Dalam perjalanan dakwah Islam, generasi muda selalu menjadi motor perubahan. Banyak gerakan besar dalam sejarah lahir dari energi, keberanian, dan idealisme kaum muda. Dalam Muhammadiyah, kader muda sering dianalogikan sebagai “anak panah persyarikatan”.
Anak panah adalah simbol gerak cepat, tepat sasaran, dan memiliki daya dorong yang kuat. Persyarikatan Muhammadiyah membutuhkan generasi muda yang siap melesat untuk meneruskan dakwah dan perjuangan.
Pengertian Anak Panah Persyarikatan
Secara filosofis, anak panah persyarikatan adalah:
kader muda Muhammadiyah yang dipersiapkan untuk menjadi pelanjut perjuangan dakwah, tajdid, dan pelayanan umat serta bangsa.
Makna simbolik anak panah:
Memiliki arah yang jelas Kader Muhammadiyah bergerak menuju tujuan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Memiliki kekuatan dorong Dorongan ideologi, iman, dan keilmuan.
Siap dilepas untuk perjuangan Artinya kader harus siap ditempatkan di mana saja.
Tepat sasaran Gerakan kader Muhammadiyah harus berdampak nyata bagi masyarakat.
Analogi:
Busur = organisasi Muhammadiyah Anak panah = kader muda Pemanah = pimpinan dan ulama
Jika busur kuat dan anak panah tajam, maka dakwah akan tepat sasaran.
Sejarah Munculnya Istilah Anak Panah
Istilah anak panah persyarikatan berkembang dalam tradisi kaderisasi Muhammadiyah, terutama dalam lingkungan organisasi otonom seperti:
Pemuda Muhammadiyah
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)
Nasyiatul Aisyiyah
Istilah ini muncul sebagai metafora perjuangan kader muda yang siap:
bergerak cepat
menembus tantangan zaman
membawa nilai Islam berkemajuan
Dalam banyak forum kaderisasi Muhammadiyah, kader muda sering disebut:
“anak panah yang siap dilepaskan untuk menembus masa depan umat.”
Hal ini sejalan dengan semangat tajdid (pembaruan) yang menjadi karakter Muhammadiyah sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah yang mereka khawatirkan terhadap kesejahteraannya. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.”
Makna ayat bagi kader Muhammadiyah:
Islam melarang meninggalkan generasi lemah
Umat harus menyiapkan generasi kuat
Kekuatan generasi meliputi:
iman
ilmu
akhlak
kepemimpinan
Karena itu Muhammadiyah sangat serius dalam kaderisasi generasi muda.
Kelebihan Anak Muda Dibanding Orang Tua
Bukan berarti merendahkan orang tua, tetapi setiap usia memiliki kelebihan masing-masing.
Energi lebih besar
Anak muda memiliki fisik kuat dan semangat tinggi.
Idealismenya tinggi
Mereka berani memperjuangkan nilai kebenaran.
Lebih adaptif terhadap perubahan
Anak muda cepat memahami:
teknologi
media
perubahan sosial
Masa depan lebih panjang
Apa yang ditanam hari ini akan menentukan masa depan umat.
Sejarah Islam juga menunjukkan bahwa banyak tokoh besar memulai perjuangan di usia muda, seperti:
Ali ibn Abi Talib
Usama ibn Zayd
Bahkan Usamah bin Zaid memimpin pasukan di usia sekitar 18 tahun.
Catur Kompetensi Kader Muhammadiyah
Dalam kaderisasi Muhammadiyah, kader ideal memiliki empat kompetensi utama.
Kompetensi Keislaman
Kader harus memiliki:
akidah yang kuat
ibadah yang benar
akhlak yang mulia
Karena kader Muhammadiyah adalah dai dan pelayan umat.
Kompetensi Keilmuan
Kader Muhammadiyah harus:
cinta ilmu
berpikir kritis
memiliki wawasan luas
Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan ilmu dan pendidikan.
Kompetensi Kepemimpinan
Kader harus memiliki:
kemampuan organisasi
kemampuan komunikasi
kemampuan manajerial
Karena kader Muhammadiyah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin umat.
Kompetensi Sosial-Kemanusiaan
Kader Muhammadiyah harus:
peka terhadap penderitaan masyarakat
aktif dalam kegiatan sosial
membawa solusi bagi umat
Ini sejalan dengan teologi Al-Ma’un yang menjadi karakter Muhammadiyah.
