muhammadiyahkaranganyar.or.id, GONDANGREJO – Puluhan pendidik yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Melati menunjukkan semangat tinggi dalam upaya meningkatkan kompetensi profesional mereka. Bertempat di TK Aisyiyah III Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kamis (29/1/2026), para guru ini berkumpul bukan sekadar untuk memenuhi rutinitas, melainkan melakukan transformasi metode pembelajaran anak usia dini melalui seni mendongeng.
Kegiatan diawali dengan khidmat melalui pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an atau tadarus yang dipandu oleh Husna Azizah Khairatun Nisa. Agenda spiritual ini menjadi pengingat bagi para peserta bahwa dedikasi seorang pendidik harus berlandaskan pada nilai-nilai spiritualitas yang kokoh. Atmosfer religius tersebut menjadi pondasi sebelum para guru memasuki materi teknis kependidikan dan pembinaan profesi.
Usai sesi tadarus, acara dilanjutkan dengan pembinaan dinas yang menghadirkan Pengawas TK, Sutini, serta Penilik PAUD, Witri Nur Affidah. Dalam arahannya, Sutini menekankan pentingnya adaptasi guru terhadap kurikulum yang terus berkembang secara dinamis. Di sisi lain, Witri memberikan sorotan tajam pada aspek manajerial organisasi sekolah serta penguatan karakter anak didik sejak usia dini.
Witri menyampaikan bahwa peran guru PAUD sangat krusial karena mereka adalah arsitek peradaban yang bertugas meletakkan fondasi moral bagi generasi mendatang. “Guru harus mampu menjadi teladan sekaligus manajer yang baik di kelas agar nilai-nilai karakter dapat terinternalisasi dengan sempurna pada diri anak,” ujar Witri dalam paparan materinya.
Memasuki puncak acara, para peserta diajak mendalami teknik mendongeng bersama Ilham. Dalam dunia pendidikan anak usia dini, mendongeng kini dipandang sebagai instrumen pedagogis yang ampuh. Teknik ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga efektif untuk menanamkan nilai moral, memperkaya kosakata, serta mengasah daya imajinasi anak secara natural.

Ilham membagikan berbagai teknik praktis kepada para guru, mulai dari penguasaan olah vokal, ekspresi wajah, hingga penggunaan alat peraga sederhana. Para pendidik tampak antusias mempraktikkan cara menghidupkan karakter cerita agar pesan yang disampaikan dapat meresap ke dalam sanubari anak-anak tanpa memberikan kesan menggurui atau mendikte.
Salah satu peserta KKG menyatakan bahwa pelatihan ini sangat membuka wawasan baru dalam berinteraksi dengan siswa di kelas. Ia berpendapat bahwa mendongeng adalah jembatan hati yang paling efektif antara guru dan murid untuk membangun kedekatan emosional.
Penyelenggaraan KKG di Gugus Melati ini membuktikan bahwa kolaborasi antar-pendidik menjadi kunci utama kemajuan pendidikan di tingkat kecamatan. Dengan bimbingan dari pengawas dan penilik serta pelatihan keterampilan teknis, guru-guru di Gondangrejo diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna. Semangat literasi yang ditebarkan hari ini diharapkan tumbuh subur di setiap ruang kelas TK di seluruh wilayah Krendowahono sebagai investasi jangka panjang pendidikan bangsa.















