Jelang Ramadan 1447 H, Ikhwanushoffa Ajak Jamaah Jatipuro Perkuat Sedekah

Jelang Ramadan 1447 H, Ikhwanushoffa Ajak Jamaah Jatipuro Perkuat Sedekah

muhammadiyakaranganyar.or.id, Jatipuro – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, semangat spiritualitas masyarakat di Kecamatan Jatipuro, Karanganyar, mulai meningkat. Hal ini terlihat dalam agenda Kajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid Agung Goro, Jatikuwung, Jatipuro, pada Ahad (15/2/2026).

Hadir sebagai pembicara utama, Wakil Ketua 1 Badan Pengurus Lazismu PWM Jawa Tengah, Ikhwanushoffa. Dalam balutan suasana yang khidmat pada 27 Sya’ban 1447 H tersebut, ia mengajak jamaah untuk menata niat dan mempersiapkan diri melalui amal sosial, khususnya sedekah.

Ikhwanushoffa menekankan bahwa bersedekah bukan sekadar melepaskan sebagian harta, melainkan wujud syukur yang paling nyata atas nikmat umur yang mempertemukan kembali umat dengan bulan Ramadhan. Ia mengingatkan bahwa setiap mukmin harus memiliki visi jangka panjang yang melampaui urusan duniawi.

“Allah SWT telah berfirman dalam Surah Al-Hashr ayat 18 agar setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok atau akhirat. Takwa dan evaluasi diri adalah kunci,” ujar Ikhwanushoffa di hadapan ratusan jamaah.

Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW untuk memperkuat argumennya mengenai keutamaan berbagi. Menurutnya, sedekah memiliki kekuatan spiritual untuk membersihkan catatan buruk seorang hamba. “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api,” tuturnya mengutip riwayat Tirmidzi.

Di sisi lain, Ikhwanushoffa memberikan catatan kritis terkait kondisi keberagamaan saat ini. Ia memaparkan data survei dari Litbang Kemenag yang menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan umat Islam dalam menjalankan ibadah secara konsisten masih tergolong rendah. Hal ini menjadi tantangan besar, terutama saat memasuki bulan Ramadhan yang penuh dengan limpahan pahala.

Menurut Ikhwanushoffa, salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas keberagamaan adalah dengan menjaga ritme ibadah yang seimbang. Ia meminta masyarakat tidak hanya terpaku pada ibadah mahdhah yang bersifat wajib, tetapi juga menghidupkan amalan-amalan sunnah.

Kajian ini dihadiri oleh masyarakat dari berbagai desa di sekitar Jatipuro. Kehadiran tokoh Lazismu Jawa Tengah ini diharapkan mampu memicu kesadaran kolektif untuk meningkatkan kualitas filantropi Islam di wilayah tersebut. Melalui edukasi ini, Lazismu berharap perolehan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dapat dioptimalkan untuk pemberdayaan umat.

Melalui kegiatan ini, jamaah diharapkan tidak hanya siap secara fisik, tetapi juga siap secara mental dan finansial untuk menjadikan Ramadan 1447 H sebagai momentum transformasi diri yang lebih baik.

Menuju Ramadan 1447 H: PCM Kerjo Perkuat Akidah Lewat Kajian Ahad Pagi di Masjid Al Ikhlas

Menuju Ramadan 1447 H: PCM Kerjo Perkuat Akidah Lewat Kajian Ahad Pagi di Masjid Al Ikhlas

muhammadiyakaranganyar.or.id, KERJO — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kerjo menggelar Kajian Ahad Pagi pamungkas sebelum memasuki bulan suci Ramadan 1447 H. Acara yang berlangsung di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah, Masjid Al Ikhlas Botok, Kerjo, pada Minggu (15/2/2026) ini menjadi momentum penting bagi ratusan jamaah untuk memantapkan persiapan spiritual.

Kajian yang dimulai sejak pukul 06.00 hingga 07.00 WIB ini berhasil menyedot perhatian warga sekitar. Setidaknya, sekitar 500 jamaah memadati area masjid untuk mendengarkan tausiyah. Kehadiran massa yang besar ini menunjukkan tingginya antusiasme warga Muhammadiyah di wilayah Kerjo dalam menyambut bulan penuh ampunan yang tinggal menghitung hari.

Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan Jarwanto, Ketua PCM Ngargoyoso, sebagai pemateri utama. Fokus pembahasan kali ini adalah mengenai penguatan ibadah yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Jarwanto menekankan bahwa ibadah tidak hanya soal rutinitas, melainkan harus memiliki fondasi hukum yang kuat agar diterima oleh Allah SWT.

