muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Tim Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta melaksanakan program kerja pengelolaan Bank Sampah di SMP MPK Pracimantoro. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran lingkungan sekaligus membangun kebiasaan menabung sejak dini.
Pada Selasa (10/2) program Bank Sampah secara resmi diluncurkan oleh Ivan Susanto, S. Pd., Gr., selaku Kepala Sekolah SMP MPK Pracimantoro. Kegiatan peresmian tersebut dihadiri oleh para guru dan siswa yang menandai dimulainya pengelolaan Bank Sampah di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.
Ketua tim KKN-Dik, Muhammad Febrian Avif Sukiawan menyampaikan program ini dirancang untuk melatih siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan serta memahami bahwa sampah yang dikelola yang dikelola secara tepat dapat bernilai guna dan memberi manfaat nyata.
“Kami berharap kegiatan ini dapat terus berjalan secara mandiri dan berkelanjutan sehingga memberikan dampak positif bagi seluruh warga sekolah,” ungkapnya saat dimintai keterangan, Selasa (3/3).
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan dampak sampah terhadap kehidupan. Tim mahasiswa KKN memperkenalkan konsep Bank Sampah sebagai solusi sederhana dalam pemanfaatan sampah berdasarkan nilai ekonominya yang dapat diterapkan di sekolah.
Pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan program sebagai media pembelajaran nyata yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan, literasi finansial, serta pembentukan kebiasaan positif di kalangan siswa.
“Program Bank Sampah tidak hanya sebagai kegiatan kebersihan, tetapi juga sebagai pembelajaran kontekstual yang menanamkan tanggung jawab serta pemahaman nilai ekonomis dari sampah. ” ujar Ivan.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif membuat siswa antusias saat praktik memilah sampah. Pelaksanaan program Bank Sampah diarahkan untuk membentuk karakter peduli lingkungan sekaligus menumbuhkan kemandirian siswa melalui kegiatan pengelolaan sampah yang bernilai ekonomis.
“Siswa diharapkan terbiasa menjaga kebersihan sekaligus memahami bahwa sampah yang dikelola dengan baik memiliki nilai manfaat dan dapat menjadi tabungan,” harap Ivan.
Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN-Dik UMS berharap Bank Sampah dapat terus berjalan secara mandiri dan menjadi gerakan berkelanjutan di SMP MPK Pracimantoro dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan produktif. (Roselia/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN DIK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (FKIP UMS) melaksanakan program kerja pengenalan dan pelatihan IELTS bagi siswa SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri. IELTS merupakan tes standar kemampuan bahasa Inggris internasional yang diakui secara global.
Mahasiswa UMS Ibnu Habib dan Dimas Adi Putra dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris menyebutkan bahwa kegiatan ini digelar sebagai upaya membekali siswa dengan pemahaman awal mengenai tes kemampuan bahasa Inggris internasional yang kerap menjadi syarat melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja.
“Pelatihan IELTS ditujukan bagi siswa SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri, khususnya sebagai persiapan bagi siswa kelas akhir. Metode pembelajaran yang digunakan mengacu pada pendekatan student centered learning dengan strategi discovery learning, sehingga siswa didorong untuk aktif memahami materi dan berlatih secara mandiri dengan pendampingan fasilitator,” kata Dimas Adi Putra, Senin (2/3).
Foto bersama mahasiswa KKN UMS bersama siswa ‘SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri
Dimas menyampaikan, program kerja pelatihan IELTS sendiri dirancang oleh mahasiswa berdasarkan hasil need analysis yang dilakukan sebelum KKN dimulai. Dari hasil survei tersebut, diketahui bahwa siswa SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri masih memiliki keterbatasan pemahaman terkait IELTS dan TOEFL, khususnya sebagai bekal menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya.
Kegiatan pelatihan berlangsung dalam empat sesi pertemuan yang dilaksanakan dua kali setiap minggu. Pada pertemuan pertama, siswa mengikuti pre-test serta menerima pengenalan dasar mengenai IELTS dan gambaran umum TOEFL. Pertemuan kedua difokuskan pada penguatan materi, refleksi, serta latihan soal sebagai persiapan menghadapi sesi evaluasi berikutnya. Fokus materi yang disampaikan adalah dua keterampilan utama, yakni Listening dan Speaking, yang selama ini dinilai menjadi tantangan terbesar bagi siswa.
Dalam pelaksanaannya, format tes IELTS disederhanakan dan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Jumlah soal yang biasanya mencapai 40 soal per keterampilan dipangkas menjadi 20 soal untuk Listening dan 20 soal untuk Speaking. Pada tes Speaking, siswa diminta menyusun paragraf singkat sebagai panduan berbicara, dengan durasi satu menit persiapan, satu menit berbicara, dan satu menit umpan balik dari penguji.
