by | 21 Oct 2026 | KabarMu |

Dorong Mahasiswa Jadi Eksportir Muda, IBTI UMS Kupas Tuntas Regulasi Pasar Eropa

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Inkubator Bisnis dan Talenta Inovasi (IBTI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kuliah Umum Kewirausahaan bertema “Dari Kampus ke Pasar Global: Peluang Wirausaha Mahasiswa Menembus Pasar Global” di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan untuk membekali mahasiswa dengan wawasan praktis dan strategi perdagangan internasional agar mampu bersaing di pasar ekspor.

Kegiatan di bawah naungan Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta-Inovasi (DKPTI) UMS ini diikuti oleh 257 mahasiswa, dengan partisipasi terbanyak berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Ketua panitia, Endang Setyaningsih, M.Si., Ph.D., berharap ajang ini menjadi pendorong lahirnya wirausahawan muda dari lingkungan kampus yang mampu merambah ranah internasional.

Direktur DKPTI UMS, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., menegaskan pentingnya memanfaatkan kehadiran para praktisi ekspor dalam agenda tersebut. Ia mengajak peserta menggali ilmu langsung dari pemateri yang berpengalaman di dunia usaha global untuk mempersiapkan diri menjadi eksportir masa depan.

Materi pertama disampaikan oleh Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas sekaligus Juri Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMK) 2026, Wiwid Wijayadi, S.T., M.Si. Wiwid menekankan bahwa modal utama seorang eksportir bukanlah dana finansial yang besar, melainkan kesungguhan niat dan kemauan belajar. Ia juga memaparkan tiga pilar utama keberhasilan ekspor yang wajib dipenuhi pelaku usaha, yaitu kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan.

Dalam sesi tersebut, Wiwid mengurai berbagai kendala ekspor yang kerap dihadapi pelaku usaha domestik, seperti keterbatasan pengetahuan prosedur, minimnya jaringan pembeli, hingga persoalan rasa percaya diri. Ia menuntun peserta memahami alur ekspor secara bertahap, mulai dari riset pasar, promosi, negosiasi, penyusunan kontrak dagang, pengurusan dokumen, hingga proses pengiriman dan pelunasan pembayaran.

Pada sesi kedua, Direktur Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Budapest, Hungaria, Suci Mahanani, S.T., M.E., membedah peluang serta tantangan penetrasi pasar Eropa. Menurut Suci, komoditas furnitur kayu dan kopi Indonesia memiliki daya tarik tinggi di Hungaria. Namun, pelaku usaha wajib mematuhi regulasi ketat Uni Eropa, salah satunya European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang menuntut ketertelusuran rantai pasok hingga titik koordinat lahan untuk memastikan produk bebas dari deforestasi.

Selain aturan kelestarian lingkungan, Suci mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap standar keamanan pangan Uni Eropa, batas kontaminan, serta pencantuman informasi label kemasan dalam bahasa Hungaria bagi produk pangan olahan, kopi, dan rempah-rempah. Untuk sektor furnitur, penyesuaian desain, ukuran, dan ergonomi yang sesuai dengan karakteristik serta preferensi konsumen Eropa menjadi kunci utama agar produk dapat diterima pasar secara berkelanjutan.

Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Artikel terkait