“Apa yang menjadi keyakinan kita, kita akan diakui sebagai umatnya Rasulullah, yaitu dengan beriktibak kepada Sunnah Rasulullah,” ujar Jarwanto di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

Menurutnya, mengikuti sunnah bukan sekadar pilihan, melainkan syarat utama bagi seorang mukmin agar mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad di hari akhir kelak. Jarwanto juga menambahkan bahwa salah satu bukti cinta kepada Rasulullah adalah dengan mengenali sosoknya secara mendalam.

“Ciri lain supaya kita diakui sebagai umat Nabi Muhammad SAW adalah dengan mengenal Rasulullah, yakni dengan banyak membaca dan memahami sejarah kehidupan beliau,” tambah Jarwanto. Ia menjelaskan bahwa mempelajari sirah nabawiyah akan memberikan gambaran nyata bagaimana seorang muslim seharusnya bersikap di tengah tantangan zaman modern.

Sementara itu, Ketua PCM Kerjo, Sambodo, menyatakan bahwa Kajian Ahad Pagi ini bukan sekadar rutinitas mingguan. Baginya, kegiatan ini adalah wadah strategis untuk melakukan edukasi keagamaan sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan antarwarga Muhammadiyah dan masyarakat umum.

Sambodo menjelaskan bahwa kajian tersebut dirancang sebagai media dalam memahami ilmu keagamaan serta menjadi sarana penguatan silaturahmi antarjamaah. Karena itu, ia mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan rutin yang dipusatkan di Botok ini.

“Kami mengajak semua kalangan untuk bergabung dalam Kajian Ahad Pagi Botok ini agar syiar Islam semakin luas dirasakan manfaatnya,” ungkap Sambodo.

Dengan berakhirnya kajian ahad ini, PCM Kerjo berharap jamaah telah memiliki bekal ilmu yang cukup untuk menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H dengan lebih bermakna. Persiapan fisik dan mental yang dibalut dengan pemahaman agama yang benar diharapkan mampu menciptakan kualitas ibadah yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Inovasi Mahasiswa UMS: Sulap Limbah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Cantik

Inovasi Mahasiswa UMS: Sulap Limbah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Cantik

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui program Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN Dik), mahasiswa KKN Dik melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat Kelas Kreatif Ibu dan Anak dengan mengusung tema ”Dari Minyak Bekas Jadi Cuan Berkelas”.

Program ini mengangkat strategi pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan membuka peluang ekonomi kreatif yang bernilai tambah dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Program ini bertujuan untuk mengedukasi warga tentang bahaya pembuangan minyak jelantah secara sembarangan serta memberikan keterampilan praktis dalam mengolah limbah rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai jual. Sasaran utama kegiatan ini adalah warga desa, khususnya ibu-ibu rumah tangga yang sehari-hari bersinggungan langsung dengan penggunaan minyak goreng.

Kegiatan utama dilaksanakan di Batu Kidul RT 01 RW 06 Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri yang merupakan lingkungan desa lokasi KKN dalam bentuk sosialisasi dan praktik langsung pembuatan lilin aromaterapi yang melibatkan ibu dan anak. Pendekatan ini dipilih agar edukasi lingkungan dapat ditanamkan sejak dini sekaligus mempererat interaksi antara orang tua dan anak melalui kegiatan kreatif bersama.

Dalam sesi sosialisasi mahasiswa KKN Dik FKIP UMS memberikan penjelasan mengenai dampak negatif minyak jelantah terhadap kesehatan hingga lingkungan, sebelum akhirnya memperkenalkan proses pengolahannya menjadi lilin.

Kemudian warga diajak secara langsung untuk praktek pembuatan lilin mulai dari proses menyaring minyak jelantah, mencampurkannya dengan bahan tambahan seperti palm wax dan essential oil, hingga menghias dan mencetak lilin menjadi produk siap pakai.

Syahrial Pamudha selaku ketua KKN, menjelaskan tentang nilai guna pada minyak jelantah yang seringkali diabaikan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah yang kurang berguna ternyata bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Harapannya, warga tidak hanya lebih peduli terhadap lingkungan, tetapi juga bisa memanfaatkan peluang usaha dari rumah,” ujarnya. Rabu, (11/2).

Antusiasme warga terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Ibu dan anak tampak aktif bertanya dan terlibat langsung dalam proses pembuatan lilin. Selain melatih kreativitas, kegiatan ini juga memberikan pengalaman baru yang menyenangkan dan edukatif bagi anak-anak.

Salah satu warga yang mengikuti kegiatan ini mengaku mendapatkan pengalaman dan wawasan baru.

“Biasanya minyak bekas masak langsung dibuang. Setelah ikut kegiatan ini, sekarang jadi tahu kalau minyak jelantah bisa diolah lagi dan bahkan bisa dijual. Ini sangat bermanfaat dan bisa jadi tambahan penghasilan,” ungkapnya.

