Bukan Mistis! Ini Alasan Ilmiah Munculnya Sinkhole Menurut Dosen Geografi UMS

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fenomena runtuhnya permukaan tanah secara tiba-tiba ini dinilai memiliki keterkaitan erat dengan karakteristik geologis wilayah serta dampak masif dari aktivitas manusia yang kurang terkontrol di atasnya. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui pakar geografi, M Iqbal Taufiqurrahman Sunariya, S.Si, M.Sc, M.URP, memberikan edukasi mendalam mengenai fenomena sinkhole atau tanah ambles yang belakangan ini memicu kekhawatiran publik.

Secara akademis, sinkhole didefinisikan sebagai peristiwa runtuhnya permukaan tanah ke bawah karena adanya rongga atau lubang besar di lapisan bawah tanah. “Gampangnya adalah tiba-tiba permukaan tanah runtuh ke bawah akibat di bagian bawahnya ada rongga besar sehingga bagian atasnya collapse,” jelas Iqbal saat menjelaskan definisi dasar fenomena tersebut secara progresif, Jum’at (30/1).

Pakar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), M Iqbal Taufiqurrahman Sunariya, S.Si, M.Sc, M.URP,
Pakar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), M Iqbal Taufiqurrahman Sunariya, S.Si, M.Sc, M.URP,

Kawasan bentang alam karst menjadi wilayah yang paling identik dengan potensi sinkhole karena sifat batuannya yang keras (batuan gamping) namun mudah larut oleh air melalui retakan pada batuan. Iqbal menyebutkan bahwa retakan kecil pada batuan gamping dapat memicu pelarutan besar yang membentuk jaringan sungai bawah tanah yang sulit teridentifikasi. Hal ini menjadikan wilayah karst memiliki kerawanan utama terhadap amblesan jika beban di permukaan sudah melampaui kapasitas tumpu batuan.

Namun, potensi sinkhole ternyata tidak hanya terbatas pada kawasan karst, melainkan juga dapat terjadi di wilayah non-karst seperti perkotaan dengan lapisan dengan partikel halus. “Di wilayah lain bisa saja terjadi, terutama yang lapisan tanahnya dari partikel halus seperti lempung, lanau, dan pasir halus,” ungkap iqbal. Ia menambahkan bahwa penyebab di wilayah non-kars biasanya dipicu oleh pengambilan air tanah yang berlebihan secara masif dan cepat.

Selain eksploitasi air tanah, erosi bawah permukaan yang disebabkan oleh kebocoran pipa air atau aliran air dibawah tanah yang masuk ke dalam terowongan tertentu juga menjadi ancaman serius bagi infrastruktur kota. Iqbal mencontohkan bahwa kejadian amblesan di kota-kota besar seringkali merupakan dampak dari pemanfaatan ruang bawah tanah yang tidak sesuai standar konstruksi. Hal ini menuntut adanya pengawasan ketat terhadap setiap pembangunan gedung bertingkat.

Terkait upaya mitigasi, UMS menekankan pentingnya penggunaan teknologi canggih seperti radar dan geolistrik untuk memantau aktivitas bawah permukaan tanah. Secara visual, masyarakat di kawasan karst dapat mewaspadai munculnya retakan melingkar sebagai indikasi awal. “Kalau di kawasan karst, cirinya ada retakan yang berbentuk melingkar, itu artinya memungkinkan di bawahnya sudah ada rongga,” jelasnya dalam memberikan tips deteksi dini.

Iqbal juga menyoroti bahwa cuaca ekstrem saat ini bertindak sebagai pemicu utama bencana hidrometeorologi, namun akar masalahnya tetap pada tata kelola lahan. Menurutnya, hujan dengan intensitas tinggi akan memperparah kondisi tanah yang sudah rapuh akibat alih fungsi lahan di daerah hulu. Penataan daerah aliran sungai (DAS) yang berkelanjutan menjadi kunci utama dalam mencegah banjir dan tanah longsor secara nasional.

Dalam perspektif perencanaan wilayah, ia mendorong pemerintah untuk lebih disiplin dalam implementasi dan monitoring tata ruang. Meskipun undang-undang tata ruang di Indonesia sudah baik, titik lemahnya berada pada pengawasan izin pengambilan air tanah oleh sektor komersial seperti hotel dan industri. “Perencanaan kita sudah baik, namun ketika masuk ke penerapan dan monitoring, di situlah kita lemah,” tegasnya dengan nada kritis namun konstruktif.(Al/Humas)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Jadwal Salat Hari Ini
Memuat lokasi…
Subuh
Terbit
Zuhur
Ashar
Maghrib
Isya
Menuju salat berikutnya:
Subuh menggunakan kriteria Muhammadiyah (-18°).

Artikel terkait