikan bahwa warisan musik Indonesia tetap hidup dan relevan.
NEWSKABAR12, Sukoharjo – Dalam beberapa bulan terakhir, Orkes Melayu (OM) Lorenza telah menjadi sorotan di dunia musik Indonesia, terutama di media sosial. Grup musik asal Sukoharjo ini berhasil mencuri perhatian publik dengan mengubah genre mereka menjadi musik dangdut klasik, dan kini tengah viral di kalangan pecinta musik.
OM Lorenza membawakan lagu-lagu dangdut klasik dari era 70-an, 80-an, dan 90-an, dan sukses meraih pasar mereka sendiri. Dengan gaya khas yang terinspirasi dari dekade tersebut, grup ini berhasil membangun basis penggemar yang fanatik, yang menikmati penampilan mereka yang unik dan penuh nostalgia.
Beberapa lagu andalan yang telah mengantarkan OM Lorenza ke puncak popularitas antara lain “Tambal Ban”, “Antara Kau Dia dan Aku”, “Tembok Derita”, “Singkong dan Keju”, “Terajana”, “Cinta Segitiga”, dan “Bukan Cerita Dusta”. Setiap penampilan di atas panggung tidak hanya menghadirkan musik yang menghibur, tetapi juga visual yang menarik, dengan para personel yang mengenakan outfit retro yang mencerminkan gaya ikonik era 80-an.
Kehadiran OM Lorenza menjadi suatu anomali di tengah gempuran musik koplo yang lebih modern. Mereka menawarkan alternatif yang menyegarkan bagi penggemar musik dangdut yang merindukan nuansa klasik dan keaslian dari genre ini. Dengan berbasis di Dukuh Ngemul, Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari, grup ini telah menunjukkan bahwa musik dangdut klasik masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Kepopuleran OM Lorenza di media sosial merupakan bukti bahwa musik dangdut klasik tidak akan pernah mati. Dengan dedikasi dan semangat yang tinggi, mereka terus berusaha untuk memperkenalkan kembali lagu-lagu nostalgia kepada generasi muda, memastikan bahwa warisan musik Indonesia tetap hidup dan relevan.