muhammadiyakaranganyar.or.id, PPTQ Al Ikhlas Botok bersama Takmir Masjid Alwalidah Sa’ada bt Ali b Husein Botok terus menunjukkan eksistensinya melalui program Kajian Malam Rabu (KAMARA). Kegiatan yang digelar di Kecamatan Kerjo ini menjadi ruang edukasi sekaligus konsolidasi bagi jamaah, terutama dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Kajian yang berlangsung pada Selasa (10/2/2026) tersebut dilaksanakan selepas waktu Magrib hingga Isya. Program ini merupakan kolaborasi erat antara PPTQ Al Ikhlas Botok, Takmir Masjid, dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Botok. Pada kesempatan kali ini, suasana terasa berbeda karena dipandu langsung oleh santri PPTQ Al Ikhlas bernama Maulana.
Hadir sebagai pembicara utama, Slamet menyampaikan materi bertajuk “Tarhib Ramadan”. Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa Ramadan adalah bulan yang sangat spesial karena penuh dengan keberkahan (barokah). Menurutnya, pada bulan ini segala bentuk kebaikan lebih mudah diamalkan oleh setiap muslim.
Slamet menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan maghfiroh atau ampunan, di mana Allah SWT membukakan pintu maaf yang seluas-luasnya. Selain itu, momentum puasa juga berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, melatih kedermawanan, serta menggugah kepedulian sosial terhadap sesama.
“Kita perlu menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh agar dapat menjalankan puasa dengan baik dan benar. Penting untuk dipahami bahwa puasa itu terbagi menjadi tiga tingkatan, yakni puasanya para nabi dan rasul, puasanya orang yang beriman, serta puasanya orang awam,” ujar Slamet di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, Slamet merinci lima hal krusial yang harus disiapkan setiap muslim menjelang Ramadan. Kelima poin tersebut meliputi niat yang kuat, keikhlasan dalam beribadah, pembekalan ilmu agama, persiapan fisik yang prima, serta kesiapan harta untuk bersedekah.
Kajian ini dihadiri sekitar 60 jamaah yang tampak antusias mengikuti materi hingga selesai. Selain menjadi sarana talabul ilmi atau menuntut ilmu, KAMARA juga berfungsi sebagai ajang silaturahmi yang mempererat hubungan antarwarga di Desa Botok.
Ketua Takmir Masjid, Resdhy, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bukti nyata gerak dakwah di tingkat akar rumput. Ia menyebutkan bahwa ada keistimewaan tersendiri dalam pelaksanaan kajian ini, yakni sesi ramah tamah setelah waktu Isya.
“Kajian KAMARA merupakan bentuk eksistensi dan perwujudan kegiatan bagi PPTQ Al Ikhlas Botok beserta Takmir Masjid. Spesialnya, setelah Isya jamaah disediakan makan malam sehingga bisa berdiskusi mengenai isu-isu aktual terkait pondok, masjid, dan persyarikatan,” kata Resdhy.
Melalui sinergi antara lembaga pendidikan, masjid, dan organisasi, diharapkan syiar Islam di wilayah Kerjo semakin kuat dan mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual.
muhammadiyakaranganyar.or.id, Upacara Pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap I Tahun 2026 Kodim 0727/Karanganyar resmi digelar pada Selasa, 10 Februari 2026. Bertempat di Lapangan Desa Kedungjeruk, Kecamatan Mojogedang, kegiatan ini menjadi momentum penguatan sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan organisasi kepemudaan seperti KOKAM PDPM Karanganyar dalam mempercepat pembangunan wilayah pedesaan.
Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini berlangsung khidmat. Robert Cristanto, Bupati Karanganyar, hadir sebagai inspektur upacara sekaligus membuka secara resmi program tersebut. Kehadirannya didampingi jajaran Forkopimda Karanganyar, unsur TNI-Polri, serta tokoh masyarakat setempat.
Dalam amanatnya, Robert Cristanto menegaskan bahwa TMMD bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan manifestasi semangat gotong royong. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan pembangunan di Bumi Intanpari sangat bergantung pada rasa kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
“TMMD adalah bagian dari wujud nyata sesarengan mbangun Karanganyar. Melalui program ini, kita membangun tidak hanya secara fisik, tetapi juga memperkuat kebersamaan, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap desa,” ujar Robert Cristanto saat memberikan sambutan di depan peserta upacara.
