Berkah Ramadan, LazisMu Karanganyar Salurkan Dana Bakti Guru untuk 297 Pendidik PAUD Aisyiyah

Berkah Ramadan, LazisMu Karanganyar Salurkan Dana Bakti Guru untuk 297 Pendidik PAUD Aisyiyah

muhammadiyakaranganyar.or.id, KARANGANYAR – Di tengah cuaca terik yang menyengat, suasana sejuk dan penuh khidmat menyelimuti Gedung Dakwah Karanganyar pada Selasa (10/3). Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Aisyiyah (PDA) Karanganyar berkumpul untuk melaksanakan Penyerahan Dana Program Bakti Guru melalui LAZISMU, sebuah kado Ramadan bagi para pejuang pendidikan.

Acara dibuka dengan kultum oleh Drs. Ngadino, yang menekankan pentingnya keikhlasan dalam menunaikan amanah, terlebih saat memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan. Ngadino memaparkan bahwa jangkauan program ini terus meluas. Jika tahun lalu menyasar 600 guru, tahun ini meningkat signifikan menjadi 869 guru, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK.

“Mari kita kencangkan ikat pinggang di sisa Ramadan ini. Siapkan diri untuk iktikaf, zikir, dan sedekah agar amal ibadah kita diterima,” ujar Ngadino. Ia juga merinci sepuluh kedahsyatan sedekah, di antaranya melembutkan hati dan menolak bala di dunia, hingga memudahkan jawaban atas pertanyaan di akhirat kelak.

Direktur LAZISMU Karanganyar, Ahmad Zaki, dalam laporannya menegaskan bahwa Bakti Guru merupakan program prioritas utama lembaga. Menurutnya, kesejahteraan guru honorer harus diperhatikan karena peran vital mereka dalam mencerdaskan bangsa. Pada tahap ini, sebanyak 297 guru PAUD beserta karyawan administrasi menerima manfaat program.

“Zikirnya Muhammadiyah adalah sedekah. Kami memohon doa agar badan pengurus dan pelaksana tetap istikamah mengemban amanah ini,” ungkap Ahmad Zaki.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua PDM Bidang Pendidikan, Romdoni, menjelaskan bahwa manajemen keuangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), termasuk dana dari pegawai negeri, mulai ditata agar lebih terkelola melalui LAZISMU hingga ke tingkat cabang.

Ketua PDM Karanganyar, Muh. Arief, dalam sambutannya menyitir QS. Al-Munafiqun tentang penyesalan manusia saat ajal menjemput karena kurang bersedekah. Ia menegaskan bahwa sejak 2025, PDM fokus menghimpun zakat mal untuk kepentingan umat.

“Zakat itu seharusnya lewat amil atau baitul mal. Uang zakat tidak diperuntukkan bagi pembangunan fisik sekolah, melainkan untuk kesejahteraan manusia,” tegas Muh. Arief. Ia juga menambahkan bahwa pegawai yang sudah mendapatkan sertifikasi diharapkan tidak lagi membebani anggaran tambahan dari lembaga agar distribusi dana lebih merata.

Acara ditutup dengan penyerahan donasi secara simbolis kepada perwakilan PCM dan PCA. Diharapkan, kado Ramadan ini mampu memantik semangat para guru PAUD Aisyiyah untuk terus tulus mengabdi di bawah panji persyarikatan Muhammadiyah.

Tablig Akbar UMS: Masjid Bukan Sekadar Tempat Ibadah, Melainkan Pusat Pemberdayaan Umat

Tablig Akbar UMS: Masjid Bukan Sekadar Tempat Ibadah, Melainkan Pusat Pemberdayaan Umat

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar tablig akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Senin (9/3) sebagai rangkaian dari Gema Kampus Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut menghadirkan Kusnadi Ikhwani, S.E., M.M., yang dikenal sebagai mentor kebangkitan masjid sebagai pilar kebangkitan masyarakat Islam, khususnya di Indonesia.

Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, menyampaikan bahwa melalui kegiatan tersebut civitas academica diharapkan mendapatkan dorongan, motivasi, serta berbagai gagasan dari Kusnadi Ikhwani mengenai peran strategis masjid dalam kehidupan umat.

“Masjid tidak harus selalu megah dan gagah mewah. Tetapi masjid yang memakmurkan adalah di situ bisa langsung dirasakan oleh jamaah,” kata Mutohharun Jinan.

