muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Penguatan niat, kepemimpinan amanah, serta pendidikan berbasis cinta dan inklusivitas menjadi pesan utama yang disampaikan Dr. Anis Masykur, M.A., Kasubdit Bina GTK MA/MAK Kementerian Agama Republik Indonesia (RI), dalam kegiatan Capacity Building Madrasah Muhammadiyah Jawa Tengah.
Anis Masykur menegaskan bahwa profesi guru dan kepala madrasah sejatinya merupakan profesi yang “dicemburui”, bukan karena kesejahteraan material, melainkan karena besarnya jaminan pahala spiritual. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa setiap langkah guru menuju majelis ilmu, baik untuk belajar maupun mengajar itu bernilai pahala setara Haji Tam.
Keynote Speaker, Kasubdit Bina GTK MA/MAK Kementerian Agama RI, Dr. Anis Masykur, M.A.
“Bahkan, menghadiri majelis ilmu dengan niat yang lurus dinilai lebih utama dibandingkan salat sunah seribu rakaat,” kata Anis Masykur saat menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan Capacity Building Madrasah Muhammadiyah Jawa Tengah bertajuk “Menjadi Kepala Madrasah yang Amanah, Maju, dan Hebat” yang digelar di Auditorium Moh. Djazman Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (7/2).
Keutamaan tersebut, menurutnya, merupakan karunia yang setiap hari dapat dipanen oleh para pendidik dan pemimpin lembaga pendidikan.
Namun demikian, Anis mengingatkan bahwa besarnya pahala tersebut sangat bergantung pada niat. Ia menegaskan hadis Rasulullah SAW yang memperingatkan bahwa siapapun yang mengajarkan ilmu semata-mata demi kepentingan duniawi, seperti jabatan, gaji, atau tunjangan, terancam tidak akan mencium bau surga.
Oleh karena itu, para guru dan kepala madrasah diajak untuk terus meluruskan dan menata ulang niat, menjadikan pengabdian terhadap ilmu sebagai tujuan utama. Sementara itu, aspek kesejahteraan dipandang sebagai konsekuensi yang wajar, bukan orientasi utama dalam mendidik.
Dalam konteks kebijakan nasional, pesan tersebut sejalan dengan gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang disampaikan Menteri Agama. Cinta dimaknai sebagai pola pikir dan sikap pendidik dalam mengajar dengan ketulusan, empati, dan keikhlasan.
“Guru yang mengajar dengan cinta akan mampu menghadirkan suasana pembelajaran yang manusiawi, penuh empati, dan menyentuh hati peserta didik. Nilai cinta inilah yang menjadi pembeda utama pendidikan berbasis keagamaan,” lanjutnya.
Selain itu, Anis Masykur juga menekankan pentingnya pendidikan inklusif sebagai amanat negara. Ia merujuk pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional serta berbagai regulasi yang menegaskan hak pendidikan bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas.
Madrasah diharapkan mampu menerima dan melayani peserta didik penyandang disabilitas secara layak. Mengabaikan hak pendidikan kelompok tersebut, menurutnya, bukan hanya persoalan administratif, tetapi juga persoalan moral dan spiritual yang dapat menggerus pahala pendidik.
“Saya mengajak seluruh kepala madrasah dan guru Muhammadiyah untuk menjadikan pendidikan sebagai ladang pengabdian, menguatkan niat karena Allah, mengajar dengan cinta, serta membuka ruang seluas-luasnya bagi pendidikan yang adil, inklusif, dan berkeadaban,” pungkasnya. (Yusuf/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui tim Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) melaksanakan kegiatan Jumat Sehat di MTs Muhammadiyah Jumantono. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental, Jumat (23/1).
Jumat Sehat diawali dengan senam bersama yang diikuti oleh seluruh siswa MTs Muhammadiyah Jumantono. Melalui aktivitas fisik ini, menjadi langkah awal memperkenalkan gaya hidup sehat kepada para siswa.
Setelah senam, kegiatan berlanjut dengan pemaparan sesi edukasi kesehatan mental yang dipandu oleh Azzam dan Farhan. Sesi edukasi berfokus pada materi mengenai menjaga kesehatan mental sejak usia remaja. Sosialisasi berjalan secara interaktif dengan menyajikan contoh kasus nyata, seperti tekanan akademik, pergaulan, dan kecemasan.
