Ciptakan Lingkungan Sekolah Aman, KKN-Dik UMS Gelar Program Anti Perundungan GEBRAK

Ciptakan Lingkungan Sekolah Aman, KKN-Dik UMS Gelar Program Anti Perundungan GEBRAK

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan program kerja bertajuk Gerakan Bersama Anti Perundungan dan Kendali Gadget (GEBRAK) pada hari Kamis, (22/1) di MI Muhammadiyah Kuwang, Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri.

Program ini bertujuan untuk menanamkan etika digital sejak dini serta meningkatkan kesadaran siswa terhadap bahaya perundungan dan penggunaan gadget yang tidak terkontrol.

Kegiatan edukatif ini dilaksanakan sebagai respons atas meningkatnya penggunaan gawai di kalangan anak usia sekolah dasar yang berpotensi mempengaruhi perilaku sosial dan perkembangan karakter siswa.

Melalui pendekatan yang komunikatif dan ramah anak, mahasiswa KKN-Dik UMS berupaya menghadirkan pembelajaran nonformal yang mudah dipahami dan menyenangkan.

Siswa MI Muhammadiyah Kuwang saling merangkul dan memberi dukungan saat sesi refleksi dalam kegiatan “GEBRAK” oleh Mahasiswa KKN-Dik UMS sebagai upaya menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap korban perundungan.

Fathison Akbar, selaku Koordinator KKN-Dik UMS di MI Muhammadiyah Kuwang menyampaikan bahwa program GEBRAK dirancang untuk membangun kesadaran siswa agar lebih bijak dalam menggunakan teknologi serta mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari perundungan.

“Kami melihat pentingnya edukasi etika digital sejak usia dini. Anak-anak perlu dibekali pemahaman tentang bagaimana bersikap baik kepada teman, baik secara langsung maupun di dunia digital,” ujarnya, Senin, (9/2).

Rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan materi mengenai pengertian perundungan, jenis-jenis perundungan, serta dampak negatif yang ditimbulkan bagi korban maupun lingkungan sekitar.

Selain itu, siswa juga diberikan pemahaman tentang pentingnya mengendalikan penggunaan gadget agar tidak mengganggu proses belajar dan interaksi sosial.

Untuk memperkuat pemahaman, mahasiswa KKN mengajak siswa mengikuti diskusi interaktif dan simulasi kasus sederhana yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Suasana kegiatan dibuat santai dan menyenangkan agar siswa berani menyampaikan pendapat serta aktif berpartisipasi.

sesi foto bersama siswa siswi MI Muhammadiyah Kuwang

“Kami tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak siswa berdiskusi dan bermain peran supaya mereka benar-benar memahami dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Dinda, salah satu mahasiswa KKN-Dik.

Ahmad Yasin, selaku Kepala Sekolah MI Muhammadiyah Kuwang menyambut baik pelaksanaan program GEBRAK dan mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN-Dik UMS dalam mendukung pembentukan karakter siswa.

“Kegiatan ini sangat relevan dengan tantangan pendidikan di era digital saat ini. Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti simulasi, serta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya bersikap sopan, saling menghargai, dan membatasi penggunaan gadget,” ungkapnya.

Melalui program GEBRAK, mahasiswa KKN-Dik UMS berharap siswa MI Muhammadiyah Kuwang dapat tumbuh menjadi generasi yang beretika digital, mampu memanfaatkan teknologi secara positif, serta menjauhi perilaku perundungan baik di lingkungan sekolah maupun di media digital.

“Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta kepada masyarakat, khususnya dalam mendukung pendidikan karakter dan literasi digital di lingkungan sekolah dasar,” pungkasnya. (Ihya/Adi/Humas)

Dorong Digitalisasi Pendidikan, KKN UMS Ajarkan Guru Cara Gunakan AI dan Koding

Dorong Digitalisasi Pendidikan, KKN UMS Ajarkan Guru Cara Gunakan AI dan Koding

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN Dik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan kegiatan pelatihan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan koding sebagai media pembelajaran bagi guru di SMK Muhammadiyah 5 Karanganyar. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja (Proker) mahasiswa KKN yang bertujuan mendukung peningkatan kompetensi guru dalam menghadapi perkembangan teknologi di bidang pendidikan.