Dalam pemaparannya, Kusnadi yang berkecimpung di Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Muhammadiyah menekankan pentingnya kedekatan umat dengan masjid. Ia mengajak masyarakat untuk membiasakan diri datang dan beribadah di masjid sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih baik.

“Kalau ingin hidup dimudahkan, maka sering seringlah datang ke masjid, solat di masjid. Belajar lah mencintai masjid,” ujarnya.

Menurutnya, masjid memiliki peran penting dalam mencetak kader-kader umat serta membangun karakter masyarakat Islam. Karena itu, pengelolaan masjid perlu diarahkan tidak hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada upaya memakmurkan masjid melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi jamaah.

Kusnadi juga menanggapi fenomena sejumlah masjid yang tidak dibuka selama 24 jam, meskipun saat proses pembangunannya sering melakukan penggalangan dana dari masyarakat. Menurutnya, penggalangan dana semestinya dilakukan dengan cara yang lebih efektif, misalnya dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi dan transparansi kepada masyarakat.

Ia juga menyoroti penggunaan dana infaq dalam pengelolaan masjid.

“Seharusnya, uang infaq itu bukan untuk membangun tetapi wakaf, infaq itu dikembalikan kepada masyarakat untuk memberikan kemakmuran kepada masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kusnadi mendorong pengelola masjid untuk memaksimalkan publikasi kegiatan agar masjid semakin hidup dan dikenal oleh masyarakat luas.

“Kegiatan masjid itu diliput dan disebarkan,” katanya.

Melalui pendekatan tersebut, ia berharap masjid dapat menjadi pusat kegiatan umat yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat dan penguatan solidaritas sosial. (Maysali/Humas)

Perkuat Sinergi, UMS Gandeng Tokoh Masyarakat untuk Dakwah dan Pengembangan Mahasiswa

Perkuat Sinergi, UMS Gandeng Tokoh Masyarakat untuk Dakwah dan Pengembangan Mahasiswa

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Kegiatan Pengajian Ramadan dan Silaturahmi yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendapat apresiasi positif dari para tokoh masyarakat dan takmir masjid di sekitar kampus.

Kegiatan yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan dan Alumni (LP3A) UMS pada Senin (9/3) tersebut dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Para peserta berasal dari kepala desa, pengurus RT dan RW, pimpinan Muhammadiyah, hingga tokoh agama dan takmir masjid dari wilayah Gonilan, Pabelan, dan Mendungan.

Dalam sesi diskusi dan ramah tamah, sejumlah peserta menyampaikan kesan serta harapan terhadap kerja sama yang lebih erat antara kampus dan masyarakat.

Ketua Takmir Masjid Baitul Makmur Gonilan, Ustaz Arif Rifa’i

Ketua Takmir Masjid Baitul Makmur Gonilan, Ustaz Arif Rifa’i, mengungkapkan bahwa pihaknya menyambut baik kegiatan silaturahmi yang mempertemukan langsung masyarakat dengan pimpinan universitas.

Ia menilai keberadaan mahasiswa yang beraktivitas di masjid-masjid sekitar kampus selama ini memberikan dampak positif terhadap kegiatan keagamaan di masyarakat.

“Kami sebenarnya ingin bekerja sama lebih dari sekadar itu. Apakah dari masjid kami atau masjid lain dimungkinkan mendapatkan bimbingan ataupun fasilitas dari universitas? Karena kegiatan mahasiswa di masjid sangat bagus dan kami sangat mendukung,” ujarnya.

Ia juga berharap komunikasi antara takmir masjid dan pihak kampus dapat semakin intensif sehingga program-program keagamaan yang melibatkan mahasiswa bisa terus berkembang.

Menanggapi aspirasi tersebut, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan bahwa pihak universitas terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, seluruh kebijakan yang berkaitan dengan kerja sama kelembagaan di UMS akan dibahas secara kolegial bersama pimpinan universitas.

“Terkait dengan usulan tersebut, nanti bisa dikoordinasikan melalui LP3A. Semua kebijakan di UMS bersifat kolegial dan akan dirundingkan bersama agar memberikan manfaat bagi semua pihak,” jelasnya.

Ia juga menyambut baik gagasan pengembangan pesantren mahasiswa di lingkungan masjid sekitar kampus, selama program tersebut dapat memberikan ruang pembinaan yang baik bagi mahasiswa.

