Ditulis oleh Jabbar Sambudi
Direktur Masjid Besar Al Mukarromah Karanganyar
Ada fase ketika kehidupan terasa berjalan sesuai harapan. Karier berkembang, rezeki terasa lapang, keluarga dalam keadaan baik, dan ibadah pun terasa ringan. Namun, ada pula masa ketika keadaan berbalik: semangat menurun, rezeki terasa sempit, rencana tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan bahkan untuk sekadar bangun memulai hari terasa berat.
Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah bertanya: mengapa hidup harus berjalan seperti ini?
Pertanyaan tersebut sesungguhnya membawa kita pada satu persoalan yang lebih mendasar: bagaimana manusia memahami perubahan dalam kehidupannya dan bagaimana ia menjaga keadaan jiwanya ketika berada di tengah perubahan tersebut.
Al-Qur’an memberikan salah satu kerangka refleksi yang menarik melalui QS. Asy-Syams. Surat ini diawali dengan serangkaian sumpah Allah terhadap berbagai fenomena alam: matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, kemudian jiwa manusia.

“Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha. Demi bulan apabila mengiringinya. Demi siang apabila menampakkannya. Demi malam apabila menutupinya. Demi langit serta pembangunannya. Demi bumi serta penghamparannya. Demi jiwa serta penyempurnaannya.”
Tujuh sumpah tersebut membawa perhatian manusia dari alam semesta menuju sesuatu yang paling dekat dengan dirinya: jiwa.
Menariknya, setelah rangkaian sumpah itu, Allah memberikan penegasan:

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Dengan demikian, rangkaian ayat tersebut tidak berhenti pada penggambaran tentang matahari, bulan, siang, malam, langit, dan bumi. Semua itu mengantarkan manusia kepada satu kesadaran: perjalanan alam semesta seharusnya menjadi cermin untuk memahami perjalanan jiwa manusia.
Alam Mengajarkan Bahwa Kehidupan Selalu Bergerak

Matahari tidak selalu berada pada satu posisi. Ada waktu ketika sinarnya mulai muncul, mencapai puncak, kemudian perlahan turun. Begitu pula kehidupan manusia.
Ada masa ketika seseorang berada dalam kondisi sulit. Ada masa ketika ia mulai bangkit. Ada saat ketika ia mencapai keberhasilan. Dan ada pula fase ketika ia harus menghadapi penurunan.
Karena itu, keberhasilan tidak semestinya melahirkan kesombongan, sementara kesulitan tidak semestinya melahirkan keputusasaan. Keduanya merupakan bagian dari perjalanan kehidupan.
Matahari mengajarkan bahwa kehidupan memiliki siklus. Fase ketika seseorang berada di “atas” tidak akan berlangsung selamanya, sebagaimana fase ketika seseorang berada di “bawah” juga tidak selamanya menetap.
Persoalannya bukan apakah manusia akan mengalami perubahan, melainkan bagaimana ia menjalani perubahan tersebut tanpa kehilangan arah.
Di sinilah perjalanan dari alam menuju jiwa dalam QS. Asy-Syams menjadi penting. Alam bergerak dalam keteraturan yang telah ditetapkan Allah. Manusia pun menghadapi perubahan, tetapi ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga arah perjalanan jiwanya.
Tidak Selalu Menjadi Matahari: Pelajaran dari Bulan
Setelah matahari, Allah berfirman:

“Demi bulan apabila mengiringinya.”
Bulan memiliki karakter yang berbeda dari matahari. Ia tidak selalu menjadi sumber cahaya. Ia menerima dan memantulkan cahaya.
Di dalam kehidupan manusia terdapat pelajaran yang serupa. Tidak setiap hari seseorang harus menjadi pihak yang paling kuat. Tidak setiap saat seseorang harus menjadi sumber kekuatan bagi orang lain.
Ada waktunya manusia menerima pertolongan. Ada waktunya ia membutuhkan dukungan. Dan ada waktunya pula ia meneruskan cahaya yang diterimanya kepada orang lain.
Karena itu, membutuhkan pertolongan tidak selalu berarti kelemahan. Manusia memang tidak diciptakan untuk menjalani seluruh kehidupannya seorang diri.
Hari ini seseorang mungkin berada pada posisi menerima cahaya. Pada kesempatan yang lain, ia dapat menjadi cahaya bagi orang lain.
Dengan demikian, kehidupan tidak hanya mengajarkan kemandirian, tetapi juga mengajarkan hubungan dan saling menguatkan.
Siang dan Malam: Tidak Semua Fase Kehidupan Harus Terang
Allah kemudian bersumpah:

