Cegah Bahaya Bullying, Mahasiswa UMS Edukasi Siswa SMP Muhammadiyah 2 Karanganyar tentang Sekolah Ramah Anak

Cegah Bahaya Bullying, Mahasiswa UMS Edukasi Siswa SMP Muhammadiyah 2 Karanganyar tentang Sekolah Ramah Anak

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR – Aksi perundungan atau bullying masih menjadi ancaman serius di dunia pendidikan yang dapat merusak mental generasi muda. Merespons hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengambil langkah preventif dengan menggelar sosialisasi anti-bullying di SMP Muhammadiyah 2 Karanganyar, Jumat (30/1/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di Joglo SMP Muhammadiyah 2 Karanganyar ini berlangsung interaktif mulai pukul 08.00 hingga 10.30 WIB. Ratusan siswa tampak antusias mengikuti jalannya sosialisasi yang bertujuan untuk membedah bahaya laten perundungan, baik yang terjadi secara fisik maupun di dunia maya.

Koordinator mahasiswa KKN-Dik UMS, Anas, mengungkapkan bahwa sosialisasi ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap iklim pendidikan yang sehat. Ia menilai, pelajar tingkat menengah pertama berada pada usia rentan di mana pemahaman mengenai batasan bercanda dan merundung sering kali masih kabur.

“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa sekolah harus menjadi ruang aman bagi siapa saja. Bullying dalam bentuk apa pun, termasuk ejekan di media sosial atau cyberbullying, tidak boleh dianggap sebagai hal yang lumrah karena dampaknya sangat fatal bagi mental korban,” tegas Anas saat memberikan materi di hadapan peserta.

Dalam paparannya, tim mahasiswa menjelaskan secara detail bahwa perundungan tidak hanya sebatas kontak fisik seperti memukul atau mendorong. Bentuk kekerasan verbal seperti hinaan dan kata-kata kasar, hingga kekerasan sosial berupa pengucilan, sering kali luput dari perhatian namun memiliki daya rusak yang sama besarnya.

Lebih lanjut, materi yang disampaikan juga menyentuh aspek dampak psikologis. Korban perundungan berisiko mengalami tekanan mental, penurunan rasa percaya diri, hingga gangguan kecemasan dan depresi yang dapat menghambat prestasi belajar mereka. Oleh karena itu, para siswa diajak untuk menjadi saksi yang aktif (upstander) dengan berani melaporkan setiap tindakan mencurigakan kepada pihak sekolah.

Salah satu perwakilan sekolah, Wahyudi, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang dilakukan oleh para mahasiswa praktikan tersebut. Menurutnya, kehadiran mahasiswa memberikan suasana baru yang lebih santai sehingga pesan-pesan edukatif lebih mudah diterima oleh para siswa.

Wahyudi menyatakan bahwa sekolah berkomitmen penuh untuk mendukung setiap upaya yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Ia berharap sinergi antara pihak sekolah dan mahasiswa KKN-Dik UMS dapat meminimalkan potensi konflik antar-pelajar serta membangun budaya saling menghargai di lingkungan sekolah.

Kegiatan ini diakhiri dengan komitmen bersama dari para siswa untuk menolak segala bentuk perundungan. Melalui edukasi ini, diharapkan SMP Muhammadiyah 2 Karanganyar dapat terus konsisten menjadi sekolah yang ramah anak, berprestasi, dan bebas dari tindakan kekerasan.

Usung Inovasi Imunisasi Ramah Bayi, Mahasiswa UMS Raih Silver Medal

Usung Inovasi Imunisasi Ramah Bayi, Mahasiswa UMS Raih Silver Medal

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Inovasi pelayanan kesehatan bayi berbasis prinsip atraumatic care berhasil dikembangkan oleh mahasiswa Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan produk bernama SWEETDROP. Inovasi ini dirancang untuk membantu menekan rasa nyeri pada bayi saat menjalani imunisasi, sehingga menciptakan pengalaman pelayanan kesehatan yang lebih nyaman dan minim trauma.

SWEETDROP berangkat dari kebutuhan pelayanan keperawatan anak yang menekankan pendekatan holistik. Dalam praktik imunisasi, bayi kerap mengalami rasa nyeri yang dapat menimbulkan trauma, sehingga diperlukan solusi pendukung yang aman dan mudah diaplikasikan untuk meningkatkan kenyamanan pasien anak.