Melalui kegiatan silaturahmi Ramadan ini, UMS berharap hubungan harmonis antara kampus dan masyarakat sekitar semakin kuat serta mampu melahirkan berbagai kolaborasi positif dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. (Yusuf/Humas)

Momen Ramadan di UMS: Gelar Silaturahmi Bersama Tokoh Masyarakat Sekitar Kampus

Momen Ramadan di UMS: Gelar Silaturahmi Bersama Tokoh Masyarakat Sekitar Kampus

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan dan Alumni (LP3A) menggelar Pengajian Ramadan dan Silaturahmi bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat di sekitar kampus, Senin, (9/3).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS tersebut mengusung tema “Menjalin Ukhuwah dan Membangun Solidaritas Bersama Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Sekitar Kampus.”

Sekitar 150 undangan hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari kepala desa, pengurus RT dan RW sekitar kampus, pimpinan cabang Muhammadiyah, pimpinan cabang pemuda Muhammadiyah, serta para takmir masjid dari wilayah Gonilan, Pabelan, dan Mendungan.

Ketua LP3A UMS, Dr. Bambang Sukoco, S.H., M.H., menyampaikan bahwa kegiatan silaturahmi ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan untuk mempererat hubungan antara kampus dengan masyarakat sekitar.

Menurutnya, keberadaan dan perkembangan UMS tidak terlepas dari dukungan masyarakat di lingkungan sekitar kampus yang selama ini turut memberikan doa dan dukungan.

“Kesadaran itu yang membuat pimpinan UMS merasa penting untuk bisa bersilaturahmi dan bertatap muka dengan Bapak dan Ibu sekalian. Kebesaran kampus ini tentu tidak hanya karena kami yang ada di dalam UMS, tetapi juga karena peran luar biasa masyarakat sekitar,” ujarnya.

Ia juga berharap pertemuan semacam ini dapat terus dilaksanakan sehingga komunikasi antara kampus dan masyarakat tetap terjaga dengan baik.

Sementara itu, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMS, Prof. Dr. Sabar Narimo, M.M., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada para tokoh masyarakat yang selama ini ikut membimbing dan membina mahasiswa UMS di lingkungan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa sejak tahun 1980-an, kawasan sekitar UMS mengalami perkembangan yang cukup signifikan seiring bertambahnya jumlah mahasiswa yang belajar di kampus tersebut.

Menurutnya, perubahan tersebut juga membawa dampak positif terhadap kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan tinggi bagi generasi muda.

Dalam pengajian tersebut, Wakil Rektor III UMS Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., menyampaikan materi tentang perkembangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang sejak awal berdiri memiliki semangat kedermawanan dan pelayanan sosial bagi masyarakat.

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam kesempatan itu juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para kepala desa, tokoh masyarakat, serta pengurus RT dan RW yang selama ini turut menjaga kondusivitas lingkungan sekitar kampus.

Ia menegaskan bahwa UMS terbuka terhadap masukan dari masyarakat, termasuk berbagai aspirasi yang disampaikan dalam forum diskusi sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara kampus dan lingkungan sekitar. (Yusuf/Humas)

Pesan Mendalam Surat Thoha Ayat 132: Hubungan Erat Antara Salat, Sabar, dan Keberkahan Hidup

Pesan Mendalam Surat Thoha Ayat 132: Hubungan Erat Antara Salat, Sabar, dan Keberkahan Hidup

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Begitu banyak ayat-ayat perintah salat yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Ketegasan Allah menunjukkan bahwa salat merupakan amalan wajib bagi umat muslim. Akan tetapi, seringkali manusia mengeluhkan salat menjadi suatu amalan yang berat. Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. memberikan resep untuk menghilangkan rasa keberatan dalam pelaksanaan salat lewat penjelasan surat Thoha ayat 132.

Secara jelas, surat Thoha mengandung perintah atas keluarga untuk melaksanakan salat. Namun, muncul sebuah pertanyaan penting, kenapa salat menjadi sebuah perintah dalam kehidupan berkeluarga? Ada dua poin penting dari Hakimuddin untuk memaknai perintah tersebut.

Pertama, salat merupakan fondasi agama
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أقَامَهَا فَقدْ أقَامَ الدِّيْنَ وَمنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ.

Mengutip dari hadis tersebut, Hakimuddin menegaskan bahwa salat adalah penopang utama agama Islam. “Jika salat tidak dikerjakan, maka fondasi agama Islam akan runtuh atau hancur,” tegasnya, Senin (9/3).

Kedua, salat menjadi parameter kehidupan manusia. Rasulullah dalam hadisnya mengatakan bahwa jika seseorang salatnya baik, maka seluruh amalannya baik dan jika salatnya rusak, maka seluruh amalannya ikut rusak. Salat juga sebuah amalan ibadah yang akan dihisab pertama kali oleh Allah SWT di akhirat.