Antusiasme siswa terlihat tinggi, terutama saat sesi Speaking, di mana mereka tampak lebih percaya diri untuk mencoba berbicara menggunakan bahasa Inggris. Meski demikian, pada sesi Listening, sebagian siswa masih mengalami kesulitan memahami percakapan berbahasa Inggris dengan penutur asli.
Menurut Ibnu Habib, pelatihan IELTS sengaja dirancang untuk mendukung kebiasaan berbahasa yang sudah diterapkan di sekolah. “Di SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri kan sudah ada rolling language bahasa Inggris dan Arab setiap minggu. Lewat pelatihan ini, kami berharap siswa tidak hanya terbiasa berbicara, tapi juga paham standar bahasa Inggris internasional seperti IELTS. Harapannya, mereka jadi lebih percaya diri, berani mencoba, dan punya bekal awal kalau nanti ingin melanjutkan kuliah atau masuk dunia kerja,” ujarnya.
Pada pertemuan terakhir, mahasiswa KKN kembali mengadakan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai konsep IELTS dan TOEFL, sekaligus memberikan gambaran bahwa model pembelajaran interaktif yang diterapkan mampu menarik minat belajar siswa.
Melalui program ini, mahasiswa KKN DIK FKIP UMS berharap siswa SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri memiliki bekal awal dan kepercayaan diri untuk mengenal tes bahasa Inggris internasional sejak dini. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan bahasa Inggris di sekolah. (Shandy/Maysali/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus yang responsif terhadap dinamika hukum nasional melalui kolaborasi strategis bersama Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Tengah dalam Seminar dan Penyuluhan Hukum bertajuk “KUHP 2023 dan KUHAP 2025: Arah Baru Sistem Peradilan Pidana Indonesia.”
Wakil Dekan I FHIP UMS, Dr. Syaifuddin Zuhdi, S.HI., M.HI., menegaskan bahwa UMS memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menghadirkan pembelajaran hukum yang kontekstual dan selaras dengan perkembangan regulasi nasional.
“Pembaruan KUHP dan KUHAP harus dipahami secara komprehensif oleh mahasiswa sebagai calon penegak hukum agar mampu mengawal implementasi hukum yang berkeadilan dan berorientasi pada nilai-nilai kebangsaan,” kata Syaifuddin Zuhdi, saat ditemui pada Senin, (2/3).
Dalam kegiatan tersebut, Rabu, (25/2), Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) UMS mengundang pemateri Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Kemenkum Jawa Tengah, Lilin Nurchalimah, S.H., M.H., yang mengulas substansi KUHP 2023 sebagai hasil perjalanan panjang reformasi hukum pidana nasional.
Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Kemenkum Jawa Tengah Lilin Nurchalimah, S.H., M.H., saat menyampaikan materi
Ia menekankan bahwa KUHP yang baru mengedepankan keseimbangan antara perlindungan masyarakat, kepentingan korban, dan hak pelaku, dengan pendekatan yang tidak semata-mata represif, tetapi juga humanis.
Selain itu, Dosen FHIP UMS, Dr. Muchammad Iksan, S.H., M.H., memaparkan implementasi KUHAP 2025 melalui pendekatan Sistem Peradilan Pidana Terpadu (SPPT), termasuk penguatan perlindungan hak asasi manusia, perluasan praperadilan, serta mekanisme restorative justice.
Forum ini menjadi ruang akademik yang mempertemukan regulator dan civitas akademika dalam membahas implementasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP serta Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP. Forum ini menjadi daya tarik mahasiswa dan akademisi hingga diikuti oleh lebih dari 100 peserta.
Melalui forum akademik ini, UMS menunjukkan kapasitasnya sebagai pusat kajian hukum yang adaptif dan progresif, sekaligus memperkuat posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyosialisasikan pembaruan hukum pidana nasional.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Tengah yang diwakili oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya, R. Danang Agung Nugroho, mengapresiasi peran aktif UMS dalam mendukung diseminasi regulasi baru kepada kalangan akademik.
Ia menyampaikan bahwa lahirnya KUHP Nasional menandai tonggak penting pembaruan hukum pidana Indonesia yang lebih mandiri dan berakar pada nilai Pancasila, sekaligus mengakhiri ketergantungan pada produk kolonial. (Yusuf/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fenomena olahraga yang viral di media sosial kian marak di kalangan generasi muda. Mulai dari gym, fun run, thrill run, hingga olahraga paddle, linimasa dipenuhi unggahan keringat, outfit olahraga, hingga tangkapan layar aplikasi lari. Pertanyaannya, apakah tren ini lahir dari kesadaran hidup sehat atau sekadar FOMO (fear of missing out) semata.
Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani (Penjas) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Eko Sudarmanto, S.Pd., M.Or., menilai fenomena tersebut memiliki dua sisi yang perlu disikapi secara bijak.
“Olahraga yang sedang viral bisa menjadi pintu positif ketika muncul dari kesadaran diri untuk bergerak. Karena sejatinya olahraga adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar aktivitas sesaat,” ujarnya, Senin, (2/3).
Ketua Program Studi Penjas FKIP UMS, Dr. Eko Sudarmanto, S.Pd., M.Or
Menurut Eko, tren olahraga yang berganti-ganti mulai dari gym, fun run, hingga kini paddle tidak sepenuhnya negatif. Media sosial bahkan bisa menjadi pemantik awal seseorang untuk mulai aktif bergerak. Namun, ia mengingatkan bahwa motivasi yang hanya didorong tren berpotensi menimbulkan masalah.
“Kalau hanya reaktif karena melihat teman unggah Strava 10 kilometer lalu kita langsung daftar lari 15 kilometer tanpa persiapan, itu berbahaya. Olahraga harus terukur dan terstruktur,” tegasnya.
Ia mengibaratkan tubuh seperti galon yang hanya mampu menampung tiga liter, tetapi dipaksa diisi lima liter. Akibatnya, justru “pecah” atau dalam istilah olahraga disebut overtraining.
Eko menekankan bahwa olahraga harus dilakukan secara step by step. Jika targetnya mampu berlari 5 kilometer, maka latihan dimulai dari 1 kilometer, kemudian meningkat secara bertahap.
“Otot perlu adaptasi anatomi. Tubuh harus dikenalkan dulu dengan beban yang akan diterima. Dalam kepelatihan ada istilah set dan repetisi. Semua itu disusun untuk mencapai goal yang jelas,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahkan atlet profesional pun menjalani tahapan kondisi fisik umum, kondisi fisik khusus, pra-kompetisi, hingga kompetisi untuk mencapai puncak prestasi. Artinya, konsistensi dan struktur adalah kunci, bukan semangat sesaat.
Di era digital, pengaruh media sosial terhadap perilaku olahraga generasi muda sangat besar. Bangun tidur, membuka gawai, lalu melihat teman sudah berlari pagi akan mendorong seseorang untuk ikut bergerak dari sisi psikologis.
“Media sosial sangat mempengaruhi. Bisa jadi awalnya hanya gengsi, tapi itu tetap bisa menjadi pintu masuk positif,” katanya.
Namun, ia mengingatkan agar olahraga tidak semata-mata mengejar validasi sosial. Jika motivasi hanya bersifat eksternal, maka ketika tren meredup, semangat pun ikut hilang. Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis muncul rasa minder atau enggan memulai kembali.
Sebaliknya, ketika seseorang merasa “bersalah” jika tidak berolahraga, menurut Eko itu justru pertanda positif. “Artinya sudah mulai menjadi kebutuhan dan habit. Tujuannya bukan lagi sekadar psikologis karena tren, tapi memang kebutuhan tubuh,” ungkapnya.
Bagi generasi muda dengan aktivitas padat kuliah, organisasi, dan pekerjaan Eko menyarankan untuk tidak memaksakan jenis olahraga tertentu. Yang terpenting adalah mulai bergerak.
“Tidak usah sulit-sulit. Mau jalan keliling komplek, push-up, sit-up, atau sekadar peregangan setelah bangun tidur, itu sudah bagus. Yang penting mau bergerak dulu,” katanya.
Ia juga mendorong mahasiswa mencari komunitas yang sesuai minat. Komunitas dapat menjadi faktor pendorong konsistensi, sekaligus menghadirkan suasana menyenangkan dalam berolahraga.
Eko sepakat bahwa olahraga ringan namun konsisten jauh lebih baik daripada olahraga berat yang hanya bertahan sesaat. Analogi sederhana yang ia gunakan adalah makan sedikit setiap hari lebih baik daripada makan sekaligus dalam jumlah besar seminggu sekali.
“Olahraga kecil-kecil tapi rutin akan menjaga metabolisme tubuh tetap stabil. Daripada satu minggu tidak olahraga, lalu sekali olahraga langsung berat dan akhirnya overtraining,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa overtraining dapat memengaruhi otot, kapasitas paru-paru, hingga jantung. Bahkan kualitas tidur pun bisa terganggu, yang akhirnya berdampak pada motivasi berolahraga.
