muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Tim dosen Fakultas Geografi dan Teknik Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah menyelesaikan program pengabdian kepada masyarakat bersama Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (21/2).
Tim yang terdiri atas Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., Dr. Ir. Qomarun, M.M., Dewi Novita Sari, S.Si., M.Sc., Basyar Ihsan Arijuddin, S.Si., M.Sc., dan Nirma Lila Anggani, S.Si., M.Sc., menggelar program yang berlangsung selama enam bulan tersebut berfokus pada pendampingan produk unggulan UMKM di lingkungan Jamaah Tani Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan ini diharapkan menjadi kolaborasi strategis dalam meningkatkan sinergi antara aspek sosial, ekonomi, dan keagamaan yang selaras dengan tujuan dakwah Muhammadiyah.
Ketua tim, Kuswaji, menegaskan bahwa pendampingan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas teknis pelaku usaha, tetapi juga memperluas jejaring kerja sama lintas sektor.
Pertemuan Koordinasi Keberlanjutan Program Jatam 2025-2030 di Gedung Induk Siti Walidah sebagai Upaya Kemandirian Pangan di Sukoharjo
“Pendampingan tidak hanya memberikan ilmu dan keterampilan, tetapi juga membuka kesempatan untuk memperkuat jaringan antar UMKM serta antara UMKM dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta. Kolaborasi ini akan sangat membantu dalam memperluas peluang usaha dan inovasi,” ujar Kuswaji, Senin (23/2).
JATAM MPM-PDM Kabupaten Sukoharjo yang berdiri pada 2 Februari 2025 memiliki visi menjadi lembaga unggul dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian dan peternakan, dengan fokus pada inovasi, kesejahteraan, dan keberlanjutan.
Kegiatan yang dilaksanakan bersama Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UMS ini berangkat dari analisis situasi terkait penguatan kapasitas kader tani dalam menindaklanjuti agenda pemberdayaan pertanian dan potensi lokal. Langkah tersebut juga sejalan dengan fokus nasional pada program petani dan kedaulatan pangan.
Secara umum, program ini menitikberatkan pada tiga hal utama, yakni pemberdayaan ekonomi masyarakat di sektor pertanian guna mengurangi kemiskinan dan ketergantungan ekonomi; pengembangan kapasitas kader lokal melalui pelatihan dan sekolah kader agar mampu menjadi fasilitator pemberdayaan; serta penyelenggaraan konvensi dan jambore komunitas tani sebagai ruang belajar, memperluas jejaring, dan meningkatkan inovasi pertanian berbasis komunitas.
Melalui pendampingan yang mencakup aspek produk, pemasaran, dan manajerial, produk-produk UMKM diharapkan semakin kompetitif dan mampu bersaing di pasar yang semakin global dan dinamis. Selain itu, produk unggulan yang dihasilkan diharapkan lebih mudah dikenal dan diterima pasar.
Pendampingan ini juga mendorong pelaku UMKM untuk terus berinovasi dan melakukan diversifikasi produk agar tidak bergantung pada satu jenis komoditas saja.
“Hal ini sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis produk dan menciptakan keberagaman dalam lini produk yang ditawarkan. Produk unggulan yang dihasilkan oleh Jamaah Tani Muhammadiyah bisa jadi lebih ramah lingkungan dan memperhatikan keberlanjutan,” tutup Kuswaji. (Maysali/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Program SEA Teacher yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Surakarta melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan dan kolaborasi regional Asia Tenggara. Program ini menghadirkan mahasiswa dari Aklan Catholic College, Filipina, untuk mengikuti praktik mengajar dan pertukaran budaya di UMS.
Selama program berlangsung, para mahasiswa inbound terlibat aktif dalam kegiatan teaching practice di sekolah mitra, observasi pembelajaran, diskusi akademik bersama dosen, serta pengenalan sistem pendidikan di Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran lintas budaya sekaligus penguatan kompetensi pedagogik.
“Program ini tidak hanya membentuk kompetensi mengajar, tetapi juga memperluas wawasan global dan memperkuat pemahaman lintas budaya mahasiswa,” ujar Dekan FKIP UMS, Prof. Dr. Anam Sutopo, M.Hum., saat diwawancarai pada Senin, (23/2).
