UMS Gelar Parenting Islami, Perkuat Ketahanan Keluarga Muslim Diaspora di Jepang

UMS Gelar Parenting Islami, Perkuat Ketahanan Keluarga Muslim Diaspora di Jepang

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bertajuk “Parenting Islami di Negeri Sakura sebagai Sarana Penguatan Ketahanan Keluarga Muslim Diaspora Indonesia di Jepang”, Minggu (1/2). Kegiatan berlangsung di Masjid Indonesia Tokyo pukul 12.30-15.00 waktu setempat.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara UMS dan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang, serta diikuti oleh sekitar 15 jamaah Masjid Indonesia Tokyo yang merupakan bagian dari komunitas Muslim diaspora Indonesia di Jepang.

Tim pengabdian UMS terdiri atas dosen lintas disiplin, yakni Surya Jatmika, M.Pd., dan Dhany Efita Sari, M.Pd., Ph.D., dari Program Studi Pendidikan Akuntansi, serta Fiska Puspa Arinda, M.Psi., Psikolog, dari prodi Psikologi. Kegiatan ini juga melibatkan Nur Aeni Sa’adah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi UMS, yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan.

Fiska Puspa Arinda, M.Psi., Psikolog, yang hadir secara luring dan menyampaikan materi mengenai empat pilar Parenting Islami, yakni rahmah (kasih sayang), qudwah (keteladanan), hikmah (kebijaksanaan), dan tazkiyah (penyucian jiwa). Keempat pilar tersebut dipaparkan sebagai fondasi utama dalam membangun pola pengasuhan anak, khususnya bagi keluarga Muslim yang hidup sebagai minoritas di Jepang.

Pemberian Buku dari UMS ke Komunitas Muslim Indonesia di Jepang
Pemberian Buku dari UMS ke Komunitas Muslim Indonesia di Jepang

Dalam pemaparannya, Fiska menekankan bahwa kasih sayang menjadi dasar utama dalam pengasuhan anak karena mampu menciptakan rasa aman dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Selain itu, keteladanan orang tua dinilai sebagai metode pendidikan paling efektif karena anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.

“Aspek kebijaksanaan juga menjadi perhatian penting, terutama dalam menyesuaikan pola asuh dengan konteks sosial dan budaya Jepang. Orang tua diharapkan mampu menyampaikan nilai-nilai Islam secara rasional, komunikatif, dan sesuai dengan usia anak. Sementara itu, pilar tazkiyah diarahkan pada pembentukan karakter melalui pembiasaan refleksi diri, penguatan empati, serta pengembangan potensi kebaikan anak secara berkelanjutan,” paparnya, Kamis, (5/2).

Selain sesi pemaparan materi, peserta diajak berdiskusi dan menuliskan berbagai tantangan pengasuhan anak di Jepang. Beberapa persoalan yang mengemuka di antaranya keterbatasan lingkungan bermain anak, minimnya akses pendidikan keagamaan formal, tantangan pembentukan karakter Muslim di tengah masyarakat sekuler, serta kondisi long distance marriage yang dialami sebagian keluarga diaspora.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi pengasuhan empatik, refleksi keteladanan orang tua, serta aktivitas kelompok berupa pembuatan “pohon akhlak” sebagai media pengingat nilai-nilai karakter yang ingin ditanamkan dalam keluarga. Program ini ditutup dengan pembagian sampel “Parent Handbook: Parenting Islam Diaspora Muslim di Jepang”, sebuah panduan praktis hasil karya tim PkM-KI UMS.

Sekretaris PCIM Jepang, Moch. Zamzam Rajab Awaludin, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai buku panduan parenting Islami yang disusun tim UMS memiliki potensi untuk diperbanyak dan disebarluaskan sebagai rujukan pengasuhan bagi komunitas Muslim diaspora Indonesia di Jepang. (Fika/Humas)

Dukung Internasionalisasi Bahasa, UMS Perkuat Kompetensi Pengajar BIPA

Dukung Internasionalisasi Bahasa, UMS Perkuat Kompetensi Pengajar BIPA

muhammadiyahkaranganyar.or.id, PABELAN – LPMB UMS Gelar Penyegaran Pengajar BIPA, Perkuat Kompetensi Pedagogi dan Diplomasi Bahasa – LBIPU UMS (LPMB) Universitas Muhammadiyah Surakarta menyelenggarakan kegiatan penyegaran bagi para pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di lingkungan UMS pada Rabu, 4 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung B.1.2 ini merupakan hasil kerja sama antara LPMB UMS dengan Pusdaya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Mengusung tema “Penyegaran Kompetensi Pedagogi Pengajar BIPA dalam Pembelajaran yang Komunikatif dan Kontekstual,” kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pengajar BIPA agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pemelajar asing serta perkembangan diplomasi bahasa Indonesia di tingkat global.

