Pererat Silaturahmi, Festival Ramadan 2026 Pondok Shabran UMS Jadi Ajang Kreativitas Masyarakat

Pererat Silaturahmi, Festival Ramadan 2026 Pondok Shabran UMS Jadi Ajang Kreativitas Masyarakat

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Festival Ramadan 2026 yang diselenggarakan pada Sabtu – Minggu, (7-8/3) berlangsung meriah dan sangat khidmat. Mengusung tema “Bersama Ramadan, Menyemai kebaikan, Menuai kebahagiaan.” Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi berbagai elemen masyarakat dalam menyemarakkan bulan suci Ramadan.

Festival ini diselenggarakan melalui kerjasama antara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama Masjid Munajat dan Masjid Utsman. Kolaborasi ini menghadirkan berbagai kegiatan yang tidak hanya bernuansa religius, tetapi juga sosial dan pemberdayaan Masyarakat.

Beragam rangkaian acara diselenggarakan selama dua hari, festival ini diisi dengan lomba dan kegiatan menarik yang melibatkan anak-anak hingga remaja. Beberapa lomba-lomba yang diselenggarakan di antaranya: lomba adzan, lomba tahfidz Al-Qur’an, lomba mewarnai, serta lomba sholat.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengaktualisasikan prestasi, kreativitas serta bakat generasi muda Kartasura. Menyemarakkan dan syiar bulan Ramadhan dengan kegiatan positif. Menghimpun generasi muda Kartasura dalam sebuah kegiatan yang bernuansa islami.

Selain perlombaan, festival ini juga menghadirkan bazar Ramadhan, masyarakat sekitar terlihat sangat antusias, banyak diantara mereka yang datang tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk menikmati suasana bazar Ramadhan yang penuh kebersamaan dan kehangatan.

Hilmi Juan Attaqi sebagai Ketua Panitia Kegiatan menyampaikan bahwa festival ini merupakan upaya untuk mempererat ukhuwah serta membangun sinergi antara mahasantri Pondok Shabran UMS, takmir masjid, dan masyarakat. Ramadhan dipandang sebagai momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya meriah, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Festival ini bukan sekedar acara seremonial, tetapi menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan serta memperkuat berbagai elemen Masyarakat. Kami berharap kegiatan ini dapat mempererat ukhuwah serta menumbuhkan semangat dan kebersamaan di bulan Ramadhan”, ujarnya. Senin, (8/3).

Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya peserta lomba yang hadir selama festival berlangsung. Tidak hanya anak-anak yang berpartisipasi dalam perlombaan, tetapi juga keluarga dan wali setiap delegasi masjid yang turut hadir untuk menyaksikan serta meramaikan kegiatan tersebut.

Dengan terselenggaranya Festival Ramadan di tahun ini, Hilmi berharap semangat sinergi tanpa batas antara mahasantri, takmir, dan masyarakat dapat terus terjalin. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi berbagai pihak mampu menghadirkan kegiatan yang bermanfaat sekaligus memperkuat kebersamaan ditengah masyarakat. (Nurul/Adi/Humas)

Perkuat Regenerasi, Kader Tapak Suci UMS Ikuti UKT Wilayah Jawa Tengah

Perkuat Regenerasi, Kader Tapak Suci UMS Ikuti UKT Wilayah Jawa Tengah

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengirimkan 17 kader untuk mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Tapak Suci yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengkaderan berjenjang yang dilaksanakan di bawah Pimpinan Wilayah 06 Tapak Suci Jawa Tengah.

Pembina UKM Tapak Suci UMS, Wildan Hanif Amri, S.Pd., M.Or., menyampaikan bahwa UKT merupakan agenda rutin dalam sistem kaderisasi Tapak Suci yang bertujuan untuk memastikan kualitas kader, baik dari aspek keilmuan, keterampilan, maupun karakter.

“UKT kader Tapak Suci merupakan program pengkaderan berjenjang yang rutin dilaksanakan di bawah pimpinan Wilayah 06 Tapak Suci Jawa Tengah. UKT Tapak Suci dimaksudkan untuk kaderisasi Muhammadiyah, evaluasi penguasaan jurus ragawi, serta penguatan karakter dan mental,” ujarnya saat dimintai keterangan, Senin, (9/3).

Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh perwakilan pimpinan daerah Tapak Suci se-Jawa Tengah serta UKM Tapak Suci dari berbagai perguruan tinggi. Partisipasi UMS dengan mengirimkan 17 kader menjadi bagian penting dari proses regenerasi organisasi.

