muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Studium General Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan menyoroti tantangan besar umat Islam di era disrupsi. Acara bertema “Wawasan Wasathiyah dan Ijtihad Maqasidi dalam Manhaj Tarjih” ini berlangsung di Gedung Pascasarjana Lantai 5 UMS, Ahad (1/2/2026).
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas hadir sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, Hamim menegaskan bahwa problem fundamental yang dihadapi umat saat ini adalah ketidaksiapan melakukan transformasi dari masyarakat pra-modern menuju masyarakat modern yang berbasis teknologi.

“Kita hidup di zaman modern, tetapi realitas sosial umat Islam masih banyak yang pra-modern. Inilah problem utama yang harus disadari dan dijawab bersama,” ujar Hamim di hadapan ratusan mahasantri.
Hamim menjelaskan bahwa Al-Qur’an dalam Surah Al-Anfal ayat 65-66 sejatinya menggambarkan umat Islam sebagai sosok yang kuat dan unggul. Namun, kenyataan di lapangan justru menunjukkan kesenjangan lebar. Menurutnya, masyarakat modern ditandai dengan penguasaan produksi berbasis industri, informasi, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Sayangnya, Hamim melihat banyak umat Islam yang masih terjebak pada pola agraris tradisional yang hanya mengandalkan tenaga fisik manusia atau hewan. Kondisi ini menempatkan umat pada posisi terbawah dalam rantai produksi global.
“Akibatnya, hampir seluruh aspek kehidupan kita bergantung pada produk industri pihak luar. Kita menjadi konsumen, bukan produsen,” tegas Hamim menyayangkan ketergantungan tersebut.
Kendati mendorong modernitas, Hamim mengingatkan bahwa menjadi modern tidak berarti menanggalkan nilai-nilai religius. Dalam perspektif Muhammadiyah, kemajuan harus berdiri di atas fondasi keimanan yang kokoh. Hal ini tertuang dalam Manhaj Tarjih yang mengedepankan semangat tajdid atau pembaruan.

Dalam metodologinya, Muhammadiyah menggunakan pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani. Integrasi ketiga pendekatan ini menghasilkan pemahaman Islam yang moderat (wasathiyah), rasional, namun tetap memiliki kedalaman spiritual. Hamim menambahkan bahwa Islam harus berfungsi sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan nyata di dunia dan akhirat.
Ia menutup sesi dengan menekankan bahwa visi hidup Islami adalah mencapai kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan yang hakiki. Melalui forum ini, Pondok Shabran UMS berharap para mahasantri memiliki kesiapan intelektual untuk merespons tantangan zaman secara inklusif dan substantif.















