by | 16 Oct 2026 | KabarMu |

BEM UMS Gelar Diskusi KIHAJAR: Kritisi Kebijakan Pendidikan hingga Maraknya Kekerasan Sekolah

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam (FAI) bersama BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar diskusi KIHAJAR (Kita Harus Belajar) pada Kamis (15/10/2026). Diskusi bertajuk “Darurat Pendidikan Nasional: Mengurai Kegagalan Kebijakan, Krisis Moral, dan Maraknya Kekerasan di Sekolah” tersebut diselenggarakan untuk membedah berbagai tantangan mendasar dalam dunia pendidikan nasional.

Pemateri pertama, Dafa Damara Gani, menyoroti deretan persoalan dalam kebijakan pendidikan nasional, termasuk keberlangsungan program Makan Bergizi Gratis (MBG), tingkat kesejahteraan guru, kerapnya perubahan kurikulum, hingga tingginya beban administrasi tenaga pendidik. Menurutnya, evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pendidikan sangat krusial agar pelaksanaan program tidak mengabaikan kebutuhan nyata para pendidik di lapangan.

“Kesejahteraan guru menjadi salah satu perhatian utama karena berkaitan dengan kondisi yang mendukung pelaksanaan pembelajaran secara optimal. Ketika persoalan kesejahteraan belum terselesaikan, konsentrasi dan kualitas pembelajaran berpotensi ikut terdampak,” ujar Dafa.

Ia menambahkan, perubahan kurikulum yang kerap menyertai pergantian pejabat menteri menuntut adaptasi terus-menerus dari para guru. Beban administrasi yang berat turut menyita waktu produktif tenaga pendidik yang seharusnya dialokasikan untuk mendampingi peserta didik serta mempersiapkan materi pembelajaran.

Sementara itu, pemateri kedua, M. Fadlan Ansori, menekankan pentingnya mengembalikan pembentukan akhlak dan nilai moral sebagai pijakan utama pendidikan. Dalam perspektif Islam, ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari nilai moral, sehingga proses belajar mengajar harus diarahkan pada pembentukan manusia yang beradab dan bertanggung jawab.

Fadlan menggarisbawahi perlunya tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa serta pelurusan niat dalam menuntut ilmu. Ia juga mengaitkan persoalan ini dengan pemikiran Paulo Freire mengenai banking concept of education, yakni pola pendidikan otoriter yang menempatkan guru sebagai satu-satunya pemberi pengetahuan dan siswa sebagai penerima pasif.

“Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui pencapaian akademik, tetapi juga melalui pembentukan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari,” kata Fadlan.

Ia menilai, pendekatan pembelajaran yang dialogis dan manusiawi perlu diterapkan untuk memberikan ruang bagi peserta didik dalam berpikir kritis, sekaligus menjadi langkah preventif terhadap normalisasi kekerasan di lingkungan sekolah.

Gubernur BEM FAI UMS, Muhammad Arya Kautsar, menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar sebagai upaya menjaga tradisi intelektual dan nalar kritis di lingkungan kampus.

“Persoalan pendidikan nasional perlu dikaji tidak hanya dari sisi kebijakan, tetapi juga melalui refleksi terhadap nilai-nilai yang mendasari praktik pendidikan dan dampaknya terhadap kehidupan guru maupun peserta didik,” ujar Arya.

Melalui diskusi KIHAJAR ini, BEM FAI dan BEM FKIP UMS berharap mahasiswa dapat terus berperan aktif dalam mengkaji isu-isu strategis kemasyarakatan serta menyumbangkan gagasan bagi pembenahan sistem pendidikan nasional yang berkesinambungan.

Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Artikel terkait