Lebih lanjut, Robert menjelaskan bahwa tema “Satukan langkah membangun negeri dari desa” merupakan komitmen untuk menjadikan desa sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Ia berharap sinergi ini menciptakan masyarakat yang mandiri dan mampu menjaga fasilitas publik yang telah dibangun.
Di barisan peserta, personel Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) PDPM Karanganyar tampak berbaris rapi. Kehadiran KOKAM dalam upacara ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk dukungan nyata pemuda Muhammadiyah terhadap program kesejahteraan masyarakat. Partisipasi ini menunjukkan bahwa pemuda memiliki peran sentral dalam menjaga nilai-nilai gotong royong di era modern.
Secara terpisah, Komandan Kodim 0727/Karanganyar mengungkapkan bahwa TMMD Sengkuyung Tahap I ini akan menyasar dua aspek utama, yakni pembangunan infrastruktur fisik dan penyuluhan nonfisik. Kegiatan nonfisik difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar warga desa memiliki daya saing yang lebih baik.
Melalui kolaborasi lintas sektoral ini, TMMD diharapkan menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antara TNI, pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan. Dengan semangat kemanunggalan, pembangunan Desa Kedungjeruk diharapkan dapat berjalan berkelanjutan demi mewujudkan Karanganyar yang lebih maju dan sejahtera.
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Menjamurnya coffee shop dan gaya hidup nongkrong di kalangan anak muda dinilai menjadi salah satu faktor yang berkelindan dengan meningkatnya tren penyakit degeneratif seperti jantung dan kanker pada usia produktif. Isu ini disoroti secara mendalam oleh Dosen Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Salwa Alifa Bestari, S.Gz., M.Gz., dalam program UMS Insight, yang menekankan bahwa persoalan utamanya bukan pada kopinya, melainkan pada pola konsumsi gula berlebih dan makanan ultra-proses yang menyertainya.
Salwa menjelaskan bahwa penyakit jantung dan kanker yang dahulu identik dengan usia lanjut kini semakin banyak ditemukan pada kelompok remaja dan dewasa muda. Pergeseran ini tidak lepas dari perubahan pola makan masyarakat. Jika generasi sebelumnya terbiasa mengonsumsi real food atau makanan minim olahan, generasi saat ini justru hidup di tengah banjir makanan dan minuman tinggi gula, lemak, serta bahan tambahan pangan.
“Sekarang tren kuliner tidak bisa dibendung. Coffee shop, dessert kekinian, minuman manis ada di mana-mana. Kalau kita breakdown dari sisi gizi, banyak yang tinggi gula tambahan, tinggi lemak, dan minim zat gizi penting seperti vitamin, mineral, dan protein,” jelasnya, Senin (9/2).
Dosen Ilmu Gizi UMS, Salwa Alifa Bestari, S.Gz., M.Gz., Ajak Anak Muda Lebih Bijak Konsumsi Gula
Menurut Salwa, konsumsi gula berlebih terutama dari minuman manis seperti kopi susu, latte, boba, dan minuman kemasan, berkontribusi pada terjadinya peradangan kronis dalam tubuh. Kondisi ini memicu lonjakan insulin (insulin spike) yang jika terjadi terus-menerus, dapat berujung pada resistensi insulin, diabetes melitus, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung.
Ia mengingatkan bahwa Kementerian Kesehatan RI menganjurkan batas konsumsi gula maksimal 50 gram atau setara 4 sendok makan per hari, termasuk dari makanan, minuman, dan buah. Namun, satu gelas minuman manis kemasan saja kerap sudah mengandung 20–35 gram gula, belum termasuk asupan dari makanan lain dalam sehari.
“Masalahnya, gula di minuman itu sering tidak terasa. Kita merasa ‘cuma minum’, padahal kalorinya setara satu piring makanan lengkap,” ujarnya.
Lebih jauh, Salwa menyoroti bahaya ultra processed food yang banyak dikonsumsi bersamaan dengan kebiasaan nongkrong, seperti kue manis, makanan berpengawet, hingga penggunaan krimer dan sirup. Krimer, menurutnya, merupakan “kalori tersembunyi” karena mengandung lemak nabati dan gula yang tidak terasa manis maupun berminyak, namun tetap menambah beban metabolik tubuh.
