muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Hukum menabung dan jual beli emas dalam bentuk digital masih menuai perdebatan di kalangan umat Islam. Setidaknya terdapat dua pendapat utama yang berkembang terkait keabsahan transaksi emas digital, baik secara tunai maupun kredit.
Pendapat pertama menyatakan bahwa emas harus diperjualbelikan secara tunai. Pandangan ini memaknai hadis HR Muslim no 1587 tentang emas secara dzahir, khususnya lafaz dzahab bi dzahab (emas dengan emas) dan disebutkan pula dari tangan ke tangan. Menurut pendapat ini, emas baik sebagai alat tukar maupun komoditas harus dibayarkan secara tunai. Transaksi emas secara kredit dinilai tidak diperbolehkan.
Sementara itu, pendapat kedua membolehkan jual beli emas secara tidak tunai atau kredit. Pendapat ini mengaitkan hadis HR Muslim no 1587 dengan konteks penggunaan emas dan perak pada masa Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu, emas dan perak digunakan sebagai alat tukar berupa koin, yang nilainya ditentukan berdasarkan berat dan jenisnya, bukan nominalnya.
Dosen Fakultas Agama Islam UMS, Dr. Imron Rosyadi
Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Imron Rosyadi, M.Ag., menjelaskan bahwa pada masa Nabi, seseorang yang memiliki emas kemudian menukarkannya dengan koin emas atau perak, dapat menggunakan koin tersebut untuk membeli berbagai kebutuhan hidup. Oleh karena itu, emas dan perak saat itu berfungsi sebagai alat tukar utama.
“Dengan pemahaman tersebut, pada masa sekarang emas tidak lagi berfungsi sebagai alat tukar, melainkan sebagai komoditas. Karena itu, membeli emas dapat dilakukan secara tunai maupun kredit sebagaimana komoditas lainnya,” ujar Imron.
Lebih lanjut, Imron menyampaikan bahwa Tarjih Muhammadiyah menetapkan hukum membeli emas digital sebagai sesuatu yang diperbolehkan. “Hukumnya boleh membeli emas digital baik secara tunai maupun kredit melalui bank syariah atau pegadaian, dengan ketentuan terpenuhi rukun dan syarat-syaratnya,” jelasnya.
Adapun rukun dan syarat transaksi emas digital antara lain harus didukung oleh emas fisik yang nyata dan aman. Kepemilikan emas dicatat melalui akun terverifikasi dengan saldo dalam satuan gram yang jelas, serta ditransaksikan secara transparan tanpa mengandung unsur gharar (ketidakjelasan).
Akad jual beli dilakukan melalui ijab dan qabul secara elektronik. Pembayaran dapat dilakukan sesuai harga yang disepakati, baik secara tunai maupun melalui mekanisme lain yang dibenarkan. Setelah pembayaran, saldo emas bertambah dan pemilik memperoleh hak penuh atas emas tersebut. Emas fisik disimpan oleh penyedia layanan atas nama pemilik dan dapat ditarik secara fisik dengan syarat dan biaya tertentu, serta dapat dijual kembali kepada platform sesuai harga pasar.
Imron menegaskan bahwa emas digital adalah emas yang dimiliki dan diperdagangkan melalui sistem elektronik, di mana kepemilikan dicatat dalam bentuk saldo digital, sementara emas fisiknya benar-benar ada dan disimpan oleh penyedia layanan, seperti di gudang atau bank kustodian.
“Dengan kata lain, emas digital bukan uang digital dan bukan emas fiktif, melainkan emas riil yang kepemilikannya dibukukan secara elektronik,” katanya.
Emas digital memiliki beberapa karakteristik, di antaranya kepemilikan dalam bentuk saldo digital, pembelian dalam pecahan kecil, transaksi berbasis daring, penyimpanan emas fisik oleh penyedia layanan, serta adanya fasilitas penarikan emas fisik.
Mekanisme jual beli emas digital dimulai dari pembelian emas secara daring melalui aplikasi, situs web, atau marketplace. Emas yang dibeli dikonversi menjadi saldo gram dan disimpan dalam sistem terintegrasi. Lembaga keuangan syariah wajib memiliki emas fisik yang nyata dan menyimpannya di tempat aman, serta menjamin kesesuaian antara saldo digital dan emas fisik.
“Tanpa adanya emas fisik, transaksi berpotensi mengandung unsur gharar,” tekan Imron.