Mahasiswa UMS yang sebelumnya mengikuti program serupa ke University of Northern Philippines dan Aklan Catholic College turut berperan sebagai buddies. Mereka mendampingi peserta inbound dalam aktivitas akademik maupun sosial, sehingga tercipta suasana kekeluargaan selama program berlangsung.
Lima mahasiswa SEA Teacher dari Aklan Catholic College, yakni Alben Matias Hinampas, Archelyn Belarmino Catedrilla, Myra Shane Rimano Nemis, Nicole Kyrell Domingo Estrella, dan Rey Taladtad Ballera, mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Mereka menjalani praktik mengajar di SMP PK KOTTABARAT sebagai sekolah mitra.
Dalam testimoninya, para mahasiswa menyampaikan bahwa pengalaman mengajar di sekolah tersebut memberikan perspektif baru tentang pendekatan pembelajaran, manajemen kelas, serta interaksi guru dan siswa dalam konteks budaya yang berbeda. Mereka juga menilai program ini membentuk kepekaan sosial dan kemampuan adaptasi sebagai calon pendidik profesional.
Dekan FKIP UMS menegaskan bahwa SEA Teacher merupakan bagian dari strategi fakultas dalam membangun jejaring global yang berkelanjutan. Ia menyebut kolaborasi ini tidak hanya berdampak pada mahasiswa inbound, tetapi juga memperkaya wawasan mahasiswa UMS dalam konteks pendidikan internasional.
Wakil Dekan IV Bidang Partnership dan Internationalisation FKIP UMS, Dr. Muhammad Noor Kholid, S.Pd., M.Pd., menambahkan bahwa UMS terus membuka diri bagi mahasiswa internasional. Program mobilitas ini menjadi wujud nyata komitmen fakultas dalam memperluas kerja sama akademik lintas negara.
Kasubdit Pengembangan Kemitraan Akademik dan Mobilitas Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional (DRKUI) UMS, Hepy Adityarini, S.Pd., M.A., Ph.D., turut menyampaikan bahwa UMS menyediakan berbagai skema beasiswa bagi mahasiswa internasional yang ingin melanjutkan studi, sebagai tindak lanjut dari kerja sama yang telah terjalin.
Rangkaian kegiatan SEA Teacher tersebut secara resmi ditutup melalui Closing Ceremony yang telah digelar pada Sabtu, (21/2) di FKIP UMS. Kegiatan penutupan berlangsung khidmat dan dihadiri jajaran pimpinan fakultas, International Office, dosen pembimbing, serta mahasiswa pendamping.
Pada seremoni tersebut, para mahasiswa SEA Teacher tampil mengenakan pakaian tradisional Filipina sebagai simbol persahabatan dan pertukaran budaya yang telah terjalin. Penutupan ini menjadi penanda berakhirnya program sekaligus awal dari kolaborasi berkelanjutan antara UMS dan Aklan Catholic College dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan profesional guru di tingkat regional maupun global. (Yusuf/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Muhammad Yogi Saputro, mahasiswa program studi Magister Pendidikan Agama Islam berhasil meraih penghargaan sebagai peserta terbaik III dalam Workshop Nasional Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APPPTMA) Tahun 2026.
Sejumlah 67 peserta yang berasal dari 28 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mengikuti kegiatan yang diselenggarakan pada 13-14 Februari 2026 di Aula Gedung Soedirman, Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Yogi dalam keteranganya mengungkapkan bahwa artikel ilmiah yang ia tulis berjudul “Digital Transformation in Islamic Religious Education” yang ditargetkan untuk publikasi pada jurnal internasional bereputasi Digital Education for All. Artikel tersebut mengintegrasikan konsep transformasi digital dengan nilai, pedagogis, dan tantangan etika dalam pendidikan agama Islam di era Ai secara sistematis dan kontekstual.