“Untuk UMS, memang sudah waktunya beberapa senior Tapak Suci harus naik tingkatan sabuk, supaya proses regenerasi dan pengkaderan senantiasa terus berjalan,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan UKT diawali dengan workshop dan coaching clinic yang membahas sistem pembinaan, manajemen latihan, serta strategi peningkatan prestasi Tapak Suci. Setelah itu, peserta mengikuti berbagai tahapan evaluasi, meliputi tes Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), ketapaksucian, kepemimpinan organisasi, jurus ragawi Tapak Suci, hingga penyusunan karya tulis ilmiah.

Penasehat Tapak Suci UMS, Dr. Nur Subekti, S.Pd., M.Or., bersama Koordinator Program Hari Bertapak Suci UMS, Ardhian Tomy Kurniawan, S.Pd., M.Or., turut mendukung penguatan kader melalui integrasi program pembinaan di tingkat universitas.

Wildan menambahkan bahwa hasil dari kegiatan UKT ini akan diintegrasikan dengan program Hari Bertapak Suci UMS yang dikoordinasikan di bawah Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP3A) UMS. Program tersebut menyasar mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai Tapak Suci di lingkungan kampus.

“Kegiatan yang dilaksanakan pada 14-15 Februari 2026 itu sangat bermanfaat karena dapat diintegrasikan dengan program Hari Bertapak Suci UMS. Harapannya, integrasi program ini dapat mendorong pengembangan prestasi, soft skill, tata kelola manajemen organisasi, serta mampu berkontribusi untuk berdakwah Muhammadiyah melalui Tapak Suci di masyarakat,” pungkasnya.

Melalui partisipasi aktif dalam UKT dan integrasi program pembinaan internal, Subekti menegaskan UKM Tapak Suci UMS terus berkomitmen mencetak kader yang tidak hanya unggul secara fisik dan prestasi, tetapi juga memiliki karakter kuat, kepemimpinan, serta semangat dakwah Muhammadiyah. (Fika/Humas)

Gandeng Praktisi, Prodi PPKn UMS Siapkan Lulusan Pendidik Berjiwa Nasionalis

Gandeng Praktisi, Prodi PPKn UMS Siapkan Lulusan Pendidik Berjiwa Nasionalis

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus mematangkan pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan lapangan setelah sebelumnya menyerap berbagai masukan dari praktisi pendidikan dan pemangku kepentingan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan lulusan PPKn UMS memiliki kompetensi yang relevan dengan dinamika dunia pendidikan saat ini.

“Masukan dari para praktisi menjadi bahan penting dalam proses penyempurnaan kurikulum karena keterlibatan pengguna lulusan membantu prodi menyusun struktur pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif,” kata Ketua Program Studi PPKn UMS, Wibowo Heru Prasetiyo, Ph.D., saat ditemui pada Senin, (9/3).

Ketua Program Studi PPKn UMS, Wibowo Heru Prasetiyo, Ph.D.

Sebelumnya, Prodi PPKn UMS telah menggelar forum serap aspirasi bersama para stakeholder yang berlangsung di Laboratorium PPG FKIP UMS. Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pihak mulai dari akademisi, guru, hingga praktisi yang terlibat langsung dalam pembinaan karakter dan organisasi kesiswaan di sekolah.

Forum tersebut dihadiri oleh Kepala Laboratorium PPKn UMS, Obby Taufik Hidayat, Ph.D., serta sejumlah dosen pakar seperti Eko Prasetyo, M.Pd., dan Umi Setyaningsih, M.Pd. Kehadiran para akademisi ini memperkaya pembahasan mengenai penguatan profil lulusan dan struktur kurikulum.

Selain itu, sejumlah perwakilan dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) juga turut memberikan masukan, di antaranya Ketua MGMP SMP Kabupaten Boyolali Joko Turyanto, S.Pd., M.M., serta Sekretaris MGMP SMA Kota Surakarta Lail Nur Fadlika, S.Pd.

foto bersama saat forum serap aspirasi bersama para stakeholder yang berlangsung di Laboratorium PPG FKIP UMS.

Diskusi juga melibatkan praktisi dari berbagai bidang, termasuk perwakilan Satlantas Polres Sukoharjo, IPDA Niken Sri Mahesi, SH, MH, serta para pelatih kepanduan dari Hizbul Wathan dan Pramuka di wilayah Solo Raya. Kehadiran mereka memberikan gambaran nyata tentang kebutuhan kompetensi guru di lapangan.

