muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Program Studi (Prodi) Teknik Industri Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menjadi tuan rumah pertemuan Badan Kerjasama Penyelenggara Pendidikan Teknik Industri (BKSTI) Korwil Jawa Tengah. Pertemuan bertajuk Sharing Session Capstone Design dan Penelitian ini digelar untuk membahas standardisasi implementasi Capstone Design sebagai tugas akhir mahasiswa Teknik Industri.
Acara yang berlangsung pada Jumat (12/6/2026) tersebut bertempat di Ruang Seminar Lantai 5 Gedung Pascasarjana Fakultas Psikologi UMS, serta dihadiri oleh perwakilan dosen dan pengelola prodi Teknik Industri se-Jawa Tengah.
Capaian Strategis Teknik Industri UMS
Dekan FT UMS, Prof. Ir. Mochamad Solikin, Ph.D., menyambut baik penunjukan Teknik Industri UMS sebagai pusat pertemuan spesial ini. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kepercayaan yang diberikan oleh pengurus BKSTI Jateng.
Solikin mengungkapkan bahwa meskipun Teknik Industri merupakan prodi paling bungsu yang berdiri di bawah naungan FT UMS, prodi ini telah mengantongi berbagai capaian luar biasa.
“Prodi Teknik Industri UMS di tahun 2026 ini telah membuka program magister. Di sisi lain, prodi ini juga meraih akreditasi IABEE (Indonesian Accreditation Board for Engineering Education) dan menjadi prodi pertama yang terakreditasi IABEE di FT UMS,” ujar Solikin, Jumat (12/6/2026).
Penyelarasan Standar Capstone Design di Jawa Tengah
Ketua BKSTI Korwil Jawa Tengah, Ir. Affan Rifa’i, S.T., M.T., menjelaskan bahwa forum ini dibentuk karena pemahaman detail mengenai penyelenggaraan Capstone Design belum tersebar secara merata di seluruh kampus wilayah Jawa Tengah. Melalui pertemuan ini, kampus-kampus yang telah mapan menerapkan kurikulum tersebut dapat bertindak sebagai mentor.
Affan memaparkan kondisi riil kesiapan institusi pendidikan tinggi di wilayahnya:
70% Kampus: Telah mengimplementasikan sistem Capstone Design.
30% Kampus: Masih memerlukan pendampingan dan penyamaan persepsi standar kualitas.
“Lewat sharing pengalaman, ide, dan berbagai capaian, pelaksanaan Capstone Design diharapkan dapat diduplikasi dan dikembangkan secara optimal serta berkualitas di masing-masing kampus yang ada,” terang Affan.
Transformasi ke Penilaian Berbasis OBE
Dalam sesi pemaparan materi, perwakilan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Ir. Eko Liquiddanu, S.T., M.T., menegaskan pentingnya mengubah paradigma penilaian tradisional ke arah Outcome-Based Education (OBE). Menurut Eko, dunia kerja saat ini menjadikan pengalaman dan penguasaan kompetensi nyata sebagai penentu utama seleksi. Penilaian OBE dinilai paling akurat dalam mengukur kapasitas kompetensi riil mahasiswa.
Menanggapi hal tersebut, Kaprodi Teknik Industri UMS, Siti Nandiroh, S.T., M.Eng., membagikan skema yang diterapkan di UMS. Kurikulum Capstone Design di UMS sendiri diadopsi berdasarkan rekomendasi langsung dari tim asesor saat proses akreditasi, yang ditempatkan pada semester tujuh dan delapan.
Tujuan utama program ini adalah melatih mahasiswa menyelesaikan problematika dunia industri secara holistik, multidisiplin, dan terintegrasi—mulai dari tahap pengembangan produk hingga tata kelola operasional bisnis.
Siti menerangkan pembagian fokus praktikum di Teknik Industri UMS:
Semester Tujuh: Mahasiswa difokuskan pada perencanaan sebuah produk.
Semester Delapan: Mahasiswa difokuskan pada perancangan tata letak fasilitas industri.
Untuk menjaga objektivitas dan kualitas lulusan, UMS menerapkan empat kriteria penilaian ketat, yang meliputi penilaian individu, penilaian kelompok, peer-assessment (penilaian antar-rekan sejawat), hingga stakeholder assessment (penilaian dari pemangku kepentingan industri).















