muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Karanganyar, Ustadz Teguh Anshori, membagikan rekam jejak perjuangannya dari seorang anak panti asuhan hingga berhasil menjadi akademisi dan pimpinan persyarikatan. Kisah inspiratif tersebut disampaikan dalam Kajian Selasa Malam Rabu di Pendopo KH Ahmad Dahlan Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Karanganyar, Selasa (22/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, alumni Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Karanganyar itu menekankan bahwa keterbatasan masa lalu bukanlah penghalang untuk meraih masa depan. Ia mengenang masa-masa sulit saat harus mencari uang saku sendiri bersama rekan-rekannya di panti.
“Kalau tidak punya uang, kami mencari kembang kantil dan bekas cup air minum untuk dijual,” ujar Teguh di hadapan para santri. Ia juga mengungkapkan pernah melakoni peran menggembala kambing demi bertahan hidup.
Empat Pesan Kaderisasi untuk Santri
Di hadapan para santri, Teguh menyampaikan empat pesan utama yang menjadi fondasi pembentukan karakter dan kemandirian:
Membangun mental dan pantang berkecil hati: Menjadi anak panti bukan alasan untuk merasa rendah diri, melainkan tempat menempa ketangguhan karakter.
Wujud rasa syukur nyata: Mengutip Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7, rasa syukur atas fasilitas panti diwujudkan melalui perilaku positif dan keaktifan di organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah.
Fokus belajar dan kembangkan potensi: Memanfaatkan kemudahan fasilitas pendidikan masa kini yang sudah terjamin, berbeda dengan generasinya terdahulu.
Aktif dalam organisasi: Menjadikan organisasi sebagai ruang utama kaderisasi dan pembentukan kepemimpinan.
Perjuangan Pendidikan dan Kemandirian
Perjalanan akademik dan karir Teguh diraih melalui kerja keras. Usai menamatkan pendidikan di SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar, ia menempuh pendidikan S1 secara bersamaan di dua perguruan tinggi, yakni STAI Mambaul Ulum Surakarta (kini Institut Islam Mambaul Ulum/IIM Surakarta) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sambil tetap tinggal di panti.
Untuk membiayai kuliah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Teguh melakoni berbagai pekerjaan, mulai dari buruh bangunan hingga terlibat dalam program distribusi gas LPG 3 kg pada masa awal peluncurannya. Kesibukan tersebut tidak menghalanginya untuk aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) selama kurang lebih 11 tahun, dari tingkat ranting hingga pusat.
Teguh menyelesaikan studi S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan kini tercatat sebagai dosen di IIM Surakarta, Sekretaris PDM Karanganyar, serta tengah menempuh program doktoral (S3) di UMS.
Panti Sebagai Ekosistem Pembentuk Karakter
Teguh menegaskan bahwa panti asuhan bukan sekadar tempat tinggal dan penyedia fasilitas fisik, melainkan ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan kaderisasi Muhammadiyah.
Ia menutup kajian dengan mengajak para santri untuk membuktikan diri sebagai pewaris peradaban Muhammadiyah dan tidak melupakan asal-usul mereka ketika telah meraih keberhasilan.
“Ketika suatu hari nanti Allah memberikan kesempatan untuk berdiri di tempat yang lebih tinggi, jangan lupa bahwa pernah ada sebuah rumah yang ikut membentuk langkah pertama. Rumah itu adalah Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Karanganyar,” tuturnya.















