Fakultas Kedokteran UMS Kembali Luluskan 30 Dokter Baru yang Kompeten dan Humanis

Fakultas Kedokteran UMS Kembali Luluskan 30 Dokter Baru yang Kompeten dan Humanis

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Program Profesi Dokter (PPD) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menggelar upacara pelantikan dan pengambilan sumpah profesi dokter ke-57, Rabu (4/3), di Hotel Mercure Solo Baru. Pada kesempatan tersebut, UMS meluluskan 30 dokter baru, sehingga hingga saat ini total alumni dokter FK UMS mencapai 1.664 orang.

Wakil Rektor IV UMS, Prof. Dr. dr. EM Sutrisna, M.Kes., dalam sambutannya mendorong para dokter baru untuk mulai memetakan arah perjalanan hidup dan karier mereka. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk bersaing, baik dengan melanjutkan studi magister maupun mengambil pendidikan profesi spesialis.

Wakil Rektor IV UMS Prof. Dr. dr. EM Sutrisna, M.Kes. saat memberikan sambutan

“Kita harapkan terus berprogres, maju terus, agresif dan progresif. Silakan pilih jalan pengabdian, baik di pelayanan maupun pendidikan,” ujarnya.

Pada pelantikan dokter baru ini, dr. Widji Astuti Damayanti menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3.83. Untuk lulusan termuda adalah dr. Putri Wahyu Wijayanti dengan IPK 3.78 dan lulus saat usia 24 tahun 11 bulan.

Ketua BPH UMS Drs. Marpuji Ali, M.Si., turut berpesan agar para dokter baru menjadi pribadi unggul dan teladan. Ia mengingatkan pentingnya menghormati orang lain dalam setiap situasi.

Ketua BPH UMS Drs. Marpuji Ali, M.Si. memberikan kenang-kenangan kepada dokter baru UMS

“Dalam merawat dan melayani pasien, hendaklah dilayani dengan baik, ramah, dan dengan senyum. Jika ada pasien yang bersikap kurang menyenangkan, kalian harus mampu menahan diri dan tidak terbawa arus,” pesannya.

Menurutnya, pasien memiliki beragam karakter dan sikap. Namun dengan telah mengucapkan sumpah profesi, para dokter baru diharapkan memberikan pelayanan terbaik serta tetap menjalankan kewajiban kepada Allah dan sesama manusia. “Insya Allah Anda akan menjadi dokter-dokter yang terhormat,” tambahnya.

Dekan FK UMS, Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl. STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV. memberikan pesan motivasi kepada dokter baru lulusan FK UMS

Sementara itu, Dekan FK UMS, Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl. STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV., berharap lulusan dapat menjadi “dokter paket lengkap” yang kompeten, santun, dan berintegritas. Ia menjelaskan bahwa kompetensi akademik atau Intelligence Quotient (IQ) memang penting karena diperoleh melalui pendidikan dan pengajaran. Namun, terdapat dua aspek lain yang tak kalah penting, yakni Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ).

“IQ membentuk kompetensi akademik, tetapi EQ membentuk kematangan emosi. Sedangkan SQ adalah landasan spiritual, bahwa apa pun yang kita lakukan, baik dilihat maupun tidak dilihat orang, tetap diniatkan sebagai pengabdian kepada Allah,” jelasnya.

Ia menambahkan, refleksi dan evaluasi diri akan membentuk pribadi yang memiliki wawasan dan kedalaman berpikir (insight) yang baik.

Lebih lanjut, ia mengingatkan para dokter baru agar menyusun strategi dalam menentukan langkah berikutnya dengan fokus, kemudian segera mengeksekusinya secara konsisten dan persisten.

“Eksekusi itu butuh konsistensi dan persistensi. Konsisten artinya dikerjakan terus-menerus, persisten artinya ketika ada hambatan harus dihadapi dan dicari solusinya,” ungkapnya.

Tahap berikutnya adalah evaluasi, yakni menilai apakah strategi atau pelaksanaan yang dilakukan sudah tepat atau perlu diperbaiki. Ia menegaskan bahwa setelah resmi menjadi dokter, proses belajar tidak boleh berhenti.

“Seorang dokter adalah never-ending learner, pembelajar sepanjang hayat. Karena kesehatan dan kedokteran akan menjadi tanggung jawab anda,” tegasnya.

Ia pun menutup dengan mengingatkan bahwa menjadi dokter bukan berarti berada di posisi tertinggi, melainkan menjadi pelayan dan pengabdi masyarakat.