Para pemateri juga memberikan pertanyaan pemantik dan mengajak siswa merefleksikan perasaan mereka. Azzam, menambahkan melalui pendekatan sosial interaktif bertujuan untuk mendorong siswa melakukan komunikasi terbuka mengenai kondisi mental.
“Hal ini bertujuan agar siswa menyadari bahwa mengalami masalah mental merupakan hal yang wajar, serta penting untuk mengenali dan membicarakannya dengan orang yang dipercaya,” ungkap Azzam, saat dimintai keterangan pada, Sabtu (7/2).
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-Dik berharap siswa MTs Muhammadiyah Jumantono tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.
Program Jumat Sehat ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN-Dik dalam mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang sehat, nyaman, dan peduli terhadap kesejahteraan peserta didik. (Rafa/Roselia/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan perannya sebagai pusat penguatan pendidikan Muhammadiyah dengan menjadi tuan rumah kegiatan Capacity Building Madrasah Muhammadiyah Jawa Tengah bertajuk “Menjadi Kepala Madrasah yang Amanah, Maju, dan Hebat”, yang digelar di Auditorium Moh. Djazman Kampus 1 UMS, Sabtu (7/2).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah sebagai upaya konsolidasi dan penguatan kapasitas kepemimpinan kepala madrasah di tengah dinamika perubahan zaman.
Sebanyak 536 kepala madrasah Muhammadiyah dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah se-Jawa Tengah tercatat hadir dalam forum tersebut, melampaui jumlah pendaftar awal yang mencapai 455 peserta.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan bahwa pengelolaan madrasah sejatinya memiliki kesamaan prinsip dengan pengelolaan perguruan tinggi.
“Yang kita kelola sama-sama manusia. Bedanya hanya pada jenjang. Maka kepala madrasah harus memiliki visi kepemimpinan yang kuat dan adaptif,” ujar Harun dalam sambutannya.
Ia menekankan konsep UNDC, yakni Unique, Different, Champion, dan Collaborative, sebagai landasan strategis kepemimpinan kepala madrasah Muhammadiyah agar mampu membangun ciri khas, keunggulan, serta daya saing berkelanjutan.
Menurutnya, keunikan dan perbedaan harus dimaknai secara positif sebagai kekuatan branding dan kekhususan yang tidak mudah ditiru, sementara mental champion menuntut keberanian untuk menjadi unggul dan progresif.
Selain itu, Harun juga mendorong penguatan konsorsium antarmadrasah Muhammadiyah, termasuk gagasan kolaboratif membangun madrasah unggulan di wilayah Indonesia Timur sebagai wujud dakwah pendidikan yang konkret dan berkemajuan.
“Forum ini tidak boleh berhenti pada diskusi, tetapi harus melahirkan aksi nyata untuk kemajuan madrasah Muhammadiyah,” tegasnya.
Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jawa Tengah yang diwakili Rohmat Suprapto, S.Ag., M.Si.
Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jawa Tengah yang diwakili Rohmat Suprapto, S.Ag., M.Si., menyebut kegiatan ini sebagai momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya kepala madrasah Muhammadiyah se-Jawa Tengah dikumpulkan dalam satu forum besar.
Ia menilai kehadiran ratusan kepala madrasah menjadi modal penting untuk melakukan transformasi madrasah Muhammadiyah agar tidak hanya unggul dalam religiusitas, tetapi juga dalam pengembangan intelektual dan kompetensi peserta didik.
“Kepala Madrasah Muhammadiyah harus amanah, maju, dan hebat. Madrasah tidak boleh terjebak stigma, tetapi harus menjadi pusat pembentukan karakter, moral, dan kecerdasan,” ujarnya.
Dukungan juga disampaikan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah yang diwakili Dodok Sartono. Ia mengajak para kepala madrasah untuk terus berinovasi, mandiri, dan tidak membatasi kinerja hanya pada keterbatasan fasilitas maupun kesejahteraan.
“Kalau ingin madrasah maju, kuncinya disiplin, ikhlas, dan kerja keras. Jangan menunggu bantuan, tapi ciptakan added value yang membuat madrasah dicari masyarakat,” pesannya.
Keynote Speaker, Kasubdit Bina GTK MA/MAK Kementerian Agama RI, Dr. Anis Masykur, M.A.
