muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menyelenggarakan Shabran English Course (SEC) sebagai program peningkatan keterampilan berbahasa Inggris bagi mahasantri. Kegiatan ini berlangsung selama sepuluh hari, mulai Senin (19/1) hingga Rabu (28/1).
Shabran English Course dirancang untuk membekali mahasantri dengan kemampuan dasar berbahasa Inggris, mencakup penguasaan kosakata, tata bahasa, serta keterampilan berbicara secara aktif. Program ini menghadirkan Rizka Abdul Jabar atau yang akrab disapa Mr. Aje, seorang professional trainer dari Kampung Inggris Pare.
Selama pelaksanaan, SEC dibagi ke dalam tiga sesi setiap harinya. Sesi pagi pukul 08.00 –10.30 WIB difokuskan pada materi vocabulary dan grammar, Sesi sore pukul 16.00 –17.30 WIB diarahkan pada latihan speaking, Sesi malam pukul 20.00 –21.00 WIB digunakan untuk materi describing, yaitu melatih peserta menyampaikan gagasan dan cerita dalam bahasa Inggris.
Program ini diikuti oleh 30 mahasantri Pondok Shabran dan berlangsung dengan lancar serta penuh antusiasme. Untuk menjaga suasana belajar tetap interaktif, kegiatan juga diselingi dengan permainan edukatif yang berfungsi sebagai sarana evaluasi pemahaman materi.
Yayuli, S.Ag., M.P.I., selaku kepala Pondok Shabran mengapresiasi kehadiran program ini.
“Program ini sebagai ikhtiar pondok untuk menyiapkan kader yang berdaya saing global. Karena kedepan kader Shabran akan ditempatkan pengabdian di luar negeri,” ujar Yayuli, Kamis (29/1).
Astyra Gita Kinanti sebagai salah satu mahasantri putri Pondok Shabran dan peserta SEC memberikan tanggapan atas terselenggaranya program tersebut.
“Alhamdulillah karena program SEC selama liburan ini, bahasa Inggrisku bisa naik to the next level, tutornya juga seru dan asik, jadi pembelajaran nggak bikin boring. Harapanku, semoga SEC jadi program berkelanjutan yaaa,” ujarnya.
Mahasantri lain, Ikhwan juga menanggapi tentang agenda tersebut.
“Banyak yang saya dapatkan dari SEC, belajar bahasa inggris bukan hanya sekedar tentang paham cara penggunaan kalimat, tapi juga tentang bagaimana seseorang bisa memahami bahasa yang digunakan. Mr. Aje juga seorang yang tekun dan sabar dalam mengajar kami,” ungkapnya.
Pada sesi penutupan, Rabu (28/1), Mr. Aje menyampaikan pesan motivatif kepada peserta.
“Ten days are not enough to be an expert in English, but enough to change our mindset,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa pembelajaran bahasa Inggris merupakan langkah awal dalam mempersiapkan masa depan, serta mendorong mahasantri untuk terus memperkaya kosakata dan membiasakan diri berlatih berbicara setiap hari.
Menutup kegiatan, Mr. Aje berpesan agar peserta tidak terpaku pada kesempurnaan, melainkan terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Menurutnya, usaha dan progres harus terus diupayakan, sementara hasil akhir diserahkan kepada Allah SWT.
Melalui pelaksanaan Shabran English Course, Pondok Shabran UMS berharap mahasantri semakin percaya diri dalam menggunakan bahasa Inggris sebagai bekal akademik dan komunikasi global. Program ini juga menjadi bagian dari komitmen Pondok Shabran dalam mendukung penguatan kompetensi bahasa asing serta pengembangan sumber daya mahasantri yang unggul dan berdaya saing. (Fahri/Adi/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya literasi gizi masyarakat, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Muhammad Raihan Arrasyid, mengembangkan sebuah inovasi aplikasi kesehatan berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama NutriTone. Aplikasi ini dirancang untuk membantu masyarakat memahami kandungan gizi makanan secara praktis dan personal melalui pemindaian foto makanan.
Raihan mengembangkan inovasi aplikasi tersebut bersama tim yang berasal dari kampus Universitas Riau (UNRI), Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Brawijaya (UB), Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya (Poltekkes Kemenkes Surabaya), Universitas Cendekia Mitra Indonesia (UNICIMI), Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Surakarta).
NutriTone bekerja dengan memindai makanan melalui kamera ponsel, kemudian menganalisis kandungan gizi, jumlah kalori, serta potensi risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan. Hasil analisis tersebut dilengkapi dengan rekomendasi otomatis yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, sehingga mendorong penerapan pola hidup sehat secara berkelanjutan.
“NutriTone dikembangkan sebagai solusi atas rendahnya literasi gizi di masyarakat Indonesia,” ujar Raihan saat ditemui pada Kamis (29/1).
Raihan menjelaskan bahwa inovasi ini memiliki keterkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3, yakni Good Health and Well-Being. Melalui pendekatan teknologi digital, NutriTone diharapkan dapat membantu mencegah penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang.
Selain berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, NutriTone juga membuka peluang kolaborasi lintas profesi, khususnya dengan ahli gizi, dokter, dan tenaga kesehatan. Dengan demikian, aplikasi ini tidak hanya menghadirkan solusi teknologi, tetapi juga berkontribusi pada penguatan ekosistem kesehatan digital yang berkelanjutan.
