muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Individuasi merupakan hal penting dalam pembentukan kader yang utuh, bukan sekedar aktif secara organisatoris tanpa makna. Hal ini disampaikan oleh Roviqul Islam Halawa, S.Ag alumni mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam Stadium General Pelantikan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Sukoharjo, bertempat di Auditorium Mohammad Djazman UMS.
Halawa-begitu kerap sapaanya, menyebut ada beberapa fenomena sosial yang mencerminkan problem mendasar di masyarakat. Di antaranya kebiasaan membuang sampah sembarangan meskipun telah terdapat larangan tertulis, juga praktik keagamaan yang hanya dilakukan secara simbolik.

“Ada orang yang bersujud sampai ditekan-tekan agar terlihat hitam di dahi, tetapi esensi dari itu sendiri sering kali tidak dipahami,” ungkapnya, Rabu (8/4).
Menurut Halawa, era digital telah menciptakan ruang baru yang rentan terhadap penyebaran hoaks serta pembentukan identitas semu di media sosial. Menurutnya, banyak individu saat ini lebih mengutamakan validasi sosial dibandingkan keaslian diri.
“Kita seringkali bukan menjadi diri sendiri di media sosial. Kita hanya ingin dilihat, diakui, dan divalidasi oleh orang lain,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut berpotensi melahirkan krisis identitas, individu kehilangan arah dan terjebak dalam “topeng sosial”, hingga akhirnya tidak mengenali dirinya sendiri.
Menanggapi persoalan-persoalan tersebut, Halawa menjelaskan konsep individuasi dalam pembentukan kader yang utuh, bukan kader yang sekadar aktif secara organisatoris, tetapi kader yang memiliki kesadaran diri, arah hidup, dan konsistensi nilai.
Konsep individuasi ini mencakup kemampuan memahami diri menjadi diri yang utuh, membangun integritas yang konsisten antara nilai dan tindakan, serta keseimbangan antara religiusitas, intelektualitas dan humanitas.
Dalam perspektif Islam, individuasi dikaitkan dengan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, serta menjadikan sebagai landasan hidup. Ia menekankan bahwa religiusitas tidak boleh berhenti pada ritual semata, melainkan harus tercermin dalam perilaku sosial.
“Banyak yang rajin ibadah, bahkan sudah haji dan umrah, tetapi masih terlibat dalam korupsi. Artinya, pemahaman agamanya belum menyentuh substansi,” ujarnya.
Halawa juga mengingatkan bahwa era digital dapat menjadi peluang sekaligus ancaman. Menurutnya, pengembangan tiap-tiap individu tidak harus melalui media sosial.
“Kalau media sosial tidak ada, itu bukan alasan kita untuk tidak bisa menunjukkan diri kita sendiri dan identitas di Indonesia. Karena identitas kita sendiri itu ada pada diri masing-masing,” pungkasnya. (Choiril/Affiq/Humas)