Perwakilan wali wisudawan, orang tua dari dr. Distya Ayu Renatasari, Iptu (Purn.) Darmono, menyampaikan rasa bahagianya atas capaian putrinya yang telah menyelesaikan studi di FK UMS dan lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) dengan baik. Ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan hidup yang sesungguhnya.

“Anak-anakku harus mempertanggungjawabkan gelar dokter yang diraih hari ini. Kami sebagai orang tua berharap anak-anak kami menjadi pribadi yang pintar dan cerdas, sekaligus menjaga sikap, etika, kaidah, dan moral kedokteran,” tuturnya.

Ia meyakini, dengan bekal tersebut para lulusan dokter UMS akan menjadi sosok yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat. (Maysali/Humas)

Cara UMS Tingkatkan Minat Belajar Siswa di Malaysia Melalui Metode Fun Math

Cara UMS Tingkatkan Minat Belajar Siswa di Malaysia Melalui Metode Fun Math

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN Dik) internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan pembelajaran kreatif bertajuk Math Day dan B. Indo Treasure Hunt di ICC Ladang Kosma, Malaysia, Rabu (28/1). Kegiatan ini melibatkan siswa kelas kecil dan kelas besar dengan rangkaian aktivitas edukatif yang interaktif dan menyenangkan.

Program ini dipandu oleh Salsabila Nur An-nisaa dari Program Studi PPKn UMS dan Fridha Nur Azizah dari Program Studi Matematika UMS. Keduanya berperan sebagai fasilitator dalam merancang konsep pembelajaran, memandu permainan, sekaligus memberikan pendampingan kepada siswa selama kegiatan berlangsung.

“Kegiatan ini merupakan program pembelajaran tematik yang memadukan Math Day sebagai hari khusus pembelajaran matematika dengan penguatan literasi bahasa Indonesia. Math Day dilaksanakan sebagai penamaan untuk hari yang difokuskan pada materi berhitung dan aktivitas matematika interaktif, bukan dalam rangka memperingati hari tertentu,” ungkap Salsabila saat dimintai keterangan, Rabu, (4/3).

Pada kelas kecil, pembelajaran difokuskan pada peningkatan kemampuan berhitung dasar melalui metode interaktif dan permainan edukatif. Sementara itu, pada kelas besar, penguatan bahasa Indonesia dikemas melalui permainan berbasis strategi yang melatih kemampuan berpikir kritis dan kerja sama tim.

BACA JUGA: Perkenalkan Tapak Suci, Mahasiswa KKN Dik UMS Tanamkan Ideologi Muhammadiyah di Tanah Arab

Pada sesi kelas kecil, pembelajaran diawali dengan aktivitas berhitung interaktif menggunakan kartu flashcard melalui tebak-tebakan penjumlahan dan perkalian sederhana. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan permainan Fun Math Tree (Pohon Berhitung). Siswa mencari dan menempelkan jawaban yang tepat dari soal berhitung sederhana pada media yang telah disediakan.

Adapun pada kelas besar, mahasiswa KKN menghadirkan permainan B. Indo Treasure Hunt. Dalam permainan ini, siswa secara bergantian mengambil soal dengan bobot nilai 5, 10, dan 15 poin, kemudian menyusun strategi untuk mencapai total nilai 100 poin. Permainan ini melatih pemahaman soal, kemampuan berpikir strategis, serta kerja sama dalam tim.

Di akhir sesi, mahasiswa KKN, Fridha, juga mengenalkan berbagai jenis pakaian batik kepada siswa serta menjelaskan makna dan keunikan masing-masing motif. Edukasi budaya ini bertujuan menanamkan rasa cinta terhadap warisan budaya Indonesia sekaligus memperluas wawasan siswa tentang identitas bangsa.

“Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan minat belajar siswa melalui metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Melalui Math Day, siswa didorong untuk lebih percaya diri dalam memahami dan menyelesaikan soal berhitung dasar,” paparnya.

Sementara itu, pembelajaran bahasa Indonesia melalui pendekatan permainan interaktif terbukti mampu memperkuat pemahaman materi sekaligus menumbuhkan semangat kompetitif yang sehat. Pengenalan batik menjadi nilai tambah dalam menanamkan apresiasi budaya sejak dini.

