Registrasi SIM Berbasis Face Recognition, Dosen UMS Soroti Risiko dan Standar Perlindungan Data

Registrasi SIM Berbasis Face Recognition, Dosen UMS Soroti Risiko dan Standar Perlindungan Data

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Pemerintah Indonesia resmi menetapkan aturan registrasi kartu SIM baru berbasis biometrik pengenalan wajah (face recognition) melalui Permen Komdigi Nomor 7 Tahun 2026, mulai berlaku bertahap 1 Januari 2026 dan diwajibkan penuh per 1 Juli 2026. Dosen Pendidikan Teknik Informatika (PTI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta, Aditya Nur Cahyo, S.Kom, M.Eng., akademisi bidang Keamanan Siber menilai kebijakan tersebut memiliki tujuan baik, namun perlu disertai standar perlindungan data yang kuat.

Ia menjelaskan kebijakan registrasi SIM Card (Subscriber Identity Module Card) sebelumnya menggunakan NIK (Nomor Induk Kependudukan) dan KK (Kartu Keluarga) belum sepenuhnya menekan penyalahgunaan. Data menunjukkan masih banyak kasus penipuan dan spam menggunakan nomor telepon anonim. Oleh karena itu, biometrik wajah dinilai sebagai upaya memperkuat verifikasi identitas.

Namun Aditya mengingatkan adanya kekhawatiran publik terhadap keamanan penyimpanan data biometrik. Sejumlah kasus kebocoran data sebelumnya, termasuk dari institusi layanan publik, menjadi latar belakang kekhawatiran tersebut. “Tujuannya baik, tapi sejarah perlindungan data kita membuat masyarakat khawatir,” ujarnya, Sabtu (7/2).

Dosen Pendidikan Teknik Informatika (PTI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta, Aditya Nur Cahyo, S.Kom, M.Eng., akademisi bidang Keamanan Siber
Dosen Pendidikan Teknik Informatika (PTI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta, Aditya Nur Cahyo, S.Kom, M.Eng., akademisi bidang Keamanan Siber

Ia menjelaskan secara teknis sistem face recognition akan mencocokkan template wajah dengan data kependudukan. Operator hanya berperan sebagai perantara, sementara pencocokan dilakukan dengan basis data kependudukan. Data di operator disebut bersifat sementara dan dihapus setelah proses verifikasi.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya enkripsi end-to-end dan algoritma deteksi keaslian wajah yang kuat. Di era Artificial Intelligence (AI) generatif, video atau gambar manipulatif dapat digunakan untuk menipu sistem jika tidak dilengkapi teknologi deteksi yang memadai.

Aditya juga menyoroti perlunya implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi secara penuh. Ia menilai regulasi sudah ada, namun lembaga pelaksana dan mekanisme pengawasan masih perlu diperkuat agar perlindungan data berjalan efektif.

“Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) kita sudah ada namun belum dijalankan, lembaga pelaksana dan pengawasan harus kuat dan kompeten dalam bidang keamanan siber,” imbuhnya.

Ia menambahkan beberapa negara telah menerapkan biometrik untuk registrasi SIM, namun dengan standar keamanan tinggi. Indonesia dinilai perlu memastikan standar tersebut benar-benar diterapkan agar kebijakan berjalan aman.

“Penerapan teknologi biometrik harus diiringi tata kelola data yang transparan, audit keamanan berkala, serta jaminan perlindungan data identitas masyarakat agar transformasi digital berjalan dengan aman dan terpercaya,” pungkasnya. (Al/Humas)

Mengenal Tradisi ‘Cabangan’ PCM Kerjo: Cara Muhammadiyah Karanganyar Solidkan Barisan

Mengenal Tradisi ‘Cabangan’ PCM Kerjo: Cara Muhammadiyah Karanganyar Solidkan Barisan

 

muhammadiyakaranganyar.or.id, Kerjo – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kerjo terus memperkuat gerak roda organisasi melalui agenda rutin mingguan yang dikenal dengan istilah “Cabangan”. Pertemuan ini menjadi ruang strategis bagi jajaran pleno untuk memastikan seluruh program kerja berjalan beriringan dan tepat sasaran.