Dalam forum yang telah terlaksana pada Jumat, (27/2), berbagai aspek kurikulum dibahas secara mendalam, mulai dari struktur mata kuliah, bobot Satuan Kredit Semester (SKS), hingga kedalaman materi pembelajaran.

“Evaluasi ini dilakukan agar kurikulum mampu menjawab kebutuhan pembelajaran kewarganegaraan yang semakin kompleks,” kata Kaprodi PPKn UMS.

Menurutnya, salah satu ciri khas Prodi PPKn UMS adalah penguatan kompetensi mahasiswa dalam pembinaan kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Mahasiswa dipersiapkan tidak hanya sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai pembina organisasi siswa seperti Pramuka, Hizbul Wathan, Palang Merah Remaja (PMR), dan Patroli Keamanan Sekolah (PKS).

Masukan dari para praktisi lapangan dinilai penting karena memberikan gambaran langsung tentang tantangan yang dihadapi guru dalam membina organisasi kesiswaan. Hal tersebut menjadi dasar bagi prodi untuk menyesuaikan materi pembelajaran agar lebih relevan dengan kebutuhan sekolah.

“Saat ini, Prodi PPKn UMS tengah menindaklanjuti berbagai rekomendasi yang dihasilkan dari forum tersebut, termasuk dalam penyusunan Rencana Semester Pembelajaran (RSP) yang lebih aplikatif dan berbasis praktik,” ungkapnya.

Melalui langkah tersebut, PPKn UMS berharap mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang kuat, tetapi juga keterampilan manajerial dan kepemimpinan dalam membina karakter siswa di lingkungan sekolah. (Yusuf/Humas)

UMS Gandeng Sekolah di Selangor Malaysia, Fokus Cegah Bullying dan Perkuat Pendidikan Islam

UMS Gandeng Sekolah di Selangor Malaysia, Fokus Cegah Bullying dan Perkuat Pendidikan Islam

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jamaah Sungai Besar, Selangor, Malaysia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Kemitraan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat internasionalisasi UMS sekaligus implementasi Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat lintas negara.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh perwakilan UMS, Prof. Supriyono, Ph.D., dan diserahkan oleh Ketua Pengabdian UMS, Dr. Muh. Nur Rochim Maksum, S.Pd.I, M.Pd.I. Dari pihak mitra, dokumen kerja sama diterima langsung oleh Nor Hawani binti Harun selaku Pengetua Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jamaah. Kedua institusi sepakat menjadikan kerja sama ini sebagai payung berbagai program akademik dan sosial yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan Islam di Malaysia.

Sebagai implementasi awal dari kerja sama tersebut, UMS melaksanakan program pengabdian bertajuk “Pencegahan Bullying: Pendekatan Edukasi dan Psikososial di SAM Tengku Ampuan Jemaah Sungai Besar Selangor Malaysia.”

“Program ini memadukan edukasi karakter, literasi kesehatan mental, serta penguatan sistem dukungan sekolah guna menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif,” ungkapnya, Muh Nur Rochim, Senin, (9/3).

Dalam kegiatan tersebut, lanjutnya, UMS juga menyelenggarakan bengkel peningkatan kompetensi guru yang berfokus pada deteksi dini perundungan, manajemen kelas berperspektif psikososial, serta strategi pendampingan siswa berbasis empati. Melalui pelatihan ini, para guru diharapkan mampu mengidentifikasi potensi bullying sejak dini dan memberikan intervensi yang tepat bagi siswa.

“Selain penguatan bagi tenaga pendidik, program ini turut melibatkan siswa dalam upaya menciptakan sekolah yang aman dan bebas dari perundungan. Kegiatan seperti pelatihan kepemimpinan pelajar, simulasi empati, serta kampanye budaya saling menghormati dilakukan untuk mendorong siswa menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah,” paparnya.

Skema kegiatan ini sejalan dengan semangat Tridarma Perguruan Tinggi, di mana pengabdian kepada masyarakat berpadu dengan pengembangan pendidikan serta penelitian terapan yang memberikan dampak langsung bagi komunitas.

Ia juga menyampaikan bahwa kolaborasi ini tidak hanya bersifat seremonial, melainkan menjadi ruang kerja bersama yang berkelanjutan antara kedua institusi. Sementara itu, Nor Hawani binti Harun menegaskan bahwa kemitraan dengan UMS diharapkan mampu memperkuat kualitas pembelajaran dan pengembangan karakter siswa di sekolahnya.