“Kalau kopi ditambah gula berlebih dan krimer, itu seperti mendatangkan masalah sekaligus solusinya. Antioksidan dari kopi jadi tidak optimal manfaatnya,” tegas Salwa.
Padahal, kopi hitam murni tanpa gula memiliki berbagai manfaat kesehatan. Kandungan antioksidan seperti polifenol berperan dalam mencegah penyakit degeneratif, meningkatkan fungsi kognitif, hingga membantu menjaga stamina. Masalah muncul ketika kopi dikonsumsi dengan gula, sirup, dan krimer secara berlebihan.
Ia juga mengingatkan peran gaya hidup lain yang memperparah risiko, seperti kebiasaan merokok atau vaping saat nongkrong. Kombinasi gula tinggi dan rokok disebutnya sebagai “double kill” karena sama-sama meningkatkan stres oksidatif yang berpotensi memicu penyakit jantung dan kanker.
Dari sisi kebiasaan jangka panjang, Salwa mengungkap peran mikrobiota usus yang memiliki “memori”. Jika tubuh terbiasa mengonsumsi makanan dan minuman manis, mikrobiota usus akan terus “meminta” asupan serupa, sehingga keinginan mengonsumsi gula sulit dihentikan secara instan.
“Perubahannya harus bertahap. Bisa mulai dari less sugar, atau kalau tidak kuat, kurangi frekuensinya. Mikrobiota usus itu bisa dilatih,” jelasnya.
Selain jantung dan kanker, konsumsi gula berlebih juga berdampak pada ginjal. Ginjal yang terus dipaksa menyaring kelebihan gula lama-kelamaan dapat mengalami penurunan fungsi hingga gagal ginjal. Ironisnya, banyak kasus baru terdeteksi saat sudah berada di tahap lanjut dan bersifat irreversibel.
Karena itu, Salwa mendorong anak muda untuk lebih sadar melakukan deteksi dini, misalnya dengan pemeriksaan gula darah, kolesterol, atau medical check-up secara berkala. “Jangan menunggu sakit. Cek itu penting, meski masih muda,” pesannya.
Menutup pemaparannya, Salwa menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu sepenuhnya meninggalkan tren coffee shop. Yang terpenting adalah sikap bijak dalam memilih menu dan memantau asupan gula harian. Opsi kopi tanpa gula, pemanis alami seperti stevia, serta membatasi konsumsi dessert manis dapat menjadi langkah awal menuju gaya hidup yang lebih sehat.
“Bukan berhenti menikmati tren, tapi bijak memilih. Kita tetap bisa nongkrong, tetap bisa ngopi, asal sadar apa yang kita masukkan ke dalam tubuh,” pungkasnya. (Fika/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, MALAYSIA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kegiatan pengenalan budaya Nusantara bertajuk “Mengenal Rumah Adat Indonesia” di Sanggar Bimbingan (SB) Pelita Ilmu, Wangsa Melawati, Kuala Lumpur, Kamis, (29/1). Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat identitas budaya anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia melalui metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
Pengenalan rumah adat Indonesia dilakukan melalui kegiatan mewarnai berbagai gambar rumah adat dari sejumlah daerah di Indonesia. Anak-anak diperkenalkan dengan beragam rumah adat seperti Rumah Honai dari Papua, Rumah Tongkonan dari Sulawesi Selatan, serta Rumah Gadang dari Sumatera Barat.
Metode ini dipilih agar anak dapat mengenal kekayaan budaya Indonesia sejak dini dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik usia sekolah dasar.
Deswita Winna Irshandy, mahasiswa KKN Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS, menjelaskan pentingnya pengenalan budaya Indonesia untuk anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia.
“Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menjaga kultural anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia agar tetap memiliki keterikatan dengan akar budayanya,” ujar, saat Deswita diwawancarai, Minggu, (8/2).
Menurutnya, anak-anak perlu memahami bahwa identitas Indonesia sangat kaya dan unik, meskipun mereka tumbuh dan belajar di luar negeri. Ia menjelaskan bahwa metode mewarnai dipilih karena dinilai lebih efektif dibandingkan ceramah satu arah.
