muhammadiyakaranganyar.or.id, Upaya nyata pelestarian lingkungan kembali digaungkan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Ngasem melalui aksi sosial berkelanjutan. Pada Minggu (1/2/2026), Desa Ngasem, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, menjadi titik fokus gerakan menanam seribu pohon sebagai langkah strategis dalam mengantisipasi bencana banjir di wilayah tersebut.
Mengusung tema “Bhakti Penghijauan Desa Ngasem”, acara ini berlangsung meriah dengan partisipasi aktif warga. Sebanyak 1.500 bibit tanaman dibagikan dan ditanam secara massal. Jenis bibit yang disiapkan cukup variatif, mulai dari tanaman hias hingga tanaman produktif seperti pucuk merah, tabebuya, pete, sirsak, glodog pecut, serta munggur.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda internal organisasi, tetapi juga melibatkan kolaborasi lintas sektor. Terlihat hadir dalam acara tersebut Camat Colomadu, perwakilan BPP Kecamatan Colomadu, Lurah Ngasem, Ketua PRM dan PRA Ngasem, tokoh masyarakat, hingga jajaran pendidik dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Ngasem serta Ketua PCM Colomadu.

Di lahan terbuka Desa Ngasem, ratusan warga bahu-membahu menanam bibit pohon pengikat tanah dan pelindung, seperti mahoni dan alim. Penanaman jenis pohon ini dipilih secara khusus karena kemampuannya dalam menyerap aliran air berlebih, sehingga diharapkan dapat memperkuat ekosistem lokal dan meminimalisir risiko banjir yang kerap mengintai saat musim penghujan.
Camat Colomadu memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang digerakkan oleh warga Ngasem. Ia menekankan bahwa langkah antisipasi terhadap kerusakan lahan harus dilakukan sejak dini meski dampak penggundulan hutan mungkin terjadi di wilayah lain.
“Kami sangat mengapresiasi upaya masyarakat Desa Ngasem dalam mengantisipasi penggundulan hutan. Dengan keyakinan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT, manusia harus terus berikhtiar,” ungkap Camat Colomadu dalam sambutannya. Ia juga berharap agar gerakan ini tidak berhenti pada seremoni belaka, melainkan berlanjut pada tahap perawatan jangka panjang dengan dukungan organisasi seperti Muhammadiyah.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah 10 Surakarta di bawah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, menyatakan dukungan penuhnya. Menurutnya, keberlanjutan adalah kunci dari keberhasilan penghijauan.
“Penting agar kegiatan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga berkelanjutan melalui perawatan tanaman untuk memastikan manfaat bagi masyarakat luas. Ini menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda sebagai pionir pelestarian lingkungan,” jelas perwakilan Dinas Kehutanan tersebut.
Melalui sinergi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan sektor pendidikan, Desa Ngasem kini diproyeksikan menjadi model pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan di Karanganyar.















