Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Di kalangan masyarakat muslim terdapat banyak perbedaan dalam pelaksanaan salat, terkhusus dalam hal doa. Ada beberapa pendapat yang menyatakan diperbolehkannya membaca doa selain doa salat pada saat sujud, begitu juga sebaliknya.
Dalam merespon permasalahan tersebut, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Imron Rosyadi, M.Ag., memberikan pandangan melalui perspektif Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Dalam konteks ibadah, Imron menjelaskan ada 2 prinsip fundamental pada pelaksanaanya. Pertama, Dalam Ushul Fiqih terdapat kaidah yang berbunyi “Hukum asal dalam ibadah adalah batal (tidak sah) sampai ada dalil yang memerintahkannya”. Kedua, Segala bentuk harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
Menurut pendapat Imam Hanafi, tidak diperbolehkannya berdoa dalam salat, kecuali dengan doa yang terdapat dalam Al-Qur’an atau yang diajarkan oleh Rasulullah. Menurut Imron, pendapat Imam Hanafi merupakan bentuk menjaga kemurnian ibadah salat yang sesuai dengan nabi.
“Untuk menjaga kemurnian dan ketertiban bacaan dalam salat sesuai dengan tuntunan nabi Muhammad SAW”, jelasnya, Minggu (22/3).
Lain halnya dengan pendapat Imam Syafi’i. Menurut Imam Syafi’i diperbolehkannya berdoa dengan doa yang disukainya ketika sujud dalam salat.
Imron mengatakan bahwa majelis tarjih dalam adanya dua perbedaan pendapat ulama, Majelis Tarjih mengambil pendapat Imam Hanafi yang dianggap sebagai jawaban yang paling tepat.
“Majelis tarjih menyatakan jawabannya yang sesuai dengan pendapat mazhab imam hanafi”, ungkapnya.
Lebih lanjut, Imron menjelaskan dalam buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) PP Muhammadiyah terdapat tiga variasi doa sujud yang harus dijadikan pedoman dan tidak boleh diselewengkan.
“Kita sebagai warga Muhammadiyah harus memasifkan doa sujud yang sudah ada pada buku HPT jilid 3,” tutur Imron.
Bacaan tersebut berupa
سُبْحَانَكَ اللهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللهُمَّ اغْفِرْلِيْ
“Maha suci Engkau, Ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, Ya Allah, aku memohon ampun”
Ataupun dengan salah satu doa Nabi Muhammad saw:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
“Maha suci Tuhanku yang Maha Tinggi”
Atau berdoa:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبٌّ الْمَلَا ئِكَةِ وَالرُّوْحِ
“Maha Suci, Maha Kudus, Tuhannya sekalian Malaikat dan Ruh (Jibril)”
Meskipun terdapat banyak perbedaan dalam hal ibadah, kata Imron, Muhammadiyah tidak menolak perbedaan-perbedaan yang ada, justru Muhammadiyah menghargai dan menghormati segala bentuk perbedaan.
“Muhammadiyah selalu menghormati perbedaan pendapat yang ada di tengah-tengah masyarakat”, ujarnya.
Akan tetapi Imron menegaskan bahwa anggota Muhammadiyah dalam hal pelaksanaan ibadah harus merujuk dan mengutamakan pendapat resmi Fatwa Tarjih PP Muhammadiyah. (Affiq/Humas)
Berita, Cabang, PCM Gondangrejo
muhammadiyakaranganyar.or.id, GONDANGREJO — Gema takbir berkumandang syahdu mengiringi pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gondangrejo pada Jumat (20/3/2026). Sebanyak 14 titik lokasi strategis disiapkan guna memfasilitasi ribuan jamaah yang antusias menjalankan ibadah sunnah muakkad tersebut di wilayah Gondangrejo dan sekitarnya.
Pelaksanaan Sholat Id tahun ini terpantau berjalan tertib, aman, dan penuh kekhusyukan. Diperkirakan, setiap titik lokasi dipadati oleh kurang lebih 1.000 jamaah yang telah memadati area pelaksanaan sejak fajar menyingsing.

Dalam sambutannya, Ketua PCM Gondangrejo menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kelancaran rangkaian ibadah tahunan ini. Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, takmir masjid, dan masyarakat yang telah berkolaborasi aktif.
“Kami berharap semangat kebersamaan dan nilai-nilai yang diperoleh selama Ramadan dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ketua PCM Gondangrejo dalam keterangannya.
