muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Hikari Aufa Rofiqi, salah satu da’i utusan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus alumni Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), saat ini bertugas di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (Kalteng). Sebagai seorang da’i, ia berupaya merencanakan sekaligus mengeksekusi konsep dakwah yang telah dirancang sejak awal penugasan.
Dalam wawancara yang dilakukan secara daring pada Rabu, (4/3), Hikari menjelaskan upayanya dalam berdakwah dengan menjadikan masjid sebagai poros peradaban.
“Untuk mengoptimalkan dakwah, saya menggunakan konsep masjid peradaban, dengan menjadikan masjid sebagai poros aktivitas Islami masyarakat sekitar. Tidak hanya untuk aktivitas dakwah saja, namun konsep masjid peradaban juga berperan terutama di ranah sosial sebagai pemberdayaan masyarakat modern, serta menjadi masjid yang ramah anak dan ramah musafir,” ujar Hikari. Kamis, (5/3).
Ia juga menjelaskan bahwa masjid yang dijadikan sebagai pusat dakwah masih dalam proses pembangunan. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghalanginya dalam menjalankan program-program pembinaan masyarakat.
“Secara bangunan, Masjid At-Tanwir Lamandau masih dalam proses pembangunan. Namun, beberapa bagian sudah dapat digunakan untuk aktivitas ibadah. Keterbatasan tersebut bukan menjadi penghalang, justru menjadi penyemangat dalam melaksanakan program-program, supaya ketika masjid sudah selesai, masyarakat telah memiliki program untuk memakmurkannya,” jelasnya.
Untuk mencapai tujuan membentuk masyarakat madani, sebagaimana cita-cita Muhammadiyah dalam menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, Hikari menyusun sejumlah program penunjang.
“Program yang dilaksanakan sudah direncanakan sejak awal dan memiliki tujuan agar program tersebut dapat bertahan serta terus berjalan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Ia menambahkan, program-program tersebut dilaksanakan secara terstruktur dengan pembagian waktu yang jelas.
“Program yang dilaksanakan ada yang bersifat harian, mingguan, dan bulanan,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, Hikari memanfaatkan momentum bulan Ramadan sebagai ajang pembiasaan sekaligus penguatan spiritual dan sosial masyarakat.
“Supaya tujuan tersebut terlaksana, saya menjadikan momentum bulan Ramadan sebagai ajang pembiasaan, dengan adanya kajian menjelang berbuka tiap Kamis sampai Ahad sebagai penunjang taklim masyarakat, serta pembagian takjil sebagai bentuk kesadaran sosial yang menjadi implementasi gerakan Al-Ma’un,” jelasnya.
Hikari menekankan bahwa dalam berdakwah, seorang da’i harus mampu membaca kondisi sosial masyarakat setempat agar program yang dijalankan relevan dan tepat sasaran.
“Dalam melaksanakan kegiatan yang terprogram tersebut, tentu ada naik turun kuantitas jamaah. Namun, penurunan cenderung rendah. Yang terjadi justru adanya peningkatan, meskipun hanya satu atau dua tambahan jamaah,” tuturnya.
Menutup sesi wawancara, Hikari menegaskan pentingnya pengembangan sistem dakwah agar memiliki dampak jangka panjang.
“Dalam mengonsep dakwah, jangan sekadar mengikuti sistem yang sudah ada. Sistem yang telah berjalan di daerah tersebut harus diinovasikan dan dikembangkan. Buatlah sistem dalam berdakwah, supaya dakwah menjadi sebuah siklus di daerah tersebut dan dapat berjalan dalam tempo yang lama,” pungkasnya. (Adi/Humas)