Proses transaksi diawali dengan pembukaan akun dan verifikasi identitas pengguna. Tahap ini bertujuan memastikan kejelasan subjek akad (aqidain). Selanjutnya, harga dan jumlah emas ditampilkan secara transparan dan real time sebelum akad berlangsung, sehingga tidak terdapat ketidakjelasan harga maupun objek akad.
Akad jual beli dilakukan secara elektronik melalui pernyataan kehendak membeli (ijab) dari pembeli dan konfirmasi penjualan (qabul) dari platform. Sementara pembayaran dilakukan sesuai harga yang disepakati dan menandai sahnya akad. Serah terima dilakukan secara qabd hukmi, ditandai dengan bertambahnya saldo emas pada akun pembeli.
Emas yang dimiliki akan tetap disimpan oleh penyedia layanan atas nama pemilik emas digital, dengan biaya penyimpanan tertentu. Pemilik juga dapat menarik emas fisik sesuai saldo yang dimiliki, dengan ketentuan minimal penarikan serta menanggung biaya cetak dan pengiriman. (Maysali/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menunjukkan kiprah globalnya di bidang pendidikan. Melalui pembelajaran fonetik bahasa Inggris yang interaktif, Nuha yang merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS, hadir langsung di ruang kelas Santi Witya Serong School, Pattani, Thailand, untuk meningkatkan kemampuan pelafalan dan kepercayaan diri siswa dalam berbahasa Inggris.
Santi Witya Serong School merupakan salah satu sekolah swasta di Pattani, Thailand, yang menjadi lokasi penempatan mahasiswa UMS dalam program pembelajaran lintas negara tersebut. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian dan praktik pembelajaran mahasiswa UMS di lingkungan pendidikan internasional, yang berlangsung selama kurang lebih dua pekan, mulai 26 Januari hingga 6 Februari 2026.
“Saya mengajar siswa di berbagai tingkatan kelas dengan fokus pada pengenalan fonetik bahasa Inggris sebagai upaya meningkatkan kemampuan pelafalan dan pengucapan kosakata secara tepat,” ungkap Nuha saat diwawancarai pada Selasa, (3/2).
Mahasiswa PBI FKIP UMS tersebut dibimbing langsung oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Miftakhul Huda, S.Pd., M.Pd., yang memberikan pendampingan akademik selama kegiatan pembelajaran berlangsung di sekolah mitra.
Mahasiswi PBI UMS, Nuha, saat menerapkan pembelajaran fonetik di ruang kelas Santi Witya Serong School, Thailand
Nuha menjelaskan, pembelajaran fonetik dilakukan melalui metode yang sederhana dan komunikatif, dimulai dengan penjelasan singkat mengenai dasar-dasar fonetik bahasa Inggris, dilanjutkan dengan pemberian contoh pelafalan bunyi oleh mahasiswa.
Setelah itu, lanjutnya, siswa diajak mempraktikkan pengucapan secara langsung dengan menirukan bunyi-bunyi fonetik yang dicontohkan, sehingga proses pembelajaran berlangsung secara interaktif dan partisipatif.
Menurut Nuha, selama kegiatan siswa terlihat aktif dan antusias mengikuti latihan pengucapan, terutama dalam membedakan bunyi-bunyi dasar bahasa Inggris yang sebelumnya dirasakan sulit.
“Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap pengucapan kosakata bahasa Inggris yang benar, serta tumbuhnya keberanian siswa untuk mempraktikkan pengucapan kata secara langsung di depan kelas,” ujarnya.
Selain meningkatkan kemampuan pelafalan, ia memandang kegiatan ini juga berdampak pada meningkatnya kepercayaan diri siswa dalam menggunakan bahasa Inggris, baik dalam kegiatan membaca maupun berbicara di kelas.
Bagi Nuha, pengalaman mengajar di sekolah swasta luar negeri ini menjadi sarana penerapan ilmu fonetik dan pedagogi bahasa Inggris secara langsung, sekaligus melatih kemampuan mengelola kelas multikultural.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pembelajaran fonetik dapat memberikan kontribusi berkelanjutan bagi peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris di Santi Witya Serong School, serta memperkuat peran mahasiswa UMS dalam pengabdian masyarakat di bidang pendidikan internasional. (Yusuf/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Tim dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dari Program Studi Teknik Kimia dan Program Studi Kesehatan Masyarakat melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di RS PKU Muhammadiyah Karanganyar. Kegiatan ini berfokus pada pengembangan sistem pengelolaan limbah plastik plabot infus non-infeksius yang legal, aman, ramah lingkungan, serta memiliki nilai tambah ekonomi.
