by | 20 Oct 2026 | KabarMu |

Ketaatan vs Kritik dalam Islam: MPQ UMS Kupas Hakikat Demonstrasi dan Sikap Kritis Mahasiswa

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Mahasiswa Pencinta Al-Qur’an (MPQ) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar diskusi Ngobrol Seputar Qur’an (NGOPAQ) #2 bertajuk “Ketaatan Tanpa Kritik: Kesalehan atau Pembungkaman? (Hakikat Kritik dan Demonstrasi dalam Perspektif Islam)”. Kegiatan yang berlangsung di Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI), Kampus 2 UMS ini menjadi ruang dialog interaktif untuk membedah hubungan antara nilai-nilai keislaman, sikap kritis, dan penyampaian aspirasi publik.

Diskusi yang diselenggarakan pada Sabtu (17/10/2026) tersebut menghadirkan dua pemantik, yakni Ketua Umum Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukoharjo 2026, Azhar Ardiansyah, dan Ketua Departemen Musabaqoh Pembinaan Huffazh MPQ UMS 2026, Tholhah Hananah. Diskusi dipandu oleh Sekretaris Departemen Syiar MPQ UMS 2026, Fauziyah Salma Anfihar, selaku moderator.

Dalam pemaparannya, Tholhah Hananah menjelaskan dengan meneladani Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 59 bahwa ketaatan kepada pemegang kekuasaan (ulil amri) tidak bersifat mutlak layaknya ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Menurutnya, terdapat perbedaan paradigma dalam memandang kepatuhan dan kritik.

“Ada satu paradigma yang mengatakan bahwasanya kritik itu berbeda dengan ketidaktaatan,” ujar Tholhah, Selasa (20/10/2026).

Tholhah juga merujuk pada Surat An-Nahl ayat 125 mengenai pentingnya metode penyampaian saran dan kritik secara bijaksana (bil-hikmah). Ia menekankan bahwa penyampaian kritik harus dilandasi oleh moral, adab, dan tawaran solusi.

“Diam di hadapan kezaliman bukan berarti taat, teman-teman. Kemudian, berteriak tanpa adab juga bukan berarti sebagai tanda keberanian. Tentunya ketika kita mengkritik, ketika kita menyampaikan aspirasi, tentunya harus dengan ilmu, adab, dan kalau bisa sebisa mungkin kita juga berkontribusi untuk menawarkan solusi,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Azhar Ardiansyah menegaskan bahwa kebebasan berekspresi dan menyuarakan kritik terhadap kebijakan—bukan ranah personal—merupakan manifestasi dari rasa cinta tanah air. Namun, ia menggarisbawahi bahwa kritik yang baik wajib dilandasi oleh data dan fakta yang kuat.

“Kritik itu yang saya pahami adalah ketika kita benar-benar membawa satu isu dengan data. Membawa satu isu dengan data, membawa satu keresahan dengan data,” kata Azhar.

Azhar juga mengingatkan mahasiswa agar tidak kaku dalam menyalurkan aspirasi. Menurutnya, perjuangan tidak selalu harus dilakukan melalui demonstrasi jalanan, melainkan bisa ditempuh lewat penulisan esai, artikel ilmiah, maupun riset terhadap isu-isu daerah seperti penanganan sampah dan banjir.

Diskusi semakin dinamis ketika salah satu peserta, Zulfikar (mahasiswa semester 7 Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UMS), menyoroti fenomena massa aksi yang rentan terjebak sikap ikut-ikutan (Fear of Missing Out/FOMO) atau taklid buta tanpa memahami substansi kajian isu.

Melalui forum NGOPAQ #2 ini, MPQ UMS berharap mahasiswa dapat terus mengembangkan pemahaman keagamaan yang reflektif, dialogis, serta bertanggung jawab dalam menyikapi dinamika kehidupan bermasyarakat.

Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Artikel terkait