muhammadiyakaranganyar.or.id, KERJO – Semangat syiar Islam di Desa Botok, Kecamatan Kerjo, terus menyala melalui Kajian Purnomosidi. Kajian yang telah melegenda sejak tahun 1985 ini menjadi bukti nyata konsistensi dakwah Muhammadiyah di tingkat ranting. Dikelola secara kolaboratif oleh empat Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di Desa Botok—yakni PRM Botok, PRM Sinto, PRM Mojorejo, dan PRM Sumberejo—kegiatan ini tetap eksis melintasi zaman.
Secara historis, nama “Purnomosidi” merujuk pada waktu pelaksanaan kajian yang semula hanya dilakukan sebulan sekali, tepat saat bulan purnama. Namun, seiring meningkatnya antusiasme jemaah, forum PRM Desa Botok sepakat mengubah jadwal menjadi rutin setiap pekan pada Ahad malam. Meski waktu pelaksanaannya berubah, nama Purnomosidi tetap dipertahankan sebagai ikon sejarah dakwah di wilayah tersebut.
Pada pelaksanaan terbaru, Ahad (8/2/2026), kajian bertempat di Masjid Al Ikhlas Botok. Sebanyak 25 jemaah hadir memenuhi serambi masjid sejak pukul 20.00 WIB untuk menimba ilmu. Kali ini, tausiyah disampaikan oleh Susilo Tri Warsono yang mengupas tuntas urgensi menjaga ketakwaan sebagai bekal utama menuju kehidupan kekal.

Dalam sampaiannya, Susilo menekankan bahwa umat Islam di fase akhir zaman menghadapi tantangan moral dan spiritual yang berat. Ia mengingatkan jemaah untuk selalu waspada terhadap fenomena yang dapat melunturkan keimanan.
“Untuk menjaga ketaqwaan, harus diwaspadai hal-hal yang menimpa umat di akhir zaman seperti menyenangi dunia hingga lupa akhirat, menyenangi harta namun lupa dengan perhitungan amal, serta menyenangi makhluk tetapi lupa dengan sang Pencipta,” ujar Susilo di hadapan para jemaah.
Lebih lanjut, ia merinci dua poin krusial lainnya, yaitu kecenderungan manusia yang menyenangi dosa sehingga lupa bertaubat, serta kesibukan membangun gedung dan kemegahan duniawi hingga melupakan realitas kematian atau kubur. Susilo menegaskan bahwa iman harus menjadi fondasi utama dalam setiap sendi kehidupan. Tanpa iman yang kokoh, seluruh rangkaian ibadah dikhawatirkan hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna yang hampa.
Selain faktor iman, Susilo juga menekankan pentingnya ilmu sebagai kompas dalam beribadah. Baginya, ibadah yang dilandasi ilmu akan membawa ketenangan dan keikhlasan yang lebih dalam.
Kajian Purnomosidi kini tidak sekadar menjadi majelis thalabul ilmi atau pencarian ilmu, tetapi juga bertransformasi menjadi wadah silaturahmi lintas pengurus takmir masjid dan mushola. Saat ini, tercatat ada 12 masjid dan mushola yang tergabung dalam putaran Kajian Purnomosidi secara bergilir. Pola koordinasi antar-PRM ini diharapkan mampu mempererat ukhuwah sekaligus menggerakkan roda organisasi Muhammadiyah di tingkat desa secara berkelanjutan.