Sebagai rumah sakit tipe C dengan aktivitas pelayanan kesehatan yang cukup tinggi, RS PKU Muhammadiyah Karanganyar secara rutin menghasilkan limbah plastik medis non-infeksius, khususnya plabot infus dan jerigen cairan hemodialisa. Setiap bulan, jumlah limbah yang dihasilkan mencapai sekitar 6.000-7.000 plabot infus dan 250-300 jerigen. Selama ini, limbah tersebut dikumpulkan dan diserahkan kepada pihak ketiga tanpa melalui proses pengolahan internal, sehingga belum memberikan nilai tambah serta menimbulkan ketergantungan pada pengelola eksternal.
Tim Dosen UMS Kembangkan Sistem Pengelolaan Limbah Plastik Medis
Ketua tim pengabdian UMS, Alimatun Nashira, M.Eng.Sc., menjelaskan bahwa program pendampingan ini dirancang menggunakan pendekatan interdisipliner agar permasalahan limbah medis dapat ditangani secara komprehensif.
“Dari sisi Teknik Kimia, kami merancang proses pemilahan, pencucian, dan disinfeksi limbah plastik secara teknis dan terukur. Sementara itu, Kesehatan Masyarakat memastikan aspek keselamatan kerja, pengendalian risiko lingkungan, serta kepatuhan terhadap regulasi kesehatan dan lingkungan,” jelasnya saat diwawancarai, Senin, (2/2).
Kegiatan pengabdian ini telah dimulai sejak Juni 2025 melalui beberapa tahapan, mulai dari survei teknis, identifikasi jenis dan volume limbah, hingga pengujian laboratorium. Hasil pengujian di Laboratorium Teknik Kimia UMS menunjukkan bahwa perendaman plabot infus dalam larutan klorin 0,5 persen selama 30 menit efektif menghilangkan mikroba, sehingga limbah aman untuk diproses lebih lanjut.
Poster Alur Pengelolaan Limbah Plabot Infus
Berdasarkan hasil tersebut, tim UMS bersama pihak rumah sakit merancang dan membangun fasilitas pengolahan limbah plastik skala rumah sakit. Fasilitas ini meliputi bak pembilasan dan disinfeksi, serta area penirisan dan pengeringan. Selain itu, operator rumah sakit juga mendapatkan pelatihan teknis terkait prosedur pemilahan, pemotongan limbah, disinfeksi, hingga penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Manajemen RS PKU Muhammadiyah Karanganyar menyambut baik pendampingan yang dilakukan oleh UMS. Program ini dinilai memberikan kejelasan dari sisi teknis dan regulasi, sekaligus membuka peluang bagi rumah sakit untuk mengelola limbah plastik non-infeksius secara lebih mandiri. Sistem ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga serta meningkatkan nilai ekonomis limbah secara legal.
Sistem pengolahan limbah plastik tersebut mulai diuji coba secara operasional sejak September 2025 dan dijalankan langsung oleh staf rumah sakit. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem dapat berfungsi dengan baik, meskipun masih memerlukan beberapa penyempurnaan, terutama terkait pengelolaan air sisa disinfeksi agar tidak mengganggu kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Sebagai bagian dari evaluasi dan perencanaan keberlanjutan program, UMS bersama RS PKU Muhammadiyah Karanganyar menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada 22 Januari 2026. Melalui forum tersebut, kedua belah pihak menegaskan komitmen untuk terus menyempurnakan sistem pengolahan limbah yang telah dibangun agar dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan pengabdian ini, UMS berharap kolaborasi antara Program Studi Teknik Kimia dan Kesehatan Masyarakat dapat menjadi model pengelolaan limbah medis yang aplikatif dan berkelanjutan. Program ini tidak hanya memperkuat kapasitas internal rumah sakit, tetapi juga berkontribusi pada perlindungan lingkungan serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertang. (Fika/Humas)
muhamamdiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) Giri Bahama dari Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendelegasikan 14 personel dalam misi pencarian survivor di Basecamp Mongkrang. Tim KMPA Giri Bahama bergabung bersama ratusan personel Search And Rescue (SAR) lalu terbagi menjadi SRU Vertikal Rescue untuk menyisir titik blank spot dan SRU penyisiran darat (Ground Search).
