muhammadiyakaranganyar.or.id, KARANGANYAR – Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti kompleks SD Muhammadiyah Program Unggulan (MPU) Botok pada Rabu malam (25/2). Sebanyak 130 jamaah yang terdiri dari guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kecamatan Kerjo berkumpul untuk mengikuti Kajian Malam Kamis (KALAMKA) Spesial Ramadhan.
Program yang diinisiasi oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kerjo ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan secara bergiliran di berbagai instansi Muhammadiyah. Namun, edisi kali ini terasa lebih istimewa karena menjadi ajang pembuka penguatan spiritual menyambut bulan suci Ramadhan.
Sebagai tuan rumah perdana, SD MPU Botok menunjukkan kesiapan luar biasa. Kehadiran jamaah yang melimpah menunjukkan antusiasme tinggi para pendidik dan tenaga kependidikan dalam memperdalam pemahaman agama. Selain sebagai sarana tholabul ilmi, KALAMKA juga berfungsi sebagai ruang silaturahmi untuk mempererat hubungan antarpegawai di lingkungan PCM Kerjo.
Kajian kali ini menghadirkan narasumber dari jajaran Pleno PDM Karanganyar, Ngadino. Dalam pemaparannya yang bertajuk “Faham Agama dalam Muhammadiyah”, Ngadino menekankan bahwa identitas warga Muhammadiyah harus berpijak pada pemahaman agama yang mendalam dan autentik.
Ia juga menjelaskan bahwa faham agama di Muhammadiyah tidak sekadar tekstual, tetapi juga kontekstual agar mampu menjawab tantangan zaman. Menurut Ngadino, penguatan ideologi ini sangat krusial bagi guru dan karyawan AUM karena mereka adalah ujung tombak dakwah persyarikatan di tengah masyarakat.
Secara tidak langsung, Ngadino menyampaikan bahwa bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk mengimplementasikan faham agama tersebut melalui amal nyata. Ia berharap seluruh warga Muhammadiyah di Kerjo dapat mengisi bulan suci dengan kualitas ibadah yang lebih baik dan terukur sesuai tuntunan Nabi.
Melalui kegiatan KALAMKA ini, keluarga besar PCM Kerjo diharapkan semakin mantap dalam menjalankan peran sebagai penggerak dakwah. Selain peningkatan kapasitas spiritual, kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik semangat kolektif untuk meningkatkan kualitas pelayanan di setiap amal usaha. Momentum ini bukan sekadar forum keilmuan, melainkan juga simbol penguatan ukhuwah dan komitmen dakwah yang berkelanjutan.
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR – Menyambut bulan suci Ramadhan dengan semangat pembaruan, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Karanganyar menyelenggarakan agenda Pengajian Ramadhan yang spesial. Mengangkat tema yang sangat fundamental, yakni “Penguatan Kuantitas dan Kualitas KMM Berbasis GJDJ”, acara ini diharapkan menjadi sarana penguatan ideologi dan wawasan bagi seluruh warga persyarikatan.
Detail Pelaksanaan Acara
Bagi Anda yang ingin memperdalam ilmu dan mempererat silaturahmi, berikut adalah jadwal lengkap pelaksanaannya:
Hari/Tanggal: Jum’at, 27 Februari 2026
Waktu: 15.30 WIB – Selesai
Tempat: Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Karanganyar
Narasumber: Dr. H. Aang Kunaepi (Penasehat KMM PWM Jateng)
Acara ini terbuka bagi jajaran pimpinan, kader, serta simpatisan Muhammadiyah di wilayah Karanganyar dan sekitarnya. Mari manfaatkan momentum Ramadhan ini sebagai madrasah ilmu untuk meningkatkan kualitas keislaman kita.
Informasi Lebih Lanjut
Untuk informasi terkini seputar kegiatan PDM Karanganyar, Anda dapat mengunjungi situs resmi di muhammadiyahkaranganyar.or.id.