Muhammad Yogi Saputro Mahasiswa Prodi Magister Pendidikan Agama Islam UMS Menjadi Terbaik III Dalam APPPTMA 2026
“Karena transformasi digital berbasis AI merupakan isu strategis dalam pendidikan tinggi, termasuk pendidikan agama Islam. Bidang ini penting karena pendidikan agama tidak bisa terlepas dari perkembangan teknologi. Integrasi AI secara etis dan pedagogis dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, riset, serta daya saing global,” ungkapnya saat dimintai keterangan pada, Senin (23/2).
Menggunakan pendekatan berbasis literatur mutakhir, analisis konseptual yang sistematis, dan penggunaan AI, Yogi melakukan persiapan penelitian dengan tetap menjaga integrasi akademik. Ia menyoroti risiko AI dalam menyeragamkan pemahaman agama yang sering menjadi perhatian, AI kerap kali memberikan jawaban yang bersifat umum, sedangkan dalam Islam perbedaan mazhab dan tafsir adalah kekayaan intelektual yang luar biasa.
Berdasarkan fenomena tersebut, ia menegaskan AI bukanlah sumber landasan utama dalam menjawab suatu isu, terutama dalam konteks keagamaan. Dalam hal ini, peran pendidik diperlukan dalam menyelaraskan berbagai keberagaman pandangan dalam Islam.
“AI mungkin bisa membantu memberi gambaran awal, tetapi pendalaman tetap membutuhkan bimbingan ulama dan kajian ilmiah. AI bukan ancaman bagi pendidikan Islam. Yang berbahaya bukan teknologinya, tetapi kalau kita menggunakannya tanpa ilmu, tanpa etika, dan tanpa kesadaran nilai,” tekannya,
Dalam proses penyusunan artikel ilmiah, Yogi mendapat dukungan dari Prof Dr. Waston, M.Hum., rekan akademisi serta institusi yang menyediakan ruang diskusi akademik. Melalui keberhasilan ini, Yogi berharap pencapaiannya dapat menjadi motivasi bagi para pendidik dalam meningkatkan kualitas riset dan publikasi, sekaligus memperkuat reputasi akademik di kancah global.
“Pendidik agama perlu hadir dalam ruang AI agar nilai-nilai Islam ikut mewarnai cara teknologi itu dimanfaatkan. Kalau kita menjauh, ruang itu akan diisi oleh orang lain yang mungkin tidak punya sensitivitas nilai yang sama. AI seharusnya menjadi penguat peran guru, bukan pengganti guru,” pesannya. (Roselia/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.d, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan observasi bangunan mixed-use di Kampung Admiralty, Kamis (5/2). Kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan mahasiswa mengenai real project building di kawasan ASEAN sekaligus menggali solusi hunian adaptif bagi kota-kota padat dengan keterbatasan lahan.
Sebanyak 16 mahasiswa mengikuti rangkaian studi lapangan di Singapura dan Malaysia dengan pendampingan dosen pembimbing lapangan, Suharyani, S.T., M.T. Observasi dilakukan melalui pengenalan konteks tata ruang dan konsep perancangan, dilanjutkan pencatatan lapangan, dokumentasi foto dan sketsa, serta wawancara dengan pengguna bangunan.
“Fokus pengamatan diarahkan pada bagaimana konsep mixed-use di Kampung Admiralty mengintegrasikan hunian, layanan kesehatan, fasilitas komersial, dan ruang publik dalam satu kompleks vertikal. Model ini dinilai mampu mendorong interaksi sosial, meningkatkan aksesibilitas, serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan di kawasan dengan kepadatan tinggi,” ungkap Suharyani, Senin, (23/2).
Tim KKL Arsitektur UMS
Mahasiswa mengamati penerapan prinsip arsitektur berkelanjutan, seperti penyediaan ruang hijau bertingkat, integrasi lanskap dengan massa bangunan, sirkulasi vertikal yang efisien, hingga desain ramah lanjut usia. Kompleks delapan lantai dengan dua basement yang dimiliki Kampung Admiralty mampu menampung berbagai fasilitas, mulai dari supermarket, plaza, klinik, taman kanak-kanak, roof garden, apartemen lansia, hingga sky terrace.