14 personel yang dikirimkan di antaranya adalah Dendy, Alfa, Hasan, Sarwoto, Fauzan, Bashra,Alfi, Jawwad, Shahid, Fadly, Miftah, Bayu, Anggraini, dan Viki Pratama selaku ketua umum. Tim KMPA Giri Bahama mengikuti operasi SAR Tahap 1, dimulai tanggal 19 – 25 Januari 2026. Pada tahap ini lokasi pencarian diperluas ke area Candi 1, Candi 2, Sangitan sampai Gunung Mitis, jalur Jobolarangan, dan jalur Mrutu hingga wilayah Jawa Timur.
Mengenal dari kacamata Geografi, Bukit Mongkrang termasuk wilayah Pegunungan Lawu Selatan. Pegunungan Lawu Selatan memiliki geomorfologi yang didominasi oleh lereng curam Stratovolcano tipe B dengan batuan andesitik-basaltik yang ditandai hutan primer lebat, morfologi perbukitan terjal, terbentuk dari adanya aktivitas vulkanik purba. “Secara keseluruhan Pegunungan Lawu Selatan adalah lanskap pegunungan api terjal dan tertutup vegetasi lebat,” jelas Viki, Selasa (3/2).
Setelah melalui proses evaluasi pada tahap 1, operasi SAR difokuskan untuk pencarian pada titik MPP (Most Probable Position) di sekitar Puncak Candi I sampai Pos 3 Tapak Nogo. Berbagai upaya telah dilakukan baik secara penyisiran manual, pemantauan udara menggunakan drone, dan pengerahan K9 (anjing pelacak). Meskipun pencarian telah dilakukan secara maksimal namun kondisi cuaca yang tidak stabil menjadi salah satu penghambat pencarian dan hingga kini belum menemukan titik terang keberadaan survivor.
“Vegetasi gunung yang sangat rapat, angin kencang, kabut tebal, dan buruknya cuaca menjadi kendala ketika pencarian karena terbatasnya jarak pandang,” ujar Alfi personel Tim KMPA Giri Bahama.
Pada hari ke-7 SRU mencium bau misterius di sekitar Pos 3 Tapak Nogo yang menjadikan sebagai petunjuk baru keberadaan survivor. Kemudian pencarian ditambah 3 hari (26-28/1), namun hasilnya masih nihil. Hingga pada akhirnya, pencarian diperpanjang hingga Sabtu, 31 Januari 2026 untuk memaksimalkan pencarian.
“Adanya kejadian ini diharapkan anggota KMPA Giri Bahama dapat meningkatkan keterampilan di bidang Search and Rescue, navigasi darat, dan menambah kemampuan dalam vertical rescue,” pesan Viki.
Viki menyampaikan, KMPA Giri Bahama berkomitmen selalu memberikan bekal pengetahuan dasar kepecintaalaman kepada calon anggota dimulai dari Pendidikan dan Latihan Dasar Jungle Track sampai dengan Masa Pengembaraan. Tujuannya guna meningkatkan kompetensi individu maupun kelompok sebelum menjalankan kegiatan alam bebas untuk meminimalisir risiko ketika berkegiatan.
Bagi Viki, kasus hilangnya Yazid menjadi pengingat untuk selalu menjaga keamanan dan keselamatan dalam melakukan kegiatan di luar ruangan. Bukan berarti gunung yang rendah dan jalur yang mudah dapat dianggap bebas risiko. Bekal pengetahuan, fisik, dan persiapan yang matang menjadi langkah strategis dalam menyukseskan kegiatan.
Dosen Fakultas Geografi UMS Nirma Lila Anggani, S.Si., M.Sc., mengapresiasi atas keterlibatan KMPA Giri Bahama dan menjadi kontribusi nyata dan berdampak dari mahasiswa UMS khususnya Fakultas Geografi.
“Keterlibatan mahasiswa KMPA Giri Bahama dalam operasi SAR ini merupakan bentuk kontribusi nyata dan berdampak dari mahasiswa dalam membantu persoalan di masyarakat dan berguna bagi sesama. Ketabahan, ketulusan, dan keberanian anggota KMPA Giri Bahama merupakan salah satu perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sesungguhnya,” ujar Nirma.
