muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus mempertegas komitmennya dalam membina Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kali ini, melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UMS menerjunkan tim pakar untuk mengawal transformasi industri kreatif di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Program pengabdian masyarakat ini berfokus pada optimalisasi potensi batik ecoprint sebagai simbol ekonomi kreatif berbasis lingkungan yang berdaya saing tinggi.
Program pengabdian ini diketuai langsung oleh Dekan FEB UMS, Prof. Dr. Muzakar Isa, S.E., M.Si., CSBA., CIPE. Dalam pelaksanaannya, Muzakar Isa yang akrab disapa dengan Isa itu didampingi oleh tim dosen kompeten, yakni Imam Riefly Aditomo, S.M., M.B.A. dan Rafi Amani Muflih Rahardi, S.M., M.M. Tak hanya dosen, program ini juga melibatkan kontribusi aktif mahasiswa sebagai wujud nyata kolaborasi akademik dan praktis di lapangan.
Isa mengatakan Desa Jarum memiliki potensi besar sebagai desa wisata. Desa Jarum sendiri telah ditetapkan sebagai desa wisata dengan klasifikasi maju yang memiliki akar budaya batik sangat kuat.

“Mitra utama dalam program ini, Kelompok Batik Mojoarum, menaungi lebih dari 230 pengrajin dengan 20 anggota inti pembatik yang aktif,” ujar Isa, Kamis (12/3).
Keunggulan utama produk Kelompok Batik Mojoarum terletak pada teknik ecoprint yang memanfaatkan bahan alami, seperti daun jati dan daun jambu, sebagai sumber warna dan pola. Penggunaan bahan organik ini memastikan setiap kain yang dihasilkan memiliki motif unik dan eksklusif yang tidak dapat direplikasi secara identik, menjadikannya nilai jual tersendiri di pasar seni.
Meski memiliki peluang besar, para pengrajin sempat menghadapi beberapa kendala serius. Menyikapi hal tersebut, tim dosen FEB UMS yang dipimpin oleh Isa memberikan solusi komprehensif. Untuk melaksanakannya, tim dibantu oleh mahasiswa di antaranya Berlian Syafiiqul Widaad (Bisnis Digital 25), Raziiq Akbar Al Qarni (Bisnis Digital 24), Fauzan Muhammad Ihsan (Manajemen 23), Viola Arisona (Manajemen 24), dan Rima Noviita (Manajemen 24).
“Kehadiran mereka memberikan energi baru dan sudut pandang desain kontemporer yang diharapkan dapat menarik minat pasar generasi muda, sembari mereka belajar langsung mengenai ketelatenan dan kearifan lokal dalam mengolah warna alam,” ujar Isa.
Solusi komprehensif yang diberikan oleh tim berupa, pertama, terkait kemandirian bahan baku, mahasiswa dan dosen membantu pengrajin melalui pelatihan budidaya dan perawatan tanaman pewarna alami. Langkah ini bertujuan menjaga ketersediaan bahan baku secara mandiri, menekan ketergantungan pasokan dari luar daerah, sehingga produksi tetap stabil dan efisien.
“Kedua, aspek standardisasi dan perlindungan HKI. Tim melakukan pendataan dan penyusunan motif batik guna memperkuat ciri khas produk. Hal ini menjadi langkah awal yang krusial untuk mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) agar karya pengrajin memiliki perlindungan hukum dan nilai jual yang lebih tinggi,”
Ketiga, pada digitalisasi pemasaran, para pengrajin diberikan pelatihan penjualan berbasis digital agar dapat memanfaatkan media sosial dan marketplace. Pendekatan ini bertujuan memperluas jangkauan pasar dan menyesuaikan usaha batik ecoprint dengan perkembangan ekonomi digital global.
Isa menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata hilirisasi ilmu pengetahuan dari kampus ke masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa batik ecoprint Desa Jarum tidak hanya lestari secara budaya, tetapi juga tangguh secara ekonomi. Sinergi antara dosen dan mahasiswa di sini adalah kunci untuk menciptakan ekosistem pengabdian yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kesejahteraan warga,” pungkasnya.
Melalui langkah kolaboratif ini, diharapkan Desa Jarum semakin kokoh sebagai destinasi wisata edukasi dan sentra batik ecoprint unggulan di Jawa Tengah yang mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.
Antusiasme tinggi terlihat dari para pengrajin sepanjang program berlangsung. Sri Mulyani, selaku Koordinator Kelompok Batik Mojoarum, menyampaikan apresiasi mendalam atas pendampingan yang diberikan oleh tim pengabdian dari dosen FEB UMS.
“Kegiatan pelatihan batik ecoprint ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan dan keterampilan baru dalam memanfaatkan bahan alami menjadi produk batik yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong kreativitas serta kerja sama dalam menghasilkan karya yang menarik,” ujarnya dengan penuh semangat. (Maysali/Humas)















