by | 15 Apr 2026 | Pendidikan |

Tembus Kerja Sama RI-Prancis, Dosen UMS Menangkan Hibah Penelitian PHC Nusantara

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mencatatkan capaian gemilangnya dalam bidang penelitian, melalui dua dosen dan dua mahasiswa memperoleh Pendanaan Penelitian Program PHC-Nusantara. Program ini adalah hibah tahunan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia yang berkolaborasi dengan pemerintah Prancis.

Program Partenariat Hubert Curien (PHC) ini mendorong Kerjasama antara dosen dan peneliti yang ada di Indonesia dan dosen dan peneliti yang ada di Prancis. Kolaborasi ini tak hanya dalam segi penelitian, kolaborasi ini juga mencakup anggaran dan luaran dari penelitian yang akan dilaksanakan.

Dua Dosen FT UMS itu adalah Ir. Sri Sunarjono, M.T., Ph.D., sebagai ketua Tim dan Rama Rizana, S.T., M.Sc., sebagai anggota. Tim penelitian ini juga didukung oleh mahasiswa S2 dari Teknik Sipil UMS dan S3 Universitas Sebelas Maret. Selain itu juga melibatkan dosen senior bersama Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kemudian Ketua Tim Perancis yaitu Dr. Ferhat Hammoum dari Université Gustave Eiffel bersama 2 anggotanya. Dengan mengangkat judul penelitian “Indonesia Sustainable Pavement Innovation with self-healing for Resilient and Economical Roads”.

Rama Rizana, selaku anggota tim penelitian, menjelaskan konsep penelitian yang akan ia lakukan bersama tim.

“Penelitian ini mengusulkan inovasi campuran aspal jalan yang memiliki kemampuan menyembuhkan diri sendiri (self-healing) ketika mengalami keretakan akibat beban maksimal, mengadaptasi konsep yang sebelumnya lebih banyak diterapkan pada struktur beton. Karena aspal pada dasarnya memiliki sifat viskoelastis, kemampuan pemulihan mandiri tersebut dapat dioptimalkan dengan menambahkan material khusus berupa nano karbon yang diekstrak dari limbah pembakaran tempurung kelapa atau kelapa sawit,” ujarnya, Minggu, (12/4).

Rama juga menjelaskan tentang kolaborasi dengan pihak Prancis untuk memaksimalkan penelitian tim nya.

“Untuk memaksimalkan pelaksanaan riset, khususnya dalam tahap metodologi dan analisis data yang mendalam, penelitian ini dilakukan secara kolaboratif dengan mitra peneliti dari Prancis yang memiliki teknologi dan rekam jejak riset lebih maju di bidang material tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rama menegaskan bahwa penelitian yang ia lakukan bersama tim mempunyai banyak inovasi, karena di Indonesia belum ada yang menelitinya.

“Mengenai penelitian yang saya akan lakukan bersama tim ini, juga sependek pengetahuan saya, belum ada penelitian yang serupa. Intinya banyak ruang inovasi dalam penelitian kali ini,” katanya.

Di sisi lain, Rama juga mengungkapkan bahwa penelitiannya mempunyai tantangan dalam keberdampakannya dalam pengaplikasiannya, karena membutuhkan jangka waktu yang lama.

“Terkait target penerapan teknologi aspal self-healing ini, tim peneliti mengakui bahwa implementasi di lapangan masih menjadi tantangan karena riset yang dilakukan saat ini baru berada pada skala laboratorium. Meskipun terdapat beberapa rencana penelitian yang berjalan secara paralel untuk menjembatani hal tersebut, penerapan teknologi ini secara nyata di jalan raya tetap membutuhkan tahapan pengujian dan penelitian lanjutan dengan skala lapangan,” tambahnya.

Meskipun ada sedikit tantangan, Rama tetap optimis dalam penelitiannya, karena berkolaborasi dengan pihak Prancis.

“Untuk mendukung kelanjutan dan kedalaman riset tersebut, kolaborasi dengan mitra dari Prancis memegang peranan krusial karena mereka melibatkan kepakaran dari disiplin ilmu material dan kimia, bukan sekadar teknik sipil. Jika keilmuan teknik sipil umumnya hanya berfokus pada hasil akhir performa fisik dari suatu campuran, pelibatan pakar material dan kimia ini memungkinkan tim untuk mengkaji secara lebih mendalam mengenai interaksi antar-material serta alasan fundamental secara kimiawi di balik peningkatan atau penurunan kualitas campuran aspal tersebut,” katanya dengan penuh optimis.

Terakhir, Rama berharap penelitiannya tidak berhenti pada skala laboratorium, tapi bisa berdampak bagi kehidupan nyata.

“Langkah menuju aplikasi nyata di lapangan merupakan proses yang panjang. Inovasi ini tidak hanya menuntut serangkaian uji coba lapangan yang berulang, tetapi juga memerlukan proses peninjauan dan persetujuan dari pemerintah daerah, seperti Dinas Perhubungan Kota Surakarta maupun provinsi, meskipun dengan jalan yang panjang semoga penelitian ini berdampak nyata,” pungkasnya. (Adi/Humas).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Jadwal Salat Hari Ini
Memuat lokasi…
Subuh
Terbit
Zuhur
Ashar
Maghrib
Isya
Menuju salat berikutnya:
Subuh menggunakan kriteria Muhammadiyah (-18°).

Artikel terkait