Ia berharap, dengan adanya kejadian ini, masyarakat akan lebih berhati-hati dalam berkegiatan untuk menjaga etika dan meningkatkan nilai-nilai tanggung jawab serta kedisiplinan ketika di alam bebas dan di manapun. (Maysali/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melepas empat relawan kemanusiaan untuk bertugas di wilayah terdampak banjir bandang di Kota Lintang, Aceh Tamiang, Sumatera, dalam acara Pelepasan Relawan Bencana Sumatera yang digelar di Ruang Sidang Rektorat Lantai 6 Gedung Siti Walidah UMS pada Senin (2/2).
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas dedikasi para relawan yang akan menjalankan misi kemanusiaan.
“Atas nama universitas, kami sangat berterima kasih atas dedikasi adik-adik relawan yang akan berangkat untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ujarnya.
Ia juga berpesan agar relawan menggunakan pendekatan yang kontekstual, humanis, dan komunal selama menjalankan tugas. Harun juga menegaskan bahwa UMS memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut karena merupakan aksi kemanusiaan sekaligus bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
“Universitas akan sedikit membantu karena ini adalah kegiatan kemanusiaan, dan juga bisa dijadikan bentuk pengabdian yang dapat dikonversi sebagai bagian dari tugas akhir masa kuliah,” jelasnya.
Dengan pelepasan ini, UMS menegaskan komitmennya dalam mendukung aksi kemanusiaan serta pengabdian sivitas akademika bagi masyarakat yang membutuhkan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Adapun relawan yang diberangkatkan terdiri dari tiga psikolog dan satu koordinator, yakni; Berlianti Husna Pradina, S.Psi., Shafiyatul Baridah, S.Psi., Alvanindya Nafik Ardani, S.Psi., serta Bramantyo Wijaya Kusuma selaku koordinator tim.
Bramantyo Wijaya Kusuma menjelaskan bahwa keberangkatan tim relawan didasari oleh panggilan kemanusiaan dan semangat ke-Muhammadiyahan.
“Sebenarnya pasti atas dasar kemanusiaan ya, Mas. Karena yang kita tahu Muhammadiyah itu aktif bukan hanya di pendidikan dan keagamaan, tapi juga di kemanusiaan yang diwakili oleh MDMC,” ungkapnya.
Menurutnya, upaya ini merupakan bentuk tanggung jawab sebagai manusia dan sebagai muslim untuk meringankan beban sesama dan hingga kini kebutuhan mendesak di lokasi masih terkait air bersih dan pemulihan trauma psikososial masyarakat.
Bramantyo juga menjelaskan bahwa tim telah mempersiapkan berbagai aspek sebelum keberangkatan.
“Kami sudah mempelajari demografi masyarakat dan lingkungan budaya setempat, supaya intervensi yang diberikan bisa sesuai dengan budaya dan tradisi di sana,” katanya.
Selain itu, aspek keamanan, keselamatan, alat pelindung diri, dan logistik juga telah diperhitungkan dengan matang. Masa penugasan direncanakan berlangsung selama kurang lebih 16 hari dengan fokus di Kota Lintang.
Sementara itu, Alvanindya Nafik Ardani, S.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa bentuk pendampingan psikososial akan disesuaikan dengan hasil asesmen di lapangan.
“Untuk bentuk konkritnya, kami masih perlu melakukan asesmen. Tapi sebelumnya sudah ada tim psikososial yang terjun dan memberikan rekomendasi, itu yang akan kami pertimbangkan,” terangnya.
Ia menyebutkan bahwa kegiatan yang direncanakan meliputi psikoedukasi, konseling, serta aktivitas bermain bersama anak-anak.
“Fungsi psikososial itu ibaratnya mengalihkan sementara, supaya yang tadinya mungkin berada dalam fase kedukaan, kita bisa membantu mengembalikan senyum warga, termasuk anak-anak,” ujarnya.
Alvanindya menambahkan bahwa aktivitas bermain akan memanfaatkan permainan tradisional sebagai bentuk distraksi yang edukatif.
“Kami ingin mengenalkan game-game tradisional, seperti lompat tali dan permainan sederhana lainnya, agar anak-anak bisa kembali merasa aman dan senang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa seluruh program akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Terkait harapan setelah menjalani penugasan, Alvanindya menekankan pentingnya kebermanfaatan.
“Harapannya, apa yang kami berikan melalui psikososial ini bisa benar-benar bermanfaat bagi mereka, dan bisa bernilai amal bagi kami semua” ungkapnya. (Adi/Humas)