Display produk Sweetdrop
Display produk Sweetdrop

“Ide pengembangan SWEETDROP berawal dari pembelajaran pada mata kuliah keperawatan anak. Dari sana, kami melihat peluang untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga dapat diterapkan secara langsung dalam praktik pelayanan kesehatan, khususnya pada tindakan imunisasi bayi,” jelas Ketua Tim SWEETDROP, Putri Azzahra Namora, saat ditemui pada Jumat, (30/1)

Sebagai bahan dasar utama, Putri menjelaskan bahwa SWEETDROP memanfaatkan mangga arumanis yang memiliki kandungan sukrosa relatif tinggi dibandingkan buah lokal lainnya. Pemilihan bahan alami ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pemanfaatan sumber daya pangan lokal dalam pengembangan inovasi produk kesehatan.

Melalui inovasi SWEETDROP, ia berharap bersama timnya dapat berkontribusi dalam meningkatkan angka cakupan imunisasi dasar di Indonesia. Pendekatan atraumatic care yang diusung diyakini mampu meningkatkan kepatuhan imunisasi, karena imunisasi dipandang sebagai upaya perlindungan kesehatan anak di masa depan.

Salah satu anggota tim, Asrofi Noor Masithoh, saat menjelaskan produk di pameran
Salah satu anggota tim, Asrofi Noor Masithoh, saat menjelaskan produk di pameran

Salah satu anggota tim, Asrofi Noor Masithoh, memaparkan bahwa proses pengembangan SWEETDROP dilakukan menggunakan metode Research and Development (R&D). Tahapan riset meliputi pemilihan bahan, proses ekstraksi, hingga pengujian untuk memperoleh formulasi yang sesuai dengan kebutuhan dan standar keamanan.

“Dalam proses riset, kami menghadapi tantangan pada tahap penentuan formulasi. Beberapa percobaan menghasilkan kadar sukrosa yang belum sesuai, ditambah dengan keterbatasan ketersediaan buah mangga yang bersifat musiman, sehingga membutuhkan waktu riset yang lebih panjang,” ungkap Asrofi.

SWEETDROP memiliki sejumlah keunggulan, tambah Asrofi, di antaranya penggunaan bahan alami yang minim efek samping, mudah diaplikasikan pada bayi, serta tidak menimbulkan rasa sakit tambahan selama proses imunisasi.

Inovasi ini juga mendapatkan respons positif dari para penilai karena dinilai sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 tentang kesehatan yang baik dan kesejahteraan. SWEETDROP dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut melalui riset lanjutan agar semakin aman, aplikatif, dan efektif.

Berkat inovasi SWEETDROP tersebut, tim mahasiswa Keperawatan UMS berhasil meraih Silver Medal dalam ajang Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA).

Penghargaan tersebut diserahkan di Graha Widya Wisuda Kampus IPB Dramaga pada Minggu, (18/1). Tim mahasiswa Keperawatan UMS terdiri dari Putri Azzahra Namora, Mufida Nur Afifah, Asrofi Noor Masithoh, Muhammad Reza Kurniawan, Nabila Putri Krisnardiantie, dan Radhiyalifa Naura Syilfanda, yang berhasil mengharumkan nama UMS di kancah internasional. (Yusuf/Humas)

Perkuat Peran Strategis Pesantren Mahasiswa, UMS Jadi Tuan Rumah Munas Aslama PTMA Se-Indonesia

Perkuat Peran Strategis Pesantren Mahasiswa, UMS Jadi Tuan Rumah Munas Aslama PTMA Se-Indonesia

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dipercaya sebagai tuan rumah Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Pengelolaan Asrama (Aslama) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA), Kamis-Sabtu, 29-31 Januari 2026.

Munas Aslama merupakan forum yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, sebagai forum memperkuat pengelolaan asrama/pesantren mahasiswa, serta meningkatkan peran strategis asrama dalam mencetak kader Muhammadiyah.