Tiga Ranah Pengabdian Kader Muhammadiyah
Kader Muhammadiyah tidak hanya berjuang di organisasi, tetapi memiliki tiga medan pengabdian utama.
Ranah Persyarikatan
Kader harus menguatkan Muhammadiyah dengan:
aktif dalam organisasi
menjaga ideologi Muhammadiyah
melanjutkan gerakan dakwah
Ranah Umat
Kader Muhammadiyah hadir untuk:
membimbing masyarakat
memajukan pendidikan
menguatkan dakwah Islam
Ranah Bangsa
Kader Muhammadiyah juga berkontribusi untuk:
pembangunan bangsa
menjaga persatuan
menegakkan nilai keadilan
Muhammadiyah sejak awal berkomitmen pada Islam yang membawa kemajuan bagi Indonesia.
Penutup
Menjadi anak panah persyarikatan berarti siap:
ditempa
diarahkan
dilepaskan untuk perjuangan
Anak panah yang baik harus:
lurus akidahnya
tajam ilmunya
kuat semangatnya
tepat sasaran dakwahnya
Karena masa depan umat, persyarikatan, dan bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya.
Sebagaimana pesan penting:
Hari ini kita menyiapkan kader, besok mereka yang akan memimpin umat.
muhammadiyakaranganyar.or.id, KERJO – Putaran terakhir kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kerjo berlangsung penuh khidmat di Masjid An Nur, Karanguluh, Desa Gempolan, Selasa (10/3/2026). Suasana spiritual terasa kental saat sekitar 100 jamaah melaksanakan salat tarawih 23 rakaat, sebuah pemandangan yang mencerminkan indahnya kebersamaan dengan warga Nahdhiyin di wilayah tersebut.
Kegiatan malam itu mengusung konsep three in one, lantaran menjadi titik temu tiga elemen sekaligus, yakni PCM Kerjo, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gempolan, dan Pemerintah Desa Gempolan. Kolaborasi ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi serta menyemarakkan bulan suci Ramadan 1447 H.
Ketua Takmir sekaligus Kepala Dusun Gempolan menyatakan kegembiraannya atas kehadiran tim gabungan tersebut. Menurutnya, kedatangan para tokoh Muhammadiyah dan pemerintah desa menjadi penyemangat tersendiri bagi warga Karanguluh dalam menghidupkan syiar Islam di masjid mereka.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Gempolan, Suhardi, menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi Muhammadiyah selama ini. Ia menilai gerakan Muhammadiyah telah memberikan sumbangsih riil bagi masyarakat, khususnya di Dusun Karanguluh.
“Tarling kali ini kami barengkan dengan Pemerintah Desa Gempolan untuk lebih memeriahkan suasana. Kami mengapresiasi Muhammadiyah yang sudah berdedikasi dan memberikan sumbangsihnya terhadap umat, masyarakat, dan bangsa,” ujar Suhardi dalam sambutannya.
Sementara itu, Ketua PCM Kerjo, Budi Sambodo, menekankan bahwa perbedaan dalam tata cara ibadah bukanlah penghalang untuk bersatu. Ia memandang keberagaman tradisi, seperti pelaksanaan tarawih 23 rakaat di lokasi tersebut, sebagai kekayaan khasanah Islam yang harus dijaga dengan semangat ukhuwah Islamiyah.
“Momentum Ramadan ini mari kita gunakan untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah, walaupun ada perbedaan pelaksanaan tarawih di antara kita. Muhammadiyah berupaya untuk terus menebar manfaat melalui program-program sosial dan keagamaan,” jelas Budi Sambodo.
Sebagai bentuk aksi nyata, Lazismu Kantor Layanan (KLL) PCM Kerjo menyalurkan paket santunan berupa 10 paket untuk dhuafa dan bantuan bagi 3 anak yatim di lingkungan Masjid An Nur. Selain itu, terdapat tambahan paket bantuan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kerjo dan PRM Gempolan.
Suasana semakin religius dengan penyampaian kultum oleh Ustadz Supardo. Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah untuk terus meningkatkan kualitas ibadah melalui penguatan ketakwaan dan kajian keilmuan dalam menjalani kehidupan beragama.
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mencatatkan capaian membanggakan melalui keberhasilan tiga dosennya yang memperoleh Pendanaan Penelitian Multitahun (On Going) Tahun Anggaran 2026.