“Ke depan, kedua pihak berharap kerja sama ini dapat berkembang dalam bentuk riset bersama, pertukaran akademik, hingga program pengabdian lanjutan yang memberikan manfaat luas bagi komunitas pendidikan di Indonesia dan Malaysia,” kata Nor Hawani. (Fika/Humas)

Muhammadiyah Dorong KHGT untuk Akhiri Perbedaan Waktu Ibadah Global

Muhammadiyah Dorong KHGT untuk Akhiri Perbedaan Waktu Ibadah Global

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Gagasan penyatuan kalender Hijriah terus mengemuka dalam diskursus umat Islam global. Salah satu konsep yang kini dikembangkan adalah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah sistem yang diharapkan mampu menyatukan penentuan awal bulan Hijriah di seluruh dunia.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang juga narasumber dalam kajian Pengajian Ramadan PWM Jateng se-Solo Raya di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Agus Purwanto, menjelaskan bahwa secara sederhana KHGT dapat dipahami sebagai penyamaan tanggal Hijriah secara global.

“Maksudnya, satu Ramadan itu satu tanggal (bersama-sama) di kalender Masehi. Jadi misal satu Ramadan itu 19 Februari, maka di seluruh muka bumi pun akan sama,” jelasnya, Minggu (8/3).

Selama ini, menurutnya, perbedaan penentuan awal bulan Hijriah masih sering terjadi karena adanya perbedaan metode dalam menentukan pergantian bulan qamariyah yang kemudian dikaitkan dengan kalender syamsiyah (Masehi).

Ia menuturkan, gagasan kalender Hijriah global bukanlah konsep baru. Ide tersebut telah melalui perjalanan panjang sejak hampir satu abad lalu. Pada 1939, seorang ahli hadis asal Mesir, Syekh Ahmad Muhammad Syakir, pertama kali mengusulkan penggunaan kalender Islam global.

Perkembangan gagasan ini kemudian berlanjut pada berbagai forum internasional. Pada 1978, pembahasan mengenai kalender global kembali dilakukan di Turki, kemudian diperkenalkan konsep kalender Islam global oleh Muhammad Ilyas. Selanjutnya, pada 2008 lahir Deklarasi Dakar dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang menyerukan pentingnya penyatuan kalender Hijriah bagi umat Islam di dunia.

Di Indonesia, Muhammadiyah juga aktif mendorong gagasan tersebut. Pada 2015, Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar memberikan amanat untuk mengembangkan kalender Hijriah global. Setahun kemudian, dalam konferensi internasional kalender Islam di Istanbul pada 2016, para ahli menghasilkan konsensus mengenai konsep Kalender Hijriah Global Tunggal.

Muhammadiyah kemudian melanjutkan pengembangan konsep ini melalui Majelis Tarjih dan Tajdid. Pada 2021, Muhammadiyah mulai mengembangkan prototipe KHGT yang kemudian dibahas lebih lanjut dalam berbagai forum ilmiah. Hingga akhirnya pada 2024, Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih di Pekalongan menetapkan keputusan penggunaan KHGT sebagai arah pengembangan kalender Islam yang akan digunakan Muhammadiyah di masa mendatang.

“Jadi KHGT bukan ide kemarin sore, melainkan sudah merupakan ide dari 1938,” ujar Agus.

Menurutnya, konsep KHGT juga tidak bertentangan dengan dalil-dalil keislaman. Ia menjelaskan bahwa baik Al-Qur’an maupun hadis memberikan dasar penggunaan metode hisab dan rukyat dalam penentuan waktu ibadah.

Selain itu, konsep ini juga dilandasi oleh semangat universalisme Islam dan persatuan umat. “Dasar lainnya adalah universalisme Islam, kesatuan umat, haji dan Arafah,” tambahnya.

Dalam keputusan Muhammadiyah, KHGT dibangun di atas beberapa prinsip utama, yakni penerimaan metode hisab sebagai dasar penentuan kalender, konsep transfer imkanur rukyat, kesatuan kalender secara mutlak, keselarasan hari dan tanggal di seluruh dunia, serta penerimaan garis tanggal internasional.

Dengan prinsip tersebut, KHGT diharapkan mampu menghadirkan keseragaman tanggal Hijriah sekaligus kesesuaian dengan kalender Masehi secara global. Artinya, apabila suatu wilayah di dunia telah memenuhi kriteria awal bulan berdasarkan perhitungan hisab, maka wilayah lain di dunia akan mengikuti penetapan tersebut dengan prinsip matla’ global. (Maysali/Humas)