muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR – Pendopo KH. Ahmad Dahlan Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Karanganyar kembali menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak panti melalui Kajian Selasa Malam Rabu, Selasa (15/9/2026). Seluruh anak panti mengikuti kajian yang menghadirkan Ustadz Nur Wijayanto, S.Pd., M.Pd., Kepala SMP Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar.
Kajian malam itu mengangkat pembahasan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah. Namun, di balik pembahasan mengenai Manhaj Tarjih, terselip pesan yang jauh lebih personal dan menyentuh: sebuah kisah perjalanan hidup seorang anak panti yang menolak menyerah pada keterbatasan.
Ustadz Nur tidak hanya datang sebagai seorang pendidik dan kepala sekolah. Ia datang sebagai seseorang yang pernah merasakan sendiri kehidupan di panti tersebut.
Karena itu, nasihat yang disampaikan kepada anak-anak panti bukan sekadar teori. Ada pengalaman panjang yang menjadi kesaksian bahwa pendidikan, ibadah, kerja keras, dan pertolongan Allah dapat mengubah jalan kehidupan seseorang.
Mengawali kajian, Ustadz Nur menjelaskan tentang Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah dan alasan Muhammadiyah membutuhkan pedoman tersebut.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki Manhaj Tarjih, yaitu metode dalam memahami dan menentukan pandangan keagamaan dengan mencari dasar dan jalan yang paling kuat berdasarkan dalil.
“Manhaj Tarjih itu mencari jalan yang kuat,” jelasnya.
Bagi Muhammadiyah, tradisi tarjih bukan sekadar persoalan memilih pendapat. Ia merupakan bagian dari tradisi intelektual untuk memastikan kehidupan keagamaan memiliki landasan yang kuat, argumentatif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari pembahasan tersebut, Ustadz Nur Wijayanto kemudian menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, sebagaimana dalam memahami agama diperlukan ikhtiar untuk mencari jalan yang kuat, demikian pula dalam menjalani kehidupan diperlukan kesungguhan untuk mencari jalan terbaik dengan tetap bertawakal kepada Allah SWT.
Ustadz Nur kemudian membuka lembaran perjalanan hidupnya. Ia pernah berada pada kondisi sulit hingga tidak mampu melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Namun, kebiasaannya mengikuti salat berjamaah di masjid mempertemukannya dengan seorang tetangga yang kemudian menawarkan bantuan agar dirinya dapat melanjutkan pendidikan.
Ia kemudian diantar ke Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Karanganyar. Di tempat itulah jalan pendidikannya kembali terbuka.
“Saya ditawari mau sekolah SMA atau SMK. Saya berpikir, kalau nanti sekolah SMA paling saya tidak bisa kuliah. Akhirnya saya memilih SMK supaya setelah lulus bisa bekerja,” kisahnya.
Pilihan itu membawanya menjadi siswa SMK N 2 Karanganyar. Kehidupan sebagai anak panti membuatnya terbiasa hidup sederhana. Ia mengaku selama sekolah hampir tidak pernah jajan. Bekal makanan dibawa dari panti. Ia juga aktif dalam kegiatan keislaman dan pernah dipercaya menjadi Ketua Rohis.
Keterbatasan tidak membuatnya berhenti bergerak. Justru dari keterbatasan itu tumbuh kemandirian dan kedisiplinan.
Selepas SMK, Ustadz Nur Wijayanto sempat berencana langsung bekerja. Ia mengikuti proses rekrutmen PT PAMA yang ketika itu dilaksanakan di SMK Warga Solo.
Tahapan demi tahapan berhasil dilaluinya. Hampir seluruh tes berhasil ia lewati. Namun, ia akhirnya gagal hanya karena satu persyaratan: tinggi badan kurang satu sentimeter.
Bagi sebagian orang, kegagalan itu mungkin menjadi akhir dari sebuah harapan. Namun, bagi Ustadz Nur Wijayanto, justru di situlah Allah membuka pintu yang lain. Tidak lama kemudian, ia mendapatkan kesempatan memperoleh beasiswa kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia memilih UMS karena lebih dekat dengan Karanganyar.
“Saya sebenarnya tidak punya pandangan untuk kuliah. Tetapi ternyata Allah memberikan rezeki yang tidak disangka-sangka,” tuturnya.
Awalnya ia diterima di jurusan Matematika. Namun, karena proses beasiswa masih berlangsung dan terdapat kebutuhan biaya sekitar Rp7,5 juta untuk konversi nilai, ia memilih berpindah jurusan. Baginya, kesempatan untuk kuliah jauh lebih berharga daripada memaksakan pilihan jurusan.
“Yang penting bisa kuliah saja, saya bersyukur,” katanya.
