Meneladani Sunah: Panduan Lengkap Tata Cara Salat Gerhana

Meneladani Sunah: Panduan Lengkap Tata Cara Salat Gerhana

muhammadiyakaranganyar.or.id, Fenomena alam gerhana, baik matahari maupun bulan, merupakan tanda nyata kebesaran Allah SWT yang patut direnungkan oleh setiap mukmin. Dalam menyikapi peristiwa astronomis ini, umat Islam dianjurkan untuk menunaikan salat gerhana sebagai bentuk pengagungan terhadap Sang Pencipta. Berbeda dengan salat fardu atau sunah lainnya, salat gerhana memiliki karakteristik unik dalam tata cara pelaksanaannya.

Tata Cara Salat Gerhana

Salat gerhana dilaksanakan secara berjamaah, tanpa adzan dan iqamah. Dilaksanakan dua rakaat, pada setiap rakaat melakukan rukuk, qiyam dan sujud dua kali. Salat gerhana boleh dilakukan di tanah lapang ataupun di masjid. Urutan tata cara salat gerhana adalah sebagai berikut:

a. Imam menyerukan aṣ-ṣalātu jāmi‘ah.

b. Takbiratulihram.

c. Membaca doa iftitah.

d. Membaca taawuz, basmalah lalu membaca surah al-Fatihah dan surah panjang* dengan jahar.

e. Rukuk, dengan membaca tasbih yang lama.

f. Mengangkat kepala dengan membaca sami‘allāhu li man ḥamidah, makmum membaca rabbanā wa lakal-ḥamd.

g. Berdiri tegak, lalu membaca al-Fatihah dan surah panjang* tetapi lebih pendek dari yang pertama.

h. Rukuk, sambil membaca tasbih yang lama tetapi lebih singkat dari yang pertama.

i. Bangkit dari rukuk dengan membaca sami‘allahu li man hamidah, rabbana wa lakal-hamd.

j. Sujud.

k. Duduk di antara dua sujud.

l. Sujud.

m. Bangkit dari sujud, berdiri tegak mengerjakan rakaat kedua seperti rakaat pertama tanpa membaca doa iftitah.

n. Salam.

o. Setelah salat, imam berdiri menyampaikan khutbah satu kali yang berisi nasihat serta peringatan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah serta mengajak memperbanyak istigfar, sedekah dan berbagai amal kebajikan.

Sumber: https://muhammadiyah.or.id/2021/11/waktu-dan-tata-cara-salat-gerhana/

Khutbah Jumat: Ramadan Bulan Pensucian Jiwa

Khutbah Jumat: Ramadan Bulan Pensucian Jiwa

📚 Materi Khutbah Jum’at Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Karanganyar
Edisi 061/MTDK PDM Karanganyar/2026
Jum’at, 26 Februari 2026 M/ 10 Ramadan 1447 H
Judul: Ramadan Bulan Pensucian Jiwa
Oleh : Ust.Suparno Afifi, S.HI., M.Ag.

*Donasi Dakwah*
*Bank Muamalat:*
*530 0006 941*
a.n. *LAZISMU Karanganyar*

UMS Bentuk Panitia Inti Masta 2026 demi Optimalkan Penyambutan Mahasiswa

UMS Bentuk Panitia Inti Masta 2026 demi Optimalkan Penyambutan Mahasiswa

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTAUniversitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Evaluasi Masa Ta’aruf dan Penyambutan Mahasiswa Baru (MASTA-PMB) 2025 yang dirangkai dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) serta pembentukan Panitia Inti MASTA-PMB 2026 di Hotel Lorin Syariah Solo, Rabu (25/2).

Kegiatan evaluasi dipandu oleh Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., bersama Ketua Panitia MASTA 2025, Dr. Marisa Kurnianingsih, S.H., M.H., M.Kn., dan Sekretaris Panitia, Peni Indrayudha, S.Farm., M.Biotech., Apt., Ph.D.

Dalam sambutannya, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan kolaborasi seluruh panitia. Menurutnya, meskipun MASTA telah rutin diselenggarakan setiap tahun, evaluasi tetap menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan di masa mendatang.

