Edukasi Anti-Bullying Wonogiri: Mengubah Candaan Menjadi Budaya Empati di Sekolah

muhammadiyakaranganyar.or.id, WONOGIRI — Sering kali dianggap remeh sebagai sekadar gurauan, perilaku perundungan atau bullying di sekolah sebenarnya menyimpan luka mendalam bagi korbannya. Fenomena “candaan maut” inilah yang menjadi sorotan utama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Tahun 2026 dalam Workshop Anti Bullying bertajuk “Bercanda Kita, Luka Mereka”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula SMP Muhammadiyah 2 Baturetno, Wonogiri, pada Kamis (5/2/2026) ini menyasar siswa kelas VII, VIII, dan IX. Workshop ini bukan sekadar sosialisasi searah, melainkan langkah konkret untuk memutus rantai kekerasan psikologis di lingkungan pendidikan.

Mengubah Pola Pikir: Dari Candaan Menjadi Empati

Program kerja unggulan KKN-Dik 2026 ini menitikberatkan pada penguatan karakter dan penciptaan budaya sekolah yang aman. Sekretaris KKN-Dik SMP Muhammadiyah 2 Baturetno, Nisa’ul Nur Azizah, menjelaskan bahwa banyak remaja yang belum menyadari batasan antara bercanda dengan merundung.

“Kami ingin siswa memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak. Apa yang dianggap lucu oleh pelaku, bisa jadi merupakan trauma bagi korban. Itulah mengapa empati dan kontrol diri menjadi kunci utama dalam interaksi sehari-hari,” ujar Nisa’ul saat memberikan paparan materi.

Materi yang disampaikan mencakup definisi bullying, bentuk-bentuk perundungan mulai dari verbal, fisik, sosial, hingga siber (cyber bullying), serta dampak psikologis jangka panjang yang menghantui korban, seperti penurunan rasa percaya diri dan gangguan kenyamanan belajar.

Metode Refleksi Anonim dan Solusi Solidaritas

Agar suasana tidak kaku, mahasiswa KKN-Dik mengemas kegiatan secara interaktif melalui sesi ice breaking dan Focus Group Discussion (FGD). Dalam sesi ini, para siswa diminta menuliskan pengalaman atau pandangan mereka terkait bullying secara anonim di secarik kertas.

Kertas-kertas berisi curhatan dan refleksi tersebut kemudian ditempelkan secara serentak di papan pajangan. Teknik ini terbukti efektif dalam memetakan masalah tanpa membuat siswa merasa tertekan atau terhakimi.

Berdasarkan hasil refleksi tersebut, fasilitator mahasiswa memberikan intervensi edukatif. Para siswa diajarkan cara bersikap tegas tanpa kekerasan jika menghadapi perundungan, serta pentingnya peran upstander—yakni tidak menjadi penonton pasif saat melihat teman dirundung.

Nisa’ul menambahkan bahwa membangun solidaritas antar teman adalah cara terbaik untuk saling melindungi. Dengan adanya kesadaran kolektif, diharapkan lingkungan SMP Muhammadiyah 2 Baturetno mampu bertransformasi menjadi ruang belajar yang inklusif, nyaman, dan sepenuhnya bebas dari praktik perundungan.

Penulis : Nisa’ul Nur Azizah Sekretaris KKN-Dik FKIP UMS SMP Muhammadiyah 2 Baturetno

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Jadwal Salat Hari Ini
Memuat lokasi…
Subuh
Terbit
Zuhur
Ashar
Maghrib
Isya
Menuju salat berikutnya:
Subuh menggunakan kriteria Muhammadiyah (-18°).

Artikel terkait