Kegiatan ini turut menghadirkan keynote speaker Kasubdit Bina GTK MA/MAK Kementerian Agama RI, Dr. Anis Masykur, M.A., serta dibuka secara resmi oleh perwakilan Majelis Dikdasmen-PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Drs. H. Unang Rahmat, M.Ed., MM.
Melalui forum ini, UMS tidak hanya menjadi lokasi kegiatan, tetapi juga berperan strategis sebagai ruang konsolidasi gagasan, penguatan ideologi, dan pengembangan kepemimpinan pendidikan Muhammadiyah menuju madrasah yang unggul dan berkemajuan. (Yusuf/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar pelatihan pengelolaan media sosial bagi para pengelola akun resmi fakultas dan program studi, sebagai upaya peningkatan kualitas komunikasi digital dan penguatan citra institusi di ruang publik, yang berlangsung di Ruang Diskusi Lt.2 FHIP UMS, Jumat, (6/2).
Kegiatan ini menghadirkan 2 narasumber dari staf Humas UMS, yaitu (1) Rasuli, S.Sos., M.I.Kom., yang memberikan pemaparan strategis terkait pemilihan platform, pemetaan audiens, hingga penguatan nilai institusi dalam pengelolaan media sosial di lingkungan fakultas, dan (2) Muhammad Fatkhan Attamimi, S.Pd., yang menjelaskan tentang teknis pelaksanaan produksi konten.
Dalam sesi awal, Rasuli menjelaskan bahwa pemilihan platform media sosial harus disesuaikan dengan kebiasaan audiens. Ia mencontohkan pemanfaatan WhatsApp Channel sebagai sarana distribusi informasi berbasis tautan, mengingat WhatsApp menjadi platform yang paling akrab digunakan masyarakat dalam keseharian.
“Instagram saat ini menjadi kanal utama komunikasi digital UMS karena mampu memadukan konten informatif yang formal dengan pendekatan visual yang relevan bagi audiens kampus,” papar Rasuli.
Sementara itu, lanjutnya, TikTok dimanfaatkan sebagai medium untuk menjangkau generasi muda, khususnya Gen Z, guna membangun kesadaran awal terhadap UMS.
Rasuli menekankan pentingnya diferensiasi konten antar platform, meskipun dalam praktiknya terdapat konten yang dapat dipublikasikan secara serentak. Menurutnya, karakter audiens yang berbeda menuntut pendekatan pesan, gaya visual, dan format konten yang tidak bisa diseragamkan.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pengelolaan media sosial UMS diawali dengan pemetaan brand dan segmentasi audiens sejak 2022. Langkah tersebut dilakukan agar pesan institusi dapat tersampaikan secara lebih terarah, mengingat tidak semua segmen publik dapat dijangkau dengan pendekatan komunikasi yang sama.
Dalam konteks nilai institusi, Rasuli menegaskan bahwa keislaman dan kemuhammadiyahan menjadi fondasi utama dalam narasi komunikasi UMS. Nilai tersebut dipertahankan sebagai pembeda sekaligus identitas yang memperkuat positioning UMS di tengah kompetisi perguruan tinggi.
Materi pelatihan juga menggarisbawahi tiga elemen penting dalam pengelolaan media sosial, yakni organisasi, audiens, dan nilai. Ketiganya saling terhubung dalam membentuk arah komunikasi, persona akun, serta tujuan pengelolaan media sosial di tingkat fakultas maupun program studi.
Peserta pelatihan dibekali pemahaman mengenai penentuan tujuan media sosial, mulai dari fungsi informasi, pembentukan citra, pengelolaan komunitas, hingga layanan pengaduan. Selain itu, narasumber juga memperkenalkan indikator kinerja utama atau Key Performance Indicator (KPI) seperti growth, reach, impression, engagement, dan total views.
Pada kesempatan yang sama, Muhammad Fatkan Attamimi yang kerap disapa Atta, memaparkan alur produksi konten yang diterapkan oleh Tim Media Sosial Humas UMS, yang terbagi dalam tiga tahapan utama, yakni pra-produksi, produksi, dan post-produksi. Ketiga tahapan tersebut menjadi kerangka kerja agar proses pembuatan konten berjalan lebih terstruktur dan efisien.