“Terima kasih atas kerja keras dan kerja samanya. Walaupun penyelenggaraan MASTA sudah cukup lama, tetap ada banyak saran dan masukan yang bisa menjadi perbaikan pada penyelenggaraan MASTA berikutnya,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Panitia 2025, Dr. Marisa Kurnianingsih, S.H., M.H., M.Kn., mengucapkan terima kasih atas kontribusi besar seluruh panitia, baik pikiran, tenaga, waktu, bahkan materi dalam menyukseskan MASTA PMB 2025.

Beberapa rekomendasi yang mengemuka dalam evaluasi di antaranya perlunya rapat panitia yang terjadwal agar pembahasan lebih maksimal. Selain itu, media komunikasi yang dinilai paling efektif adalah grup WhatsApp dan Instagram. Tim Duta MASTA juga mendapat apresiasi dengan harapan dapat terus ditingkatkan perannya pada penyelenggaraan berikutnya.

Dalam pengarahan, Wakil Rektor I UMS, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., menekankan bahwa MASTA harus dirancang fleksibel dan mampu memberikan pengalaman unik bagi mahasiswa baru (maba).

Berdasarkan hasil survei, alasan utama calon mahasiswa memilih UMS masih didominasi faktor rekomendasi teman dan keluarga (mouth to mouth).

Karena itu, ia mendorong agar setiap evaluasi, sekecil apa pun, tetap disampaikan karena berpotensi membawa dampak besar. Tema MASTA juga perlu dikaji ulang dengan prinsip utama menyambut maba secara utuh, baik dari aspek akademik, non-akademik, maupun Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), sekaligus menunjukkan identitas UMS selaras dengan tagline transendensi.

Hal teknis seperti proses pendaftaran juga diharapkan semakin dipermudah. Selain itu, akan dilakukan diskusi lanjutan dengan Direktorat Akademik dan Admisi (DAA) terkait timeline pelaksanaan, dengan harapan kegiatan MASTA dapat selesai sebelum masa perkuliahan dimulai.

Ke depan, tema yang lebih relevan akan dirumuskan, termasuk penguatan model kaderisasi yang ideal melalui diskusi bersama para pimpinan terkait.

Dalam kesempatan tersebut, terpilih Ketua Panitia MASTA-PMB 2026, Dr. Nur Aklis, S.T., M.Eng., Wakil Ketua Panitia Dr. Nur Subekti, S.Pd., M.Or., dan Sekretaris Wisnu Sri Hertinjung, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Ketua terpilih, Nur Aklis, menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan.

“Terima kasih telah menunjuk kami untuk menjadi ketua dan wakil ketua Panitia MASTA PMB 2026. Bismillah, ini adalah tantangan. Mari kita bersama-sama, dan mohon bimbingan dari panitia 2025 untuk membantu menyukseskan acara,” ungkapnya.

Wakil Ketua, Nur Subekti, juga menyatakan kesiapan untuk berkontribusi penuh demi keberhasilan MASTA 2026. “Insyaallah MASTA 2026 sukses,” ujarnya singkat dan semangat.

Kegiatan ditutup dengan tausiyah oleh Kasubdit Minat Bakat dan Ormawa UMS, Drs. Suyatmin Waskito Adi, S.E., M.Si. Dalam pesannya, ia mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas kesempatan hadir dan menjalani ibadah di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Ia mengingatkan bahwa Ramadan merupakan momentum peningkatan kualitas iman dan ketakwaan. Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183, ia menegaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa.

Selain itu, ia memaparkan keutamaan Ramadan, antara lain sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan pengampunan dosa, dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka, serta adanya malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

“Ramadan adalah momentum upgrade diri. Setelah di-training selama sebulan, indikator keberhasilannya terlihat pada bulan Syawal dan seterusnya, apakah ibadah dan kepedulian sosial kita meningkat,” tuturnya.

Kemudian acara tersebut ditutup dengan buka puasa bersama. (Fika/Humas)

UMS Soroti Krisis Global dan Erosi Peradaban dalam Perspektif Muhammadiyah

UMS Soroti Krisis Global dan Erosi Peradaban dalam Perspektif Muhammadiyah

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTAUniversitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Webinar Series ke-56 bertajuk “Ketegangan Global & Erosi Peradaban: Refleksi atas Krisis Geopolitik, Ekonomi, dan Iklim dalam Perspektif Muhammadiyah” pada Kamis (26/2) melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, sebagai narasumber utama.

