by | 27 Oct 2026 | KabarMu |

Parenting Islam Menurut Dosen UMS: Pentingnya Niat dan Visi Orang Tua Sejak Masa Kandungan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Fenomena pengasuhan anak tanpa arah dan cita-cita yang jelas, atau sekadar menerapkan prinsip “biarkan mengalir apa adanya”, dinilai sebagai bentuk kelalaian fatal dalam pendidikan Islam. Hal tersebut ditegaskan oleh Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., dalam agenda Kajian Tafsir Rutin UMS, Selasa (27/10/2026).

Saat mengupas Tafsir Surah Ali ‘Imran ayat 35, Hakimuddin menguraikan teladan agung kisah Hannah binti Faqudzah, istri ‘Imran, yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Meski hamil di usia senja, Hannah memiliki keteguhan tekad dengan menazarkan bayi di dalam kandungannya untuk menjadi seorang muharrar—sosok yang dibebaskan dari keterikatan duniawi agar fokus mengabdi sebagai ahli ibadah dan penjaga Baitul Maqdis di Palestina.

“Melalui penjelasan Ibnu Katsir dan para mufasir muktabar, kita diajarkan bahwa orang tua wajib hukumnya memiliki visi dan cita-cita besar agar anaknya kelak mengabdi di jalan Allah,” ujar Hakimuddin.

Ia menyoroti dua kekeliruan ekstrem yang kerap dilakukan orang tua masa kini. Kekeliruan pertama adalah memaksakan peran secara kaku tanpa melihat potensi anak. Sementara itu, kekeliruan kedua adalah tidak memiliki gambaran visi sama sekali sehingga membiarkan anak tumbuh tanpa kejelasan arah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perancangan visi pengasuhan sejak dini merupakan inti dari konsep Tarbiyah Ma Qablal Wiladah atau pendidikan pra-kelahiran. Dalam Islam, fondasi pendidikan anak telah berjalan sejak janin berada di dalam rahim melalui niat yang lurus, doa, serta komunikasi batin dan narasi kebaikan yang didengungkan selama masa kehamilan.

Penguatan visi ini membutuhkan kesepakatan ikhtiar antara suami dan istri, dengan porsi perhatian utama berada pada ibu sebagai sosok yang membimbing di fase-fase awal kehidupan. Hakimuddin mencontohkan catatan sejarah Khilafah Turki Utsmani, di mana para istri sultan yang sedang hamil mendapat karantina khusus dan diwajibkan mengkhatamkan Al-Qur’an berulang kali. Dari tradisi spiritual tersebut lahir tokoh besar dunia seperti Sultan Muhammad Al-Fatih.

Sebagai penutup, Hakimuddin mengimbau setiap keluarga muslim untuk merancang visi masa depan anak secara sadar dan terstruktur melalui taszji’ (pemberian motivasi) dan tahbib (penumbuhan rasa cinta nilai kebaikan). Apapun profesi yang dipilih anak kelak—baik akademisi, pengusaha, pejabat, maupun tenaga medis—seluruh peran tersebut harus diabdikan untuk menegakkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Artikel terkait