muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan, dan Alumni (LP3A) memperkuat komitmennya dalam memajukan organisasi Muhammadiyah di akar rumput. Hal ini diwujudkan melalui Koordinasi Rencana Pengembangan Persyarikatan yang digelar pada Selasa (27/1/2026) di Ruang Meeting S4, Gedung Edutorium KH. Ahmad Dahlan UMS.
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) serta Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) dari seluruh wilayah Solo Raya. Fokus utama koordinasi ini adalah menyatukan visi untuk menciptakan Ranting dan Cabang Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan.
Indikator keunggulan tersebut tidak hanya diukur dari satu sisi, melainkan mencakup tujuh aspek fundamental. Aspek-aspek tersebut meliputi ideologi dan kepemimpinan, tertib organisasi dan administrasi, keaktifan masjid dan dakwah, konsistensi kaderisasi, pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kepedulian sosial kemasyarakatan, hingga aspek keuangan dan kemandirian ekonomi.
Kepala LP3A UMS, Bambang, menekankan bahwa sebuah ranting atau cabang dikatakan unggul jika keberadaannya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. Ia merinci kriteria nyata yang menjadi tolok ukur keberhasilan pengembangan tersebut.

“Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggul itu hidup masjidnya, rapi organisasinya, berjalan kaderisasinya, nyata manfaatnya, dan dipercaya umatnya,” tegas Bambang dalam forum tersebut.
Sejalan dengan hal itu, Kepala Bidang Pengembangan Persyarikatan LP3A UMS, Kuswaji, menyatakan bahwa pihak universitas tidak akan tinggal diam. UMS berkomitmen memberikan pendampingan teknis dan strategis bagi penguatan struktur organisasi di tingkat bawah. Kuswaji juga meminta agar hasil pertemuan tersebut segera diteruskan ke unit-unit terkecil di daerah.
“UMS siap mendampingi Cabang dan Ranting Muhammadiyah Unggul. Mohon hasil koordinasi hari ini dapat disosialisasikan di cabang dan ranting masing-masing daerah,” jelas Kuswaji.
Salah satu isu krusial yang turut dibahas adalah optimalisasi peran sumber daya manusia internal UMS. Koordinasi ini menyoroti masih adanya dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang belum aktif dalam kegiatan persyarikatan di domisili mereka. Kedepannya, PDM akan diberikan data personalia tersebut agar dapat dilibatkan dalam kegiatan lokal, dimulai dari undangan pengajian hingga peran struktural di tingkat cabang atau ranting.
Sinergi ini juga merambah ke bidang perkaderan formal. Azizah turut menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dalam penyelenggaraan pelatihan ideologi. Ia berharap koordinasi ini mempermudah pemetaan lokasi untuk kegiatan perkaderan rutin.
“Kolaborasi LP3A dalam pelaksanaan Darul Arqam dan Baitul Arqam selanjutnya, mohon dapat dikoordinasikan dan disampaikan kepada kami daerah, cabang, dan ranting mana yang siap ditempati,” ungkap Azizah.
Melalui langkah masif ini, UMS dan PDM se-Solo Raya optimis dapat membangun basis persyarikatan yang lebih kokoh, mandiri, dan mampu memberikan solusi nyata bagi permasalahan umat di era modern.