Pelatihan dilaksanakan pada Selasa, 27 Januari 2026, bertempat di ruang guru SMK Muhammadiyah 5 Karanganyar. Kegiatan ini diikuti oleh 12 orang guru dan karyawan, serta kepala sekolah yang turut hadir dan mendukung jalannya kegiatan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa KKN dari Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (PTI) FKIP UMS yang berjumlah 5 orang, terdiri dari 3 mahasiswa laki-laki dan 2 mahasiswa perempuan. Selain itu, kegiatan ini juga didukung oleh 15 mahasiswa dari program studi lain yang turut berperan sebagai panitia dan pendamping selama pelaksanaan KKN di SMK Muhammadiyah 5 Karanganyar.

Materi pelatihan disampaikan oleh Arif Setiawan, S.Kom., M.Eng, dosen program Studi Pendidikan Teknik Informatika, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UMS. Arif menjelaskan konsep dasar AI dan koding serta penerapannya dalam pengembangan media pembelajaran yang inovatif dan interaktif, sesuai dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21.

“Pelaksanaan pelatihan diawali dengan penyampaian materi secara teori, kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik. Pada sesi praktik, para guru diminta untuk melakukan login menggunakan akun belajar.id agar dapat mengakses dan memanfaatkan fitur Canva Code sebagai media pembuatan konten pembelajaran berbasis AI dan koding,” ujar Arif menerangkan, Senin (9/2).

Dalam proses praktik, beberapa peserta mengalami kendala teknis karena belum mengaktifkan atau belum menggunakan akun belajar.id. Meskipun demikian, kehadiran mahasiswa KKN khususnya dari Prodi PTI sigap melakukan pendampingan dan bimbingan secara langsung kepada para guru.

Melalui pendampingan tersebut, para guru mulai memahami penggunaan Canva Code dan penerapan AI dalam pembuatan media pembelajaran. Beberapa guru menunjukkan antusiasme dengan mengembangkan media pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.

Uut Haryanto, selaku guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), berhasil membuat game pembelajaran, modul, serta kuis interaktif yang disesuaikan dengan materi ajarnya.

Kepala SMK Muhammadiyah 5 Karanganyar, Ninik Setya Utami, S.T, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Ia menilai bahwa pelatihan AI dan koding yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN UMS sangat bermanfaat dalam meningkatkan kompetensi guru, khususnya dalam pengembangan media pembelajaran yang kreatif dan relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.

“Kegiatan ini membantu guru untuk lebih terbuka terhadap pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran,” ujar Ninik.

Sementara itu, para peserta guru juga memberikan tanggapan positif karena pelatihan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi langsung disertai dengan praktik yang aplikatif. Para guru merasa terbantu dengan adanya pendampingan dari mahasiswa, sehingga lebih mudah memahami penggunaan AI dan koding serta termotivasi untuk menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.

Dengan terselenggaranya kegiatan pelatihan ini, diharapkan para guru SMK Muhammadiyah 5 Karanganyar dapat memanfaatkan teknologi AI dan koding sebagai sarana pendukung pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui pemanfaatan teknologi informasi. (Afif/Maysali/PTI)

Dukung Ekonomi Kreatif, UMS Modernisasi Alat Produksi UMKM Witpari Karanganyar

Dukung Ekonomi Kreatif, UMS Modernisasi Alat Produksi UMKM Witpari Karanganyar

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui program pengabdian berbasis kewirausahaan. Kali ini, UMS menggulirkan program bertajuk Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Kuliner Karanganyar Witpari dengan Pendekatan Produksi Modern, Inovasi Produk, dan Manajemen Pemasaran Digital yang didanai melalui Hibah Pengabdian Riset Muhammadiyah (RisetMu) Batch IX Tahun 2025/2026.