Selain aspek lingkungan dan edukasi, kegiatan ini juga menekankan potensi usaha rumahan berbasis ekonomi kreatif. Lilin aromaterapi hasil olahan minyak jelantah dinilai memiliki peluang pasar yang cukup baik karena dapat dimanfaatkan sebagai dekorasi rumah, pengharum ruangan, hingga produk relaksasi.

Melalui program Kelas Kreatif Ibu dan Anak ini, mahasiswa KKN Dik FKIP UMS berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola limbah rumah tangga serta mendorong terciptanya masyarakat yang mandiri, kreatif, dan peduli lingkungan. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan warga mampu menghadirkan solusi sederhana namun berdampak nyata bagi lingkungan dan ekonomi lokal. (Adi/Humas)

Strategi Transformasi PTS Jawa Tengah: Wajib Adaptif, Inovatif, dan Berkelanjutan

Strategi Transformasi PTS Jawa Tengah: Wajib Adaptif, Inovatif, dan Berkelanjutan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menargetkan akselerasi percepatan perguruan tinggi agar lebih adaptif, inovatif, berdampak dan berkelanjutan. Akselerasi tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem riset yang akan menjawab permasalahan di masyarakat.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., menjelaskan ekosistem penelitian Indonesia mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir dan butuh perhatian khusus dari berbagai pihak, khususnya pemerintah.

“Sebetulnya inovasi di Indonesia ini secara ekosistem mulai berkembang dan kita mengharapkan betul-betul bisa membantu untuk menyelesaikan tantangan di masyarakat,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Forum Komunikasi Pimpinan Badan Penyelenggara dan Perguruan Tinggi Jawa Tengah, di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta, Rabu (11/2).

Setidaknya terdapat tiga kekuatan riset Indonesia yang harus terus mendapat dukungan pemerintah. Ketiga pilar itu ialah kolaborasi riset kampus dan industri, kebijakan dan budaya kewirausahaan, serta skala pasar domestik.

Indonesia juga menduduki peringkat 8 dari 36 negara dengan jumlah luaran inovasi terbanyak pada negara berpendapatan menengah atas. “Indonesia ini masuk kategori over performer. Ini tergolong baik dibanding negara-negara lain dan relatif terhadap pendapatan negara kita. Artinya kita tidak begitu jauh dengan negara yang setara,” imbuh dia

Untuk mengakselerasikan ekosistem riset Indonesia, pemerintah akan menjalankan akselerasi dua jalur: riset prioritas dan riset strategis. Riset prioritas akan berfokus pada pemerataan riset di Indonesia. Sementara riset strategis akan berfokus pada penyelesaian masalah kritis di Indonesia, seperti persoalan pangan, energi, pertumbuhan ekonomi, hingga pengolahan sampah.

Fauzan optimis Indonesia tidak termasuk negara yang tertinggal dalam urusan riset dan inovasi. Kendati demikian, masih banyak yang perlu diperbaiki untuk mewujudkan ekosistem penelitian yang lebih baik. Kuncinya adalah kemauan untuk adaptif, inovatif, berdampak, dan berkelanjutan.

Pemerintah, kata dia, terus mengupayakan sejumlah stimulus keuangan untuk mendukung ekosistem riset dalam negeri. Total anggaran riset periode 2025/2026 mencapai Rp81,4 triliun. Naik 21,4 persen dari periode sebelumnya.

Sebanyak 25 persen atau sekitar Rp500 miliar dari anggaran penelitian akan dialokasikan untuk insentif peneliti. Honorarium itu dapat digunakan pada kegiatan penelitian, hilirisasi penelitian, dan pengabdian. Targetnya adalah meningkatnya kesejahteraan para peneliti dan produktivitas riset yang dapat dimulai per tahun 2026.

“Honor ini dibangun sebetulnya dengan harapan ekosistem riset kita bisa positif. Ini memang arahan langsung dari Bapak Presiden untuk menomorsatukan kesejahteraan guru dan dosen,” jelas dia.

Fauzan mengatakan prioritas riset akan digeser, dari riset konsumtif, menjadi riset produktif. Riset produktif diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan membawa dampak bagi masyarakat.

Riset saat ini, katanya, harus diarahkan pada pemecahan masalah di masyarakat. Pemerintah turut melakukan intervensi riset lewat kemitraan multipihak dengan badan usaha milik negara, industri dalam negeri, pemerintah daerah, hingga industri mancanegara.

“Kami melihat kampus sebagai simpul pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak melupakan masyarakat dan lingkungan,” tutur Fauzan.