Pada Senin malam (9/2/2026), kantor PCM Kerjo menjadi saksi keseriusan tujuh anggota pleno dalam merumuskan langkah organisasi. Hadir dalam kesempatan tersebut Budi Sambodo (Ketua), Sarno (Sekretaris), Ibnu Subarkah (Bendahara), serta anggota pleno lainnya yakni Parlan, Sutopo, Agus Rizal, dan Resdhy Prasaja. Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB ini membedah berbagai isu krusial, mulai dari kesiapan syiar Islam hingga penguatan ekosistem digital organisasi.

Fokus utama dalam diskusi kali ini adalah menyongsong datangnya bulan suci Ramadan 1447 H. PCM Kerjo mulai menyusun jadwal Tarawih Keliling (Tarling) yang akan menyasar seluruh masjid di bawah naungan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Kecamatan Kerjo. Selain itu, penguatan literasi keagamaan melalui kajian Kalamka juga menjadi prioritas untuk menyemarakkan bulan penuh berkah tersebut.

Di luar agenda Ramadan, pleno juga membahas isu strategis terkait pengembangan ekonomi dan informasi. Pembahasan mencakup penunjukan agen dan verifikator Satumu (Satu Muhammadiyah), hingga penetapan admin Newsroom sebagai garda terdepan publikasi kegiatan Muhammadiyah di tingkat cabang.

Sementara itu, Ketua PCM Kerjo, Budi Sambodo, dalam arahannya menegaskan bahwa konsistensi pertemuan seperti ini adalah ruh dari kemajuan organisasi. Menurutnya, perencanaan dan evaluasi tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui diskusi tatap muka yang intens.

Forum diskusi berlangsung antusias hingga berakhirnya acara. Sinergi antaranggota pleno terlihat kuat, yang akhirnya bermuara pada kesepakatan kolektif untuk menjalankan program-program strategis PCM Kerjo ke depan.

Bekali Kemandirian Jemaah, KBIHU Zam Zam Colomadu Gelar Manasik Gabungan Lintas Wilayah

Bekali Kemandirian Jemaah, KBIHU Zam Zam Colomadu Gelar Manasik Gabungan Lintas Wilayah

muhammadiyakaranganyar.or.id, BOYOLALI – Meski suasana mendung dan rintik hujan menyelimuti kawasan Boyolali, semangat para calon jemaah haji tidak surut. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Zam Zam Cabang Colomadu sukses menyelenggarakan praktik manasik haji gabungan pada Ahad (8/2/2026). Kegiatan ini dipusatkan di replika Kakbah, Wisata “Religi Qolbu”, Boyolali.

Pelaksanaan manasik ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai wilayah. Selain 17 calon jemaah haji dari KBIHU Zam Zam Cabang Colomadu, hadir pula 7 jemaah dari KBIHU Aisyiyah Kota Surakarta, 2 jemaah dari KBIHU Sukoharjo, serta 2 jemaah dari KBIHU Boyolali. Sinergi lintas kabupaten ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi sekaligus menyamakan persepsi mengenai teknis ibadah di tanah suci.

Pimpinan manasik, Marwan Effendy, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan materi tambahan di luar jadwal rutin yang telah ditetapkan. Menurutnya, penguatan praktik sangat krusial agar jemaah tidak hanya memahami teori, tetapi juga fasih dalam melafalkan doa dan sigap dalam prosesi fisik.

“Kami ingin membekali calon jemaah haji KBIHU Zam Zam agar mampu melaksanakan prosesi umrah dan haji secara mandiri, baik dari segi tata cara maupun bacaan,” ujar Marwan di sela-sela kegiatan. Ia juga menekankan bahwa kemandirian adalah kunci agar jemaah dapat beribadah dengan khusyuk tanpa selalu bergantung pada pembimbing saat berada di tengah kerumunan massa di Mekkah maupun Madinah.

Marwan menambahkan bahwa seluruh rangkaian bimbingan diarahkan agar jemaah benar-benar siap menjalankan ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan syariat Islam yang sahih. “Targetnya adalah jemaah yang benar-benar siap secara mental dan pemahaman ibadah,” tegasnya secara tidak langsung.