Program pengabdian ini diketuai oleh Sri Murwanti, S.E., M.M., dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS, bersama tim multidisiplin yang melibatkan dosen prodi Manajemen, Ilmu Gizi, Teknik Mesin, serta mahasiswa. Kegiatan difokuskan pada pemberdayaan Komunitas UMKM Witpari yang berlokasi di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Desa Kemuning dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Karanganyar yang memiliki potensi besar pada sektor kuliner berbasis UMKM. Tercatat sebanyak 25 UMKM kuliner aktif tergabung dalam Komunitas Witpari dengan total omzet mencapai sekitar Rp200 juta per bulan. Meski demikian, sebagian besar pelaku UMKM masih menghadapi keterbatasan teknologi produksi, standar mutu, manajemen usaha, serta jangkauan pemasaran.

“Sebanyak 70 persen UMKM masih menggunakan peralatan produksi sederhana, sementara sebagian besar juga belum menerapkan pencatatan keuangan digital dan pemasaran daring secara optimal. Kondisi ini menjadi tantangan serius di tengah persaingan usaha yang semakin ketat,” jelas Sri Murwanti, Minggu, (8/2).

Melalui program ini, tim pengabdian UMS menghadirkan tiga pendekatan utama. Pertama, produksi modern melalui penerapan teknologi tepat guna seperti mesin spinner dan vacuum sealer guna meningkatkan kapasitas, efisiensi, serta keamanan pangan. Kedua, inovasi produk berbasis riset, termasuk pengembangan produk kuliner sehat dengan nilai gizi seimbang dan pemanfaatan bahan lokal.

Ketiga, manajemen dan pemasaran digital melalui pelatihan pencatatan keuangan digital, pengelolaan media sosial, hingga aktivasi toko daring di marketplace.

Selain peningkatan kapasitas produksi dan kualitas produk, program ini juga menargetkan bertambahnya jumlah UMKM yang memiliki sertifikasi PIRT dan halal, serta perluasan jangkauan pasar hingga tingkat nasional. Pendampingan dilakukan secara bertahap mulai dari pelatihan, praktik langsung, hingga evaluasi keberlanjutan program.

Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mahasiswa berperan aktif dalam pendampingan UMKM, pembuatan konten promosi digital, pengelolaan sistem kasir daring, hingga analisis perilaku konsumen. Keterlibatan tersebut berpotensi memperoleh rekognisi hingga 6–12 SKS dan mendukung capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.

Program pengabdian ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Melalui sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan komunitas UMKM, UMS berharap program ini mampu membangun ekosistem usaha kuliner Witpari yang berkelanjutan, berdaya saing, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi serta pasar digital. (Fika/Humas)

Mahasiswa KKN-Dik UMS Kenalkan Tapak Suci dan Ideologi Muhammadiyah di Tanah Arab

Mahasiswa KKN-Dik UMS Kenalkan Tapak Suci dan Ideologi Muhammadiyah di Tanah Arab

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Menanamkan nilai-nilai ideologi Muhammadiyah di tanah Arab. Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkenalkan Tapak Suci (TS) kepada siswa-siswi Sekolah Indonesia Jeddah Arab Saudi sebagai wadah melatih kebugaran jasmani melalui pencak silat.

Dua mahasiswa UMS, Annisa Diah Miftakhul Awalin dan Qonita Lathifatus Tsaniyah, resmi menjalani Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN Dik) di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), Arab Saudi. Mahasiswa KKN UMS membuka kegiatan dengan penyampaian tujuan pembelajaran, dilanjutkan dengan pemanasan dan peregangan untuk mencegah cedera serta mempersiapkan kondisi fisik peserta didik.

Setelah melalui sesi pemanasan, mahasiswa KKN UMS memperkenalkan Sejarah singkat pencak silat dan Tapak Suci, meliputi nilai karakter, filosofi, dan gerakan-gerakan khas pencak silat Tapak Suci.

