muhammadiyahkaranganyar.or.id, JUMANTONO – Semangat dakwah dan penguatan ukhuwah Muhammadiyah kembali digaungkan dalam kegiatan Turba dan Kajian Anjangsana Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jumantono yang digelar di Masjid Al Ikhlas, Ngadirejo, Ngunut, Jumantono, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 15.30 WIB tersebut dihadiri ratusan peserta dari berbagai unsur persyarikatan. Hadir jajaran PCM Jumantono, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Jumantono, pengurus majelis dan lembaga di lingkungan PCM Jumantono, para ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Jumantono, serta jamaah Masjid Al Ikhlas dan masyarakat sekitar.
Kehadiran berbagai unsur persyarikatan tersebut menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam membangun gerakan dakwah Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting. Turba dan kajian anjangsana menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, menyampaikan perkembangan organisasi, sekaligus menyatukan langkah dalam menjalankan program dakwah di tengah masyarakat.
Kegiatan diawali dengan sambutan sekaligus ucapan selamat datang dari Ketua PRM Ngadirejo, Suratman. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran PCM Jumantono, pengurus majelis dan lembaga, para ketua PRM se-Jumantono, serta seluruh jamaah yang mengikuti kegiatan tersebut.
Selanjutnya, Ketua PCM Jumantono, Drs. Mustaqim, M.Pd.I., menyampaikan sambutan sekaligus laporan perkembangan dakwah Muhammadiyah di wilayah Jumantono. Ia juga memaparkan perkembangan pembangunan MTs Muhammadiyah 5 Jumantono yang menjadi salah satu bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dalam memperluas kebermanfaatan di bidang pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Mustaqim mengajak seluruh jamaah dan kader untuk terus menumbuhkan semangat dalam bermuhammadiyah. Menurutnya, keberlangsungan gerakan Muhammadiyah tidak terlepas dari kontribusi dan partisipasi seluruh elemen persyarikatan, mulai dari pimpinan cabang, majelis dan lembaga, hingga pimpinan ranting.
Memasuki sesi utama, kajian disampaikan oleh Ustaz Suparno, S.Hi., M.Ag., anggota Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas (MTDK) PDM Karanganyar. Dalam kajiannya, ia mengangkat tema pentingnya berdakwah serta kemuliaan orang-orang yang mengambil bagian dalam mengajak manusia kepada kebaikan.
Menurut Suparno, dakwah bukan semata-mata aktivitas menyampaikan ceramah, melainkan sebuah panggilan untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Karena itu, setiap aktivitas dakwah harus dibangun di atas niat yang lurus dan keikhlasan.
“Dalam berdakwah harus ikhlas, lillahi ta’ala, untuk menegakkan agama Allah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan dakwah tidak selalu mudah. Seorang dai maupun kader Muhammadiyah harus memiliki kesabaran, keteguhan hati, dan kesiapan untuk menghadapi berbagai dinamika dalam perjuangan.
Untuk menguatkan pesan tersebut, Suparno mengisahkan keteladanan sahabat Nabi, Khalid bin Walid. Khalid dikenal sebagai panglima perang yang meraih banyak kemenangan dalam peperangan yang dipimpinnya. Namun, ketika Umar bin Khattab mengambil keputusan untuk menggantinya dari posisi panglima, Khalid menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.
Sikap Khalid bin Walid, menurut Suparno, merupakan gambaran penting tentang keikhlasan dan ketaatan dalam perjuangan. Pergantian posisi tidak membuatnya berhenti berjuang. Ia tetap menjadi bagian dari barisan kaum Muslimin karena orientasinya bukan jabatan, melainkan tegaknya agama Allah.
Keputusan Umar bin Khattab tersebut juga dapat dipahami sebagai bagian dari upaya Amirul Mukminin menjaga kemurnian akidah kaum Muslimin agar kemenangan tidak semata-mata dikaitkan dengan figur tertentu, melainkan tetap diyakini sebagai pertolongan dari Allah SWT.
Pesan tersebut kemudian ditarik dalam konteks kehidupan bermuhammadiyah. Suparno mengajak jamaah agar menjadikan Muhammadiyah sebagai wadah untuk memperluas kebermanfaatan dan menguatkan dakwah.
“Jadikan Muhammadiyah ini sebagai sarana kita berdakwah, jangan mengharapkan yang lain. Mari kita luruskan tujuan kita berjam’iyah, bermuhammadiyah,” ujarnya.
Kajian berlangsung hangat dan interaktif. Para jamaah tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif mengikuti sesi diskusi. Sejumlah persoalan keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat menjadi bahan pembahasan, di antaranya persoalan menikahkan perempuan yang telah hamil, hukum dan pelaksanaan akikah bagi anak, serta pembahasan mengenai kaitannya dengan syafaat.
Sesi diskusi menjadi ruang bagi jamaah untuk menyampaikan pertanyaan sekaligus memperdalam pemahaman keislaman. Suasana dialog yang terbuka membuat kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi berkembang menjadi ruang belajar bersama antara mubalig dan jamaah.
Selain kajian dan diskusi, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan aksi sosial melalui pentasyarufan bantuan dari Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) PCM Jumantono. Sebanyak 10 paket sembako disalurkan kepada jamaah Masjid Al Ikhlas Ngadirejo yang berhak menerima.
Pentasyarufan tersebut menjadi bentuk nyata bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya hadir melalui mimbar dan kajian, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian sosial. Dakwah diharapkan mampu menyentuh aspek spiritual sekaligus menghadirkan manfaat secara langsung bagi kehidupan masyarakat.
Kegiatan Turba dan Kajian Anjangsana PCM Jumantono ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara pimpinan cabang, majelis dan lembaga, pimpinan ranting, Aisyiyah, serta jamaah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk menyatukan langkah dan memperkuat gerakan dakwah Muhammadiyah di wilayah Jumantono.
Dari Masjid Al Ikhlas Ngadirejo, pesan yang mengemuka sederhana tetapi mendalam: dakwah membutuhkan keikhlasan, perjuangan membutuhkan kesabaran, dan berorganisasi membutuhkan kelurusan niat. Muhammadiyah diharapkan terus menjadi jalan pengabdian untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan masyarakat.
Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dengan baik, lancar, dan penuh suasana kekeluargaan.