Salsabila dan Fridha berharap program pembelajaran tematik seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain memperkuat kemampuan akademik, kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan nilai kerja sama, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya pada diri siswa. (Fika/Humas)

Bukber Kalcer “Satu Langkah untuk Ukhuwah”, Satukan Elemen Umat Islam Ngasem

Bukber Kalcer “Satu Langkah untuk Ukhuwah”, Satukan Elemen Umat Islam Ngasem

muhammadiyahkaranganyar.or.id, COLOMADU – Semangat kebersamaan menyambut bulan suci Ramadan tampak dalam kegiatan Bukber Kalcer: Satu Langkah untuk Ukhuwah yang diselenggarakan oleh PRM Ngasem, PRA Ngasem, dan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Masjid Al-Faifi di Masjid Al-Faifi Perumahan Ngasem Baru, Colomadu, Ahad (1/3/2026).

Kegiatan ini dihadiri sekitar 300–400 jamaah dari berbagai elemen masyarakat serta organisasi kemasyarakatan Islam di wilayah Ngasem dan sekitarnya. Acara tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus penguatan ukhuwah Islamiyah menjelang Ramadan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan anak-anak TPA Masjid Al-Faifi serta siswa-siswi SD MIM (Madrasah ibtidaiyah Muhammadiyah) Ngasem yang menampilkan pertunjukan bernuansa Islami. Penampilan tersebut mendapat apresiasi hangat dari para jamaah yang memadati area masjid.

Acara dilanjutkan dengan pengajian bertema Hikmah Bulan Ramadan yang disampaikan oleh Topan Akbar Saksana, S.Pd. Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum euforia ibadah, melainkan kesempatan membentuk kebiasaan baik yang berkelanjutan.

“Jamaah dan diri kami sendiri bahwa bulan Ramadan bukan sekadar ajang euforia semangat ibadah pada saat itu saja, melainkan kesempatan untuk membiasakan diri melakukan kebaikan sehingga menjadi amalan istiqomah yang terus dipertahankan bahkan di bulan-bulan lain,” ujarnya.

Menurut panitia, kegiatan ini juga bertujuan mengakomodasi seluruh jamaah dari berbagai latar belakang organisasi Islam, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), agar dapat bersama-sama merasakan semangat persatuan dalam bingkai Ramadan.

Ketua PRM Ngasem, Muh Natsir, berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan di masa mendatang.

“Harapan kami adalah agar PRM Ngasem dapat melaksanakan lebih banyak kegiatan di masa depan, seperti penanaman penghijauan dan program bersama dengan DKM di seluruh Ngasem,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Muhammad Subhi Apriantoro, menargetkan jumlah peserta yang lebih besar pada pelaksanaan tahun depan.

“Karena kami memang ingin semua elemen umat Islam di Ngasem dan sekitarnya terhimpun menjadi satu. Jadi, Ramadan itu tidak memisah-misahkan, tetapi Ramadan memeluk semua elemen masyarakat Muslim di Ngasem, terutama. Karena kami ingin nanti ke depan, kegiatan-kegiatan serupa juga dapat dijalankan lebih luas lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan, target peserta pada tahun mendatang diharapkan dapat mencapai 1.000 jamaah sebagai bentuk penguatan solidaritas dan kebersamaan umat.

Melalui kegiatan Bukber Kalcer: Satu Langkah untuk Ukhuwah, PRM Ngasem bersama seluruh elemen masyarakat berharap Ramadan menjadi momentum mempererat persaudaraan, memperkuat sinergi lintas organisasi, serta menumbuhkan semangat kebaikan yang berkelanjutan di tengah masyarakat Ngasem.

Kontributor :Yonanda Sukma Wardana, S.Sos., M.Si.

Apa Itu Quarter Life Crisis? Simak Penjelasan Pakar UMS Mengenai Tantangan Usia 20-an

Apa Itu Quarter Life Crisis? Simak Penjelasan Pakar UMS Mengenai Tantangan Usia 20-an

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Program UMS Insight kembali membahas isu yang dekat dengan kehidupan anak muda, yaitu quarter life crisis, pada Jum’at, (13/2). Dalam episode ke-9 ini, Yusuf selaku host berbincang bersama Pakar Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yaitu Septian Wahyu Rahmanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang akan menjelaskan secara sederhana tentang apa itu quarter life crisis dan bagaimana cara menghadapinya.

Menurut Septian, istilah quarter life crisis diperkenalkan oleh Wilner dan Robbins melalui buku mereka tentang tantangan hidup di usia 20-an. Ia menjelaskan bahwa fase ini biasanya dialami oleh mereka yang berusia 20 sampai 29 tahun, bahkan bisa mulai sejak usia 18 tahun, saat seseorang lulus SMA dan mulai menentukan arah hidup.