“Untuk anak usia sekolah dasar, metode mewarnai jauh lebih efektif karena dapat menstimulasi kreativitas anak dalam pemilihan warna, melatih motorik halus, serta meningkatkan fokus anak,” jelas Deswita.
Kegiatan ini dibagi ke dalam dua sesi, yakni kelas pagi yang diikuti oleh 33 anak dan kelas petang yang diikuti oleh 7 anak. Pembagian tersebut disesuaikan dengan jadwal belajar anak-anak di SB Pelita Ilmu. Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dengan suasana yang meriah dan penuh energi positif.
“Alhamdulillah, respon anak-anak baik di kelas pagi maupun petang sangat antusias. Mereka terlihat senang saat mewarnai rumah adat, aktif bertanya, dan bangga menunjukkan hasil karya mereka,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa suasana kelas menjadi lebih hidup, interaktif, dan penuh semangat.
Deswita menuturkan bahwa meskipun jumlah anak di kelas petang lebih sedikit sehingga suasananya tidak seramai kelas pagi, kegiatan tetap berjalan dengan baik.
“Kelas petang memang lebih tenang dan lebih mudah dikondisikan, tetapi antusiasme anak-anak tetap terlihat,” katanya.
Pada sesi akhir kegiatan, anak-anak diajak menyebutkan bersama-sama berbagai macam rumah adat Indonesia melalui video yang ditayangkan menggunakan proyektor. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan keberhasilan proses pembelajaran.
Melalui pengenalan rumah adat seperti Honai, Tongkonan, dan Rumah Gadang, mahasiswa KKN UMS berharap dapat menanamkan rasa cinta tanah air, kebanggaan terhadap budaya Indonesia, serta sikap saling menghargai keberagaman sejak dini.
“Nilai yang ingin kami tanamkan adalah semangat Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” tambah Deswita.
Ia menilai kegiatan ini cukup membantu dalam memperkuat identitas budaya anak-anak Indonesia di lingkungan SB Pelita Ilmu.
“Dengan mengenal rumah adat, anak-anak mulai memahami bahwa Indonesia kaya akan budaya dan tradisi. Hal ini menumbuhkan rasa bangga dan keterikatan dengan Indonesia, meskipun mereka tidak tinggal langsung di tanah air,” jelasnya.
Ke depan, Deswita berharap kegiatan pengenalan budaya Nusantara yang diinisiasi mahasiswa KKN UMS ini dapat terus berlanjut dan dikembangkan.
“Tidak hanya melalui kegiatan mewarnai, tetapi juga melalui cerita rakyat, lagu daerah, permainan tradisional, dan kegiatan budaya lainnya. Harapan kami, anak-anak SB Pelita Ilmu tetap mencintai dan bangga dengan budaya Indonesia,” pungkasnya. (Adi/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Bentang alam Indonesia secara kasatmata masih tampak hijau. Namun di balik kehijauan tersebut, terjadi perubahan mendasar pada struktur dan fungsi ekosistem hutan, dari hutan hujan tropis alami menuju hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit.Pergeseran ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah kehijauan yang terlihat benar-benar mencerminkan keberlanjutan lingkungan?
Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aziz Akbar Mukasyaf, S.Hut., M.Sc., Ph.D., akademisi dan peneliti di bidang geografi lingkungan, kehutanan, dan ekologi spasial menyebut secara ekologi Indonesia seharusnya didominasi hutan hujan tropis, namun realitas di lapangan memperlihatkan perubahan besar pada struktur vegetasi dan fungsi ekosistemnya.
Ia menjelaskan,Indonesia berada di wilayah khatulistiwa sehingga secara alami memiliki ekosistem hutan hujan tropis dari Sumatra hingga Papua. Namun di Pulau Jawa, hutan tropis alami telah lama berkurang sejak masa kolonial dan digantikan hutan tanaman seperti jati. Saat ini hutan alami lebih banyak tersisa di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, meskipun tekanan alih fungsi lahan terus berlangsung.
Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aziz Akbar Mukasyaf, S.Hut., M.Sc., Ph.D., akademisi dan peneliti di bidang geografi lingkungan, kehutanan, dan ekologi spasial
Aziz memperkirakan hutan alam Indonesia telah menyusut lebih dari 50 persen. Ia menilai penurunan deforestasi yang sering disampaikan tidak selalu berarti hutan kembali ke fungsi ekologisnya. Dalam banyak kasus, kawasan bekas hutan alam berubah menjadi hutan komersial, hutan tanaman industri, atau kebun sawit.
“Secara administratif tutupan lahannya tetap tercatat sebagai ‘bervegetasi’, tetapi secara ekologis terjadi penurunan fungsi yang signifikan,” ujarnya saat diwawancarai Minggu, (8/2).
Salah satu persoalan utama terletak pada perbedaan definisi reforestasi. Dalam konteks global dan ekologi, reforestasi dimaknai sebagai upaya pemulihan hutan menuju kondisi yang mendekati hutan alam, baik dari sisi struktur vegetasi, komposisi spesies, maupun fungsi ekosistem. Reforestasi semacam ini menekankan penggunaan spesies asli dan mendorong proses suksesi alami agar hutan kembali berfungsi sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, serta habitat keanekaragaman hayati.
Sebaliknya, di Indonesia, istilah reforestasi sering dimaknai sebagai “menanam kembali” lahan gundul tanpa mempertimbangkan kesesuaian jenis tanaman dengan ekosistem setempat. Dalam praktiknya, penanaman tersebut kerap menggunakan tanaman komersial bernilai ekonomi tinggi, seperti kelapa sawit atau tanaman industri lainnya, yang bukan merupakan spesies khas daerah tersebut.
“Dalam perspektif ilmu ekologi, menanam tanaman komersial di bekas hutan alam tidak bisa disebut sebagai reforestasi. Itu adalah perubahan fungsi lahan dari ekosistem alami menjadi sistem produksi,” jelas Aziz.
Menurutnya, perubahan hutan menjadi sawit sering dipersepsikan sebagai penghijauan. Ia menegaskan bahwa secara biologis sawit berbeda dengan pohon. “Sawit bukan pohon secara anatomi. Sawit itu monokotil, tidak berkambium, akarnya serabut di permukaan, sedangkan pohon memiliki akar tunjang dan mampu menyimpan air,” jelasnya.
Ia menilai penyamaan definisi sawit sebagai pohon berpotensi berdampak pada kebijakan. Jika kebun sawit disamakan dengan hutan, maka konversi hutan alam dapat dianggap sebagai kawasan hutan, padahal secara ekologi berbeda dan merupakan perubahan fungsi lahan dari ekosistem alami menjadi sistem produksi.
Hutan alami bersifat heterogen dengan banyak spesies, sementara kebun sawit homogen. Aziz menjelaskan hutan heterogen lebih tangguh terhadap hama, penyakit, dan perubahan iklim, sedangkan ekosistem homogen lebih rentan. Hilangnya satu spesies dalam rantai makanan dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
“Dalam sistem homogen, ketika satu komponen terganggu, dampaknya bisa meluas dengan cepat. Ini berbeda dengan hutan alam yang memiliki mekanisme penyangga alami,” ujarnya.
Aziz menegaskan bahwa pengelolaan hutan Indonesia perlu memandang hutan tidak semata sebagai komoditas ekonomi, tetapi sebagai sistem penopang kehidupan. Hutan berfungsi sebagai penyedia oksigen, penyimpan karbon, pengatur tata air, pelindung tanah, serta ruang hidup bagi keanekaragaman hayati dan masyarakat lokal.
Ia mendorong agar evaluasi kebijakan kehutanan tidak hanya berfokus pada angka tutupan lahan, tetapi juga pada kualitas ekosistem dan keberlanjutan fungsi ekologisnya. Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan menuntut kejujuran dalam mendefinisikan hutan dan keberanian untuk menempatkan kepentingan ekologi sejajar dengan kepentingan ekonomi.
“Yang perlu ditanyakan bukan hanya seberapa luas lahan yang hijau, tetapi hijau dalam bentuk apa dan untuk fungsi apa. Jika yang bertambah adalah sawit sementara hutan alam terus menyusut, maka keberlanjutan lingkungan Indonesia patut dipertanyakan,” pungkasnya (Al/Humas)