Catatan: Mengingat pentingnya materi yang akan disampaikan, para peserta diharapkan hadir tepat waktu demi kenyamanan dan kekhusyukan bersama.
muhammadiyakaranganyar.or.id, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid secara resmi mengeluarkan maklumat mengenai fenomena alam Gerhana Bulan Total yang diprediksi akan menyambangi langit Indonesia. Peristiwa astronomis ini diperkirakan jatuh pada Selasa Wage, 14 Ramadan 1447 Hijriah, atau bertepatan dengan tanggal 3 Maret 2026 Masehi.
Kemunculan gerhana di tengah bulan suci Ramadan ini menjadi momentum spiritual yang penting bagi umat Islam. Melalui surat maklumat nomor yang dipublikasikan secara daring, Muhammadiyah mengimbau seluruh warga persyarikatan dan umat Islam pada umumnya untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT melalui pelaksanaan ibadah Salat Gerhana (Salat Khusuf).
Detail Waktu dan Imbauan Ibadah
Berdasarkan data yang terlampir dalam maklumat, fase gerhana akan berlangsung dalam beberapa tahapan, mulai dari fase penumbra hingga totalitas. Meskipun durasi spesifik bervariasi di setiap wilayah, Muhammadiyah menekankan agar persiapan dilakukan sejak dini, mengingat waktu kejadiannya berada di fase tengah bulan Ramadan.
Fenomena Gerhana Bulan Total 2026: Tata Cara Salat Gerhana Lengkap
Maklumat Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tentang Salat Gerhana Bulan Total, Selasa Wage 14 Ramadan 1447 H/ 3 Maret 2026 M
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR – Sistem keorganisasian Muhammadiyah dijalankan oleh pimpinan secara kolektif-kolegial. Pimpinan didefinisikan dalam KBBI sebagai kumpulan pemimpin. Struktur organisasi Muhammadiyah terdiri dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan Pimpinan Ranting. Sering disingkat PP Muhammadiyah, PWM, PDM, PCM, dan PRM. PP Muhammadiyah berkedudukan di Jakarta dan Yogyakarta.
Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 11 menerangkan bahwa Pimpinan Pusat merupakan pimpinan tertinggi yang memimpin Muhammadiyah secara keseluruhan, terdiri atas sekurang-kurangnya tiga belas orang, yang dipilih dan ditetapkan oleh muktamar untuk satu masa jabatan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah ditetapkan oleh Muktamar dari dan atas usul anggota Pimpinan Pusat terpilih. Anggota Pimpinan Pusat terpilih bermusyawarah untuk menetapkan Sekretaris Umum dan diumumkan dalam forum Muktamar. Pimpinan Pusat dapat menambah anggotanya apabila dipandang perlu dengan mengusulkannya kepada Tanwir.
Pimpinan Wilayah memimpin Muhammadiyah dalam wilayahnya serta melaksanakan kebijakan Pimpinan Pusat. Pasal 12 menyatakan, Pimpinan Wilayah terdiri atas sekurang-kurangnya sebelas orang, ditetapkan oleh Pimpinan Pusat untuk satu masa jabatan dari calon yang dipilih dalam Musyawarah Wilayah.
Pimpinan Daerah merupakan kesatuan cabang dalam satu kabupaten atau kota. Pasal 13 ayat (1) menyebutkan, Pimpinan Daerah memimpin Muhammadiyah dalam daerahnya serta melaksanakan kebijakan Pimpinan di atasnya. Pimpinan Daerah terdiri atas sekurang-kurangnya sembilan orang, ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah untuk satu masa jabatan, yang telah dipilih dalam Musyawarah Daerah.