Ketua Panitia sekaligus kepala Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMS, Dra. Muamaroh, M.Hum., Ph.D., menyambut baik peserta Munas Aslama. Ia menyampaikan rasa bangga dapat dipercaya menjadi tuan rumah dalam kegiatan tersebut.

“Selamat datang kepada seluruh peserta yang Sebelumnya dalam kegiatan ini. Terimakasih telah mempercayai kami menjadi tuan rumah, meskipun diluar sana masih banyak kampus yang lebih baik dari pada kami. Bagi kami ini menjadi momentum untuk belajar lebih selama dipercaya menjadi tuan rumah”, tuturnya, Kamis, (29/1).

Pesma merupakan noklumenter baru, yang sebelumnya bernama Aslama. Muamaroh mengatakan perubahan noklumenter tersebut diinisiasi oleh Pesma UMS.
“Pesma UMS didirikan pada 2008 dengan rebranding baru, hal itu memicu kampus-kampus PTMA mengikuti inovasi yang digagas UMS”, ungkapnya.

Dr. Wawan kusnawan, S.S., M.Pd.I., selaku ketua Aslama PTMA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa 56 PTMA se-Indonesia memiliki asrama/pesantren. Pada Munas kali ini, lanjutnya, Aslama akan melaunching buku panduan pengelolaan Aslama.

“Muhammadiyah memiliki 56 PTMA yang dilengkapi fasilitas berupa asrama, pada kesempatan ini 47 PTMA hadir. Aslama juga akan melaunching buku panduan pengelolaan Aslama”, tambahnya.

Ia juga menekankan peran asrama/pesantren mahasiswa untuk membentuk karakter dalam proses kaderisasi guna mendorong aktualisasi cita-cita Muhammadiyah.

“Ilmu bukan hanya untuk ilmu, ilmu itu untuk ibadah dan kehidupan sosial. Peran Asrama menjadi kawah candradimuka. Dalam menyongkong cita-cita Muhammadiyah, maka mahasantri yang akan aktor perwujudan cita-cita Muhammadiyah”, jelasnya.

Sambutan Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. adalah Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Sambutan Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. adalah Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Senada dengan itu, Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., menyoroti penyebab fenomena penurunan minat terhadap asrama/pesantren mahasiswa.

“Kecenderungan masyarakat saat ini terutama pada generasi Z memilih untuk hidup sendiri, hal ini menjadikan menurunnya minat mahasiswa untuk tinggal di asrama/pesantren”, terangnya.

Diselenggarakannya Munas Aslama di UMS, Jinan berharap besar agar dapat merumuskan gagasan yang dapat memicu daya tarik mahasiswa.

“Harapannya dengan adanya munas ini, daya minat mahasiswa terhadap asrama/pesantren mahasiswa dapat meningkat, agar dapat mewujudkan kader-kader ideologis”, ungkapnya.
Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.Si., dalam penyampaiannya, menyoroti peran penting perguruan tinggi dalam masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kekurangan perguruan tinggi dalam sektor industri terletak pada keahlian dalam teknologi.

“Perguruan tinggi memiliki tugas memberikan keberdampakan kepada lini-lini kehidupan masyarakat. Seperti dalam sektor industri, kampus memiliki minus pada teknologi, ini menjadi tugas kampus untuk memperbaiki kekurangan ini” paparnya.

Dalam mengelola asrama/pesantren mahasiswa, PTMA tidak hanya terbelenggu pada kurikulum pendidikan saja. Menurut Bambang, kurikulum kemandirian harus ditekankan lagi pada jiwa mahasiswa yang tinggal di asrama/pesantren, sehingga dapat mengeksplor tanpa ketergantungan terhadap sesuatu.

“Bagaimana membentuk mahasiswa tarbiyah berkompeten dalam bidang teknologi, sehingga terdapat integrasi keilmuan pada diri mahasiswa, agar tidak terjadi ketergantungan yang gamblang”, terangnya.