Ia juga menambahkan secara tidak langsung bahwa momentum ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sarana untuk memperkuat syiar Islam serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat Gondangrejo.
Para khatib yang bertugas di 14 lokasi berbeda secara seragam mengajak jamaah untuk menjadikan Idul Fitri sebagai tonggak peningkatan ketakwaan dan kepedulian sosial. Hal ini dianggap penting sebagai wujud implementasi nilai-nilai puasa yang telah dijalani selama sebulan penuh.
Berikut adalah daftar lengkap 14 lokasi pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 H di lingkungan PCM Gondangrejo beserta para petugas:
1. Lapangan Desa Tuban: Prof. Ir. Muhammad Mujiburrahman, S.T., M.T., Ph.D. (Imam & Khatib)
2. Masjid Nurul Iman Suruhan, Dayu: Ustadz Muhidul Umam, S.Ag., S.H. (Imam & Khatib)
3. Masjid Darusalam Watuireng, Rejosari: Pupon Ismadi (Imam & Khatib)
4. Masjid Wisma Salamah, Kedungulo, Dayu: Ahyar Rosyidi, S.Kom (Imam & Khatib)
5. Lapangan Desa Karangturi: Ustadz Rofiazka Fahmi Huda, M.Pd. (Imam & Khatib)
6. Lapangan SD Negeri Karangturi: Ustadz Mir Ahmad, S.Pd. (Imam) & H. Mulyani, S.Ag., S.Sos., M.A.P. (Khatib)
7. Halaman MIM Bulak Kragan: As’ad Romadlon, S.Pd.I. (Imam & Khatib)
8. Masjid Al Mukmin Tempel, Bulurejo: Suroto, Am.Kes., S.H. (Imam & Khatib)
9. Masjid At-Rohman Mulyorejo, Dayu: Danu Supriyanto, M.Pd. (Imam & Khatib)
10. Jalan Banyuurip, Jeruk Sawit: Sutarno (Imam & Khatib)
11. Masjid Abdurrahman Khudhori, Tegalsari, Tuban: Raihan Akbar Rahmadika (Imam) & Drs. H. Edi Purwanto, M.Pd. (Khatib)
12. Masjid Al Maming, Wonorejo: Ustadz Kuswanto (Imam & Khatib)
13. Jalan Poros Tengah Wonorejo Saudan: Fauzan, Lc. (Imam & Khatib)
14. Masjid Al Mukmin Watuburik, Wonorejo: Abu Nasrun, M.Pd. (Imam & Khatib)
Melalui persebaran titik lokasi yang luas, PCM Gondangrejo berharap syiar dakwah Muhammadiyah dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara inklusif.
Pendidikan
Muhammadiyahkaranganyar.Or.Id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar salat Idulfitri di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Jumat (20/3).
Ribuan jamaah tampak memadati halaman Edutorium UMS sejak pukul 6 pagi. Adapun para jamaah terdiri atas tenaga kependidikan UMS, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Khatib salat Id, Yayuli, S.Ag., M.Ag., menyampaikan kepada umat terkait makna Idulfitri sebagai momentum kembali kepada fitrah. Ditandai dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan tekad yang lurus.

Fitrah tersebut lahir berkat penempaan selama bulan Ramadan. “Ramadan telah mendidik kita dengan tiga madrasah utama, yakni kejujuran, kesabaran, dan kepedulian,” kata Yayuli.
Umat Islam saat ini, Yayuli menjelaskan, dihadapkan pada percepatan arus informasi dan perkembangan teknologi yang kian pesat.
Meskipun demikian, kegelisahan umat juga meningkat bersamaan. Tantangan moral yang dihadapi anak-anak saat ini tidaklah ringan. Media sosial pun kerap mempertemukan umat dengan perdebatan tanpa adab.
“Perbedaan pilihan kadang meretakkan persaudaraan. Isu ekonomi menekan banyak keluarga. Anak-anak kita menghadapi tantangan moral yang tak ringan,” imbuh dia.
Yayuli menilai kondisi tersebut menjadikan kemenangan Idulfitri diuji. Kemenangan bukan soal banyaknya ibadah, tetapi luasnya maaf yang mampu diberikan. Kemenangan lahir dari hati yang diperbarui dan mampu menahan maaf.
Ia mengamini tidak ada manusia tanpa khilaf. Idulfitri harus menjadi momentum saling memaafkan yang benar-benar membersihkan luka di hati.