Perjalanan kuliahnya juga tidak berlangsung dalam kemewahan. Ia pernah tidur di komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai tempat kos nya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di Solo, ia bekerja menyetori es pada siang hari dan menjadi penjaga warnet pada malam hari. Kuliah, bekerja, dan berorganisasi dijalani secara bersamaan.
Namun, keterbatasan itu tidak menghentikan langkahnya. Dengan ketekunan dan dukungan berbagai pihak, ia berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi selama empat tahun tanpa biaya kuliah. Bahkan, sebelum kuliahnya selesai, ia telah mendapatkan tawaran bekerja di SMP Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar.
Ia mengawali pengabdiannya sebagai tenaga tata usaha. Dari sana, perjalanan profesional dan pendidikannya terus berkembang hingga kini dipercaya menjadi Kepala SMP Muhammadiyah Darul Arqam Karanganyar. Pendidikan S2 pun berhasil ditempuhnya tanpa biaya.
Kisah itu menjadi bukti bahwa jalan kehidupan tidak selalu lurus seperti yang direncanakan manusia. Terkadang pintu yang tertutup justru mengarahkan seseorang kepada pintu yang jauh lebih besar.
Di hadapan anak-anak panti, Ustadz Nur Wijayanto kemudian menyampaikan pesan yang terasa sangat dekat dengan kehidupan mereka. Ia meminta anak-anak panti tidak pernah merasa rendah diri hanya karena mereka tumbuh dalam keterbatasan.
“Adik-adikku, kalian jangan minder. Ikhtiarnya ditingkatkan, ibadahnya ditingkatkan, belajarnya ditingkatkan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar kehidupan di panti dijalani dengan disiplin.
“Di panti tidak usah neko-neko. Waktunya belajar, belajar. Waktunya sekolah, sekolah. Waktunya pulang sekolah, ya pulang,” ujarnya.
Menurutnya, anak-anak panti memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan. Yang dibutuhkan adalah kesungguhan dalam menjalani proses. Ia juga berpesan agar mereka menjaga hubungan baik dengan orang tua dan terus memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
“Jaga hubungan baik dengan orang tua, jaga hubungan baik dengan Allah. Insyaallah rezeki Allah akan datang,” tegasnya.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam QS At-Talaq ayat 2–3, bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa.
Kisah hidup Ustadz Nur Wijayanto menjadi gambaran nyata bagaimana pesan tersebut dapat direnungkan dalam perjalanan kehidupan.
Pernah hampir putus sekolah, kemudian masuk panti. Memilih SMK karena khawatir tidak mampu melanjutkan kuliah. Gagal mendapatkan pekerjaan hanya karena kekurangan tinggi badan satu sentimeter. Kemudian memperoleh beasiswa kuliah. Hidup sederhana sambil bekerja. Menyelesaikan kuliah. Mendapatkan pekerjaan sebelum wisuda. Melanjutkan S2. Hingga akhirnya dipercaya memimpin lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Semua itu tidak datang secara tiba-tiba. Ada ikhtiar, ada doa, ada disiplin, ada kesabaran, ada pertolongan orang lain, dan yang paling utama ada keyakinan bahwa Allah SWT selalu memiliki jalan bagi hamba-Nya.
Kajian Selasa Malam Rabu malam itu akhirnya tidak hanya menjadi forum pembelajaran mengenai Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Lebih dari itu, kajian menjadi ruang transfer pengalaman dan keteladanan.
Seorang yang dahulu pernah menjadi anak panti kini kembali ke tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia datang bukan sekadar untuk berceramah, tetapi untuk mengatakan kepada adik-adiknya bahwa masa depan tidak ditentukan oleh keadaan hari ini.
Panti bukan akhir dari perjalanan. Panti justru dapat menjadi tempat seseorang ditempa untuk mandiri, berilmu, berakhlak, dan kemudian kembali memberi manfaat bagi orang lain.
Di situlah nilai penting pendidikan Muhammadiyah menemukan maknanya: mendidik bukan hanya untuk membuat seseorang pintar, tetapi membentuk manusia yang mampu bangkit, berkemajuan, dan memberi manfaat bagi kehidupan.
Kisah Ustadz Nur Wijayanto malam itu menjadi pesan sederhana namun kuat bagi seluruh anak panti: jangan minder karena keadaan, jangan berhenti karena keterbatasan, dan jangan pernah berhenti mengetuk pintu pertolongan Allah. Sebab, sebagaimana pengalaman hidupnya sendiri, ketika satu jalan tertutup, Allah dapat membuka jalan lain yang sama sekali tidak pernah disangka.