Hadir sebagai narasumber, Kepala Bidang dan Kemitraan Diplomasi Bahasa, Dony Setiawan, S.S., M.Pd., menyampaikan materi mengenai Standar Kompetensi Pengajar BIPA Aspek Pedagogi. Sementara itu, Iyus Yusuf, S.S. selaku Ketua Tim Kerja BIPA Pusdaya memaparkan materi tentang Standar Kompetensi Pengajar BIPA Aspek Diplomasi dan Industri. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 14.00 WIB dengan diikuti secara antusias oleh para pengajar BIPA di lingkungan UMS.

Dalam pemaparannya, Dony Setiawan menekankan pentingnya penguasaan pedagogi yang adaptif. “Pengajar BIPA tidak hanya dituntut menguasai bahasa Indonesia, tetapi juga harus mampu merancang pembelajaran yang komunikatif, kontekstual, dan sesuai latar budaya pemelajar. Standar kompetensi ini menjadi bekal utama agar pengajaran BIPA semakin profesional dan berdaya saing internasional,” ujarnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama pada sesi diskusi dan berbagi pengalaman mengajar. Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru terkait peluang pengembangan karier. “Selain memperkaya metode mengajar, kegiatan ini membuat kami semakin memahami bahwa profesi pengajar BIPA memiliki prospek luas, termasuk kesempatan mengajar di luar negeri sebagai bagian dari diplomasi bahasa Indonesia,” ungkapnya.

Melalui kegiatan penyegaran ini, LPMB UMS berharap para pengajar BIPA semakin siap mengimplementasikan standar kompetensi yang ditetapkan, sekaligus mampu berkontribusi dalam memperluas peran bahasa Indonesia di kancah internasional. Kegiatan serupa direncanakan akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan mutu layanan BIPA di UMS.

Dorong Literasi Digital, Mahasiswa KKN-Dik UMS Kenalkan Website BUDI di MTs Muhammadiyah 5 Jumantono

Dorong Literasi Digital, Mahasiswa KKN-Dik UMS Kenalkan Website BUDI di MTs Muhammadiyah 5 Jumantono

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan kegiatan sosialisasi Website BUDI (Buku Digital Indonesia) di MTs Muhammadiyah 5 Jumantono, Kabupaten Karanganyar.

Kegiatan ini diikuti oleh guru dan peserta didik MTs Muhammadiyah 5 Jumantono sebagai upaya memperkenalkan sumber belajar digital resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital sekaligus mendukung kurikulum pendidikan Indonesia.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ice breaking yang dipandu oleh moderator Evita, kemudian dilanjutkan dengan perkenalan narasumber Labitta dan Galang. Sejak awal kegiatan, kegiatan berlangsung secara interaktif dan mendapatkan respons antusias dari para peserta.

Suasana kegiatan sosialisasi kepada para siswa MTs Muhammadiyah 5 Jumantono, Karanganyar
Suasana kegiatan sosialisasi kepada para siswa MTs Muhammadiyah 5 Jumantono, Karanganyar

Dalam pemaparan materi, narasumber mengajak peserta mengingat kembali cerita rakyat seperti Malin Kundang dan Tangkuban Perahu sebagai pengantar materi. Dari pengantar tersebut, peserta diperkenalkan dengan Website BUDI, sebuah platform digital resmi yang menyediakan buku digital gratis dan dapat diakses oleh seluruh siswa Indonesia.

Website BUDI hadir sebagai bagian dari transformasi digital pendidikan nasional yang bertujuan untuk pemerataan akses buku berkualitas, mendukung kurikulum pendidikan Indonesia, serta menyediakan sumber belajar yang terpercaya. Platform ini diharapkan dapat membantu guru dalam perencanaan pembelajaran dan meningkatkan literasi digital peserta didik.

Salah satu mahasiswa KKN-Dik FKIP UMS, Rafa, menyampaikan bahwa Website BUDI memiliki banyak keunggulan yang dapat dimanfaatkan oleh guru maupun siswa.

“Melalui pengenalan Web BUDI ini, kami berharap guru dan siswa dapat lebih mudah mengakses buku pembelajaran resmi kapan saja dan di mana saja,” ujarnya Rabu. (4/2).