Salah satu mahasiswa KKN UMS Qonita Lathifatus Tsaniyah, menjelaskan tujuan diperkenalkannya Tapak Suci kepada peserta didik Sekolah Indonesia Jeddah. Menurutnya, Tapak Suci merupakan cabang olahraga pencak silat yang mengajarkan pembentukan fisik dan pembentukan karakter diri dengan penanaman nilai-nilai keislaman yang menjadi ciri khas Tapak Suci.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani, keterampilan gerak dasar, serta membentuk karakter disiplin dan sportif peserta didik, melalui pembelajaran pencak silat dengan memperkenalkan Tapak Suci sebagai basis pencak silat milik Muhammadiyah”, jelasnya Senin, (9/2).

Partisipasi dan antusiasme tinggi peserta didik ditunjukkan dengan keaktifan dan kegembiraan peserta didik dalam mengikuti rangkaian latihan olahraga pencak silat tersebut. Hal ini, menjadi nilai positif bagi mahasiswa KKN UMS, dapat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Muhammadiyahan melalui pembelajaran olahraga pencak silat dengan Tapak Suci.

Kegiatan ini dapat dinilai efektif sebagai inovasi pembelajaran Pendidikan PJOK, sekaligus sarana pelestarian budaya bangsa. Selain berdampak pada peserta didik, kegiatan ini juga memberikan manfaat bagi sekolah, yaitu bertambahnya variasi materi PJOK serta tersedianya alternatif kegiatan olahraga bela diri yang edukatif dan berbasis budaya Indonesia.

“Dengan demikian, program pengajaran pencak silat dan pengenalan Tapak Suci tidak hanya meningkatkan kebugaran jasmani, tetapi juga berkontribusi dalam pembentukan karakter serta pelestarian budaya bangsa di lingkungan Sekolah Indonesia Jeddah”, ungkapnya.

Salah Satu mahasiswa KKN UMS menyampaikan bahwa melalui pelaksanaan kegiatan pengajaran pencak silat dan pengenalan Tapak Suci ini dapat memberikan dapat positif dan bersifat berkelanjutan pada Sekolah Indonesia Jeddah Arab Saudi.

“Kami harap program yang telah dilaksanakan tidak hanya menjadi kegiatan sementara dalam rangkaian KKN, tetapi dapat berlanjut dan terintegrasi secara berkelanjutan dalam pembelajaran PJOK di Sekolah Indonesia Jeddah”, tuturnya.

KKN UMS di Jeddah Arab Saudi beranggotakan Annisa Diah Miftakhul Awalin & Qonita lathifatus Tsaniyah (Mahasiswa prodi Pendidikan Jasmani FKIP). Prof. Dr. Anam Sutopo., M.Hum sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh tim KKN UMS di Sekolah Indonesia Jeddah Arab Saudi sejak 13 Januari sampai 6 Februari 20226, menunjukkan peran UMS yang tidak pernah surut dalam menyebarkan nilai-nilai ke-Muhammadiyahan di kancah internasional. (Affiq/Humas)

Wujudkan Tata Kelola Hutan Karbon yang Baik, Pakar UMS: Transparansi Adalah Kunci

Wujudkan Tata Kelola Hutan Karbon yang Baik, Pakar UMS: Transparansi Adalah Kunci

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Hutan Indonesia memegang peran kunci dalam menekan emisi karbon global, namun efektivitasnya sangat bergantung pada tata kelola yang transparan dan konsisten di lapangan. Penguatan pengawasan, keterbukaan data, serta pelibatan masyarakat dinilai menjadi faktor penting menjaga fungsi hutan sebagai penyerap karbon.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aziz Akbar Mukasyaf, S.Hut., M.Sc., Ph.D., menjelaskan kemampuan penyimpanan karbon berbeda pada tiap jenis tutupan lahan. Hutan alam disebut memiliki simpanan karbon paling besar dan stabil karena didukung struktur vegetasi berlapis, pohon berumur panjang, serta sistem tanah dan keanekaragaman hayati yang kompleks.