Kegiatan dimulai tepat pukul 10.15 WIB dengan sesi pengarahan (briefing) mendalam terkait alur perjalanan haji dan umrah. Setelah itu, jemaah langsung mempraktikkan simulasi tawaf, sai, hingga wukuf di lokasi yang didesain menyerupai kondisi asli di tanah suci. Seluruh rangkaian manasik berakhir pada pukul 14.30 WIB.

Melalui manasik ini, para calon jemaah haji 2026 diharapkan memiliki gambaran utuh mengenai pelaksanaan ibadah haji secara keseluruhan. Dengan bimbingan intensif dari KBIHU Zam Zam Colomadu, tantangan cuaca dan fisik di Arab Saudi nantinya diharapkan dapat dihadapi dengan kesiapan yang matang.

Kontributor: Dian Ardiyani

Menjaga Tradisi Dakwah Sejak 1985, Kajian Purnomosidi Desa Botok Perkuat Akar Rumput Muhammadiyah

Menjaga Tradisi Dakwah Sejak 1985, Kajian Purnomosidi Desa Botok Perkuat Akar Rumput Muhammadiyah

muhammadiyakaranganyar.or.id, KERJO – Semangat syiar Islam di Desa Botok, Kecamatan Kerjo, terus menyala melalui Kajian Purnomosidi. Kajian yang telah melegenda sejak tahun 1985 ini menjadi bukti nyata konsistensi dakwah Muhammadiyah di tingkat ranting. Dikelola secara kolaboratif oleh empat Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di Desa Botok—yakni PRM Botok, PRM Sinto, PRM Mojorejo, dan PRM Sumberejo—kegiatan ini tetap eksis melintasi zaman.

Secara historis, nama “Purnomosidi” merujuk pada waktu pelaksanaan kajian yang semula hanya dilakukan sebulan sekali, tepat saat bulan purnama. Namun, seiring meningkatnya antusiasme jemaah, forum PRM Desa Botok sepakat mengubah jadwal menjadi rutin setiap pekan pada Ahad malam. Meski waktu pelaksanaannya berubah, nama Purnomosidi tetap dipertahankan sebagai ikon sejarah dakwah di wilayah tersebut.

Pada pelaksanaan terbaru, Ahad (8/2/2026), kajian bertempat di Masjid Al Ikhlas Botok. Sebanyak 25 jemaah hadir memenuhi serambi masjid sejak pukul 20.00 WIB untuk menimba ilmu. Kali ini, tausiyah disampaikan oleh Susilo Tri Warsono yang mengupas tuntas urgensi menjaga ketakwaan sebagai bekal utama menuju kehidupan kekal.

Dalam sampaiannya, Susilo menekankan bahwa umat Islam di fase akhir zaman menghadapi tantangan moral dan spiritual yang berat. Ia mengingatkan jemaah untuk selalu waspada terhadap fenomena yang dapat melunturkan keimanan.

“Untuk menjaga ketaqwaan, harus diwaspadai hal-hal yang menimpa umat di akhir zaman seperti menyenangi dunia hingga lupa akhirat, menyenangi harta namun lupa dengan perhitungan amal, serta menyenangi makhluk tetapi lupa dengan sang Pencipta,” ujar Susilo di hadapan para jemaah.

Lebih lanjut, ia merinci dua poin krusial lainnya, yaitu kecenderungan manusia yang menyenangi dosa sehingga lupa bertaubat, serta kesibukan membangun gedung dan kemegahan duniawi hingga melupakan realitas kematian atau kubur. Susilo menegaskan bahwa iman harus menjadi fondasi utama dalam setiap sendi kehidupan. Tanpa iman yang kokoh, seluruh rangkaian ibadah dikhawatirkan hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna yang hampa.

Selain faktor iman, Susilo juga menekankan pentingnya ilmu sebagai kompas dalam beribadah. Baginya, ibadah yang dilandasi ilmu akan membawa ketenangan dan keikhlasan yang lebih dalam.

Kajian Purnomosidi kini tidak sekadar menjadi majelis thalabul ilmi atau pencarian ilmu, tetapi juga bertransformasi menjadi wadah silaturahmi lintas pengurus takmir masjid dan mushola. Saat ini, tercatat ada 12 masjid dan mushola yang tergabung dalam putaran Kajian Purnomosidi secara bergilir. Pola koordinasi antar-PRM ini diharapkan mampu mempererat ukhuwah sekaligus menggerakkan roda organisasi Muhammadiyah di tingkat desa secara berkelanjutan.