Ata menjelaskan bahwa pada tahap pra-produksi, tim melakukan analisis tujuan konten, target audiens, penentuan ide, serta perencanaan teknis.
“Tahap ini krusial karena menentukan arah pesan dan kesiapan teknis sebelum proses produksi dimulai,” tegasnya.
Pada tahap produksi, ia menekankan pentingnya eksekusi yang sesuai dengan perencanaan dan brief yang telah disepakati. Proses pengambilan gambar, perekaman audio, hingga pembuatan visual harus memperhatikan kualitas teknis agar pesan dapat tersampaikan secara optimal.
Sementara itu, pada tahap post-produksi, konten melalui proses pengolahan dan penyempurnaan, mulai dari editing, proses peninjauan atau approval, revisi apabila diperlukan, hingga publikasi ke kanal media sosial yang telah ditentukan.
Dalam sesi tanya jawab, Kaprodi Program Studi Ilmu Hukum UMS, Fahmi Fairuzzaman, S.H., M.H., L.L.M., mengangkat isu konsistensi persona akun serta fleksibilitas dalam mengikuti tren. Menanggapi hal tersebut, Rasuli menyampaikan bahwa persona utama akun sebaiknya konsisten, sementara adaptasi terhadap tren dilakukan pada cara berkomunikasi tanpa mengubah identitas brand.
Ia juga menanggapi pertanyaan terkait penggunaan warna visual antara identitas universitas dan program studi. Menurutnya, palet warna prodi dapat dikombinasikan dengan identitas visual UMS selama tetap selaras dengan karakter dan nilai institusi, serta tidak mengaburkan branding utama universitas.
Melalui pelatihan ini, lanjutnya, Fakultas Hukum dan Ilmu Politik UMS diharapkan mampu mengelola media sosial secara lebih strategis, terarah, dan berdampak, sekaligus memperkuat peran media digital sebagai jembatan komunikasi antara institusi dengan publik internal maupun eksternal. (Yusuf/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Upaya peningkatan kompetensi digital pendidik terus didorong oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-DIK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui penyelenggaraan Workshop Smart Teaching: Efisiensi Kinerja Pendidik melalui Brisk AI di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Ngancar, Wonogiri.
Melalui workshop ini, mahasiswa KKN-DIK FKIP UMS memperkenalkan Brisk AI sebagai platform kecerdasan buatan pendukung pembelajaran yang dapat dimanfaatkan guru untuk menyusun perangkat ajar, merancang materi pembelajaran, serta meningkatkan efisiensi kinerja pendidik.
Ketua KKN-DIK, Taufik, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa UMS dalam mendukung adaptasi pendidik terhadap pembelajaran berbasis teknologi.
“Melalui workshop ini, kami ingin guru dapat langsung mempraktikkan pemanfaatan Brisk AI sesuai kebutuhan pembelajaran di kelas. Teknologi diharapkan mampu membantu kinerja guru menjadi lebih efisien tanpa mengurangi kualitas pembelajaran,” ungkapnya, Jumat, (6/2).
Taufik menerangkan, workshop diselenggarakan dengan pendekatan praktik teknis langsung agar para guru dapat memahami penggunaan Brisk AI secara aplikatif dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran di kelas, khususnya pada jenjang pendidikan dasar.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN-DIK tidak hanya memberikan pemaparan mengenai konsep Smart Teaching, tetapi juga mendampingi guru secara intensif saat mencoba berbagai fitur Brisk AI yang mendukung proses perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.
Respons positif terlihat dari antusiasme para guru MIM Ngancar yang aktif mengikuti setiap sesi kegiatan, mulai dari praktik penggunaan aplikasi hingga diskusi terkait tantangan penerapan AI dalam pembelajaran sehari-hari.
Pendekatan praktik langsung yang diterapkan dinilai memudahkan guru dalam memahami teknologi secara kontekstual, sekaligus membuka wawasan tentang pemanfaatan AI secara bijak dan bertanggung jawab di lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-DIK FKIP UMS berharap para guru dapat terus mengoptimalkan Brisk AI sebagai alat bantu pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi pendidikan.
Kegiatan yang telah dilaksanakan pada Kamis, (22/1), menjadi bagian dari komitmen mahasiswa UMS dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin masif dan berpengaruh terhadap dunia pendidikan. (Yusuf/Humas)