Pimpinan Cabang merupakan kesatuan ranting dalam suatu tempat, bertugas memimpin Muhammadiyah dalam cabangnya serta melaksanakan kebijakan pimpinan di atasnya. Pimpinan Cabang, menurut pasal 14, terdiri atas sekurang-kurangnya tujuh orang, ditetapkan oleh Pimpinan Daerah untuk satu masa jabatan dari calon-calon yang dipilih dalam Musyawarah Cabang. Dapat juga menambah anggotanya apabila dipandang perlu.
Pimpinan Ranting memimpin Muhammadiyah dalam rantingnya dan melaksanakan kebijakan pimpinan di atasnya. Terdiri atas sekurang-kurangnya lima orang, ditetapkan oleh Pimpinan Cabang untuk satu masa jabatan dari calon-calon yang dipilih dalam Musyawarah Ranting. Dapat juga menambah anggota bila dipandang perlu, sebagaimana disebut dalam pasal 15.
Anggota Pimpinan (pusat, wilayah, daerah, cabang, ranting) terdiri atas anggota Muhammadiyah. Pasal 16 menyebut, pemilihan dapat dilakukan secara langsung atau formatur. Syarat anggota Pimpinan dan cara pemilihan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. Masa jabatan pimpinan adalah lima tahun untuk satu periode jabatan. Ayat (2) pasal 16 menyatakan, “Jabatan Ketua Umum Pimpinan Pusat, Ketua Pimpinan Wilayah, Ketua Pimpinan Daerah, masing-masing dapat dijabat oleh orang yang sama dua kali masa jabatan berturut-turut.”
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Program UMS Insight Episode 8 mengangkat tema mispersepsi tentang kecerdasan buatan dengan menghadirkan narasumber dosen bidang Artificial Intelligence (AI) dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Endang Wahyu Pamungkas, S.Kom., M.Kom, Ph.D, yang menjelaskan fenomena perkembangan teknologi ini dari sudut pandang akademik dan praktis.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa AI merupakan kecerdasan yang memang sengaja dibuat manusia agar mesin mampu melakukan kemampuan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan manusia.
Dosen bidang Artificial Intelligence (AI) dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Endang Wahyu Pamungkas, S.Kom., M.Kom, Ph.D
“AI ini merupakan teknologi yang memang dibuat supaya mesin ini dalam hal ini komputer bisa melakukan kemampuan-kemampuan yang sebelumnya itu hanya bisa dilakukan oleh manusia,” ujar Endang yang akrab disapa dengan Dadang, Sabtu, (21/2).
Ia mencontohkan kemampuan dasar seperti pengenalan gambar hingga teknologi kompleks seperti Large Language Model (LLM) yang kini sudah mampu merespons berbagai pertanyaan.
Menurutnya, perkembangan AI bukan hal baru karena masyarakat sebenarnya telah lama bersinggungan dengannya melalui sistem rekomendasi di platform digital seperti YouTube, Netflix, maupun navigasi pintar di Google Maps. Ia menyebut bahwa teknologi tersebut adalah bentuk awal implementasi AI yang kini semakin dekat dengan kehidupan manusia.
Endang menjelaskan bahwa percepatan perkembangan AI terasa signifikan sejak kemunculan deep learning dan peningkatan kemampuan komputasi berbasis Graphics Processing Unit (GPU).
“Memang terasa cepat sekali perkembangannya, ketika muncul inovasi-inovasi dari penyedia GPU, yang menyebabkan teknologi AI yang sebelumnya itu ada keterbatasan menjadi lebih besar lagi,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa fondasi AI terletak pada algoritma dan sumber daya komputasi, dimulai dari machine learning tradisional, berkembang ke neural network, lalu deep learning, hingga transformer dan Large Language Model (LLM) yang mampu menampung pengetahuan lebih besar.
Ia juga menekankan bahwa akses terhadap AI kini jauh lebih terbuka dibanding masa lalu. Jika sebelumnya hanya pengembang yang mampu membuat sistem AI karena harus membangun model dan melatih data sendiri, kini masyarakat umum dapat memanfaatkan teknologi generatif melalui Application Programming Interface (API) tanpa latar belakang informatika. Hal ini membuat siapa pun berpotensi menjadi kreator solusi berbasis AI.