Meriahnya Karnaval Tarhib Ramadan 1447 H di Desa Tohudan Colomadu Karanganyar, Anak-Anak Tumbuhkan Kecintaan pada Bulan Suci

Meriahnya Karnaval Tarhib Ramadan 1447 H di Desa Tohudan Colomadu Karanganyar, Anak-Anak Tumbuhkan Kecintaan pada Bulan Suci

muhammadiyahkaranganyar.or.id, Karanganyar-Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Desa Tohudan, Colomadu , Karanganyar sukses menyelenggarakan Lomba Karnaval Tarhib Ramadhan 1447 H dengan tema “Ramadan Datang, Anak Sholeh Bergembira” .Acara ini berlangsung pada hari Minggu (8/2/2026), Kegiatan yang berlangsung penuh suka cita ini diikuti oleh sekitar 180an peserta dari tujuh Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan satu amal usaha Muhammadiyah yakni TK Aisyiyah Tohudan Colomadu.

Kegiatan dalam penyelenggaraan karnaval ini digelar sebagai bagian dari syiar menyambut bulan suci Ramadhan berlangsung meriah dengan peserta berkeliling kampung sambil menampilkan beragam kreativitas. Anak-anak tampil dengan kostum unik bernuansa Islami, yel-yel semangat tampak dalam setiap langkah dalam penyelenggaraan karnaval , lagu- lagu dengan nuansa religi, serta tarian yang sarat nilai dakwah juga ikut mewarnai dalam karnaval ini Antusiasme peserta dan masyarakat yang menyaksikan di sepanjang rute karnaval menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kegembiraan.

Ketua Panitia Ana Wahyuni, S.Sos menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah menanamkan sejak dini pemahaman bahwa Ramadhan merupakan bulan yang menyenangkan dan dinanti-nanti oleh umat Muslim. “Ramadhan adalah bulan karunia, rahmat, ampunan, serta dilipatgandakan pahala dan dibukanya pintu-pintu surga,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegembiraan menyambut Ramadhan merupakan cerminan hati yang hidup dan menjadi motivasi untuk memaksimalkan ibadah guna meningkatkan ketakwaan serta mensucikan diri dari dosa.

Ketua Pimpinan Ranting Aisyiyah Tohudan Ibu Tri Wuryani juga memberikan apresiasi nya terhadap kegiatan ini, beliau berharap dengan mengadakan serangkaian acara Tahrib Ramadhan ini, anak-anak TPA jadi semakin semangat dan selama bulan ramadhan bisa mengisi kegiatan ramadhan dengan rajin mengikuti kegiatan TPA, rajin shalat tarawih, dan kelak esok menjadi berguna bagi masyarakat nusa dan bangsa. Semoga kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan setiap menjelang ramadhan.

Dilain pihak Perwakilan Takmir bapak Waryono menyampaikan rasa bangga kepada anak-anak yang ikut serta dalam acara ini, dan acara ini dapat menjadikan niat supaya ikut berpuasa di bulan ramadhan

Kegiatan karnaval ini berlangsung meriah salah satu kejutan dalam kegiatan ini adalah munculnya kreativitas luar biasa dari anak-anak yang di luar dugaan panitia. Selain sebagai sarana syiar Islam yang menyenangkan, karnaval ini juga efektif mempererat silaturahmi antar lembaga pendidikan keagamaan, pengurus PRA-PRM, serta masyarakat desa Tohudan.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tradisi positif tahunan yang tidak hanya menyebarkan syiar Islam secara ceria, tetapi juga berperan sebagai pendidikan karakter sejak usia dini. Melalui karnaval tarhib, anak-anak diajak mencintai bulan Ramadhan dan mempersiapkan diri dengan semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah selama bulan suci. Dengan demikian, Ramadhan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai momentum istimewa yang dinanti dengan penuh kebahagiaan dan harapan.

Kontributor : Abdul Latif Multi Utomo (MPI Colomadu)