Pendanaan tersebut diberikan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia, untuk mendukung pengembangan riset berkelanjutan yang berkontribusi pada penguatan ilmu pengetahuan dan solusi atas berbagai persoalan sosial serta lingkungan.
Program pendanaan penelitian multitahun tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan riset yang berkelanjutan di perguruan tinggi. Melalui skema ini, para akademisi didorong untuk menghasilkan penelitian yang berdampak bagi masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi kampus dalam pembangunan nasional.
Wardah Yuspin, S.H., M.Kn., Ph.D.
Salah satu penerima pendanaan adalah Wardah Yuspin, S.H., M.Kn., Ph.D., yang memperoleh hibah melalui skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR). Ia mengangkat judul penelitian “Implementasi Kebijakan Green Economy pada Industri Perbankan Syariah: Studi Mewujudkan Sustainable Development Goals melalui ESG.”
“Penelitiannya berfokus pada implementasi kebijakan ekonomi hijau di sektor perbankan syariah. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mendorong praktik keuangan yang berkelanjutan serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG),” papar Yuspin, saat dimintai keterangan pada Selasa, (10/3).
Pendanaan penelitian juga diraih oleh Prof. Dr. Absori, S.H., M.Hum., melalui skema PPS-PDD dengan judul “Rekonstruksi Paradigma Profetik dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan Berdasarkan Hukum Adat Dayak Kanayat’n di Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak.”
Absori menyebut penelitiannya mengkaji pendekatan profetik dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal masyarakat adat. Melalui kajian itu, nilai-nilai budaya dan hukum adat Dayak Kanayat’n diharapkan dapat memberikan perspektif alternatif dalam upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Selain itu, Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati, S.H., M.Hum., juga memperoleh pendanaan melalui skema PPS-PDD dengan judul penelitian “Dinamika Sosio-Legal Implementasi Kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kota Singkawang.”
Penelitian tersebut menyoroti dinamika implementasi kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dari perspektif sosio-legal. Kajian ini penting untuk memahami tantangan kebijakan serta faktor sosial yang memengaruhi keberhasilan perlindungan lahan pertanian di tingkat daerah.
Keberhasilan tiga dosen FHIP UMS tersebut menunjukkan komitmen kuat sivitas akademika dalam mengembangkan riset yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan keilmuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian berbagai isu strategis di masyarakat.
Topik penelitian yang diangkat juga mencerminkan perhatian akademisi terhadap isu pembangunan berkelanjutan, perlindungan lingkungan, serta kebijakan publik yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat.
FHIP UMS memberikan apresiasi atas capaian para dosennya tersebut. Fakultas berharap penelitian yang dilakukan dapat memberikan manfaat luas, baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan, penyusunan kebijakan publik, maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Yusuf/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dinilai berpotensi memberikan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk bagi Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (FEB UMS), Prof. Muhammad Sholahuddin, SE, M.Si., Ph.D., CSBA.
Menurutnya, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah memiliki implikasi strategis karena berkaitan langsung dengan jalur distribusi energi dunia, khususnya di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu titik krusial dalam perdagangan minyak global.
“Konflik di kawasan Timur Tengah, terutama yang mengancam di Selat Hormuz, berdampak besar karena hampir 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut,” jelas Sholahuddin, Selasa, (10/3).
Guru Besar UMS, Prof. Muhammad Sholahuddin, SE, M.Si., Ph.D., CSBA
Ia menambahkan, wilayah Selat Hormuz berada dalam pengaruh Iran. Ketika situasi geopolitik memanas, potensi pembatasan jalur pelayaran dapat mengganggu distribusi minyak dunia dan menyebabkan lonjakan harga energi secara global.
Dampak tersebut juga berpotensi dirasakan Indonesia. Sholahuddin menjelaskan bahwa sekitar separuh kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor. Kondisi ini membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi di pasar internasional.
“Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, harga minyak akan naik. Kenaikan harga minyak ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mempengaruhi distribusi barang, transportasi, hingga biaya logistik,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kenaikan harga energi biasanya akan diikuti oleh meningkatnya harga berbagai kebutuhan lain. Mulai dari pupuk, produk elektronik, hingga berbagai barang impor yang bergantung pada rantai distribusi global.
Menurutnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak dari kenaikan harga tersebut. Hal ini karena meningkatnya biaya hidup akan mempengaruhi harga barang kebutuhan sehari-hari.