“Demi siang apabila menampakkannya, dan demi malam apabila menutupinya.”
Siang dan malam menunjukkan bahwa kehidupan tidak mungkin selalu berada dalam satu keadaan. Ada terang dan ada gelap. Ada kebahagiaan dan kesedihan. Ada keberhasilan dan kegagalan. Ada pertemuan dan kehilangan.
Perubahan semacam itu bukan sesuatu yang berada di luar ketetapan Allah. Bahkan Al-Qur’an menjelaskan bahwa pergantian siang dan malam merupakan bagian dari rahmat-Nya:

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya pada siang hari dan agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Qashash: 73)
Ayat ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai pergantian keadaan sesungguhnya memiliki fungsi dalam kehidupan.
Malam memberikan kesempatan untuk beristirahat. Siang memberikan kesempatan untuk beraktivitas dan mencari karunia Allah.
Demikian pula dalam kehidupan manusia. Fase sulit tidak selalu berarti keburukan yang harus dibenci. Bisa jadi, dalam keadaan tersebut manusia justru mendapatkan kesempatan untuk berhenti, merenung, mengevaluasi diri, dan kembali mendekat kepada Allah.
Karena itu, persoalan utama bukanlah bagaimana membuat kehidupan selalu terang. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana menjaga jiwa tetap berada di jalan Allah ketika kehidupan sedang berada dalam kegelapan.
Langit dan Bumi: Perbedaan dalam Keteraturan
Allah kemudian berfirman:

“Demi langit serta pembangunannya dan demi bumi serta penghamparannya.”
Langit dan bumi memiliki karakter yang berbeda. Namun perbedaan tersebut tidak menjadikan keduanya kehilangan fungsi. Justru melalui perbedaan itulah kehidupan berlangsung dalam suatu keteraturan.
Pelajaran yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan manusia.
Tidak semua orang harus memiliki profesi yang sama. Tidak semua manusia memiliki karakter yang sama. Tidak setiap orang menjalani perjalanan hidup yang sama.
Perbedaan bukan dengan sendirinya merupakan persoalan. Yang lebih penting adalah bagaimana perbedaan tersebut ditempatkan dalam keteraturan dan kebaikan yang dikehendaki Allah.
Dengan demikian, keberagaman kehidupan tidak harus dipahami sebagai alasan untuk saling meniadakan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi bagian dari kehidupan yang saling melengkapi.
Puncak dari Tujuh Sumpah: Jiwa Manusia
Setelah membawa manusia memperhatikan berbagai unsur alam, Allah sampai pada sumpah terakhir:
![]()
“Demi jiwa serta penyempurnaannya.”
Di sinilah rangkaian sumpah QS. Asy-Syams menemukan titik pentingnya.
Manusia bukan sekadar jasad. Jasad memiliki kebutuhan berupa makanan, minuman, istirahat, pekerjaan, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan duniawi. Namun manusia juga memiliki jiwa yang membutuhkan pemeliharaan.
Jiwa membutuhkan iman, zikir, Al-Qur’an, doa, dan kedekatan dengan Allah.
Ketika manusia hanya memperhatikan kebutuhan jasad dan mengabaikan jiwa, kehidupan mungkin tampak baik dari luar, tetapi belum tentu memiliki ketenangan di dalam.
Sebaliknya, Islam juga tidak mengajarkan manusia meninggalkan kebutuhan duniawi. Kehidupan menuntut keseimbangan: mencari rezeki tanpa melupakan Allah, menikmati dunia tanpa diperbudak olehnya, bekerja keras sambil tetap menjaga salat, serta mengejar cita-cita dengan kesadaran bahwa Allah merupakan tujuan akhir.
Dengan demikian, keberhasilan manusia tidak cukup diukur dari keadaan lahiriah. Ada dimensi yang lebih mendasar, yaitu keadaan jiwanya.
Ukuran Keberhasilan Bukan Sekadar Keadaan Lahiriah
Setelah menyebut jiwa, Allah memberikan jawaban dari seluruh rangkaian sumpah tersebut:
![]()
![]()
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Ayat ini memberikan ukuran keberhasilan yang berbeda dari ukuran yang sering digunakan manusia.
Keberhasilan bukan semata-mata tentang seberapa banyak harta yang dimiliki. Bukan pula sekadar tentang jabatan, popularitas, atau pengakuan manusia.
Seseorang dapat terlihat berhasil di mata manusia, tetapi mengalami kehancuran dalam dirinya. Sebaliknya, seseorang dapat terlihat sederhana dalam pandangan dunia, tetapi memiliki jiwa yang kaya karena kedekatannya dengan Allah.
Karena itu, perjuangan manusia pada akhirnya bukan sekadar membangun kehidupan yang tampak baik dari luar, tetapi juga memastikan bahwa kehidupan tersebut tidak mengorbankan keadaan jiwanya.
Cahaya yang Harus Dijaga
Allah berfirman:

“Allah adalah cahaya langit dan bumi.”
(QS. An-Nur: 35)
Manusia diberikan fitrah untuk mengenali kebaikan. Ada suara hati yang mengingatkan ketika melakukan kesalahan. Ada rasa bersalah ketika melakukan dosa dan ada ketenangan ketika melakukan kebaikan.
Namun cahaya tersebut perlu dijaga.
Itulah sebabnya QS. Asy-Syams menempatkan penyucian jiwa sebagai ukuran keberuntungan. Jiwa dapat dipelihara, tetapi juga dapat dikotori.
Di sinilah manusia memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Ia tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan di luar dirinya, tetapi ia dapat berusaha menjaga bagaimana jiwanya merespons setiap keadaan tersebut.
Ketika memperoleh keberhasilan, ia menjaga dirinya dari kesombongan. Ketika menghadapi kehilangan, ia menjaga dirinya dari keputusasaan. Ketika memperoleh kelapangan, ia bersyukur. Ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar.
Ketika Kehidupan Sedang Gelap
Tidak semua orang sedang berada pada fase kehidupan yang mudah.
Ada yang sedang kehilangan pekerjaan. Ada yang menghadapi persoalan keluarga. Ada yang sedang berjuang menghadapi sakit. Ada yang kecewa terhadap seseorang. Ada pula yang sedang berada pada titik ketika dirinya bertanya: kapan keadaan ini akan berubah?
Dalam kondisi semacam itu, matahari memberikan sebuah perumpamaan sederhana.
Matahari tidak selamanya berada di puncak. Ketika tenggelam, bukan berarti matahari telah mati. Ia hanya sedang menjalani siklus yang telah Allah tetapkan.
Demikian pula kehidupan manusia.
Satu fase sulit tidak selalu menjadi keseluruhan cerita hidup. Malam tidak selamanya. Kesulitan tidak selamanya. Kesedihan tidak selamanya.
Yang lebih penting bukan apakah kehidupan manusia selalu terang, tetapi apakah jiwanya tetap berjalan menuju Allah ketika keadaan sedang gelap.
Inilah pesan penting dari rangkaian tujuh sumpah dalam QS. Asy-Syams. Allah membawa manusia melihat matahari, bulan, siang, malam, langit, dan bumi sebelum mengarahkannya kepada satu objek yang paling dekat: jiwanya sendiri.
Pada akhirnya, perjalanan hidup bukan tentang seberapa tinggi seseorang pernah berada. Bukan pula tentang seberapa banyak yang pernah dimiliki atau seberapa luas namanya dikenal manusia.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: ketika manusia kembali kepada Allah, dalam keadaan seperti apa jiwanya?
Maka ketika kehidupan sedang naik, tetaplah rendah hati. Ketika kehidupan sedang turun, tetaplah berharap. Ketika memperoleh banyak, bersyukurlah. Ketika kehilangan sesuatu, bersabarlah. Ketika mendapatkan cahaya, jadilah cahaya bagi orang lain. Dan ketika berada dalam kegelapan, jangan berhenti mencari cahaya Allah.
Sebab sebagaimana matahari, kehidupan akan terus bergerak dalam ketetapan-Nya.
Tugas manusia bukan menghentikan pergantian siang dan malam. Tugas manusia adalah memastikan jiwanya tetap berjalan menuju Allah.
![]()
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu.”
(QS. Asy-Syams: 9)
Semoga Allah menyucikan jiwa kita, menerangi langkah kita, meneguhkan iman kita, dan menjadikan setiap fase kehidupan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya. Aamiin.