Ia menambahkan, Website BUDI dapat diakses secara gratis tanpa biaya langganan, kompatibel dengan berbagai perangkat seperti ponsel, tablet, dan laptop, serta ramah lingkungan.

Guru dan peserta didik menunjukkan respons positif. Mereka merasa terbantu dengan hadirnya Website BUDI sebagai media pembelajaran digital yang mudah diakses dan terpercaya.

Melalui kegiatan sosialisasi yang digelar pada Rabu (21/1) itu, mahasiswa KKN-Dik FKIP berharap dapat mendukung proses pembelajaran serta meningkatkan budaya literasi digital di lingkungan sekolah. (Zahra/Humas)

UMS Buka 5 Jalur Beasiswa 2026 untuk Mahasiswa Baru, Cek Syarat dan Cara Daftarnya!

UMS Buka 5 Jalur Beasiswa 2026 untuk Mahasiswa Baru, Cek Syarat dan Cara Daftarnya!

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027 dengan menyediakan jalur program beasiswa bagi calon mahasiswa baru yang memiliki capaian prestasi, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Alif Rahmat Yudha Putra, selaku Koordinator One Day Service (ODS) PMB UMS 2026, menyampaikan program Beasiswa UMS ini merupakan suatu inisiatif untuk menarik mahasiswa baru pada Program Sarjana yang baru lulus (fresh graduate) dari Sekolah Menengah Umum atau sederajat. Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan prestasi calon mahasiswa selama menempuh pendidikan sebelumnya.

“Per 3 Februari 2026 ada 168 pendaftar beasiswa ums,” jelasnya saat dimintai keterangan pada, Rabu (4/2).

Pada tahun ini, UMS menawarkan lima jalur beasiswa untuk Program Sarjana, diantaranya, Beasiswa Kiai Haji Ahmad Dahlan (BKHAD), Beasiswa Tunas Unggul Muhammadiyah (BTUM) / Kader Muhammadiyah, Beasiswa Hafidz Al-Qur’an (BHA), Beasiswa Unggulan (BU), dan Beasiswa Prestasi (BP).

Adapun bantuan beasiswa yang diberikan mencakup keringanan biaya pendidikan berupa pemberian biaya hidup dan biaya akademik, dengan nominal yang telah ditentukan berdasarkan beasiswa yang diikuti.

Periode pendaftaran beasiswa terbagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama, pendaftaran telah dibuka sejak 19 Januari 2026 dan akan berlangsung hingga 28 Februari 2026. Sementara Gelombang kedua dijadwalkan akan dibuka kembali pada bulan Mei.

Beasiswa merupakan bentuk komitmen UMS dalam memberikan akses pendidikan tinggi secara merata, Alif berharap program tersebut dapat berlanjut secara konsisten setiap tahunnya.

“Harapannya, semoga beasiswa ini bisa terus dibuka dan dijalankan secara konsisten tiap tahunnya, supaya siswa yang punya potensi tapi terkendala secara ekonomi tetap bisa kuliah di UMS,” harapnya.

Lebih lanjut, Alif menjelaskan bahwa program beasiswa UMS tidak hanya berfokus pada bantuan finansial saja. Ke depannya, pihaknya berharap beasiswa ini dapat mendorong para penerimanya untuk dapat mengembangkan keterampilan dan berprestasi, serta turut berkontribusi di lingkungan sosial masyarakat. Informasi lebih lanjut bisa mengunjungi website https://www.ums.ac.id/beasiswa. (Roselia/Arniya/Humas)

Tingkatkan Pemahaman Warga, Mahasiswa KKN-Dik UMS Sosialisasikan Tata Cara Urus Jenazah di Wonogiri

Tingkatkan Pemahaman Warga, Mahasiswa KKN-Dik UMS Sosialisasikan Tata Cara Urus Jenazah di Wonogiri

muhammadiyahkaranganyar.or.id, WONOGIRI – Dalam rangka peningkatan pemahaman keagamaan serta menumbuhkan kepedulian sosial masyarakat, kelompok KKN-Dik Universitas Muhammadiyah Surakarta menggelar kegiatan Sosialisasi Tata Cara Pemulasaran Jenazah dan Program Celengan Infaq pada Sabtu, (31/1). Kegiatan ini bertempat di Masjid Al Barokah Danan, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri.

Eko Febryanto perwakilan KKN Dik UMS menjelaskan bahwa celengan infaq diharapkan dapat menjadi media sederhana namun efektif untuk membiasakan masyarakat menyisihkan sebagian rezekinya setiap hari.