Menanggapi perbedaan persepsi masyarakat terhadap AI, ia menilai hal itu dipengaruhi oleh tingkat literasi dan pengalaman pengguna.
“Yang menganggap AI positif ya orang yang merasa diuntungkan dan yang negatif mungkin ada kekhawatiran dari segi sosial ekonomi akan tergantikan,” katanya.
Ketakutan tersebut menurutnya bukan fenomena baru karena sejak dahulu, setiap kemunculan teknologi baru selalu memunculkan pro dan kontra. Ia mencontohkan kalkulator yang dulu dianggap membuat manusia malas berhitung, tetapi akhirnya justru membantu menyelesaikan persoalan lebih kompleks.
Dalam pandangannya, AI tidak menggantikan manusia sepenuhnya melainkan mengubah struktur pekerjaan.
“Yang digantikan tuh bukan manusia digantikan oleh AI, tetapi mungkin manusia yang tidak mau belajar menggunakan AI dan yang mungkin akan tergantikan oleh manusia lain yang mau berkembang,” kata Dadang.
Ia menambahkan bahwa pekerjaan repetitif berpotensi terdampak. Namun pada saat yang sama muncul profesi baru seperti AI engineer dan prompt engineer.
Ia juga menyinggung pemanfaatan AI di berbagai sektor, mulai dari kendaraan otonom seperti produksi Tesla, analisis medis berbasis citra, hingga sistem pembelajaran digital.
Menurutnya, manfaat terbesar AI adalah membantu pekerjaan berulang dan mempercepat proses belajar karena pengguna dapat memperoleh ringkasan pengetahuan dengan cepat.
Meski demikian, Dadang mengingatkan bahwa risiko terbesar bukan pada keberadaan AI, melainkan penyalahgunaannya. Ia menilai teknologi ini ibarat pisau yang bisa bermanfaat atau berbahaya tergantung niat penggunanya.
Ia mencontohkan penyalahgunaan AI di media sosial seperti kasus penggunaan Grok dari platform X milik Elon Musk untuk tindakan pelecehan digital serta fenomena deepfake dan produksi hoaks otomatis.
Ia menjelaskan bahwa upaya penanggulangan sebenarnya sudah mulai dikembangkan, termasuk teknologi pendeteksi tulisan AI, sistem deteksi deepfake, dan AI yang dirancang untuk mengenali berita palsu. Ia menilai regulasi tetap diperlukan karena aturan khusus AI di Indonesia belum ada, meski beberapa regulasi seperti perlindungan data pribadi dan undang-undang informasi elektronik dapat bersinggungan dengan penggunaannya.
Dalam konteks pendidikan, ia menilai dan menegaskan penggunaan AI di kalangan mahasiswa dapat berdampak positif maupun negatif.
“AI itu bisa menurunkan kreativitas, ketika kita menggunakannya tetapi tidak secara beretika dan bertanggung jawab.”
Karena itu ia selalu mengingatkan mahasiswa agar menjadikan AI sebagai lawan dan teman belajar, bukan sumber jawaban instan. Ia menambahkan bahwa pengguna harus memiliki pengetahuan dasar, memverifikasi hasil AI, dan tidak mempercayainya sepenuhnya karena kemungkinan kesalahan tetap ada.
Menutup diskusi, ia mengajak generasi muda untuk tidak takut terhadap perkembangan teknologi, melainkan mempersiapkan diri dengan terus belajar dan beradaptasi. Ia menegaskan bahwa masa depan akan dipenuhi sistem yang terintegrasi AI sehingga kemampuan memahami teknologi menjadi kunci daya saing. Ia menyimpulkan bahwa AI memiliki sisi positif dan negatif, tetapi manfaatnya akan lebih besar jika digunakan secara bertanggung jawab dan kritis. (Adi/Humas)