“Gangguan energi global akan meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi risiko perang. Dampaknya merembet ke pasar keuangan dan harga barang yang pada akhirnya paling terasa bagi masyarakat kelas bawah,” ungkapnya.
Meski demikian, Sholahuddin menilai situasi ini juga dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.
Ia menekankan pentingnya mengembangkan energi alternatif yang sesuai dengan potensi geografis Indonesia, seperti energi surya. Dengan kondisi wilayah tropis yang memiliki paparan sinar matahari melimpah, pemanfaatan energi matahari dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang.
“Indonesia seharusnya mulai mengembangkan energi alternatif, seperti pembangkit listrik tenaga surya. Dengan begitu, ketergantungan terhadap energi berbasis minyak dapat berkurang,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti peran strategis perguruan tinggi dalam menghadapi dinamika global tersebut. Menurutnya, akademisi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan inovasi melalui penelitian dan hilirisasi hasil riset yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat dan industri.
“Perguruan tinggi memiliki banyak hasil penelitian dan inovasi. Jika dihilirisasi dengan baik melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, media, dan investor, maka hal itu dapat memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia,” katanya.
Terkait kekhawatiran munculnya perang dunia ketiga, Sholahuddin menilai kemungkinan tersebut relatif kecil selama konflik masih terbatas pada blok negara tertentu. Namun demikian, risiko tersebut tetap perlu diwaspadai apabila konflik meluas dan melibatkan lebih banyak negara.
“Kemungkinan perang dunia ketiga masih kecil selama konflik tidak meluas. Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir secara berlebihan,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan optimistis menghadapi dinamika global dengan memperkuat ekonomi domestik serta meningkatkan kemandirian bangsa.
“Yang terpenting adalah bagaimana Indonesia memperkuat kemandirian ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, serta memanfaatkan inovasi dari perguruan tinggi untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya. (Fika/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Pengajian Penguatan Implementasi Visi-Misi FKI sekaligus buka bersama pada Senin (9/3), di Ruang Seminar Gedung J FKI UMS. Momentum ini menjadi ajang silaturahmi antar lintas generasi sekaligus sebagai penguatan arah strategis fakultas.
Kegiatan dibuka oleh Master of Ceremony, Ahmada Auliya Rahman, S.I.Kom, M.Pd., selaku Wakil Dekan III FKI UMS. Seluruh keluarga besar FKI turut serta dalam melengkapi suasana kebersamaan, mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga para tendik yang telah menyelesaikan masa baktinya menjadi wujud nyata sinergi yang terus terjaga di lingkungan FKI.
Dekan FKI UMS Dr. Endah Sudarmilah, S.T., M.Eng., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pengajian di sore hari tersebut.
“Jadi ini dalam rangka mengimplementasikan misinya FKI Itu sebagai tempat pendidikan dan pengembangan Ipteks yang islami dan membawa arah perubahan di bidang komunikasi dan Informatika,” ujar Endah.
Menutup sambutannya, dekan tersebut menyampaikan harapan agar kegiatan dapat membawa keberkahan bagi seluruh keluarga besar FKI UMS.
“Semoga ini menjadi silaturahmi yang punya keutamaan memperpanjang usia, kemudian memperbanyak rezeki bagi kita semua,” harapnya.
Selain itu, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., hadir dalam memberikan arahan terkait penguatan visi-misi fakultas. Dalam arahannya, Harun menekankan pentingnya sinergi antar program studi di lingkungan FKI sebagai fondasi utama melahirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat luas.
Rektor UMS memaparkan rencana pengembangan FKI ke depannya, khususnya pada penambahan fakultas dan program studi baru dalam memperluas kapasitas dan jangkauan akademik fakultas. Menutup arahannya, Rektor menegaskan kepada seluruh civitas academica FKI untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai ajang evaluasi diri secara menyeluruh.
“Ramadan tahun ini menjadi konversi pikiran kita bersama, yang kedua menjadi pencuci hati kita, dan yang ketiga menjadi wahana latihan untuk ikhlas dalam beramal,” ungkap Harun.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh keakraban, pengajian ditutup dengan sesi berbagi pengalaman dan kenangan selama mengabdi bersama para tenaga kependidikan yang telah purna tugas. Kemudian sesi berlanjut pada berdoa bersama serta iftar yang mempererat tali persaudaraan keluarga besar FKI dalam naungan berkah bulan suci Ramadan 1447 H. (Roselia/Humas)