muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Suasana di Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah, Surakarta, tampak berbeda pada Jumat, 3 April 2026. Puluhan anak berkumpul dengan antusiasme tinggi untuk mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Pengembangan Individual Dosen (PID). Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa ini mengusung misi penting: “Penguatan Regulasi Emosi pada Anak untuk Meningkatkan Perilaku Prososial”.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Dr. Murfiah Dewi Wulandari, M.Psi., Nisa’ul Nur Azizah, dan Nida’ul Nur Jannah. Fokus utamanya adalah membantu anak-anak membangun keseimbangan emosi sebagai fondasi tumbuhnya empati dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara dibuka dengan pre-test untuk memetakan sejauh mana pemahaman awal peserta mengenai emosi. Dr. Murfiah Dewi Wulandari, M.Psi. menjelaskan bahwa pemahaman emosi yang baik merupakan kunci perilaku sosial yang positif. Menurutnya, kemampuan anak dalam mengelola perasaan akan berbanding lurus dengan kemampuannya menolong orang lain.
“Regulasi emosi adalah fondasi utama agar anak mampu berempati. Jika mereka sudah bisa mengenali dan menenangkan diri sendiri, mereka akan jauh lebih mudah untuk peduli dan menunjukkan perilaku prososial kepada lingkungan sekitarnya,” ujar Dr. Murfiah Dewi Wulandari, M.Psi. di sela-sela kegiatan.
BACA JUGA: HMP Penjas FKIP UMS Gelar Ramadan Ceria, Tebar Kebahagiaan di Panti Asuhan
Memasuki sesi inti, tim pengabdian menerapkan metode game-based learning yang interaktif. Anak-anak diajak bermain kartu situasi yang menggambarkan berbagai kondisi emosional. Tak hanya itu, metode role playing atau bermain peran juga dilakukan untuk memberi kesempatan bagi peserta dalam mensimulasikan situasi nyata, sehingga mereka terlatih memahami perasaan orang lain secara langsung.
Nisa’ul Nur Azizah menambahkan bahwa pendekatan melalui permainan membuat materi yang berat menjadi lebih mudah diterima. Sesi tanya jawab pun berlangsung aktif, di mana anak-anak mulai berani berbagi cerita personal dan mengungkapkan perasaan mereka tanpa rasa takut.
Salah satu momen paling menyentuh adalah praktik butterfly hug therapy. Teknik ini merupakan metode sederhana bagi anak-anak untuk menenangkan diri saat menghadapi emosi negatif dengan cara memeluk diri sendiri secara perlahan. Nida’ul Nur Jannah menyebutkan bahwa teknik ini sangat efektif untuk melatih kemandirian emosional anak.
Kegiatan ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan yang penuh haru. Perwakilan anak panti mengungkapkan rasa senangnya karena mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Melalui PID ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memberikan dampak bagi masyarakat, tetapi juga mengasah empati mereka dalam mengimplementasikan ilmu psikologi dan pendidikan secara nyata. Harapannya, keterampilan regulasi emosi ini terus dipraktikkan oleh anak-anak panti dalam interaksi sosial mereka di masa depan.