Di akhir perbincangan, Eko menyebut olahraga sebagai “obat alami” yang murah dan mudah diakses. Agar manfaatnya optimal, perlu pemahaman akan esensi, manfaat, serta risiko setiap jenis olahraga.
“Cari tahu dulu manfaatnya apa, risikonya apa, sesuaikan dengan kapasitas diri. Kalau sudah jadi kebutuhan, maka olahraga akan menjadi habit yang tidak terputus,” pungkasnya.
Fenomena olahraga viral memang tidak bisa dihindari di era media sosial. Namun, lanjut dosen UMS itu, dengan pendekatan yang terukur, terstruktur, dan berbasis kesadaran diri, tren tersebut justru dapat menjadi langkah awal menuju kesehatan jangka panjang. (Fika/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus penelitian berbasis swasta yang progresif melalui penyelenggaraan Sosialisasi Program Riset Strategis BRIN 2026–2030. Kegiatan ini menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah, Minggu (1/3).
Dalam paparannya, Arif menegaskan pentingnya roadmap riset nasional sebagai acuan bagi dosen dan mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Menurutnya, riset tidak boleh berhenti pada publikasi, tetapi harus memberi dampak nyata.
“Riset harus berdampak. Harus menjadi jawaban atas persoalan masyarakat dan industri. Karena kemajuan bangsa ditentukan oleh inovasi dan jumlah peneliti yang terlibat,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas langkah UMS dalam membangun identitas sebagai research university swasta yang konsisten memperkuat ekosistem riset.
“Saya bangga dengan komitmen UMS dalam membangun ekosistem riset. Semoga semakin maju, semakin sukses, dan semakin banyak karya yang dihilirkan,” tuturnya.
Arif mengutip teori Endogenous Growth dari peraih Nobel Ekonomi, Paul Romer, yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh riset dan pengembangan (research and development/R&D), inovasi, serta kualitas sumber daya manusia. Ia menjelaskan bahwa Global Innovation Index berkorelasi dengan GDP per kapita suatu negara. Semakin tinggi indeks inovasi, semakin tinggi pula daya saing dan kesejahteraan bangsa.
Namun, posisi Indonesia di kawasan ASEAN masih tertinggal, sehingga peningkatan kualitas riset menjadi pekerjaan rumah bersama, termasuk bagi perguruan tinggi.
“Kalau ingin maju, kita tidak bisa hanya mengirim proposal lalu berharap langsung disetujui. Yang dilihat adalah keseriusan membangun ekosistem riset secara konsisten,” tegasnya.
Dalam sesi reflektif, Arif berpesan agar membangun ekosistem riset yang saling melengkapi sesuai kompetensi dan karakter.
Arif turut menyoroti tantangan pola pikir masyarakat yang belum sepenuhnya berbasis sains. Ia mencontohkan fenomena viral seekor lele dengan bentuk unik yang justru ditanggapi secara supranatural.
“Ketika yang diwawancarai adalah tokoh spiritual dan disebut sebagai ‘lele keramat’, di situ kita melihat sains belum menjadi rujukan utama. Ini tantangan dunia pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari model institusi riset di Jerman seperti Max Planck Society untuk riset dasar, Leibniz Association untuk riset terapan, dan Fraunhofer Society yang fokus pada komersialisasi.
Ia juga menyinggung temuan Metal-Organic Framework (MOF) oleh ilmuwan Jepang, Susumu Kitagawa, yang mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan gas secara signifikan.
Selain itu, Silicon Valley berkembang pesat karena konsolidasi antara universitas seperti Stanford University dengan industri teknologi global seperti Apple Inc., Google, dan Tesla Inc.. Di Tiongkok, perusahaan seperti Huawei menunjukkan kekuatan riset korporasi dengan dominasi peneliti dalam struktur SDM-nya.
Melalui Program Riset Strategis 2026–2030, BRIN mendorong strategi leapfrogging atau lompatan teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi produsen inovasi. Konsolidasi antar perguruan tinggi menjadi kunci, termasuk kolaborasi UMS dengan kampus-kampus lain dalam model holding inovasi.
BRIN difokuskan pada riset berbiaya dan berisiko tinggi, sekaligus membuka peluang pendanaan bagi mahasiswa S2 dan S3, asisten peneliti, hingga post-doctoral.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri pertemuan ilmiah tersebut sebagai bagian dari “Tadarus Riset”, istilah yang menggambarkan semangat kolektif membangun budaya riset yang berkelanjutan.
Ia juga mendorong pembentukan riset unggulan yang berfokus pada pengurangan impor dan penguatan kebutuhan pokok nasional seperti pangan, energi, dan industri farmasi. (Fika/Humas)