muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN DIK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (FKIP UMS) melaksanakan program kerja pengenalan dan pelatihan IELTS bagi siswa SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri. IELTS merupakan tes standar kemampuan bahasa Inggris internasional yang diakui secara global.
Mahasiswa UMS Ibnu Habib dan Dimas Adi Putra dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris menyebutkan bahwa kegiatan ini digelar sebagai upaya membekali siswa dengan pemahaman awal mengenai tes kemampuan bahasa Inggris internasional yang kerap menjadi syarat melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja.
“Pelatihan IELTS ditujukan bagi siswa SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri, khususnya sebagai persiapan bagi siswa kelas akhir. Metode pembelajaran yang digunakan mengacu pada pendekatan student centered learning dengan strategi discovery learning, sehingga siswa didorong untuk aktif memahami materi dan berlatih secara mandiri dengan pendampingan fasilitator,” kata Dimas Adi Putra, Senin (2/3).

Dimas menyampaikan, program kerja pelatihan IELTS sendiri dirancang oleh mahasiswa berdasarkan hasil need analysis yang dilakukan sebelum KKN dimulai. Dari hasil survei tersebut, diketahui bahwa siswa SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri masih memiliki keterbatasan pemahaman terkait IELTS dan TOEFL, khususnya sebagai bekal menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya.
Kegiatan pelatihan berlangsung dalam empat sesi pertemuan yang dilaksanakan dua kali setiap minggu. Pada pertemuan pertama, siswa mengikuti pre-test serta menerima pengenalan dasar mengenai IELTS dan gambaran umum TOEFL. Pertemuan kedua difokuskan pada penguatan materi, refleksi, serta latihan soal sebagai persiapan menghadapi sesi evaluasi berikutnya. Fokus materi yang disampaikan adalah dua keterampilan utama, yakni Listening dan Speaking, yang selama ini dinilai menjadi tantangan terbesar bagi siswa.
Dalam pelaksanaannya, format tes IELTS disederhanakan dan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Jumlah soal yang biasanya mencapai 40 soal per keterampilan dipangkas menjadi 20 soal untuk Listening dan 20 soal untuk Speaking. Pada tes Speaking, siswa diminta menyusun paragraf singkat sebagai panduan berbicara, dengan durasi satu menit persiapan, satu menit berbicara, dan satu menit umpan balik dari penguji.
Antusiasme siswa terlihat tinggi, terutama saat sesi Speaking, di mana mereka tampak lebih percaya diri untuk mencoba berbicara menggunakan bahasa Inggris. Meski demikian, pada sesi Listening, sebagian siswa masih mengalami kesulitan memahami percakapan berbahasa Inggris dengan penutur asli.
Menurut Ibnu Habib, pelatihan IELTS sengaja dirancang untuk mendukung kebiasaan berbahasa yang sudah diterapkan di sekolah. “Di SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri kan sudah ada rolling language bahasa Inggris dan Arab setiap minggu. Lewat pelatihan ini, kami berharap siswa tidak hanya terbiasa berbicara, tapi juga paham standar bahasa Inggris internasional seperti IELTS. Harapannya, mereka jadi lebih percaya diri, berani mencoba, dan punya bekal awal kalau nanti ingin melanjutkan kuliah atau masuk dunia kerja,” ujarnya.
Pada pertemuan terakhir, mahasiswa KKN kembali mengadakan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai konsep IELTS dan TOEFL, sekaligus memberikan gambaran bahwa model pembelajaran interaktif yang diterapkan mampu menarik minat belajar siswa.
Melalui program ini, mahasiswa KKN DIK FKIP UMS berharap siswa SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri memiliki bekal awal dan kepercayaan diri untuk mengenal tes bahasa Inggris internasional sejak dini. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan bahasa Inggris di sekolah. (Shandy/Maysali/Humas)