“Quarter life crisis itu tantangan perkembangan di usia 20-an yang ditandai rasa tidak nyaman, cemas, dan bingung karena tuntutan hidup,” jelasnya. Selasa, (3/3).

Pakar Psikologi UMS, sekaligus narasumber UMS Insight ke-9, Septian Wahyu Rahmanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Di usia ini, seseorang mulai meninggalkan masa remaja dan masuk ke dunia yang lebih nyata. Ada tuntutan untuk bekerja, mandiri secara finansial, menentukan karier, hingga memikirkan hubungan yang lebih serius. Tidak jarang muncul kebingungan dalam mengambil keputusan, merasa tertinggal dari teman sebaya, atau menilai diri sendiri secara negatif.

Septian menyebut beberapa tanda yang sering muncul, seperti kebimbangan, rasa gagal, putus asa, hingga kecemasan tentang masa depan. Banyak anak muda merasa tertekan karena membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial.

BACA JUGA:

“Sekarang tantangannya adalah kemampuan memfilter informasi. Tidak semua yang kita lihat di media sosial harus jadi standar hidup kita,” ujarnya.

Meski terdengar berat, ia menegaskan bahwa quarter life crisis bukan gangguan mental.

“Itu bukan gangguan. Itu fase yang umum dialami. Tantangan perkembangan saja,” katanya.

Namun, jika dibiarkan tanpa dikelola dengan baik, kondisi ini bisa berkembang menjadi kecemasan berlebihan bahkan depresi.

BACA JUGA:

Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari apa yang sebenarnya dirasakan. Seseorang perlu jujur pada dirinya sendiri. Apa yang membuat cemas? Apa yang membuat merasa gagal? Mengapa hal itu begitu mengganggu? Dengan mengenali isi pikiran dan perasaan, seseorang bisa mulai memahami sumber masalahnya.

Septian juga menyarankan untuk berdialog dengan diri sendiri atau melakukan refleksi.

“Kenapa saya memikirkan ini? Dampaknya ke saya apa?” katanya.

Dengan proses ini, individu bisa lebih terkoneksi dengan dirinya, mengenali kelebihan dan kelemahan, serta memahami tujuan hidupnya.

Jika merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, mencari bantuan profesional bukanlah hal yang salah. Konselor, mentor, atau psikolog bisa membantu melihat masalah dengan lebih jernih. Di UMS sendiri tersedia layanan konseling gratis bagi mahasiswa yang membutuhkan pendampingan.

Lebih jauh, Septian menekankan pentingnya kesiapan psikologis. Usia, menurutnya, hanyalah angka. Yang lebih penting adalah kematangan mental.

“Usia itu hanya angka. Yang menentukan adalah kematangan psikologis,” jelasnya.

Seseorang yang matang secara psikologis akan lebih siap menghadapi tekanan dan tantangan hidup.

Ia juga mengingatkan bahwa kematangan tidak terbentuk secara instan di usia 20-an. Prosesnya panjang, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa awal. Peran keluarga, lingkungan, pergaulan, dan pendidikan sangat berpengaruh dalam membentuk kesiapan mental seseorang.

Bagi mereka yang belum memasuki usia 20-an, tidak perlu takut berlebihan. Quarter life crisis bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi dihadapi.

“Itu tantangan yang unik di usia itu, jadi dihadapi saja,” ujar Septian.

Dengan memiliki tujuan hidup yang jelas dan komitmen terhadap peran yang ingin dijalani, rasa bingung dan cemas bisa lebih terkendali.

Bagi orang-orang di sekitar yang melihat temannya sedang mengalami fase ini, pendekatan yang lembut dan suportif sangat dibutuhkan. Tidak perlu memaksa untuk konseling, tetapi cukup hadir dan menunjukkan bahwa kita siap mendengarkan.

Melalui diskusi ini, UMS Insight mengajak generasi muda untuk memahami bahwa quarter life crisis adalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan. Fase ini bukan tanda kegagalan, melainkan proses belajar untuk mengenal diri, menentukan arah, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. (Adi/Humas)

Tips Mendidik Anak Sesuai Al-Qur’an: Meneladani Luqman Al-Hakim di Surat Luqman

Tips Mendidik Anak Sesuai Al-Qur’an: Meneladani Luqman Al-Hakim di Surat Luqman

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Dalam sejarah Islam terdapat sosok pendidik karakter inspiratif. Luqman Al-Hakim namanya, ceritanya dijelaskan secara komprehensif dalam Al-Qur’an pada surat Luqman. Dosen Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT) sekaligus Mudir Ma’had Abu Bakar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., mengulas sejarah kehidupan Luqman Al-Hakim dalam mentarbiyah atau mendidik anaknya.