Gagasan inovatif tersebut kemudian dipresentasikan dalam SDGs Pitch Competition yang menjadi bagian dari rangkaian International Youth Excursion Network (IYEN) #20 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kompetisi ini merupakan ajang inovasi produk digital yang berfokus pada pengembangan solusi berbasis SDGs yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Muhammad Raihan Arrasyid, meraih empat penghargaan sekaligus, yakni 1st Best Project Innovation, 2nd Best Presentation, 3rd Best Video Innovation, dan Best Team.
SDGs Pitch Competition diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan tujuan mendorong kontribusi generasi muda dalam mendukung pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi menuju target tahun 2030.
Sebanyak 38 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia terlibat dalam kompetisi ini. Proses penilaian dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari seleksi esai inovasi, pemantauan proses perancangan proyek, hingga presentasi di hadapan dewan juri. Aspek penilaian meliputi kualitas ide, ketepatan solusi terhadap permasalahan, kekuatan data pendukung, serta kemampuan komunikasi peserta.
Melalui inovasi NutriTone tersebut, Raihan bersama timnya berhasil menunjukkan keunggulan ide dan implementasi. Hasilnya, mahasiswa Psikologi UMS itu berhasil meraih empat penghargaan sekaligus, yakni 1st Best Project Innovation, 2nd Best Presentation, 3rd Best Video Innovation, dan Best Team.
Raihan mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut, terlebih karena ajang ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi internasional.
“Alhamdulillah, bisa meraih empat penghargaan sekaligus, termasuk Best Team, menjadi pengalaman yang sangat membanggakan dan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ungkapnya.
Pengumuman pemenang dilakukan dalam dua tahap, yakni pengumuman esai inovasi terpilih melalui email pada 17 November 2025 dan pengumuman pemenang utama secara langsung di International Youth Center, Malaysia, pada 14 Januari 2026.
Atas prestasi tersebut, Raihan dan tim menerima medali emas dan sertifikat untuk kategori 1st Best Project Innovation, serta piagam penghargaan untuk kategori 2nd Best Presentation dan 3rd Best Video Innovation. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kualitas inovasi mahasiswa UMS di tingkat internasional.
Ia menambahkan bahwa latar belakang keilmuan Psikologi memiliki peran penting dalam penyusunan ide, presentasi, hingga pembuatan video inovasi. Pendekatan psikologis digunakan untuk membangun daya tarik gagasan, komunikasi persuasif, kekompakan tim, serta kepercayaan diri selama mengikuti kompetisi. (Yusuf/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata Kemitraan Internasional (KKN-KI) di Pondok Pesantren An-Nahdloh, Selangor, menyelenggarakan kegiatan lomba tahfidz Al-Qur’an dan cerdas cermat pada Selasa (27/1).
Kegiatan ini dilaksanakan oleh dua mahasiswa UMS, yaitu Agita Asri Kusumawardani dan Husna A’izzatur Rohmah, yang saat ini menjalani KKN-KI di Pondok An-Nahdloh. Perlombaan tersebut diikuti oleh santriwati kelas 4 hingga 6 Sekolah Dasar (SD) serta santriwati tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan antusiasme yang tinggi.
Lomba tahfidz dan cerdas cermat ini diselenggarakan dengan tujuan untuk melatih keberanian tampil di depan umum, meningkatkan daya ingat, menumbuhkan semangat belajar, serta mengasah pengetahuan keislaman dan wawasan umum para santri.
Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus kompetitif bagi santriwati.
Dalam pelaksanaannya, Agita dan Husna tidak bekerja sendiri. Kegiatan perlombaan ini turut dibantu oleh beberapa mahasiswa KKN-KI dari perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya, yakni Sekolah Tinggi Al-Islam (STAI) Taruna Surabaya, Universitas Muhammadiyah Kuningan, dan Universitas Muhammadiyah Palembang.
Kolaborasi lintas kampus tersebut menjadi bentuk kerja sama yang positif dalam menyukseskan program pengabdian masyarakat internasional.
Salah satu peserta lomba, Hana, santriwati kelas 7 SMP, mengaku sangat antusias mengikuti lomba cerdas cermat yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN-KI. Ia menyampaikan semangatnya dalam bahasa Melayu,
“Saya berasa sangat bersemangat untuk menyertai pertandingan cerdas cermat ini, sebab itu saya membuat persediaan dengan belajar bersama Kak Agita,” ujarnya, Rabu, (28/1).
Secara keseluruhan, kegiatan lomba tahfidz dan cerdas cermat ini berjalan dengan lancar dan tertib, serta mendapat respons positif dari para santri maupun pihak pondok. Para santriwati tampak antusias mengikuti setiap rangkaian lomba hingga selesai.
Agita selaku mahasiswa KKN KI, berharap agar dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi santri Pondok An-Nahdloh.
“Melalui kegiatan ini, kami mahasiswa UMS berharap dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi santri Pondok An-Nahdloh, sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa KKN-KI dan lingkungan pondok pesantren,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut juga menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung pengembangan pendidikan dan karakter santri di tingkat internasional. (Adi/Humas)