Menurut masyarakat setempat, keberadaan ruang hijau menjadi elemen penting dalam menjaga kenyamanan termal. Mengingat Singapura merupakan negara kota dengan luas terbatas, vegetasi pada bangunan berfungsi membantu menurunkan suhu dan menciptakan ruang yang lebih sejuk. Integrasi tanaman dan lanskap vertikal ini menjadi bagian dari strategi desain tropis yang responsif terhadap iklim.
“Dari hasil kegiatan, mahasiswa memperoleh pemahaman konkret mengenai strategi mixed-use sebagai solusi intensifikasi lahan di kota padat. Mereka mempelajari integrasi layanan kesehatan dan komersial yang mendukung konsep ageing in place, penerapan ruang publik bertingkat, serta praktik keberlanjutan yang relevan untuk konteks perkotaan tropis,” ujar Suharyani.
Selain meningkatkan kompetensi teknis, kegiatan ini juga mengasah kepekaan sosial, kemampuan dokumentasi visual, serta keterampilan analitis mahasiswa dalam membaca relasi antara desain, fungsi, dan kebutuhan masyarakat.
“Diharapkan, temuan dan pengalaman lapangan tersebut dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi desain dan kebijakan yang aplikatif bagi perencanaan kawasan padat di Indonesia,” tegasnya.
Menurut dosen Arsitektur UMS itu, kunjungan studi ini sekaligus memperkuat kapasitas mahasiswa Arsitektur UMS dalam menghasilkan gagasan desain yang kontekstual, realistis, dan berorientasi pada keberlanjutan kota. (Fika/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, Karanganyar – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebakkramat sukses menyelenggarakan agenda Ifthor (Buka Puasa Bersama) dan Tarawih Keliling (Tarling) bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Karanganyar pada Ahad, 5 Romadhon 1447 H (22 Februari 2026).
Acara yang berlangsung khidmat di Masjid Baitul Arqom, Pulosari, Kebakkramat ini menjadi ajang konsolidasi organisasi sekaligus syiar dakwah di bulan suci. Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 18.00 WIB, diawali dengan iftar (buka puasa) bersama, dilanjutkan dengan salat Maghrib berjamaah, makan malam, serta salat Isya dan Tarawih.
Dalam sambutannya, Ketua PCM Kebakkramat, Paryono, menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran PDM Karanganyar, pleno PCM Kebakkramat, pimpinan PRM serta jamaah. Beliau menekankan pentingnya sinergi antara ranting, cabang, dan daerah dalam menggerakkan dakwah Muhammadiyah di wilayah Kebakkramat.
Sementara itu, Ketua PDM Karanganyar, Muhammad Arief Babhier, dalam sambutannya memberikan penguatan ideologi dan semangat berorganisasi kepada para kader. Momentum Ramadhan ini diharapkan menjadi pemantik bagi seluruh warga Muhammadiyah untuk terus menebar manfaat melalui program-program sosial dan keagamaan.
Suasana spiritual semakin terasa dengan penyampaian Kultum oleh Joko Purwanto, yang memberikan pencerahan mengenai makna keberkahan di bulan Ramadhan.
Salah satu momen penting dalam acara ini adalah penyerahan secara simbolis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dari Ketua PDM Karanganyar kepada PCM Kebakkramat. Langkah ini merupakan bagian dari sosialisasi keputusan organisasi mengenai standarisasi kalender Islam secara global guna mewujudkan kepastian penanggalan hijriah di masa depan.
“Kehadiran Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah langkah besar persyarikatan untuk menyatukan umat secara global. Kami berharap PCM Kebakkramat menjadi pelopor dalam mensosialisasikan penanggalan ini agar warga kita memiliki kepastian dalam ibadah dan muamalah,” ujar Muhammad Arief Babhier
Sebagai wujud kepedulian sosial, acara diakhiri dengan penyerahan santunan secara simbolis kepada jamaah Masjid Baitul Arqom. Santunan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban jamaah sekaligus mempererat hubungan antara pengurus Muhammadiyah dengan warga sekitar.
“Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi langkah nyata Muhammadiyah hadir di tengah jamaah, baik secara spiritual maupun melalui aksi sosial,” pungkas Warjoko selaku Takmir Masjid Baitul Arqam.