Sebaliknya, sistem penggunaan lahan lain seperti agroforestri atau Multi Purpose Tree Species (MPTS) tetap mampu menyerap karbon, tetapi jumlah simpanannya relatif lebih rendah dan sangat bergantung pada jenis tanaman, umur, serta pola pengelolaannya.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aziz Akbar Mukasyaf, S.Hut., M.Sc., Ph.D., akademisi dan peneliti di bidang geografi lingkungan, kehutanan, dan ekologi spasial

“Hutan tanaman industri dan perkebunan sawit sering kali disamakan sebagai ‘hutan’, padahal fungsi karbonnya sangat berbeda. Rotasi panen yang pendek membuat karbon tidak tersimpan lama, sementara sawit cenderung menjadi sistem monokultur dengan daya dukung ekologi terbatas,” kata Aziz, Senin (9/2).

Dalam konteks global, Indonesia menerima hibah internasional dan pembayaran berbasis kinerja untuk menurunkan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Skema seperti Result-Based Payment (RBP) REDD+ dan kebijakan Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030 dirancang agar hutan tetap berfungsi sebagai penyerap karbon sekaligus menopang pembangunan berkelanjutan.

“Hibah ini pada dasarnya diberikan agar hutan Indonesia tetap alami, lestari, dan tidak terus ditekan oleh ekspansi lahan. Dana tersebut ditujukan untuk menurunkan laju deforestasi dan degradasi, bukan sekadar mengganti hutan dengan tutupan lain yang secara ekologis tidak setara,” ujar Aziz.

Meski demikian, ia menilai efektivitas program tersebut sangat ditentukan oleh tata kelola perizinan dan pengawasan di tingkat tapak. Secara regulasi, negara menguasai kawasan hutan dan memberikan berbagai skema hak kelola kepada pihak lain, mulai dari konsesi kehutanan hingga perhutanan sosial. Namun, keterbukaan data dan evaluasi kinerja pengelolaan hutan dinilai masih terbatas.

Informasi mengenai kontribusi penurunan emisi, kondisi ekologis, hingga dampak sosial di lapangan belum sepenuhnya mudah diakses publik. Transparansi dinilai penting agar pengelolaan hutan dapat dipantau dan dipertanggungjawabkan.

Aziz juga menyoroti implementasi agroforestri dan MPTS yang kembali didorong dalam kebijakan kehutanan. Menurutnya, konsep tersebut secara teori mendukung penyerapan karbon sekaligus ekonomi masyarakat, tetapi belum sepenuhnya mempertimbangkan faktor harga komoditas dan insentif di tingkat petani.

Di sisi lain, pemerintah tengah mengembangkan kebijakan insentif karbon melalui mekanisme Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Skema ini diarahkan untuk mengatur perdagangan karbon dan pembagian manfaat dari penurunan emisi, termasuk di sektor kehutanan.

Menurut Aziz, insentif karbon idealnya juga menjangkau masyarakat sekitar hutan yang menjaga tutupan lahan secara langsung. Tanpa skema yang menyentuh tingkat tapak, upaya menjaga hutan dinilai sulit berkelanjutan.

Ia menekankan pelibatan masyarakat lokal, organisasi, dan kelompok adat sebagai bagian penting dari pengawasan dan pengelolaan hutan. Partisipasi publik dinilai dapat memperkuat transparansi serta memastikan hutan tidak hanya dipandang sebagai aset ekonomi, tetapi juga sebagai penyangga karbon dan sistem kehidupan.

Penguatan tata kelola yang transparan, berbasis ilmu pengetahuan, dan konsisten antara kebijakan serta praktik di lapangan menjadi kunci agar hutan Indonesia tetap berfungsi optimal sebagai penyerap karbon dan penopang lingkungan. (Al/Humas)