Ketiga, salat menjadi identitas pembeda antara umat Muslim dengan umat agama lainnya. Menurut Hakimuddin, identitas keislaman seseorang yang sebenarnya diukur dari tingkat keistiqomahan dalam mengerjakan salat.

“Identitas seorang muslim bukan dilihat dari KTPnya, atau baju kokonya. Tapi dari keistiqomahan dalam melaksanakan salat,” jelasnya.

Surat Thoha ayat 132 juga menjelaskan perintah untuk bersabar. Ibnu Katsir menjelaskan kalimat tersebut pada bagian bersabar dalam menunaikannya (menunaikan salat). Artinya, terdapat korelasi antara perintah salat dan perintah bersabar dalam ayat tersebut.

Hakimuddin menjelaskan bahwa kata sabar yang digunakan dalam surat Thoha ayat 132 yaitu “Wasthabir”. Para mufassir menjelaskan bahwa makna wasthabir adalah perintah kesabaran dengan tingkat paling tinggi.

Menurutnya salat adalah amalan berat, hanya orang-orang yang khusyuk atau kadar keimanannya tinggi dapat merasakan keringanan dalam mengerjakan salat. Kesabaran menjadi penting untuk mengerjakan perintah salat.

Lebih lanjut, Hakimuddin mengatakan terdapat kesabaran yang perlu diperhatikan lebih intens, yaitu sabar dalam mengajak mengajari salat kepada keluarga dan anak-anak, atau dalam konteks pendidikan mengajarkan salat pada peserta didik. Kesabaran menjadi asas penting untuk menumbuhkan kesadaran dalam beribadah.

“Pendidikan yang tidak memiliki asas kesabaran, cenderung doktrinal atau struktural. Maka, kesadaran tidak akan pernah muncul dalam lubuk hatinya,” kata Hakimuddin.

Kemudian, Hakimuddin mengklasifikasikan fase-fase mendidik anak-anak dalam mengenalkan perintah untuk menunaikan shalat. Pertama, Marhalah Al-Azm atau Fase Ketegasan. Mulai usia 10 tahun, diperbolehkan memukul untuk mengerjakan salat. Orientasi daripada pukulan tersebut adalah untuk mendidik. Ia menambahkan aturan-aturan dalam memukul anak untuk mengerjakan salat.

“Memukul untuk mengajarkan shalat kepada anak-anak ada batasan-batasan yang telah diatur oleh agama. Pertama, tidak menimbulkan luka apapun. Kedua, memukul jauh dari area tubuh yang fatal. Ketiga, tidak memukul muka. Keempat, memukul lebih dari 10 kali,” sebutnya.

Kedua, Marhalah Al-Amr atau Fase Memerintah. Pada usia 7 tahun, anak-anak cukup diperintahkan lewat lisan tanpa ada penegasan lebih. Terdapat rentang waktu 3 tahun untuk adaptasi anak-anak terhadap amalan salat.

Hakimuddin memberikan beberapa fase untuk mendukung proses Marhalah Al-Amr. Seperti mengajak ke masjid. Baginya, mengajak anak-anak ke masjid merupakan suatu langkah pendekatan kultural dalam mengajarkan anak-anak untuk mengerjakan salat.

Selain itu, terdapat Marhalatul Ta’lim atau Fase Pengajaran. Pengenalan atau pengajaran tentang kaifiyah shalat atau tata cara salat. Pengetahuan tentang kaifiyah salat menjadi langkah pokok dalam menapaki Marhalah Al-Amr.

Surat Thoha ayat 132 juga memiliki korelasi antara salat dengan Rezeki. Hakimuddin mengutip tafsir Ibnu Katsir yang menerangkan bahwa kesabaran dan keistiqomahan dalam mengerjakan salat dan mengajarkan salat pada keluarga atau anak-anak akan mendatangkan tanpa keterdugaan.

“Ketika kita istiqomah dalam mengerjakan salat, maka Allah SWT akan memberikan rezeki kepada kita setiap saat,” ungkapnya.

Hakimuddin menekankan pentingnya qudwah atau keteladanan bagi seorang pendidik. Seperti halnya Rasulullah ketika memerintahkan shalat, Rasulullah telah mengerjakan shalat jauh sebelumnya.

“Dalam konteks kampus, maka dosen atau pengajar harus memberikan cotoh keteladanan sebelum memerintahkan sesuatu,” tegasnya. (Affiq/Humas)