“Melalui celengan infaq ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk bersedekah secara rutin, meskipun jumlahnya kecil, tetapi dilakukan dengan istiqamah,” ujar Eko, Rabu, (4/2).

Celengan infaq yang dibagikan kepada warga nantinya akan dikumpulkan secara berkala dan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan keagamaan, sosial, serta kebutuhan Masjid Al Barokah Danan.

Program ini juga diharapkan mampu menanamkan nilai kepedulian sosial, gotong royong, dan semangat berbagi, baik kepada orang dewasa maupun anak-anak di lingkungan sekitar.

Masyarakat menyambut baik program celengan infaq tersebut. Atik, salah satu warga, menyampaikan bahwa program ini dapat menjadi sarana pendidikan bagi keluarga untuk membiasakan bersedekah sejak dini.

“Dengan adanya celengan ini, anak-anak di rumah jadi belajar berbagi sejak kecil,” ungkap Atik.

Kepala Desa Sendangagung, Karsino, menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KKN-Dik UMS atas terselenggaranya kegiatan keagamaan yang dinilai sangat bermanfaat bagi masyarakat.

“Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan warga terutama bagi umat muslim, karena sosialisasi ini sangat memberikan bekal penting agar masyarakat tidak bingung dan ragu saat mengurus jenazah sesuai ajaran islam” ujarnya.

Ia juga berharap sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik.

“Kami berharap kehadiran mahasiswa KKN Dik-UMS tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga mempererat kebersamaan dan kepedulian sosial warga,” tambahnya.

Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Giriwoyo, Ahmad Widodo. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pemahaman syariat islam dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya terkait pemulasaran jenazah.

Pada sesi inti, Halim Fatkhuri hadir sebagai pembicara utama. Ia menyampaikan materi pemulasaran jenazah secara runtut, sistematis, dan mudah dipahami oleh seluruh peserta.

Materi diawali dengan penjelasan mengenai kedudukan pemulasaran jenazah sebagai bagian dari fardhu kifayah yang apabila telah dilaksanakan oleh sebagian umat Islam, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain.

Namun demikian, Halim juga menegaskan bahwa semakin banyak umat yang memahami dan mampu melaksanakannya, maka semakin baik bagi kehidupan bermasyarakat.

“Mengurus jenazah itu bukan sekadar tugas, tetapi ibadah yang pahalanya besar. Karena itu, harus dilakukan dengan ilmu dan niat yang ikhlas,” jelas Halim di hadapan jamaah.

Halim kemudian menjelaskan tahapan pemulasaran jenazah mulai dari memandikan jenazah, mengkafani, menshalatkan, hingga menguburkan jenazah. Setiap tahapan dijelaskan secara detail, termasuk niat, adab, serta hal-hal yang perlu diperhatikan agar proses pemulasaran berjalan sesuai syariat.

Ia juga menyinggung beberapa kesalahan yang masih sering terjadi di masyarakat, seperti kurangnya kehati-hatian dalam memandikan jenazah atau kekeliruan dalam pengkafanan.

“Sering kali kesalahan terjadi bukan karena sengaja, tetapi karena kurangnya pengetahuan. Maka, belajar seperti ini sangat penting,” tambahnya.

Selain itu, Halim menekankan pentingnya sikap ikhlas, sabar, dan penuh penghormatan kepada jenazah.

Menurutnya, mengurus jenazah bukan hanya sekadar menjalankan kewajiban agama, tetapi juga wujud kasih sayang dan penghormatan terakhir kepada sesama Muslim.

Penjelasan tersebut membuat jamaah semakin memahami bahwa pemulasaran jenazah memiliki nilai ibadah yang sangat besar.

Kegiatan berlangsung dengan suasana yang interaktif.
Jamaah diberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada pemateri terkait berbagai permasalahan yang sering dihadapi di masyarakat. Beberapa warga menanyakan tentang tata cara pemulasaran jenazah dalam kondisi tertentu, seperti jenazah yang meninggal karena sakit menular atau jenazah perempuan yang dimandikan oleh keluarga terdekat.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan jelas dan bijaksana oleh Halim Fatkhuri. Selain sosialisasi pemulasaran jenazah, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan sosialisasi program celengan infaq.

Program ini merupakan upaya untuk menumbuhkan kebiasaan berinfaq secara rutin di tengah masyarakat.
Kegiatan sosialisasi ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Halim Fatkhuri. Doa dipanjatkan agar ilmu yang disampaikan dapat bermanfaat dan diamalkan oleh masyarakat, serta program celengan infaq dapat berjalan secara berkelanjutan. (Adi/Humas)