Dia juga mengajak umat untuk menjaga tiga komitmen usai Ramadan. Ketiga komitmen itu ialah istikamah dalam ibadah, istikamah dalam kejujuran, dan istikamah dalam kepedulian.
“Karena tanda diterimanya amal Ramadan adalah kebaikan yang berlanjut setelahnya,” tandas Yayuli. (Gede/Humas)
Pendidikan
Muhammadiyahkaranganyar.Or.Id, SURAKARTA – Semangat ibadah yang meningkat selama Ramadan diharapkan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir. Kebiasaan-kebiasaan baik yang terbentuk selama Ramadan sebaiknya tetap dijaga dan dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud konsistensi spiritual seorang muslim.
Kasi Baitul Arqam Mahasiswa Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Suwinarno, M.P.I., menyampaikan bahwa Ramadan sejatinya merupakan momentum untuk melakukan evaluasi diri dan memperbaiki kualitas ibadah.

Menurutnya, manusia sering kali membutuhkan momen khusus untuk kembali menyadari jati diri dan tujuan hidupnya. Ramadan menjadi salah satu waktu penting yang mengingatkan manusia akan hakikat penciptaannya.
“Ramadan itu momentum untuk evaluasi diri, introspeksi diri, dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena manusia kadang butuh momentum untuk kembali pada kesadaran hakikinya,” ujar Suwinarno, Kamis, (19/3).
Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan seorang muslim sebenarnya terdapat berbagai momentum spiritual yang berfungsi untuk mengingatkan manusia kepada Allah, seperti salat lima waktu setiap hari dan salat Jumat setiap pekan.
Selain itu, Ramadan menjadi momentum tahunan yang memiliki kekuatan spiritual lebih besar untuk mengembalikan kesadaran manusia bahwa tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah.
Suwinarno menegaskan bahwa keberadaan Allah tidak hanya dirasakan pada bulan Ramadan, tetapi juga sepanjang waktu. Oleh karena itu, semangat ibadah yang tumbuh selama Ramadan seharusnya tetap dijaga pada bulan-bulan berikutnya.
Ia juga menjelaskan bahwa bulan Syawal memiliki makna sebagai bulan peningkatan. Setelah menjalani pendidikan spiritual selama Ramadan, umat Islam diharapkan mampu meningkatkan kualitas ibadah dan kehidupan spiritualnya.
“Ramadan itu seperti madrasah rohani. Di situ kita dilatih untuk tertib salat, rajin tadarus, bangun malam untuk salat tahajud, serta gemar bersedekah. Itulah sebenarnya jati diri seorang mukmin yang kadang kita lupakan di bulan-bulan lain,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa indikator keberhasilan ibadah Ramadan dapat dilihat dari perubahan perilaku setelahnya, terutama dalam aspek akhlak dan hubungan sosial dengan sesama.
Menurut Suwinarno, dimensi spiritual dalam Islam selalu berkaitan dengan dimensi sosial. Seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah akan menunjukkan keimanannya melalui perilaku yang baik kepada orang lain.
“Orang yang beriman itu terlihat dari akhlaknya. Menghormati tetangga, memuliakan tamu, dan menjaga lisan. Kalau tidak bisa berkata baik, lebih baik diam,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa istikamah atau konsistensi dalam menjalankan ibadah setelah Ramadan menjadi salah satu indikator bahwa seseorang benar-benar memperoleh hikmah dan rahmat dari bulan suci tersebut.
Suwinarno menuturkan, beberapa amalan yang sebaiknya tetap dijaga setelah Ramadan antara lain salat wajib berjamaah, salat sunah, tadarus Al-Qur’an, salat malam atau tahajud, serta kebiasaan bersedekah. Di samping itu, akhlak yang baik tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim.
Bagi mahasiswa, khususnya di lingkungan UMS, ia menyarankan agar konsistensi ibadah dibangun melalui sistem yang mendukung. Integrasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam aktivitas akademik menjadi salah satu upaya untuk menjaga kebiasaan spiritual tersebut.