Pembukaan Munas Aslama ditutup dengan Launching buku “Panduan Pengelolaan Asrama Mahasiswa Berbasis Pendidikan Karakter Berkemajuan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah” secara simbolis. Ditandatangani oleh ketua diktilitbang PP Muhammadiyah, Wakil Rektor III UMS, dan Ketua Aslama PTMA. (Affiq/Humas)

Seminar Nasional Munas ASLAMA V di UMS, Kupas Tantangan Pesantren Mahasiswa PTMA di Era Digital

Seminar Nasional Munas ASLAMA V di UMS, Kupas Tantangan Pesantren Mahasiswa PTMA di Era Digital

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Asosiasi Pengelolaan Asrama Mahasiswa (ASLAMA) kembali menggelar Musyawarah Nasional ke-V pengelolaan asrama Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dan Seminar Nasional. Sejumlah 50 peserta yang berasal dari PTMA di seluruh Indonesia turut menghadiri Munas ASLAMA di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis-Sabtu, (29-31/1).

Munas dihadiri oleh Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., dan Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.Si selaku Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Kegiatan dibuka dengan launching buku Panduan Pengelolaan Asrama Mahasiswa Berbasis Pendidikan Karakter Berkemajuan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah ’Aisyiyah (PTMA).

Sambutan Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. adalah Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Sambutan Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. adalah Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Muamaroh, M.Hum., Ph.D., selaku ketua panitia Munas ASLAMA ke-V sekaligus Kepala Pondok Pesantren Mahasiswa Internasional KH. Mas Mansur UMS, berharap melalui pelaksanaan musyawarah ini dapat mencetak kader-kader baru sebagai agen perubahan berdasarkan pengelolaan asrama yang baik.

“Ya ke depan harapan kita sih PESMA menjadi semakin baik, semakin berkualitas, semakin banyak mahasantrinya, sehingga paling tidak ini cara kita untuk berkontribusi, berdakwah, dengan mendidik orang-orang hebat yang akan nanti memimpin Indonesia,” harapnya saat dimintai keterangan, Kamis (29/1).

Selanjutnya, dalam upaya menjawab dinamika pembinaan mahasiswa di lingkungan PTMA, diselenggarakan Seminar Nasional yang mengusung tema Tantangan Asrama dan Pesantren Mahasiswa (Pesma) PTMA. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Muhammad Samsudin, S.Ag., M.Pd. dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah sebagai pemateri.

Samsudin, dalam seminar tersebut menjelaskan secara komprehensif tentang berbagai tantangan yang menyebabkan menurunnya minat mahasiswa terhadap asrama terutama dalam kehidupan di era digital saat ini.

“Kita bukan bertanya mengapa mereka tidak mau di asrama, tapi risetnya kita balik mengapa atau apa yang membuat mereka nyaman di asrama,” ujarnya.

Menurutnya, munculnya teknologi digital berdampak pada otoritas keilmuan mahasiswa. Saat ini, kemudahan akses informasi secara berlebihan tanpa adanya filter yang membatasi konsumsi informasi memicu penurunan produktivitas mahasiswa. Khususnya pada pemahaman bidang keagamaan telah mengalami pergeseran seiring maraknya informasi yang beredar di internet.

Fenomena ini menyebabkan pemahaman agama yang instan dan bias karena mahasiswa cenderung menginterpretasikan informasi tanpa memahami konteks yang utuh. Selain itu, hasil risetnya mengungkapkan keluhan mahasiswa terhadap peraturan pesma yang dinilai membatasi privasi sehingga terbentuknya kepatuhan semu dan terjadinya pelanggaran secara sembunyi-sembunyi.

“Mahasiswa itu adalah pembelajar dewasa bukan santri usia dini, kemudian aturan ketat yang dipersepsi melanggar privasi kemudian resistensi terhadap kontrol yang berlebihan,” tutur Samsudin.

Menanggulangi tantangan tersebut, Samsudin menekankan solusi melalui pendekatan integrasi akademik dan spiritual digital asrama melalui kontrol kesadaran diri dan internalisasi makna.

“Itu bukan dilarang tetapi dia dikondisikan sebagai bagian dari proses skill yang dimiliki oleh masyarakat,” tegasnya.

Pelaksanaan Munas ASLAMA hari pertama ditutup dengan Sosialisasi Panduan Asrama Mahasiswa PTMA yang disampaikan oleh Dr. Ghoffar Ismail, S.Ag., M.A. Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan panduan asrama menggunakan pendekatan yang fleksibel namun masih mengedepankan nilai-nilai Islam Berkemajuan di tengah era 5.0. (Roselia/Humas)