Fauzan berharap program pendanaan riset tersebut akan membawa dampak positif bagi masyarakat Indonesia. “Yang sangat dinantikan oleh masyarakat itu ada beberapa bidang, yaitu bidang pertanian, kemudian tentunya pangan di dalamnya, kesehatan, dan juga pengentasan kemiskinan,” tandas dia. (Gede/Humas)

Dorong PTS Jateng Naik Kelas, LLDIKTI VI Tekankan Transformasi Adaptif dan Berdampak

Dorong PTS Jateng Naik Kelas, LLDIKTI VI Tekankan Transformasi Adaptif dan Berdampak

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., secara resmi membuka Rapat Koordinasi bertajuk : “Akselerasi Transformasi Pendidikan Tinggi Jawa Tengah: Adaptif, Inovatif, Berdampak, dan Berkelanjutan. Kegiatan tersebut menjadi ruang strategis”, konsolidasi antara LLDIKTI VI, pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS), serta badan penyelenggara untuk memperkuat arah transformasi pendidikan tinggi di Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, Aisyah menegaskan bahwa pertemuan ini memiliki arti penting sebagai forum komunikasi dan penguatan komitmen bersama dalam menjawab tantangan zaman yang berkembang sangat cepat.

“Transformasi pendidikan tinggi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan agar perguruan tinggi tetap relevan, bermutu, dan berdaya saing,” tegasnya Rabu, (11/2) di Ruang Seminar Lt 8 Gedung FEB UMS.

Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi dituntut mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan global, perkembangan teknologi, serta kebutuhan dunia kerja dan masyarakat. Di tingkat regional, transformasi pendidikan tinggi di Jawa Tengah tidak hanya diarahkan pada penguatan mutu akademik, tetapi juga pada kemampuan perguruan tinggi dalam memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah.

Menurutnya, potensi lokal Jawa Tengah harus menjadi sumber inspirasi sekaligus solusi atas persoalan riil masyarakat. Perguruan tinggi diharapkan mampu mendorong kemajuan ekonomi, sosial, dan budaya secara berkelanjutan.

Aisyah juga menekankan pentingnya sinergi kuat antara pimpinan perguruan tinggi dan badan penyelenggara. Kehadiran para ketua yayasan yang mendampingi pimpinan PTS dalam forum tersebut menjadi sinyal positif komitmen bersama membangun tata kelola yang sehat dan patuh regulasi.

“Budaya mutu adalah fondasi utama keberlanjutan PTS. Penyelarasan program dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) bukan sekadar pemenuhan administratif, tetapi harus dipahami sebagai upaya peningkatan kinerja dan kualitas institusi secara substansial,” ujarnya.

Ia berharap forum ini tidak berhenti pada diskusi, melainkan menghasilkan langkah konkret dan kesepakatan strategis yang dapat diimplementasikan di masing-masing perguruan tinggi. LLDIKTI Wilayah VI, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendampingi dan memfasilitasi PTS agar tumbuh menjadi institusi yang adaptif, inovatif, berdampak, dan berkelanjutan.

Arahan strategis juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Dr. Mohammad Fauzan Adziman, S.T., M.Eng. Dalam paparannya, ia menyoroti urgensi akselerasi transformasi pendidikan tinggi di Jawa Tengah melalui penguatan riset, inovasi, serta kolaborasi multipihak.

Arahan strategis juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Dr. Mohammad Fauzan Adziman, S.T., M.Eng

Rangkaian kegiatan turut diwarnai dengan Special Show Hadir dan Berdampak, penandatanganan simbolis komitmen bersama, serta peluncuran platform DIAJENG yang dapat diakses melalui laman https://diajeng.lldikti6.id/. Peluncuran ini menjadi salah satu wujud konkret dukungan transformasi berbasis digital dan tata kelola yang terintegrasi.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi pleno yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Kristoko Dwi Hartomo, S.Kom., M.Kom. Dalam sesi tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah VI memaparkan materi bertajuk PTS Jawa Tengah Naik Kelas: Penguatan Tata Kelola untuk Mendorong Transformasi Pendidikan Tinggi Jawa Tengah.

Sementara itu, Direktur P2M, Prof. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., membahas penguatan ekosistem penelitian PTS yang mencakup aspek pendanaan, sumber daya manusia, hingga publikasi bereputasi. Ia menekankan pentingnya tata kelola riset yang sistematis agar mampu meningkatkan daya saing institusi.

Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., turut menyampaikan materi tentang strategi mengakselerasi capaian IKU melalui penguatan ekosistem akademik, riset, dan kemitraan. Menurutnya, integrasi tridarma perguruan tinggi dengan jejaring kolaborasi menjadi kunci percepatan transformasi.

Forum ini menjadi momentum penting bagi PTS di Jawa Tengah untuk “naik kelas” melalui tata kelola yang lebih kuat, riset yang berdampak, serta kolaborasi strategis. Dengan komitmen bersama, transformasi pendidikan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan mutu institusi, tetapi juga kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa. (Fika/Humas)