Hakimuddin mengawali dengan menjelaskan biografi seorang Luqman Al-Hakim. Para jumhur ulama berpendapat bahwa Luqman bukan seorang nabi, dia adalah sosok manusia biasa yang memiliki keistimewaan di sisi Allah SWT. Keistimewaan terletak pada cara tarbiyahnya terhadap anaknya.

“Luqman Al-Hakim merupakan seorang yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat pada zaman itu, tapi dia memiliki skill mendidik yang membuatnya dimuliakan oleh Allah SWT,” terangnya, Selasa (3/3).

Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta Dr. Hakimuddin Salim

Menurut Hakimuddin, julukan Al-Hakim yang disandarkan pada Luqman merupakan buah lisannya yang selalu melontarkan kata-kata bijaksana, tanpa pernah menyakiti hati siapa pun.

Pada surat Al-Luqman ayat 13 dijelaskan bahwa tauhid merupakan pendidikan awal yang diberikan Luqman kepada anaknya. Menurut Hakimuddin, sebagai pendidikan Islam, tauhid merupakan ilmu fundamental atas ilmu-ilmu yang lainnya.

“Kurikulum pertama yang harus ditekankan dalam pendidikan umat Muslim yakni ilmu tauhid,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tauhid merupakan tujuan utama penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Perkara tauhid, kata Hakimuddin, perlu dikhawatirkan jika tidak tertanam kokoh pada diri peserta didik.

“Perkara tauhid harus dikhawatirkan pada peserta didik kita, sebelum urusan-urusan yang lainnya. Karena akan menjadi permasalahan yang fatal jika tidak dikokohkan pondasinya,” tambahnya.

Lebih lanjut, dalam surat Luqman ayat 13 terdapat inspirasi tarbawi ala Luqman Al-Hakim.
Pertama, kedekatan seorang orang tua yang berperan sebagai pendidik. Kedekatan pendidik dan peserta didik akan menghilangkan gap atau jarak, sehingga proses transfer ilmu tersampaikan secara utuh.

Kedua, nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, atau yang disebut dengan Uslubul Mauidhoh (mendidik dengan lemah lembut). Melalui metode ini, Luqman dapat menyampaikan tauhid yang terasa berat menjadi sebuah materi ringan.

Ketiga, Uslubul Mulatofah merupakan kelembutan yang penuh kasih sayang. Dalam konteks Luqman, cara memanggil Luqman kepada anaknya dengan “Ya Bunayya” menunjukkan kasih sayang seorang orang tua/pendidik terhadap anaknya.

“Pendidikan yang efektif melalui pendekatan kasih sayang, sebagai gerbang awal untuk melancarkan proses transaksi ilmu dalam pendidikan,” tambah Hakimuddin.

Keempat, Luqman menjelaskan atas dilarangnya syirik dengan kalimat Inna syirka ladzulmun adhim (Bahwa syirik merupakan sebuah kezaliman yang paling besar). Kalimat tersebut, kata Hakimuddin, menunjukkan adanya sebuah pesan pendidik untuk menyampaikan sesuatu dengan penjelasan yang gamblang atau rasional. Pemahaman merupakan poin fundamental dalam menjalankan suatu syariat.

“Di era saat ini, rasionalisasi terhadap suatu ilmu sangat dibutuhkan, karena banyak orang yang skeptis akan ilmu agama, yang dikatakan sebagai ilmu dogma semu. Maka, dengan penjelasan yang rasional akan lebih diterima oleh peserta didik era sekarangi”, tuturnya.

Dalam sebuah cerita lain, dikatakan bahwa keluarga luqman hakim berlatar belakang kafir. Namun dengan kelemahlembutan dan kesabaran Luqman dapat menghantarkan keluarganya pada jalan yang benar, yakni ajaran agama Islam.

Hakimuddin menutup kajian dengan mengutip tafsir Ibnu katsir pada surat Luqman ayat 13.
“Allah SWT ketika menyebutkan nama Luqman, maka, segala yang dilakukannya menjadi sebuah pedoman bagi kita semua dalam mendidik,” tutupnya. (Affiq/Humas)