muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR – 300 kader dari enam organisasi otonom Muhammadiyah Karanganyar berkumpul di SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar untuk memperkuat visi anak muda dan agama, Sabtu (18/4/2026) malam. Acara yang dikemas dalam bentuk simposium dan halal bihalal ini menghadirkan dakwah inklusif sebagai strategi merangkul generasi muda agar tetap dekat dengan nilai-nilai religiusitas.
Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Karanganyar menginisiasi gerakan ini untuk menjawab tantangan zaman. Ketua MPKSDI PDM Karanganyar, Zainudin Ahpandi, menegaskan bahwa konsolidasi ini bertujuan menyatukan persepsi kader di tengah dinamika sosial yang cepat. MPKSDI merancang simposium ini sebagai ruang dialektika untuk memperkuat Trilogi Kader Muhammadiyah.

Narasumber pertama, Azaki Khoirudin menyoroti pergeseran religiusitas di kalangan generasi baru. Tenaga Ahli Mendikdasmen RI ini melihat adanya kecenderungan anak muda dan agama yang semakin berjarak akibat pendekatan dakwah yang kaku. Azaki menawarkan solusi berupa pendekatan yang lebih cair dan tidak melulu soal formalitas organisasi.
“Menjadi Muhammadiyah tidak harus selalu formal dengan kartu keanggotaan atau jabatan struktural. Cukup dengan senang hati dan mau mengaji,” ujar Azaki Khoirudin.
Ia menambahkan bahwa dakwah inklusif harus menjadi ruh baru bagi Angkatan Muda Muhammadiyah. Menurutnya, seorang kader masa kini wajib memiliki kapasitas ideologis sekaligus profesionalisme yang kuat di bidangnya masing-masing.
Melengkapi perspektif metode dakwah tersebut, Komisioner KPAI Diyah Puspitarani, menekankan aspek militansi dan totalitas. Ia mengingatkan agar kader tidak hanya sekadar aktif tanpa visi kemanfaatan yang jelas bagi masyarakat luas. Diyah kemudian mengutip pesan historis dari tokoh perempuan Nyai Walidah sebagai penguat narasi perjuangan kader.

“Wahai kader Muhammadiyah, jika ini untuk agama dan tanah air, maka kita wajib meluangkan segala yang kita miliki. Jangan tunggu diperintah, jangan hitung untung rugi,” ujar Diyah Puspitarani.
Ia menegaskan bahwa kader sejati seharusnya benar-benar meluangkan waktu secara khusus untuk persyarikatan. Hal ini menjadi fondasi sikap agar strategi dakwah yang ditawarkan Azaki sebelumnya dapat terlaksana dengan tangguh.
Menutup babak diskusi, Anggota DPR RI, Juliyatmono, mengunci rangkaian materi dengan aspek spiritualitas. Ia meyakini bahwa keterbukaan metode dan militansi sikap hanya akan langgeng jika dibarengi dengan keikhlasan.
“Seorang kader Muhammadiyah seharusnya merasa senang dan memiliki peran yang baik karena panggilan jiwa yang tulus,” ujar Juliyatmono.

Nuansa simposium yang digelar MPKSDI terasa semakin hangat dengan sentuhan seni dari kelompok musik Srawung Aji. Menghadirkan musik religi tradisional, Srawung Aji mampu membius 300 peserta yang memadati lokasi. Melalui sinergi pemikiran para tokoh dan fasilitasi dari MPKSDI Karanganyar, organisasi ini optimistis mampu mencetak kader yang berdampak nyata bagi bangsa.