Webinar dibuka dengan sambutan Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., yang menegaskan pentingnya forum intelektual dalam membaca dinamika global dari perspektif keislaman.

“Pada kesempatan ini kita bersama mendiskusikan bagaimana perspektif Muhammadiyah terhadap ketegangan global saat ini, dan harapannya Muhammadiyah dapat memberikan arah perubahan pada taraf nasional maupun internasional,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., mengawali dengan menyampaikan dan menyebut dunia saat ini tengah berada dalam kondisi paradoks global. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semestinya menghadirkan kesejahteraan justru melahirkan kontradiksi sosial.

Ia mencontohkan fenomena di negara maju seperti Jepang, di mana tingkat kesejahteraan tinggi tidak serta-merta menghadirkan kebahagiaan sosial.

“Apa artinya kita makin sejahtera tapi hidupnya semakin mahal, sehingga kita tidak bisa ngapa-ngapain?” ungkapnya, yang mengisahkan pengalamannya saat berada di Tokyo dan menyaksikan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri segelintir orang karena tingginya biaya hidup.

Zakiyuddin menilai bahwa konflik global kini telah memasuki fase krisis permanen. Bentuknya bukan hanya perang bersenjata, tetapi juga konflik proksi, perang digital, hingga serangan siber oleh aktor-aktor tak kasat mata. Situasi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa kekerasan tidak lagi menjadi anomali, melainkan telah mengalami normalisasi.

“Kalau kekerasan sudah menjadi normal, itu artinya ia telah menjadi established,” tegasnya.

Ia juga menyoroti melemahnya hukum internasional dan diplomasi moral. Banyak resolusi internasional yang tidak berjalan efektif, bahkan diveto oleh negara-negara berkepentingan. Dalam konteks ini, relasi antarbangsa lebih didominasi kepentingan nasional daripada komitmen etis global. Prinsip “tidak ada musuh atau kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan nasional” dinilai semakin menguat, bertentangan dengan nilai kemanusiaan universal.

Erosi peradaban, lanjutnya, tampak dalam dua gejala utama: normalisasi kekerasan dan dehumanisasi. Manusia direduksi menjadi angka statistik.

“Kematian satu jiwa adalah tragedi, tetapi kematian ribuan menjadi sekadar angka,” ujarnya.

Dalam kondisi ini, martabat kemanusiaan semakin tergerus dan empati publik menurun drastis. Pada aspek ekonomi, Zakiyuddin memaparkan ketimpangan ekstrem antara negara kaya dan miskin.

Ia menyebutkan bahwa sebagian kecil populasi dunia menguasai mayoritas kekayaan global, sementara separuh populasi termiskin hidup dalam keterbatasan. Konsep trickle down effect yang pernah dijanjikan teori pertumbuhan ekonomi dinilainya tidak terbukti dalam realitas.

Fenomena kapitalisme spekulatif juga disorotnya sebagai problem serius. Menurutnya, kekayaan dapat bertambah tanpa menciptakan ekonomi riil maupun lapangan kerja.

Dalam konteks krisis iklim, Zakiyuddin menegaskan bahwa pemanasan global telah menjadi kenyataan yang dirasakan seluruh makhluk hidup. Ia menyebut kenaikan suhu global yang signifikan sebagai sinyal bahaya. Krisis air, krisis pangan, serta meningkatnya bencana hidrometeorologi di Indonesia menjadi bukti nyata eksploitasi alam tanpa keseimbangan.

“Kerusakan alam bukan lagi sekadar bencana alam, tetapi bencana lingkungan akibat ulah manusia,” ujarnya.

Menurutnya, krisis iklim bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga krisis nilai dan etika peradaban. Alam diperlakukan sebagai objek, bukan amanah. Generasi masa depan dikorbankan demi kepentingan jangka pendek. Eksploitasi sumber daya dilakukan bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan keinginan.