“Kalau mahasiswa harus ada sistem yang membantu. Misalnya sebelum kuliah membaca Al-Qur’an, ketika waktu salat berhenti sejenak untuk salat. Itu bagian dari upaya menjaga konsistensi ibadah,” pungkasnya. (Yusuf/Humas)
Pendidikan
Muhammadiyahkaranganyar.Or.Id, SURAKARTA – Momentum silaturahmi dan halal bihalal setelah Idulfitri dipandang sebagai tradisi penting dalam memperkuat ukhuwah serta membersihkan hubungan antarmanusia. Dosen UMS, Suwinarno, S.Ag., M.Pd.I menilai tradisi tersebut tidak sekadar budaya sosial, tetapi juga sarana spiritual untuk memperbaiki hubungan setelah menjalani ibadah Ramadan.
Menurut Suwinarno, halal bihalal pada hakikatnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk saling meminta dan memberi maaf. Ia menjelaskan bahwa tradisi ini berkembang kuat di Indonesia, karena masyarakatnya memiliki karakter budaya yang kaya dengan simbol dan ritual sosial.
“Indonesia ini negara budaya. Apalagi masyarakat Jawa, hampir setiap aktivitas itu ada upacara, ada hiburannya, ada juga pagelarannya,” ujarnya, Kamis (19/3).

Ia menambahkan bahwa pola tersebut juga tampak dalam berbagai kegiatan sosial, seperti pernikahan hingga perayaan keagamaan.
Dalam pandangannya, halal bihalal menjadi sebuah wadah yang memfasilitasi masyarakat untuk mempererat jalinan silaturahmi sekaligus membersihkan kesalahan antarsesama. Tradisi ini juga memungkinkan setiap orang memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang dalam kehidupan sosial.
Suwinarno mencontohkan bagaimana masyarakat Jawa sering mengekspresikan nilai-nilai tersebut melalui simbol-simbol kebudayaan, seperti tradisi mengirim makanan menjelang lebaran. “Orang Jawa itu tidak lepas dari simbol dan makna, seperti kupat, lepet, atau apem yang saling dikirimkan sebagai tanda saling mengingatkan dan menjaga hubungan,” katanya.
Meski demikian, ia menyampaikan bahwa praktik halal bihalal sebaiknya tetap dijalankan secara proporsional. Selama tidak mengandung unsur-unsur berlebihan atau pemborosan, kegiatan tersebut dinilai baik dalam menjaga sebuah kerukunan dan keharmonisan dalam bermasyarakat.
Secara historis, tradisi halal bihalal di Indonesia kerap dikaitkan dengan momentum politik tahun 1948 ketika istilah tersebut disebut diusulkan untuk meredakan ketegangan sosial-politik pasca kemerdekaan. Namun, sejumlah dokumen sejarah menunjukkan bahwa istilah dan praktik serupa telah dikenal lebih awal dalam lingkungan Muhammadiyah.
Arsip Majalah Suara Muhammadiyah edisi No. 5 tahun 1924 mencatat istilah “chalal bil chalal” yang ditulis oleh seorang warga Muhammadiyah asal Gombong bernama Rachmad tentang Idulfitri. Dalam tulisan itu ditegaskan bahwa chalal bil chalal menjadi sarana silaturahmi untuk melebur dan menyatukan perbedaan di tengah keluarga maupun masyarakat.
Jejak tersebut semakin terlihat dalam edisi menjelang Idulfitri tahun 1926 atau 1344 H, ketika redaksi Suara Muhammadiyah membuka ruang pemasangan iklan ucapan Idulfitri untuk silaturahmi “alal bahalal”. Praktik ini menunjukkan bahwa halal bihalal tidak hanya dilakukan melalui pertemuan langsung, tetapi juga difasilitasi melalui media cetak sebagai sarana komunikasi pada masa itu.
Dalam konteks kolonial, penggunaan majalah sebagai medium silaturahmi menunjukkan bagaimana Muhammadiyah memperkenalkan model baru dalam praktik sosial keagamaan berbasis literasi dan teknologi komunikasi zamannya. Hal ini membuat Muhammadiyah sering disebut sebagai pelopor modernisasi tradisi halal bihalal di Indonesia.
Bagi Suwinarno, nilai yang terkandung dalam halal bihalal tetap relevan hingga saat ini. Ia menegaskan bahwa Ramadan dan Idulfitri tidak hanya membentuk spiritualitas individu, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial.
“Puasa itu untuk Allah, tetapi pada akhirnya kita diingatkan untuk peduli kepada sesama,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa manusia perlu menjaga pikiran yang jernih dan hati yang bersih agar kehidupan sosial tetap harmonis. (ARP/Humas)