Zakiyuddin mengidentifikasi hilangnya spiritualitas, dominasi rasionalitas instrumental, dan melemahnya etika global sebagai akar persoalan. Ilmu pengetahuan tidak lagi diposisikan sebagai alat untuk kemaslahatan, tetapi sebagai tujuan yang tunduk pada logika utilitas dan efisiensi semata.

Sebagai respons, ia menekankan pentingnya rekonstruksi etika peradaban berbasis Islam berkemajuan. Pondasinya adalah tauhid sebagai dasar ontologis dan worldview kehidupan.

“Tauhid bukan sekadar akidah, tetapi cara pandang dan cara bertindak,” tegasnya.

Iman menjadi fondasi, ilmu sebagai alat, dan amal sebagai praksis. Kemajuan sejati, menurutnya, adalah memuliakan manusia, menjaga keseimbangan alam, dan menghadirkan keadilan.

“Muhammadiyah, melalui risalah Islam berkemajuan, diharapkan mampu menawarkan etika global yang melampaui kepentingan sempit dan selektif. Dengan demikian, refleksi atas krisis geopolitik, ekonomi, dan iklim tidak berhenti pada analisis, tetapi melahirkan komitmen praksis menuju peradaban yang berkeadaban,” pungkasnya.

Webinar Series ke-56 ini, lanjutnya, menjadi ruang refleksi kritis sekaligus ajakan moral bagi sivitas akademika dan masyarakat luas untuk meneguhkan kembali nilai tauhid, kemanusiaan, dan keberlanjutan sebagai fondasi membangun masa depan global yang lebih adil dan berimbang. (Adi/Humas)

Eksplorasi Mahasiswa Arsitektur UMS: Mengulas Keunikan Desain Bat Trang Pottery Museum di Vietnam

Eksplorasi Mahasiswa Arsitektur UMS: Mengulas Keunikan Desain Bat Trang Pottery Museum di Vietnam

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) pada 5–11 Februari 2026 di Vietnam dengan mengusung tema Tracing The Life Arsitektur sebagai Representasi Cara Hidup, sebagai langkah eksplorasi arsitektur melalui budaya suatu masyarakat.

Tim mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Pala didampingi oleh Ar. Erwin Herlian, S.T., M.Ars., IAI., mengamati Bat Trang Pottery yang menjadi salah satu objek representasi budaya melalui ekspresi bentuk dan komposisi ruang pamer.

Bangunan tersebut menampilkan komposisi massa bertingkat dan melingkar yang membentuk siluet dinamis menyerupai gerak spiral, sebuah referensi visual secara langsung yang mengingatkan pada proses pembentukan keramik tradisional.

Koleksi Keranik Bat Trang Museum Pottery

“Bentuk tersebut menjadi identitas sekaligus penanda keterkaitan antara Arsitektur dan konteks budaya setempat. Susunan tersebut tidak berhenti sebagai elemen fasad semata, melainkan berlanjut ke dalam sebagai undakan-undakan ruang yang dimanfaatkan untuk menata koleksi museum,” ujar Erwin saat dimintai keterangan, Kamis (26/2).

Visualisasi bangunan Bat Trang Museum Pottery menyajikan konsistensi antara eksterior dan interior, hal ini menunjukan bahwa gagasan bentuk tidak hanya hadir secara visual di permukaan bangunan, melainkan mampu menyatukan keseluruhan budaya menjadi suatu desain Arsitektur yang saling memperkuat.

“Di lantai dua sirkulasi menggunakan alur melingkar dari kiri ke kanan. Tata pameran disusun secara terstruktur seperti ini memungkinkan pemahaman pengunjung terhadap susunan proses perkembangan karya keramik dari berbagai periode,” tuturnya.

Penataan display yang terbuka dan komunikatif mampu menghadirkan ruang bagi para pengunjung untuk mengamati detail bentuk, tekstur, serta serta perkembangan desain keramik satu persatu secara leluasa.

Bat Trang Museum Pottery memperlihatkan bagaimana arsitektur dapat berperan sebagai medium penyampaian nilai dan memori budaya. Melalui perpaduan bentuk, sirkulasi, dan tata pamer yang saling melengkapi, bangunan ini mempresentasikan upaya pelestarian budaya lokal ke dalam konteks arsitektur modern. (Roselia/Humas)